KASUS PELECEHAN ANAK SEMAKIN MENCEMASKAN

Oleh Dr. Muhammad AR. M.ED

            Akhir tahun 2021 kita diramaikan oleh berita rudapaksa (pemerkosaan) anak gadis dibawah umur oleh 14 orang pemuda di Nagan Raya. Mungkin ini kado buat ibu dan bapak yang merasa lalai menjaga putra-putrinya, konon lagi yang masih sedang mencari patron kehidupan. Ini jelas bahwa institusi keluarga apakah secara umum di Indonesia ataupun di Aceh sudah sangat rapuh dalam mendidik generasi muda sehingga  persoalan-persoalan yang tidak kita bayangkan-pun akan terjadi. Inilah yang disebut dengan kata bijak dalam bahasa Inggris ”charity begins at home.”  Di sini dimaknakan bahwa  rumah tangga merupakan kekuatan utama dalam menentukan arah masa depan generasi muda ini. Maka dari itu hati-hatilah setiap rumah tangga memiliki pe er  besar untuk mendidik.

            Dalam tahun 2021  sedikitnya sudah tiga kali terjadinya pemerkosaan beramai-ramai terhadap anak dibawah umur di Aceh, namun para petinggi negara di Aceh belum berani  menjadikan issu ini sebagai bahasan utama dalam pemerintahan Aceh.  Jika kasus seperti yang terjadi di Bener Meriah (Februari 2021),  Langsa (Maret 2021) dan di Nagan Raya (Desember 2021) mau dijadikan issue central, maka  persoalan pemerkosaan, penelantaran, kekerasan terhadap anak mungkin tidak separah yang terjadi selama ini.  Kemungkinan besar, persoalan ini  belum menyentuh hati para elit, maka beginilah panorama yang dilakukan oleh para calon pemimpin yang akan memimpin  dua puluh tahun kedepan, yaitu para pemimpin yang bermental  pemerkosa.  Nanti mereka tidak segan-segan akan memaksa lawan politiknya, memaksa  lawan keyakinannya,  memaksa lawan jenisnya untuk ditidurinya, memaksa orang-orang yang tidak sehaluan dengan mereka, dan memaksa orang untuk berbuat maksiat secara beramai-ramai. Ini semua karena mengikuti pengalaman masa lalunya  mereka telah pernah diperkosa namun tidak diperbaiki kehidupannya dan nama baiknya dan demikian  juga para pemerkosa yang tidak dihukum dengan serius atas kejahatannya.

Anak adalah amanah Allah dan sebuah anugerah yang sangat berharga bagi orang  tua, karena itu jagalah amanah tersebut dengan baik, jagalah pendidikannya, jagalah ibadahnya, jagalah  lingkungannya, jagalah dengan siapa dia berkawan.  Anugerah Allah itu mahal sekali dan tidak dapat ditebus dan dibeli dengan harga triliun dan milyaran untuk mendapat seorang anak, karena itu syukurilah  anugerah tersebut, papahlah  pemberian tersebut,  jagalah ia dari dalam kandungan, sejak bayi hingga dewasa agar para predator, pemerkosa, peleceh,  tidak pernah menyentuhnya secara haram. Ini merupakan tanggung jawab rumah tangga  pada lini terdepan, kalau rumah tangga lalai dan ketiduran dalam melihat serta memperhatikan gerak gerik anak-anak, maka  jangan  terkejut ketika kasus meledak ke seantero negeri.  Jika  pengawasan rumah tangga rapuh dan bebas, maka para calon pemimpin bangsa  (bunga bangsa yang sedang berkembang) sekarang ini  akan terkulai layu sebelum masanya.  Institusi yang paling bertanggung jawab pada peringkat awal adalah  (household institution) yaitu ayah dan ibu. Jika mereka tidak memiliki ilmu, tidak memiliki  akidah yang sahih, dan tidak memiliki roh Islam dan kasih sayang terhadap anak manusia sejak kecil, maka ketuka mereka beranjak dewasa akan lepas dari pengawalan atau pengawasan.

Demikian pula tanggung jawab berikutnya adalah wujudnya caring society (masyarakat penyayang atau masyarakat yang saling peduli) terhadap moralitas anak bangsa dan jangan membiarkan mereka berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama dan tatanan social di depan mata kita. Jika masyarakat Islam tidak lagi melakukan amar makruf nahy munkar, maka di kawasan itu tidak ada lagi  agama Islam.  Sebab, salah satu cri khas Islam adalah  saling menasehati terhadap kebenaran dan kesabaran. Lagi pula, salah satu peran agama Islam adalah  salng memberi nasehat. Jika nasehat tidak ada lagi atau tidak mau menerimanya, berarti  kita sudah keluar dari agama ini. Namun,  jika telah berlaku, maka akan sulit untuk memperbaikinya karena  nasehat dan pencegahan sudah kedaluarsa. Artinya nasi telah menjadi bubur.  Penyesalan selalu datangnya terlambat. Masa lalu jangan disesali, tetapi masa depanlah  yang harus disongsong dan diperbuat sebaik mungkin.  Oleh karena itu hidupkan nasehat, dan jagalah bersama anak-anak kita agar selamat dari narkoba, dari pergaulan bebas, zina, pemerkosaan, dan dekadensi moral.

Umat Islam seharusnya tidak terperosok ke dalam  lobang yang sama untuk kali kedua, apalagi kali ketiga.  Pengalaman buruk dan kegagalan seharusnya sebagai pemicu keberhasilan di masa berikutnya, demikian pula  jika  malapetaka yang pernah menimpa kita pada masa pertama atau masa lalu  karena akibat kesalahan kita sendiri, maka itu merupakan  guru yang paling baik dalam kehidupan kita. Artinya, cukup sekali kita merasakan pengalaman pahit dan memalukan dalam kehidupan. Jika kita terus gagal dan gagal,  tertimpa kehinaan, dan kemelaratan bertubi-tubi, artinya ada yang salah dalam kehidupan kita, karena itu mohonlah petunjuk Allah, bertobatlah kepada-Nya, mohonlah ampun kepada-Nya, dan bertaqwalah dengan sesungguhnya.  Jauhkan diri dari sifat kemunafikan dan kepura-puraan terhadap agama Allah, perintah Allah,  terhadap perintah Raulullah,  serta meninggalkan semua larangan agama secara totalitas. Jangan menyombongkan diri terhadap Allah swt karena Dia Maha Perkasa dan semua penguasa dan manusia ada dalam genggaman-Nya semuanya.

Kita memohon kepada pemerintah Aceh agar memperketat pengawasan terhadap eksistensi anak, lingkungan anak, pendidikan anak, dan  keinginan mereka demi  masa depan yang gemilang. Rasa kepedulian ini sangat diperlukan sejak dari tahap pemerintahan desa (kampung), kecamatan, kabupaten hingga ke propinsi. Maknanya negara harus benar-benar memperhatikan kelangsungan hidup generasi muda sejak dari kampung hingga ke kota. Negara bisa melakukan ini semua karena  mereka memiliki aparat (TNI –POLRI), Satpol PP dan WH., penegak hukum, memiliki dana yang cukup, dan  dapat melahirkan hukum-hukum yang tegas dan berat bagi pelaku kejahatan terhadap anak (generasi muda).  Disinilah harapan besar yang dapat kita harapkan kepada negara khususnya dalam mencegah berlakunya  kekerasan terhadap anak.

Pengawasan dan perlindungan terhadap anak harus nampak terlihat dan harus  eksis di kampung-kampung hingga ke kota-kota sehingga jika ada gelagat akan terjadinya ke arah rudapaksa, pedofil, kekerasan, penelantaran, ekploitasi, dan perdagangan anak, dengan mudah dapat diatasi.  Prevention is better than cure.  Demikian bunyi pepatah Inggris yang artinya upaya pencegahan lebih baik sebelum sesuatu terjadi. Upaya pendeteksi  segala kemungkinan buruk ini akan teratasi jika setiap kampung dan kota memiliki kepedulian, dan pengawasan di mana-mana. Dengan adanya pengawasan baik oleh ibu bapak, masyarakat, pemerintah dan badan-badan khusus yang berkecimpung terhadap perlindungan anak.

Dr. Muhammad AR. M.Ed

Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh  (KPPAA).

Kejayaan Bani Umayyah Sebagai Spirit Baru Kejayaan Islam Masa Kini

Oleh : Cut Meuthia Sari 

Dinasti Bani Umayyah baru terwujud pada tahun 41 H/661 M dipelopori oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan berumur lebih kurang 90 tahun. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah telah memberikan banyak kontribusi untuk pengembangan dan kemajuan dunia Islam.

Hanya dalam jangka waktu 90 tahun banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam yang meliputi tanah Spanyol ke seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab Syria Palestina sebagian daerah anatolia koma-koma persiapan Afghanistan India dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan Uzbekistan dan Kyrgyzstan yang termasuk Soviet Rusia.1

Menurut Prof.Ahmad syalabi, penaklukan militer di zaman Umayyah mencakup tiga peran penting yaitu sebagai berikut:

Pertama, front melawan bangsa Romawi di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibukota Konstantinopel dan penyerangan ke pulau-pulau di Laut Tengah.

Kedua, front Afrika Utara. Selain menunjukkan daerah hitam Afrika, pasukan muslim juga menyeberangi Selat Gibraltar, lalu masuk ke Spanyol.

Ketiga, front Timur menghadapi wilayah yang sangat luas sehingga operasi kecil ini dibagi menjadi dua arah. yang satu menuju udara ke daerah adalah di seberang Sungai Jihun (Ammu Darya). sedangkan yang lainnya ke arah selatan menyusuri Sind, wilayah india bagian barat.2

Pada masa pemerintahan Muawiyah diraih kemajuan besar dalam perluasan wilayah. Selain itu, peristiwa yang paling mencolok ialah keberaniannya mengepung Kota Konstantinopel melalui suatu ekspedisi yang dipusatkan di kota pelabuhan dardanella setelah terlebih dahulu menduduki pulau-pulau di laut tengah seperti protes peta Cyprus, Sicilia dan sebuah pulau yang bernama awak tidak jauh dari ibu kota Romawi Timur itu titik di belahan Timur ke mama oh yang berhasil menaklukkan khurasan sampai ke sungai oxus dan Afganistan.

Ekspansi ke Timur yang dirintis oleh Muawiyah, lalu disempurnakan oleh Khalifah Abdul Malik serta dianggap sebagai Daulah Bani Umayyah kedua. Selain itu, ia juga berhasil menyempurnakan administrasi pemerintahan Bani Umayyah. Kemudian, masa pemerintahan Abdul Malik diganti oleh putranya Al-walid. Al-walid memerintah selama 10 tahun (86-96) H. Pada masa pemerintahannya merupakan masa kemenangan, kemakmuran, dan kejayaan bani umayyah.

Negara Islam meluas ke daerah Barat dan Timur, beban hidup masyarakat menjadi ringan, pembangunan kota, pabrik-pabrik, jalan-jalan, dan pendirian gedung-gedung seperti Masjid Al-Amawi di Damaskus dan perkantoran mendapat perhatian yang cukup serius.3

Di samping itu, ia juga menggunakan kekayaan negerinya untuk menyantuni para yatim piatu, fakir miskin, dan penderita cacat seperti orang lumpuh, buta, dan sakit kusta. Al-walid I berhasil menghidupkan kembali Kota Konstantinopel dengan memberikan pukulan-pukulan yang cukup kuat. walaupun cita-cita untuk mendudukkan ibu kota Romawi tetap saja belum berhasil tetapi tindakan itu sedikit banyak berhasil menggeser tapal batas pertahanan Islam lebih jauh ke depan dengan menguasai Basis Basis militer kerajaan Romawi di mar’asy dan ‘Amuriyah.

Prestasi yang lebih besar dicapai oleh al-walid I ialah di Afrika bagian Utara dan sekitarnya. Setelah segenap tanah Afrika bagian utara diduduki, pasukan muslim di bawah pimpinan Thariq Bin Ziyad menyerangi Selat Gibraltar masuk ke Spanyol. Lalu ibukotanya, Cordova segera dapat direbut, menyusul kemudian kota-kota lain seperti Sevilla, Elvira, dan Toledo. Gubernur Musa bin Nushair kemudian menyempurnakan penaklukan atas tanah Eropa ini dengan menyisir kaki pegunungan Pyrenia dan menyerang Carolingian Prancis. Pada masa pemerintahannya juga tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, dipimpin oleh panglima Musa bin Nusyair dan Tariq bin Ziyad yaitu pada tahun 711 M.4

Disamping keberhasilan tersebut Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang baik politik pemerintahan maupun sosial kebudayaan titik dalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin Kompleks. selain mengangkat majelis penasehat sebagai pendamping khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa orang sekretaris untuk membantu pelaksanaan tugas yang meliputi:

  1. Katib Ar-Rasail, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat-menyurat dengan para pembesar setempat
  2. Katib Alkharraj, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
  3. Katib Al-Jundi, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan berbagai hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
  4. Katib Asy syurthah, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemerintahan keamanan dan ketertiban umum.
  5. Katib Al-Quddat, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan badan peradilan dan hakim setempat.5

Dalam bidang sosial budaya, Bani Umayyah telah membuka kontak antar bangsa-bangsa muslim (Arab) dengan negeri-negeri taklukan seperti Persia, Mesir, Eropa dan sebagainya. Dalam bidang seni, terutama seni bangunan (arsitektur) Bani umayyah tercatat suatu pencapaian gemilang seperti Dome of The Rock (qubah Ash-Shakhra) di Yerussalem yang menjadi momentum terbaik hingga kini dan membuat orang-orang terkagum. Namun dari segi ilmiah, bahasa, sastra, dan lainnya tetap maju, menonjol dan mengambil kedudukan yang layak. Bangsa Arab adalah ahli syair, mendapati kedudukan khusus bagi para penyair dengan memberikan hadiah yang cukup besar dan memuaskan.

Pada masa Abul Aswad Ad-Duali (681 M) menyusun gramatika Arab dengan memberi titik pada huruf-huruf hijaiyah yang semula tidak bertitik. Usaha ini memiliki peranan besar dalam mengembangkan dan memperluas bahasa Arab, serta memudahkan orang membaca, mempelajari, dan menjaga barisan yang menentukan gerak kata dan bunyi suara serta ayunan iramanya, hingga dapat mudah kita pahami maknanya.

Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M) merupakan raja Bani Umayyah yang paling terkenal di lapangan ilmu pengetahuan dengan meletakkan perhatian besar pada ilmu pengetahuan sehingga kerajaan bani Umayyah dapat mampu menempatkan dirinya dalam ilmu pengetahuan dengan cara mementingkan buku-buku bahasa Yunani dan Kopti (Kristen Mesir).6

Selanjutnya dalam bidang peradaban, Bani Umayyah telah mampu mengembangkan dan perluasan berbagai ilmu pengetahuan, dan bahasa Arab sebagai media utamanya. Menurut Jurji Zaidan (George Zaidan) beberapa kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan diantaranya:

  1. Pengembangan Bahasa Arab.

Bani Umayyah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat-menyurat harus menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan bahasa Romawi/Persia.

  1. Marbad Kota Pusat Kegiatan Ilmu

Bani Umayyah mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan diberi nama Marbad, kota satelit dari Damaskus. Di kota Marbad inilah berkumpul para filsuf, ulama, penyair dan para ahli lainnya sehingga kota tersebut di beri gelar Ukadz-nya Islam.

  1. Ilmu Qiraat.

Ilmu ini merupakan ilmu tertua di masa khulafurrasyiddin, kemudian masa dinasti umayyah dikembangkan sehingga menjadi cabang ilmu syariat yang sangat penting. Dan lahirlah ahli qiraat seperti Abdullah bin Qusair (120 H), dan Ashim bin Abi Nujud (127 H).

  1. Ilmu Tafsir.

Dikarenakan minat di kalangan umat Islam dalam menafsirkan alquran bertambah, sehingga memberikan apresiasi yang baik dalam dunia ilmu pengetahuan terus dikembangkan hingga sekarang. Salah satu ulama yang membukukan ilmu tafsir yaitu Mujahid (104 H).

  1. Ilmu Hadis.

Ketika umat Islam berusaha memahami Al-Qur’an, tentu diperlukannya hadis (ucapan-ucapan nabi). Oleh karena itu, timbullah usaha untuk mengumpulkan hadis, menyelidiki asal usul hadis sehingga akhirnya muncul ilmu baru yang disebut dengan ilmu hadis. Diantara ilmu hadis yang termasyhur di masa bani umayyah adalah Al-Auzai Abdurrahman bin Amru (159 H), Hasan Basri (110 H), Ibnu Abu Malikah (119 H) dan Asya’bi Abu Amru Amir bin Syurabil (104 H).

  1. Ilmu Fiqh.

Diantara ahli fiqh yang terkenal adalah Sa’ud bin Musib, Abu Bakar bin Abdurrahman, Qasim Ubaidillah, Urwah, dan Kharijah.

  1. Ilmu Nahwu

Pada masa bani umayyah Islam menyebar secara luas sehingga diperlukan ilmu nahwu terkhusus untuk orang-orang Ajam (non-Arab) yang masuk Islam. oleh karena itu, ilmu nahwu dibukukan dan dikembangkan.

  1. Ilmu Jughrafi dan Tarikh.

Pada masa bani umayyah, ilmu Jughrafi (ilmu bumi/geografi) dan Tarikh (ilmu sejarah) sudah berdiri pada masa itu, kemudian dikembangkan menjadi suatu ilmu agama Islam.

  1. Usaha Penerjemahan

Pada masa bani umayyah dimulai pula penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain ke dalam bahasa arab. Adapun yang pertama sekali memulai usaha penerjemahan ialah Khalid bin Yazid, seorang pangeran yang sangat cerdas dan ambisius.7[1]

Penulis adalah Mahasiswi S2, prodi Islamic Studies, UIN Ar-Raniry


[1]Samsul Munir Amin, Sejaeah Peradaban Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 129

2Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983), h. 124-139

3Ali Sodiqin, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: LESFI, 2002), h. 69

4Samsul Munir Amin, Sejaeah Peradaban Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 131

5Joesoef Soe’yb, Sejarah Daulat Umayyah I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 234

6Fuad Mohd Facruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), h. 46

7Jurji Zaidan, Tarikh Adab Lughah Al-Arabiyyah, (Cairo: Darul Hilal, Jilid 2), h. 236.

Aku Begini Karena Guru

Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Dewan Dakwah Aceh — Guru itu tidak pernah kaya, tidak pernah hebat, tidak pernah dikenal, dan tidak meminta untuk disanjung-sanjung asalkan muridnya senang dan bahagia, ia ikut senang dan bahagia, juga ketika ia
mendengar bekas muridnya menjadi hebat dan berjaya.

Tanggal 25 November yang bertepatan dengan hari kamis, telah disepakati sebagai Hari Guru Nasional dan tidak perlu berlebihan untuk dirayakan karena hal itu tidak penting, sebab ada hal lain yang lebih penting yaitu mengenang jasa guru yang telah membuka mata dan hati untuk berpikir dan berzikir.

Kenapa kita bisa berpikir dan berzikir, kemungkinan besar karena pernah diajarkan oleh seorang (guru) agar menggunakan kepala untuk berpikir yang baik dan bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga ataupun untuk masyarakat banyak.

Demikian pula, kenapa kita rela untuk berzikir kepada Rabb dan dengan menghabiskan waktu, kadangkala berjam jam lewat tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, namun tidak pernah bosan. Itulah nilai yang sangat berharga yang
pernah diajarkan oleh guru untuk mengingat Sang Maha Kuasa lewat zikir dan beribadah kepada-Nya. Semua ini karena guru.

Dalam Islam, guru/ustad/teungku/cekgu/ulama/ adalah orang-orang yang perlu mendapat penghormatan dan perhatian, menelusuri kehidupannya, melihat keluarganya serta menjaga kebutuhannya apakah mereka dalam kebahagaian atau dalam kepapaan dan kesengsaraan. Jangan biarkan mereka bersedih dan berduka terus menerus.

Pengorbanannya terlalu berat dalam mendidik putra-puteri bangsa. Perlu dimaklumi bahwa karena merekalah kita mengenal Allah (Pencipta), mengenal orang tua kita, dan mengenal diri sendiri. Camkanlah bahwa guru tidak mengajarkan kita membunuh, tidak mengajarkan kita mencuri atau korupsi, tidak mengajarkan kita berbuat dhalim, dan memakan barang-barang haram yang menyebabkan kita harus dijebloskan ke dalam api neraka. Artinya tidak
satupun guru yang menggiring murid-muridnya untuk berbuat kerusakan di muka bumi, merusak dan
menyengsarakan rakyat dan masyarakat apalagi rakyatnya.

Guru tidak terlibat dalam persekongkolan jahat, tidak merestui pengkhiatan, tidak bangga akan muridnya melakukan kejahatan dan kebiadaban karena mereka tidak pernah mengajarkannya.

Oleh karena itu jika seseorang berbuat jahat, berbuat serong, berbuat perbuatan amoral, terjerumus ke dalam lembah hitam, dan menjadi manusia yang anti Allah dan anti agama Allah serta Rasul-Nya, itu bukan pesanan guru, itu bukan datangnya dari syarahan guru, itu bukan pula cita-cita seorang guru dalam membekali muridnya.

Namun, perlu dilihat makanan yang mereka santap itu, halal atau haram, lihat pakaian yang mereka pakai, menutup aurat atau memamerkan aurat, lihatlah siapa kawan-kawan mereka, apakah pemabuk, penzina, pengkorup, penganianya, penindas, atau pemaksa kehendak, dimana lingkungan mereka tinggal, mendukung untuk berbuat kebajikan ataupun membacking kejahiliyahan dan kemaksiatan, dan ilmu apa yang mereka perlajari, Ini sangat
mempengaruhi tabiat atau kelakukan seseorang dan sekali lagi ini bukan guru yang menjadi kambing
hitamnya.

Namun jika kita berada dalam lembah kebinasaan atau terlibat dalam dunia hitam seperti narkoba, maryuana, dadah, ganja, perjudian, perzinahan, perampokan, korupsi, dan sebagainya. Semua itu bukan salah guru, tetapi salahkan dirimu sendiri, kenapa anda berada dalam keadaan yang demikian.

Sebagai manusia yang berakal sehat, dan memiliki rasa balas jasa dan balas budi, tidak berlebihan memang, maka jangan membuang muka jika berpapasan dengan orang yang telah mengajarkan anda walaupun satu huruf. Jangan sombong, jangan angkuh, dan jangan berpura-pura tidak kenal jika melihat orang itu, tengku itu, ustad itu, guru itu, pendidik itu atau guree tersebut.

Perlu diketahui dari mana anda belajar alif, ba, ta, tsa dst. Dari mana anda belajar a, b, c, d dan seterusnya. Bukankah ini semua telah dilakukan oleh orang yang namanya guru, apakah guru itu orang tua sendiri ataupun orang lain. Ini tidak penting, dan siapapun dia, harus menyimpan porsi sedikit dalam hati dan dalam kepala agar penghormatan dan kemuliaan perlu diberikan kepada mereka yang menyandang predikat guru.

Anda menjadi presiden, menjadi gubernur, bupati dan camat karena guru, anda menjadi polisi, tentara, dan sebagainya adalah karena anda pernah berguru pada banyak orang.

Keberhasilan seseorang mesti ada orang lain yang bersama anda dan mesti ada orang lain yang menyebabkan anda
tenar dan dikenal. Karena itu berpikirlah akan keterlibatan orang lain dalam kehidupan anda, belajarlah bersyukur kepada Pencipta dan berterima kasihlah kepada sesama apalagi kepada orang yang pernah membuka mata dan hati anda.

Pada umumnya, guru tidak pernah meminta atau merengek-rengek kepada muridnya untuk kepentingan pribadinya, tidak memohon jabatan yang tinggi, tidak memohon harta dan tahta, serta tidak meminta yang muluk-muluk dari muridnya. Namun, yang paling menyenangkan guru ketika mendengar bahwa bekas muridnya berhasil dalam kehidupanyna, berhasil dalam tugasnya, berjaya dalam memimpin, berjaya dalam menggarungi kehidupan dan mencari kehidupan secara halal.

Kita bisa saja menjadi pejabat tinggi, tetapi guru kita tidak membina dan memaksa kita kearah itu, kita mungkin
menjadi pemimpin tertinggi di sebuah qaryah, tempat dan Negara, namun guru kita tetap eksis sebagai guru dan bahkan hingga akhir hayatnya tetap menjadi penyampai risalah kepada manusia (murid-murid)-nya.

Kadang-kadang jika melihat nasib guru di daerah pedesaan, di daerah terpencil, dan di pelosok-
pelosok negeri, mungkin nasibnya sangat tragis dan menyengsarakan serta sangat tidak layak dari segi
kehidupannya, dari segi lingkungannya, dan dari segi tempat mendidik ummat.

Mungkin ini kurang mendapat perhatian pihak-pihak yang berkompeten, luput dari perhatian para pengambil kebijakan, sehingga nasib guru luntang lantung, namun masih juga terdapat orang-orang yang antipati terhadap
guru, memusuhi guru, bahkan ada yang memukul guru. Ini merupakan factor ketidak tuntasan dalam mendidik murid dan sekaligus mendidik wali murid sehingga nilai-nilai sacral yang seharusnya tertanam dalam hati dan pemikirannya tidak berfungsi dengan seksama dalam hal menyepelekan peran dan jasa guru.

Banyak hal yang harus diperhatikan oleh siapapun ia, apakah ia masyarakat sipil, masyarakat berpangkat, masyarakat bersenjata, masyarakat yang berpakaian seragam, maka penghormatan kepada guru adalah sebuah keniscayaan.

Inilah Islam yang mendidik manusia agar murid-murid perlu memelihara hubungan baik dengan
gurunya, bersilaturrahmi dengan mereka, berbaik sangka dengan mereka, menghormati mereka dalam
batas-batas kewajaran.

Jangan pongah dan sombong kepada orang yang pernah mengajarkan anda walau satu huruf.

Ali bin Abi Thalib berpesan bahwa “Kalau ada seseorang yang mengajarkan aku satu
huruf, maka aku bersedia diperhambakan, bersedia dijual.” Demikian tingginya value terhadap guru
yang pernah mengajarkannya.

Saya hari ini sebagai kepala …. karena guru, saya hari ini berhasil karena
guru, saya hari ini menjadi … karena guru. Mereka tidak pernah mengharap belas kasihan kita kecuali
redha Allah. Inilah tujuan guru dalam Islam.

Penulis adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Aceh

Indonesia Ibarat Gadis Cantik Yang Kaya Tetapi Bisu

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA.

Kalam Pembuka

Membaca judul artikel ini: “Indonesia ibarat gadis cantik yang kaya tetapi bisu” boleh menimbulkan banyak interpretasi selaras dengan kemampuan, tujuan dan kapasitas seseorang yang menafsirkannya. Ia dapat ditafsirkan Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki keindahan panorama alam, dapat juga ditafsirkan ia memiliki banyak hasil alam, dan juga dapat diartikan ia mempesonakan dengan banyaknya kekosongan lahan dan semisalnya.

Penafsiran tersebut dapat mengundang banyak orang asing untuk berdomisili penuh di dalamnya, dapat juga mengundang orang asing untuk berniaga di sana, boleh jadi juga menjadi pesona bagi orang asing untuk mencari rizki di sana, yang paling ekstrim dapat kita maknai; boleh jadi dapat mengundang orang asing untuk menguasai sepenuhnya sicantik bisu tersebut.

Untuk penguasaannya dapat terjadi melalui beberapa jalur; politik, perdagangan, pinjaman uang, pendidikan dan pemasukan tim ekspert. Semua itu sangat didambakan oleh negara luar terkait dengan potensi terpendam di bumi Indonesia yang apabila dilakukan sesuatu oleh pihak asing Indonesia tidak dapat berteriak apa-apa karena bisu.

Bisu itupun disebabkan oleh beberapa faktor: faktor keterbatasan kemampuan anak bangsa Indonesia, faktor keserakahan para penguasa terhadap rakyatnya dengan menjadikan pihak asing sebagai majikannya, faktor terlanjur meminjam dana sehingga ketika digertak menjadi bisu karena tidak mampu, dan bisu karena rakyat Indonesia tidak punya dignity, identity dan tidak berpegang kuat kepada religy.

Tiga poin terakhir itu menjadi tolak ukur sehingga membuat Indonesia menjadi gadis cantik lagi kaya tetapi bisu. Rakyat Indonesia tidak punya harga diri sehingga dengan mudah infiltrasi asing mengatur kehidupannya, mereka juga sudah meninggalkan identitas murni Indonesia yang berjaya mengusir penjajah suatu ketika sehingga menjadi sebuah negara berdaulat, satu bangsa beradab dan satu territorial yang mahal harga.

Yang paling penting lagi adalah rakyat Indonesia sudah melepaskan diri dari ikatan doktrin agama (faktor religy) sehingga dengan mudah menerima doktrin dan budaya agama dari bangsa luar. Faktor ini mendominasi kebisuan Indonesia, mendominasi ketertinggalan Indonesia dan mendominasi kedunguan Indonesia berbanding dengan negara lain yang masih komit dengan ideologi bangsa dan negaranya seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme dan nasionalisme serta sejumlah isme-isme lainnya, namun Indonesia yang dimiliki dan dimerdekakan oleh dominasi 99% ummat Islam menjauh dari ideologi Islamisme.

PROFIL INDONESIA

Mengurai sepintas profil Indonesia yang cantik lagi kaya, ia bernama Republik Indonesia, karena bentuk negaranya kesatuan dengan bentuk pemerintahannya republik maka sering juga ia disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai negara di Asia Tenggara yang dilalui oleh garis khatulistiwa, ia berada pada daratan benua Asia, Australia, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Ia merupakan sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang mencapai 17.504 pulau, yang dalam tahun 2020 berpenduduk 270.203.917 jiwa, dan ia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang diperkirakan mencapai lebih dari 230 juta jiwa.

Baca Juga:  Kadis DKP Aceh Buka Kegiatan FGD Penyusunan Draf Pergub Rumpon

Di darat NKRI berbatasan dengan negara Papua Nugini di Pulau Papua, Malaysia di pulau Kalimantan dan Timor Leste di Pulau Timor. Sedangkan Negara yang berbatasan laut dengan Indonesia adalah Singapura, Filipina, Australia dan India (Kepulauan Andaman dan Nikobar).

Terkait dengan hubungan luar negeri Indonesia merupakan negara anggota PBB dan negara anggota lembaga-lembaga anderbow PBB, Indonesia juga menjadi negara anggota APEC, ASEAN, G-20, ADB, OKI, IORA dan organisasi-organisasi Internasional lainnya. Ia juga sebagai salah satu negara pendiri ASEAN.

Negara yang beribukota Jakarta tersebut memiliki luas wilayah 1.904.569 km2 dengan agama resmi: Islam 87.2%, Protestan 7%, Katolik 2.9%, Hindu 1.7%, agama lainnya 0.9% (Termasuk Buddha dan Kong Hu Chu) dalam estimasi tahun 2010. Indonesia mempunyai banyak suku bangsa seperti Jawa 40.1%, Sunda 15.5%, Melayu 3.7%, Batak 3.6%, Madura 3%, Betawi 2.9%, Minangkabau 2.7%, Bugis 2.7%, Banten 2%, Banjar 1.7%, Bali 1.7%, Aceh 1.4%, Dayak 1.4%, Sasak 1.3%, Tionghoa 1.2%, suku bangsa lainnya 15%  dalam estimasi tahun 2010.

Bahasa resminya adalah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu Pasai dengan mata uangnya rupiah (IDR), hari nasionalnya 17 Agustus, dan lagu kebangsaannya Indonesia Raya. Kode teleponnya +62, kode dominan internetnya: id, ia memiliki banyak pulau dan pulau besarnya antara lain: Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Irian Jaya. Pulau-pulau besar tersebutlah yang selalu dilirik oleh pihak asing seperti pria hidung belang melirik gadis cantik yang kaya tetapi bisu.

IBARAT GADIS CANTIK YANG KAYA TETAPI BISU

Tidak ubahnya Indonesia seperti gadis cantik lagi kaya namun bisu sehingga ketika terjadi suatu ancaman terhadap dirinya hanya mampu menggoyang-goyangkan tubuh badan saja tetapi tidak berdaya untuk bersorak meminta bantu karena tidak bersuara. Akibatnya para pecundang dengan semena-mena dan seenaknya saja dapat mencolek, mencium, meremas, dan bahkan memperkosa sang gadis yang tidak berupaya meminta bantu sama pihak lain tersebut. Ia menyadari dirinya cantik lagi berharta sehingga banyak mata memandang kepadanya, manakala pemilik mata mengetahui ia bisu dan tidak bersuara, tatkala itulah ia diganggu dan diperkosa, begitulah permisalan untuk Indonesia.

Setidaknya demikianlah gambaran kondisi Indonesia hari ini yang diserbu oleh kuasa besar dunia untuk kepentingan mereka. Sudah bertahun-tahun warga negara Cina dari Tiongkok memasuki Indonesia dengan bebas dan aman tak kisah legal atau illegal, tidak punya suara (bisu) rakyat Indonesia untuk menolaknya. Manakala perihal tersebut merasa terganggu kuasa besar dunia lain (USA) yang sangat berkepentingan dengan kekayaan dan kecantikan Indonesia maka negara Paman Sam tersebutpun tidak mau kalah dengan saingan utamanya RRT untuk menguasai bodi sigadis nan cantik tetapi bisu. Maka dikirimlah 1000 prajurit angkatan darat AS berkolaborasi dengan 850 prajurit angkatan darat TNI yang berbasis di Palembang, Sumatera dan pulau-pulau lain di wilayah timur Indonesia.

Baca Juga:  Percakapan di Kereta Bawah Tanah (NYC Subway)

Kenapa aktivitas besar dengan membutuhkan biaya besar dapat segera wujud seperti itu tentunya karena keureuleng ngang keu abeuek keureuleng kuek keupaya (mata pandang burung elang ke kolam dan mata pandang burung bangau ke rawa-rawa) karena di sana ada umpan dan makanan bagi keduanya, maknanya mereka melakukan itu semua karena ada sorotan yang ingin dikuasai pada sosok gadis cantik yang tidak berdaya. Makanya siapa saja dapat mengatur dan dapat mencaplok Indonesia sekarang karena negara yang berazas Pancasila tersebut tidak berdaya membela diri ibarat sigadis cantik yang kaya tetapi bisu.

Ia hanya punya dua pilihan; melawan dengan menggerak-gerakkan anggota badan atau menerima dan menikmati prilaku yang dilakukan karena tidak berdaya memanggil orang untuk minta bantuan. Jadilah Indonesia negara yang dipermainkan pihak luar dengan menjajah rakyatnya, merampas hartanya, mengutak atik kedudukannya sebagaimana yang pernah terjadi dalam zaman penjajahan oleh Belanda, Jepang dan penguassaan asing hari ini yang sangat memalukan dan merisaukan.

Dalam situasi semacam ini, Indonesia yang punya pemerintah terkesan pemerintah itu impoten, kalaulah kita ibaratkan pemerintah itu sebagai pihak yang paling berkuasa terhadab dirinya Indonesia namun ianya impoten maka untuk memuaskan syahwat Indonesia ia menerima pemuas nafsunya dari wilayah luar, itulah yang sedang terjadi sekarang di Indonesia.

Yang dikhawatirkan selanjutnya adalah; manakala mereka telah puas merampas mahligai dan mahkota dalam tubuh Indonesia, salah satu pihak berkeras untuk dapat menguasai penuh Indonesia tetapi ditantang oleh pihak lain maka mereka bisa saja berdamai dengan memecah belahkan Indonesia menjadi negara-negara kecil agar masing-masing mereka mendapatkan porsi darinya. Kalau opsi ini yang terjadi maka pengalaman Uni Soviet, Yugoslavia dan India akan terulang di Indonesia.

ALTERNATIF SOLUSI

Alternatif solusi untuk mengatasi suasana yang sudah sangat mencekam tersebut tidak ada lain melainkan rakyat Indonesia harus berani dan siap menampakkan identitasnya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat di bawah naungan dan perlindungan lembaga dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ketika ia sudah berani menampakkan identitasnya kepada orang lain maka orang lainpun tidak berani mempretelinya lagi dalam kondisi dan situasi bagaimanapun juga.

Alternatif solusi selanjutnya adalah rakyat Indonesia harus lugas dan tegas mempertahankan harga diri (dignity) sebagai sebuah bangsa yang berbasis ideologi yang diakui dunia internasional. Dengan demikian, pencaplokan wilayah, pemasukan warganegara asing, pemaksaan nafsu serakah asing ke Indonesia harus berani ditolak, dilawan, dan bila perlu diperangi dengan penuh perhitungan. Kalau tidak demikian NKRI ini akan kehilangan marwah, tidak bergezah, dan malah membuat rakyat semakin hari semakin susah.

Baca Juga:  Negara Karut Marut

Alternatif solusi lainnya dan ini yang paling urgen sekali adalah; negara mayoritas muslim tersebut harus mengedepankan doktrin Islamnya dalam mengurus negara. Karena Islam merupakan salah satu agama besar dunia yang diakui oleh lembaga dunia maka tidak ada pihak yang boleh menghambat dan melarang praktik doktrin Islam terhadap ummatnya termasuk dalam mengurus dan mengelola negara sebagaimana penganut agama Hindu mengelola negara India, penganut agama Budha mengelola negara Myanmar dan Thayland, seperti penganut agama Khatolik dan Protestan yang mengelola negara-negara di belahan benua Eropa dan Amerika.

Kalau tiga hal tersebut tidak berani dan malah tidak mau dilakukan maka terus meneruslah Indonesia itu menjadi gadis cantik lagi kaya tetapi bisu yang hari-hari menjadi mangsa kuasa besar dunia untuk memperkosanya baik secara langsung maupun tidak langsung. Punca yang paling inti dari tiga alternatif solusi itu adalah dimensi religy karena ummat Islam diajarkan oleh pembawa Islam Muhammad Rasulullah SAW dengan cara demikian.

Sebagai contoh konkrit, Yatsrib pada mulanya dikuasai oleh bangsa Yahudi dengan agama Yahudinya, Majusi dengan kepercayaan Majusinya, Nashrani dengan keyakinan Nashraninya, namun ketika ideologi Islam ditebarkan Muhammad di sana kemudian Yatsrib dapat digantikan nama dengan Madinah, aturan hidup dapat diwujudkan yang bernama Shahifah Madinah (Konstitusi Madinah), Massjid dapat didirikan dengan megah yang kini terkenal dengan Masjid Nabawi, ummat Islam (Muhajirin dan Anshar) dapat dipersatukan sehingga menjadi kekuatan besar yang tidak sanggup dilawan musuhnya, dan sumber ekonomi dapat diwujudkan yang dimulai dengan pewujudan pasar tradisional sehingga wujud sistem ekonomi Islam.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah; kenapa dahulu ummat Islam yang minoritas mampua menaklukkan wilayah yang dikuasai oleh kaum mayoritas dan sekarang ummat Islam mayoritas di negeri sendiri dijadikan seperti gadis bisu oleh musuh-musuh Islam? Jawabannya ada pada masing-masing kita, coba ambil ibrah dari perjalanan sirah, ambil pengalaman dari perjalanan zaman, ambil pengetahuan dari sumber tuhan, dan ambil kekayaan dari sumber alam. Semoga sahaja menjadi bahan pemikiran kalau seorang gadis cantik secantik apapun apabila dia bisu maka tidak mampu membebaskan diri dari perkosaan orang. Sebaliknya seorang gadis jelek sejelek apapun dia namun punya suara dan mau bersuara serta melawan kedhaliman luar insya Allah pengalaman Yatsrib akan dapat di aplikasikan di Indonesia.

Wallahu a’lam… mau berbuat atau mau diaaaammmm,,,,,,,…

Penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan HukumUIN Ar-Raniry.

Email : [email protected]
Terbit : Banda Aceh, 04 Agustus 2021.

Indonesia Ibarat Gadis Cantik Yang Kaya Tetapi Bisu

Kalam Pembuka

Membaca judul artikel ini: “Indonesia ibarat gadis cantik yang kaya tetapi bisu” boleh menimbulkan banyak interpretasi selaras dengan kemampuan, tujuan dan kapasitas seseorang yang menafsirkannya. Ia dapat ditafsirkan Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki keindahan panorama alam, dapat juga ditafsirkan ia memiliki banyak hasil alam, dan juga dapat diartikan ia mempesonakan dengan banyaknya kekosongan lahan dan semisalnya.

Penafsiran tersebut dapat mengundang banyak orang asing untuk berdomisili penuh di dalamnya, dapat juga mengundang orang asing untuk berniaga di sana, boleh jadi juga menjadi pesona bagi orang asing untuk mencari rizki di sana, yang paling ekstrim dapat kita maknai; boleh jadi dapat mengundang orang asing untuk menguasai sepenuhnya sicantik bisu tersebut.

Untuk penguasaannya dapat terjadi melalui beberapa jalur; politik, perdagangan, pinjaman uang, pendidikan dan pemasukan tim ekspert. Semua itu sangat didambakan oleh negara luar terkait dengan potensi terpendam di bumi Indonesia yang apabila dilakukan sesuatu oleh pihak asing Indonesia tidak dapat berteriak apa-apa karena bisu.

Bisu itupun disebabkan oleh beberapa faktor: faktor keterbatasan kemampuan anak bangsa Indonesia, faktor keserakahan para penguasa terhadap rakyatnya dengan menjadikan pihak asing sebagai majikannya, faktor terlanjur meminjam dana sehingga ketika digertak menjadi bisu karena tidak mampu, dan bisu karena rakyat Indonesia tidak punya dignity, identity dan tidak berpegang kuat kepada religy.

Tiga poin terakhir itu menjadi tolak ukur sehingga membuat Indonesia menjadi gadis cantik lagi kaya tetapi bisu. Rakyat Indonesia tidak punya harga diri sehingga dengan mudah infiltrasi asing mengatur kehidupannya, mereka juga sudah meninggalkan identitas murni Indonesia yang berjaya mengusir penjajah suatu ketika sehingga menjadi sebuah negara berdaulat, satu bangsa beradab dan satu territorial yang mahal harga.

Yang paling penting lagi adalah rakyat Indonesia sudah melepaskan diri dari ikatan doktrin agama (faktor religy) sehingga dengan mudah menerima doktrin dan budaya agama dari bangsa luar. Faktor ini mendominasi kebisuan Indonesia, mendominasi ketertinggalan Indonesia dan mendominasi kedunguan Indonesia berbanding dengan negara lain yang masih komit dengan ideologi bangsa dan negaranya seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme dan nasionalisme serta sejumlah isme-isme lainnya, namun Indonesia yang dimiliki dan dimerdekakan oleh dominasi 99% ummat Islam menjauh dari ideologi Islamisme.

PROFIL INDONESIA

Mengurai sepintas profil Indonesia yang cantik lagi kaya, ia bernama Republik Indonesia, karena bentuk negaranya kesatuan dengan bentuk pemerintahannya republik maka sering juga ia disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai negara di Asia Tenggara yang dilalui oleh garis khatulistiwa, ia berada pada daratan benua Asia, Australia, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Ia merupakan sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang mencapai 17.504 pulau, yang dalam tahun 2020 berpenduduk 270.203.917 jiwa, dan ia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang diperkirakan mencapai lebih dari 230 juta jiwa.

Baca Juga:  Dewan Dakwah Aceh dan Forum Dakwah Perbatasan Gelar Sunatan Massal Gratis

Di darat NKRI berbatasan dengan negara Papua Nugini di Pulau Papua, Malaysia di pulau Kalimantan dan Timor Leste di Pulau Timor. Sedangkan Negara yang berbatasan laut dengan Indonesia adalah Singapura, Filipina, Australia dan India (Kepulauan Andaman dan Nikobar).

Terkait dengan hubungan luar negeri Indonesia merupakan negara anggota PBB dan negara anggota lembaga-lembaga anderbow PBB, Indonesia juga menjadi negara anggota APEC, ASEAN, G-20, ADB, OKI, IORA dan organisasi-organisasi Internasional lainnya. Ia juga sebagai salah satu negara pendiri ASEAN.

Negara yang beribukota Jakarta tersebut memiliki luas wilayah 1.904.569 km2 dengan agama resmi: Islam 87.2%, Protestan 7%, Katolik 2.9%, Hindu 1.7%, agama lainnya 0.9% (Termasuk Buddha dan Kong Hu Chu) dalam estimasi tahun 2010. Indonesia mempunyai banyak suku bangsa seperti Jawa 40.1%, Sunda 15.5%, Melayu 3.7%, Batak 3.6%, Madura 3%, Betawi 2.9%, Minangkabau 2.7%, Bugis 2.7%, Banten 2%, Banjar 1.7%, Bali 1.7%, Aceh 1.4%, Dayak 1.4%, Sasak 1.3%, Tionghoa 1.2%, suku bangsa lainnya 15%  dalam estimasi tahun 2010.

Bahasa resminya adalah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu Pasai dengan mata uangnya rupiah (IDR), hari nasionalnya 17 Agustus, dan lagu kebangsaannya Indonesia Raya. Kode teleponnya +62, kode dominan internetnya: id, ia memiliki banyak pulau dan pulau besarnya antara lain: Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Irian Jaya. Pulau-pulau besar tersebutlah yang selalu dilirik oleh pihak asing seperti pria hidung belang melirik gadis cantik yang kaya tetapi bisu.

IBARAT GADIS CANTIK YANG KAYA TETAPI BISU

Tidak ubahnya Indonesia seperti gadis cantik lagi kaya namun bisu sehingga ketika terjadi suatu ancaman terhadap dirinya hanya mampu menggoyang-goyangkan tubuh badan saja tetapi tidak berdaya untuk bersorak meminta bantu karena tidak bersuara. Akibatnya para pecundang dengan semena-mena dan seenaknya saja dapat mencolek, mencium, meremas, dan bahkan memperkosa sang gadis yang tidak berupaya meminta bantu sama pihak lain tersebut. Ia menyadari dirinya cantik lagi berharta sehingga banyak mata memandang kepadanya, manakala pemilik mata mengetahui ia bisu dan tidak bersuara, tatkala itulah ia diganggu dan diperkosa, begitulah permisalan untuk Indonesia.

Setidaknya demikianlah gambaran kondisi Indonesia hari ini yang diserbu oleh kuasa besar dunia untuk kepentingan mereka. Sudah bertahun-tahun warga negara Cina dari Tiongkok memasuki Indonesia dengan bebas dan aman tak kisah legal atau illegal, tidak punya suara (bisu) rakyat Indonesia untuk menolaknya. Manakala perihal tersebut merasa terganggu kuasa besar dunia lain (USA) yang sangat berkepentingan dengan kekayaan dan kecantikan Indonesia maka negara Paman Sam tersebutpun tidak mau kalah dengan saingan utamanya RRT untuk menguasai bodi sigadis nan cantik tetapi bisu. Maka dikirimlah 1000 prajurit angkatan darat AS berkolaborasi dengan 850 prajurit angkatan darat TNI yang berbasis di Palembang, Sumatera dan pulau-pulau lain di wilayah timur Indonesia.

Baca Juga:  Hasil Akreditasi Dayah 2021 Akan Dijadikan Referensi Kualifikasi Dayah di Banda Aceh

Kenapa aktivitas besar dengan membutuhkan biaya besar dapat segera wujud seperti itu tentunya karena keureuleng ngang keu abeuek keureuleng kuek keupaya (mata pandang burung elang ke kolam dan mata pandang burung bangau ke rawa-rawa) karena di sana ada umpan dan makanan bagi keduanya, maknanya mereka melakukan itu semua karena ada sorotan yang ingin dikuasai pada sosok gadis cantik yang tidak berdaya. Makanya siapa saja dapat mengatur dan dapat mencaplok Indonesia sekarang karena negara yang berazas Pancasila tersebut tidak berdaya membela diri ibarat sigadis cantik yang kaya tetapi bisu.

Ia hanya punya dua pilihan; melawan dengan menggerak-gerakkan anggota badan atau menerima dan menikmati prilaku yang dilakukan karena tidak berdaya memanggil orang untuk minta bantuan. Jadilah Indonesia negara yang dipermainkan pihak luar dengan menjajah rakyatnya, merampas hartanya, mengutak atik kedudukannya sebagaimana yang pernah terjadi dalam zaman penjajahan oleh Belanda, Jepang dan penguassaan asing hari ini yang sangat memalukan dan merisaukan.

Dalam situasi semacam ini, Indonesia yang punya pemerintah terkesan pemerintah itu impoten, kalaulah kita ibaratkan pemerintah itu sebagai pihak yang paling berkuasa terhadab dirinya Indonesia namun ianya impoten maka untuk memuaskan syahwat Indonesia ia menerima pemuas nafsunya dari wilayah luar, itulah yang sedang terjadi sekarang di Indonesia.

Yang dikhawatirkan selanjutnya adalah; manakala mereka telah puas merampas mahligai dan mahkota dalam tubuh Indonesia, salah satu pihak berkeras untuk dapat menguasai penuh Indonesia tetapi ditantang oleh pihak lain maka mereka bisa saja berdamai dengan memecah belahkan Indonesia menjadi negara-negara kecil agar masing-masing mereka mendapatkan porsi darinya. Kalau opsi ini yang terjadi maka pengalaman Uni Soviet, Yugoslavia dan India akan terulang di Indonesia.

ALTERNATIF SOLUSI

Alternatif solusi untuk mengatasi suasana yang sudah sangat mencekam tersebut tidak ada lain melainkan rakyat Indonesia harus berani dan siap menampakkan identitasnya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat di bawah naungan dan perlindungan lembaga dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ketika ia sudah berani menampakkan identitasnya kepada orang lain maka orang lainpun tidak berani mempretelinya lagi dalam kondisi dan situasi bagaimanapun juga.

Alternatif solusi selanjutnya adalah rakyat Indonesia harus lugas dan tegas mempertahankan harga diri (dignity) sebagai sebuah bangsa yang berbasis ideologi yang diakui dunia internasional. Dengan demikian, pencaplokan wilayah, pemasukan warganegara asing, pemaksaan nafsu serakah asing ke Indonesia harus berani ditolak, dilawan, dan bila perlu diperangi dengan penuh perhitungan. Kalau tidak demikian NKRI ini akan kehilangan marwah, tidak bergezah, dan malah membuat rakyat semakin hari semakin susah.

Baca Juga:  Megawati, Soekarno Dan Komunisme

Alternatif solusi lainnya dan ini yang paling urgen sekali adalah; negara mayoritas muslim tersebut harus mengedepankan doktrin Islamnya dalam mengurus negara. Karena Islam merupakan salah satu agama besar dunia yang diakui oleh lembaga dunia maka tidak ada pihak yang boleh menghambat dan melarang praktik doktrin Islam terhadap ummatnya termasuk dalam mengurus dan mengelola negara sebagaimana penganut agama Hindu mengelola negara India, penganut agama Budha mengelola negara Myanmar dan Thayland, seperti penganut agama Khatolik dan Protestan yang mengelola negara-negara di belahan benua Eropa dan Amerika.

Kalau tiga hal tersebut tidak berani dan malah tidak mau dilakukan maka terus meneruslah Indonesia itu menjadi gadis cantik lagi kaya tetapi bisu yang hari-hari menjadi mangsa kuasa besar dunia untuk memperkosanya baik secara langsung maupun tidak langsung. Punca yang paling inti dari tiga alternatif solusi itu adalah dimensi religy karena ummat Islam diajarkan oleh pembawa Islam Muhammad Rasulullah SAW dengan cara demikian.

Sebagai contoh konkrit, Yatsrib pada mulanya dikuasai oleh bangsa Yahudi dengan agama Yahudinya, Majusi dengan kepercayaan Majusinya, Nashrani dengan keyakinan Nashraninya, namun ketika ideologi Islam ditebarkan Muhammad di sana kemudian Yatsrib dapat digantikan nama dengan Madinah, aturan hidup dapat diwujudkan yang bernama Shahifah Madinah (Konstitusi Madinah), Massjid dapat didirikan dengan megah yang kini terkenal dengan Masjid Nabawi, ummat Islam (Muhajirin dan Anshar) dapat dipersatukan sehingga menjadi kekuatan besar yang tidak sanggup dilawan musuhnya, dan sumber ekonomi dapat diwujudkan yang dimulai dengan pewujudan pasar tradisional sehingga wujud sistem ekonomi Islam.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah; kenapa dahulu ummat Islam yang minoritas mampua menaklukkan wilayah yang dikuasai oleh kaum mayoritas dan sekarang ummat Islam mayoritas di negeri sendiri dijadikan seperti gadis bisu oleh musuh-musuh Islam? Jawabannya ada pada masing-masing kita, coba ambil ibrah dari perjalanan sirah, ambil pengalaman dari perjalanan zaman, ambil pengetahuan dari sumber tuhan, dan ambil kekayaan dari sumber alam. Semoga sahaja menjadi bahan pemikiran kalau seorang gadis cantik secantik apapun apabila dia bisu maka tidak mampu membebaskan diri dari perkosaan orang. Sebaliknya seorang gadis jelek sejelek apapun dia namun punya suara dan mau bersuara serta melawan kedhaliman luar insya Allah pengalaman Yatsrib akan dapat di aplikasikan di Indonesia.

Wallahu a’lam… mau berbuat atau mau diaaaammmm,,,,,,,…


Penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan HukumUIN Ar-Raniry.

Pengurus Dewan Dakwah Aceh Dilantik

Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Aceh foto bersama seusai dilantik Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, yang diwakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Zahrol Fajri SAg MH di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (20/2/2021) malam.

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, yang diwakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Zahrol Fajri SAg MH, Sabtu (20/2/2021) malam, melantik pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Aceh di Anjong Monmata, Banda Aceh. Acara itu turut dihadiri Wakil Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Umum Dewan Dakwah Pusat, Dr Amlir Syaifa Yasin MA dan Ade Salamun MM, Kadis Syariat Islam Aceh, Dr EMK Alidar, Kakanwil Kemenag Aceh, Dr H Iqbal SAg MAg, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Zahrol Fajri saat membacakan sambutan Gubernur Aceh mengatakan, untuk mewujudkan program ‘Aceh Meuadab,’ tentu pemerintah tidak dapat berjalan sendiri, tapi perlu dukungan dari semua pihak termasuk organisasi-organisasi Islam di Aceh. “Dewan Dakwah Islamiyah sebagai salah satu organisasi Islam, kami harapkan dapat mengambil peran terutama dalam penguatan pelaksanaan syariat Islam di Aceh,” ujarnya.

Zahrol Fajri menyampaikan, arah pembangunan ‘Aceh Meuadab’ adalah melahirkan generasi Aceh yang memiliki kualifikasi terbaik lahir dan batin, berkarakter, memiliki mental juang tinggi dengan semangat pantang menyerah dan ber-akhlakul karimah.

“Untuk itu, dalam rangka menyukseskan program Pemerintah Aceh ini, kami mendorong agar Dewan Dakwah terus melakukan studi dan perencanaan dakwah dengan baik dan benar,” ungkap Gubernur melalui Kadis Pendidikan Dayah Aceh. Ia juga berharap Dewan Dakwah dapat berkiprah secara maksimal dalam kegiatan dakwah di Aceh. Apalagi, Dewan Dakwah menjadi wadah berkumpulnya para cendikiawan dan intelektual muslim.

Terakhir, Gubernur Aceh mengucapkan selamat kepada ketua dan para pengurus Dewan Dakwah Aceh masa bakti 2021-2026. “Kami berharap, amanah yang diemban ini mudah-mudahan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya,” harap Gubernur, dalam rilis Dinas Pendidikan Dayah Aceh, kepada Serambi, Sabtu (20/2/2021).

Sementara itu, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Aceh, dr H Muhammad Ar MEd, mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Gubernur dan Pemerintah Aceh atas dukungan penuh dalam memfasilitasi acara pelantikan itu, sehingga terlaksana dengan baik. (jal)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Pengurus Dewan Dakwah Aceh Dilantik, https://aceh.tribunnews.com/2021/02/22/pengurus-dewan-dakwah-aceh-dilantik.

Modus Operandi Kekerasan Terhadap Anak

Semakin hari semakin meningkat kekerasan terhadap anak walaupun pelakunya adalah ayah kandungnya, pamannya, abang kandungnya, kakeknya, ayah tiri-nya, ustad atau guru ngaji-nya, dan sebagainya. Kejadian ini bukan hanya berlaku di Aceh, bahkan di seluruh Indonesia kerapkali terjadi.

Kalau kita mengkaji lebih dalam, apa kesalahan anak-anak yang masih dibawah umur sehingga mereka rela diperlakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka rasakan. Apakah manusia sudah bernafsu seperti binatang sehingga ayah kandung,  rela memperkosa anaknya sendiri, paman rela melecehkan keponakannya,  kakek rela berbuat tidak senonoh terhadap cucunya, guru atau ustad atau teungku bergairah sekali untuk mencabuli murid-muridnya yang masih dibawah umur?

Mungkin pada saat melakukan  tindakan bejat itu, mereka telah dirasuki oleh setan sehingga tidak nampak pada matanya itu anak-anak, anaknya sendiri, keponakannya sendiri, muridnya sendiri dan  cucunya sendiri. Inilah tindakan manusia akhir zaman yang hampir tidak bisa dibedakan antara binatang dengan manusia yang sesungguhnya. Mungkin inilah sebabnya  hukuman yang dikenakan ke atas mereka tidak membuat efek jera, sehingga keadaan ini selalu saja terjadi, bahkan pelakunya itu-itu saja, yang beda hanya korbannya. Semua ini dilakukan dengan modus operandi yang berbagai macam cara.

Menyikapi persoalan yang telah terjadi selama ini kekerasan terhadap anak, dilakukan dengan cara misalnya seorang ayah tiri tega melakukan pencabulan anak tirinya yang sudah meninggal ayah kandungnya, ibunya kawin lagi sehingga ayah tirinya oleh sebab apa, mungkin kerasukan setan sehingga mencabuli anak tirinya seperti yang terjadi di  Aceh Singkil (Lihat  Harian SI Jum’at 29 Januari 2021). Ini kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang terdekatnya yaitu ayah tirinya. Oleh karena itu seorang ibu bukan hanya memperhatikan suaminya yang baru, tetapi harus melihat juga anak-anaknya dan kelakuan suaminya yang baru, jangan-jangan ayah tiri  bukan hanya perlu kepada ibu, bahkan anaknya sekalian harus digarap.

Ada juga kasus  yang ibunya mengetahui bahwa suaminya mencabuli anaknya tetapi ia (ibunya) tidak berani melapor. Ketika kita bertanya kepada ibunya, mengapa tidak melapor ke pihak kepolisian, jawabnya karena takut tidak ada yang bisa menanggulangi kebutuhan keluarganya. Ini pengakuan seorang perempuan yang akhirnya suaminya juga di bereukah (ditangkap) oleh polisi karena kebejatannya  mencabuli anak tirinya.  Kalau ayah tiri yang melakukan perkara semacam ini, maka labelnya bisa  dikatakan bahwa ini “ayah tiri setan”. Karena ia tidak mempunyai  rasa  dan hati nurani kemanusiaan, ia hanya memiliki naluri kebinatangan yang hanya mementingkan nafsu ammarah yang merajalela dalam pikiran dan hatinya sehingga tidak ada istilah tebang pilih padanya dalam hal melakukan sex.

Kemudian penelantaran anak juga terjadi di Lhokseumawe karena ibunya perlu kaya cepat atau karena kebutuhan tiga orang anak, yang masih sekolah SMA, SMP dan SD setelah bercerai dengan suaminya, makanya ibunya rela menjadi pengedar sabu-sabu sehingga ia ditangkap polisi hingga tiga orang anaknya harus menderita selama ia dikurung dalam penjara. Memang niatnya baik untuk memenuhi kebutuhan tiga orang anaknya, namun cara yang dilaluinya melawan hukum. (Lihat pemberitaan Harian SI 27 Januari 2021).

Kejadian ibu  (wanita) yang terlibat sabu-sabu bukan hanya sekali terjadi, sudah beberapa kasus terjadi dan ditangkap pihak kepolisian tentang kurir sabu-sabu antar kota dan antar provinsi. Kalau ditanya kepada mereka, mengapa melakukan tindakan yang nekat dan melanggar hukum tersebut, mereka hanya menjawab, “semua ini kulakukan  demi kebutuhan keluarga”.

Kemudian ada juga orang tua yang melakukan penganianyaan terhadap anak,  dan melakukan kekerasan terhadap anak, membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengannya, melakukan ancaman kekerasan kepada anak untuk melakukan perbuatan cabul dengannya (yang ini kerap sekali terjadi), banyak sekali kasus seperti ini yang sudah  masuk ke pengadilan dan hampir di semua kabupaten /kota berlaku, namun kebanyakan luput dari pantauan pihak kepolisian dan komunitas peduli anak.

Selanjutnya, ada juga orang tua yang  melakukan exploitasi  secara ekonomi terhadap anak seperti menjadikan anak untuk mengemis, menyewakan anak-anaknya untuk dijadikan alat mengemis, menyuruh anak untuk mencuri dan barang curiannya ditampung oleh mereka dan  sebagainya. Semua kasus ini  sudah terjadi dan bahkan sudah diputuskan oleh hampir semua  pengadilan di Aceh.

Kasus  pencurian yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur telah banyak terjadi dan kasusnya berakhir dengan damai dan penjara yaitu pembinaan dalam masa tertentu di pusat-pusat pemulihan anak.   Kasus pencurian ini bisa saja didukung oleh orang  tua mereka karena kebutuhan hidup  keluarga  yang mendesak, dan adapula karena pihak-pihak tertentu yang sengaja merekrut anak-anak untuk mencuri seperti mencuri HP, Lap Top, sepeda, sepeda motor, sepatu dan sandal, yang  nantinya  dijual kepada mereka (penadah) dengan harga murah. Ini merupakan penyakit kota besar yang sudah melembaga dalam mengexploitasi anak demi kepentingan perut mereka. Namun perkara yang demikian lebih banyak terlupakan, padahal ianya penyakit social yang semua orang merasakannya.

Kemudian anak dibawah umur juga sudah memiliki  tanaman ganja  atau maryuana dan sudah ada kasus yang terungkap oleh pihak berwajib dan telah dijatuhkan hukuman oleh pengadilan anak, selain dari itu juga terdapat anak yang kedapatan sudah kerap kali  menghisap ganja (narkotika) padahal  ia masih di bawah umur, namun kasus seperti ini sudah banyak  juga ditangkap oleh pihak berwajib dan dibawa ke pangadilan anak, kalau yang model ini bisa diprediksi bahwa kepedulian orang tua mereka sangat tidak maksimal terhadap pergerakan anak-anak mereka. Artinya orang tua lalai dalam memantau  setiap gerak gerik anak-anak mereka, bahkan ada orang tua yang membiarkan anak-anaknya  merokok padahal mereka masih usia sekolahan. Jadi, merokok bagi anak-anak sama dengan membuka jalan bagi mereka untuk menjadi calon penghisap ganja dan penghirup sabu-sabu.

Namun demikian ada juga  hal  lain yang paling tragis, yaitu orang tua memaksa anak-anaknya yang dibawah umur untuk mencari uang/mencari nafkah  dan disuruh mengemis, kalau mereka tidak mau dan tidak membawa pulang uang yang banyak, maka mereka akan dipukul atau dirantai oleh orang tuanya, perkara ini juga sudah pernah diputuskan di pengadilan anak dan barang buktinya telah-pun disita. Jadi, pertanyaannya timbul, orang tua macam  apa mereka  ini,  dan  orang tua seperti ini yang tega menjadikan anak-anaknya  sebagai pencari rezeki  dan memenuhi kebutuhan mereka. Orang seperti ini sama seperti kerbau atau sapi yang hendak disembelih pada musim hari raya Qurban.

Kasus yang paling banyak terjadi adalah kekerasan terhadap anak yaitu orang tua sering memukul atau menyiksa anaknya karena kesal. Mereka (orang tua)  kebanyakan kurang terdidik baik pendidikan umum ataupun pendidikan agama sehingga anak kecil-pun jadi sasaran amukan orang tuanya, dan kepedulian masyarakat-pun  sangat kurang terhadap eksistensi tetangganya  yang melakukan kekerasan terhadap anak kecil, dan tempat tinggal yang berjauhan dengan lingkungan masyarakat serta pihak-pihak berwajib juga bisa menjadi pemicu kekerasan terhadap anak.

Hasil survey KPPAA ke beberapa daerah menunjukkan bahwa di daerah-daerah terpencil kasus pelecehan, pencabulan, kekerasan terhadap anak banyak terjadi khasnya di daerah-daerah  terpencil.

Mereka tidak  berani melapor  karena beberapa alasan: pertama karena itu aib dan ianya tidak bisa dibuktikan secara hukum, akhirnya didiamkan saja dan apa yang terjadi, maka terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Kedua karena  lokasi atau tempat kejadian perkara jauh dari kantor Polisi, KPPAA, Dinas Pemberadayaan Perempuan dan Anak, LSM anak, dan pihak-pihak yang peduli terhadap anak. Karena itu banyak kasus  tersebut ditelan masa, dan para pelakunya  terus mencari mangsa baru di tempat atau lokasi lainnya.

Kemudian  kasus melarikan anak perempuan dibawah umur juga tidak sepi dalam masyarakat kita karena HP android sangat berjasa untuk terlaksananya acara tersebut. Jika orang tua melarang kawin dan pacaran, maka para remaja tidak segan-segan mengambil jalan tengah atau jalan keluar dengan melarikan anak perempuan dari rumah orang tuanya dan menikah di tempat-tempat tertentu selain dari petugas negara (KUAKEC).  Di sini tidak dipandang batas umur yang penting menyelamatkan anak-anak dari perzinahan,  kuakec liar ini yang penting  ada amplop beres semuanya, dan  langsung dinikahkan walaupun  wali tidak hadir.  Kawin lari seperti ini sangat sering terjadi di zaman teknologi informasi seperti sekarang ini. Memang kita tidak menyalahkan teknologi, namun para pengelola dan petugas yang berekepentingan terhadap terknologi ini harus dapat mengekang dan meminimalisir persoalan yang merusak akhlak generasi muda.

Mungkin solusi yang tepat adalah adanya  peran  dan tanggung jawab keluarga dalam memantau gerak gerik anak. Pengawasan dari berbagai unsur lembaga yang peduli terhadap kasus anak dan  Dinas-dinas  terkait harus selalu siap  sedia  dalam memantau kasus anak.

Kemudian para pihak yang membuat hukum atau undang-undang tentang perlindungan anak harus senantiasa memantau jalannya  kasus persidangan ini di setiap pengadilan, sehingga para terdakwa atau para pesalah harus dihukum yang berat kepadanya, dan Negara juga harus melindunginya para korban, direrehabilitasi nama baiknya, diberikan ganti rugi (kompensasi) kepadanya dalam masa tertentu.

Rehabilitasi psikisnya,  traumatiknya, dan membangkitkan gairah hidupnya khususnya para korban adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh pihak-pihak terkait  khususnya  pemerintah. Jika negara gagal mengurus dan menjaga eksisteni anak-anak, maka kehabisan stock kepemimpinan akan berlaku sepanjang hayat. Sebab, anak-anak sekarang dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka akan menjadi pemimpin masa depan.  Apabila kehidupannya  diamputasi sejak dini, maka  terombang-ambinglah negara ini karena para pemimpinnya terdiri dari orang-orang cacat dan ampas kemanusiaan yang sangat tidak layak untuk memimpin. Camkanlah wahai para pecinta anak-anak dan selamatkanlah mereka demi  kelanjutan kepemimpinan di masa depan.


Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Penulis adalah Ketua Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh

Dr. Muhammad AR Diangkat Sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

BANDA ACEH – Dr Muhammad AR MEd MA terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh periode 2020-2025 menggantikan Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA. Direktur Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh itu terpilih dalam musyawarah wilayah (muswil) ke V di markaz lembaga tersebut, Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Minggu (22/11/2020).

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus daerah dan pengurus wilayah lembaga itu di buka secara resmi oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat, Ustaz H Adian Husaini MSi PhD, Minggu (22/11/2020) pagi.

Pimpinan sidang muswil Dewan Dakwah Aceh, Zulfikar Tijue didampingi sekretaris sidang, Enzustinianus mengatakan pengambilan keputusan dalam muswil tersebut dilakukan dengan musyawarah.

Dalam pemilihan ketua umum, masing-masing peserta muswil memilih lima orang formatur dengan cara menulis tiga nama di kertas. Nama dengan jumlah pemilih terbanyak menjadi ketua dan merangkap anggota formatur.

Adapun tim formatur yang terpilih yaitu DrMuhammad Ar MEd, Zulfikar SE, Enzustinianus SH MHum, Dr Abizal Muhammad Yati Lc MA dan Rahmadon Tosari MA PhD.

Zulfikar menjelaskan kelima anggota formatur ini mempunyai tugas untuk memilih salah seorang diantaranya sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh periode 2020-2025 dengan cara musyawarah.

“Setelah bermusyawarah, para anggota formatur menetapkan Dr Muhammad AR MEd sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh periode 2020-2025,” Kata Zulfikar.

Sebelumnya Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat, Ustaz H Adian Husaini dalam sambutan pembukaan muswil meminta Dewan Dakwah Aceh menjadi contoh dan teladan bagi dewan dakwah lainnya.

Ia juga meminta kedepannya Dewan Dakwah Aceh dapat menggarap kampus agar lebih islami, menggarap pondok pesantren dan menggarap masjid sebagai pusat pengkaderan dai.

“Dewan Dakwah Aceh harus menjadi lebih baik lagi agar misi dakwah seperti yang dicita-citakn oleh Pendiri Dewan Dakwah yaitu Allahuyarham Mohammad Natsir dapat terwujud demi kemaslahatan ummat,” demikian pesan Ustaz Adian Husaini.(mas)

 

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Muhammad AR Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, https://aceh.tribunnews.com/2020/11/23/muhammad-ar-ketua-umum-dewan-dakwah-aceh.

 

Pengurus Dewan Dakwah Aceh Tengah dan Bener Meriah Resmi Di Lantik

👆👆Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Bener Meriah di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum'at (1/6/2018)

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Bener Meriah di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum’at (1/6/2018)
Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Tengah dan Bener Meriah periode 2018-2021 resmi dilantik oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA di dua tempat terpisah, yaitu di Aula Kemenag Aceh Tengah, Sabtu (2/6/2018) dan di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum’at (1/6/2018).
Hadir dalam pelantikan tersebut Bupati Aceh Tengah Drs Shabela Abubakar, Bupati Bener Meriah Ahmadi SE, Forkompinda kedua Kabupaten dan undangan lainnya.
Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA dalam sambutannya saat pelantikan Dewan Dakwah Aceh Tengah menjelaskan tentang sejarah lahirnya Dewan Dakwah dan mengklarifikasi kalau ada persepsi yang menyamakan antara Dewan Dakwah dengan Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia. Karena ini adalah dua lembaga yang berbeda.
“Dewan Dakwah didirikan oleh mantan Perdana Menteri pertama RI, Allahyarham Muhammad Natsir dengan tujuan untuk mewujudkan Islam yang dapat diaplikasikan dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam berbangsa dan bernegara,” kata Tgk Hasanuddin, Sabtu (02/06/2018).
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry ini menambahkan sekarang yang menjadi fokus kerja dan program Dewan Dakwah adalah pada penguatan organisasi dengan menargetkan pembentukan dan pengaktifan pengurus daerah Kab/kota seluruh Aceh.
Kemudian pengkaderan baik formal melalui Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh yang bertempat di Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar maupun informal melalui training/daurah dai daiyah, imam khatib dan sosialisasi syariah Islam.
“Selain itu Dewan Dakwah juga fokus dalam mengawal perbatasan Aceh dari upaya pendangkalan aqidah dan terakhir upaya kemandirian dana dakwah melalui pengaktifan LAZNAS,” ungkap Tgk Hasanuddin.
Bupati Aceh Tengah Drs Shabela Abubakar dalam arahannya berharap kehadiran Dewan Dakwah Aceh Tengah dapat menjadi patner kerja Pemerintah daerah. Menurutnya pemerintah tidak mungkin dapat bekerja sendiri dan tentunya memerlukan rekan kerja lainnya termasuk Dewan Dakwah.
Bupati Shabela menambahkan kehadiran Dewan Dakwah juga untuk menjawab kebutuhan dai yang selama ini masih kurang di daerah tersebut. Akibatnya untuk mengisi acara hari besar keagamaan di Kabupaten sering mengundang dai dari luar daerah.
“Dewan Dakwah kiranya dapat berperan aktif dalam memperbaiki kondisi umat khususnya dalam perbaikan akhlak. Sehingga kedepannya akan terwujud masyarakat yang berakhlakul karimah,” kata Bupati Shabela.
Sementara itu sehari sebelumnya, saat pelantikan Dewan Dakwah Bener Meriah di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum’at (1/6/2018), Bupati Bener Meriah Ahmadi SE sangat mendukung terbentuknya Dewan Dakwah Kabupaten Bener Meriah. Apalagi pengurus yang dilantik itu merupakan para dai semuanya yang selama ini sudah aktif dalam dunia dakwah.

[caption id="attachment_759" align="alignnone" width="300"]👆👆Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Tengah di Aula Kemenag Aceh Tengah, Sabtu (2/6/2018) 👆👆Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Tengah di Aula Kemenag Aceh Tengah, Sabtu (2/6/2018)

Ia menambahkan dengan adanya Dewan Dakwah ini tentunya akan menjadi wasilah untuk memudahkan pemerintah daerah dalam mengkordinasikan kegiatan dakwah.
“Dan atas nama pribadi dan pemerintah Kabupaten, kita akan membantu Dewan Dakwah, bukan hanya support moril tetapi juga pendanaan untuk kelancaran semua kegiatannya. Sehingga Dewan Dakwah akan menjadi mitra pemerintah untuk mewujudkan akhlak dan karakter islami dalam hidup dan kehidupan kita,” kata Ahmadi.
Usai pelantikan Pengurus Dewan Dakwah Beber Meriah, pada sore harinya dilanjutkan dengan kegiatan penyerahan paket ramadhan untuk 250 dhuafa, paket lebaran yatim untuk 100 yatim dan bantuan sumur bor serta ifthar Ramadhan untuk 2000 orang yang dipusatkan di Desa Panji Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.
Dan penyerahan paket bantuan dari Lembaga Cagri Der Turki itu diserahkan secara simbolis oleh Wakil Bupati Bener Meriah Tgk Syarkawi yang didampingi oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA.
Adapun Pengurus Dewan Dakwah yang dilantik sebagai berikut :
– Dewan Dakwah Aceh Tengah
Ketua : Tgk H M Isa Umar, S.Ag
Sekretaris : Drs H Alam Syuhada SH MM
Bendahara : Abu Bakar Umah Opat
dibantu oleh bidang-bidang
– Dewan Dakwah Bener Meriah
Ketua : Drs Tgk Jaryadi
Sekretaris : Drs Tgk H Hamdani
Bendahara : Tgk Muhajir MH
dibantu oleh bidang-bidang

“Merajam” Keputusan Radikal Rektor UIN Kalijaga

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
Baru-baru ini kita dikejutkan dengan keputusan radikal Rektor UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta Prof. KH. Yudian Wahyudi, PhD. Sang rektor telah mengeluarkan Keputusan Rektor yang berisi larangan mahasiswi UIN memakai cadar di kampusnya dengan alasan untuk mencegah berkembangnya paham radikal. Persoalan ini menjadi berita hangat di media online dan cetak. Bahkan telah viral dan menjadi pembicaraan hangat di medsos beberapa hari lalu.
Instruksi rektor kepada Direktur Pascasarjana, Dekan fakultas dan Kepala Unit Lembaga, melalui surat tertanggal 20 Februari 2018 tersebut bertujuan untuk mendata dan melakukan pembinaan terhadap mahasiswi bercadar dalam proses perkuliahan dan di lingkungan kampus. Kemudian para mahasiswi tersebut diberikan konseling untuk diarahkan agar tidak lagi menggunakan cadar untuk kepentingan ideologi. Jika nekad tetap memakai cadar dalam batas waktu tertentu setelah konseling, maka mahasiswi tersebut akan dikeluarkan dari kampus.
Tentu saja Keputusan Rektor UIN Suka ini menuai reaksi dan kecaman keras serta penentangan dari umat Islam. Aturan rektor tersebut dianggap telah melukai hati umat Islam dan menimbulkan keresahan dan kegaduhan, bukan saja di internal kampus UIN Suka, namun juga di luar UIN dan telah menasional. Keputusan rektor UIN ini terkesan islamophobia. Maka sebagai seorang muslim, penulis perlu untuk mengkritisi dan “merajam” keputusan radikal rektor dan pemahaman orang-orang liberal lainnya. Agar kasus seperti ini tidak terulang di Indonesia.
“Merajam” Keputusan Radikal Rektor UIN Suka
Kita patut menyayangkan sikap Rektor UIN Suka yang melarang cadar bagi mahasiswi muslimah di kampusnya. Menuding cadar sebagai aksi radikalisme sama saja menghina Islam dan keluarga Nabi. Istri-istri dan anak-anak Nabi saw bercadar. Tindakan sang rektor ini telah melecehkan dan “mengeksekusi” syariat Islam yang suci dan mulia. Sebagai seorang muslim, sepatutnya sang rektor berperilaku islami, mendukung mahasiswi dalam menutup aurat baik dengan cadar maupun jilbab dan takut kepada Allah Swt.
Parahnya, larangan cadar ini terjadi di sebuah institusi pendidikan Islam yang bernama Universitas Islam Negeri (UIN). Nilai-nilai keislaman seharusnya melekat di kampus ini dan diterapkan sesuai dengan nama kampus ini. Tentu saja tindakan sang rektor ini telah mencoreng nama baik UIN Suka. Tindakannya ini bertentangan dengan visi dan misi UIN Suka yang islami seperti yang telah dicetuskan oleh para pendahulu dan pendiri kampus ini yang terdiri para ulama, tokoh Islam dan para cendikiawan muslim. Maka tidak heran jika selama ini ada persepsi negatif dari masyarakat terhadap kampus UIN Suka gara-gara ulah para oknum dosen dan alumninya yang berpikiran nyeleneh dan anti syariat alias liberal. Anehnya, pemahaman liberal yang selama ini berkembang di UIN Suka tidak dilarang. Padahal inilah radikal sesungguhnya.
Alasan pihak rektor UIN Suka mengeluarkan aturan larangan cadar untuk mencegah berkembangnya paham radikal di kampus UIN Suka. Tentu saja alasan ini sangat tidak logis dan terlalu mengada-ada. Ini menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan atau ghuluw. Terkesan sikap rektor ini islamophobia. Orang yang bercadar dituduh radikal. Padahal tidak kaitan sama sekali antara memakai cadar dengan radikalisme. Seandainya terbukti ada mahasiswi bercadar yang radikal, maka sepatutnya oknum mahasiswi itu saja yang dibina atau diberi sanksi. Tidak boleh mengeneralkan tuduhan ini kepada semua mahasiswi yang bercadar sehingga menjadikan alasan untuk melarang cadar. Jika mau jujur, tidak ada muslimah bercadar itu teroris dan radikal. Kalaupun ada, itu provokator. Jutaan muslimah bercadar di Mekkah dan Madinah setiap tahunnya, namun tidak ada aksi terorisme atau radikalisme dilakukan oleh muslimah bercadar.
Tidak hanya itu, keputusan rektor itu telah merusak dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan agama. Aturan itu telah menzhalimi hak seorang muslimah dalam mengamalkan agamanya. Tuduhan radikal terhadap muslimah bercadar telah melukai hati umat Islam, khususnya para mahasiswi UIN Suka yang bercadar. Padahal mereka wanita baik yang menjaga auratnya dan taat beragama. Tentu saja ini fitnah. Bercadar itu hak dan pilihan seorang muslimah. Maka tindakan rektor ini menunjukkan intolerasi dan otoriter yang merusak nilai-nilai humanis dan agama. Oleh karena itu, tindakan rektor ini sangat tidak humanis.
Di samping itu, sang rektor telah menciptakan aturan yang bersifat diskriminatif dan ketidakadilan di UIN Suka. Mahasiswi muslimah yang menutup aurat dipermasalahkan dan dianggap radikal. Padahal menutup aurat itu perintah agama. Namun anehnya mahasiswi yang tidak menutup aurat tidak dipermasalahkan dan tidak dianggap radikal. Padahal perbuatan mereka melanggar agama. Mahasiswi yang menutup aurat dengan memakai cadar dilarang dan dipaksa untuk meninggalkan cadarnya. Jika tetap bercadar, maka akan diberi sanksi tegas dengan dikeluarkan dari kampus. Sebaliknya muslimah yang tidak menutup aurat tidak dianggap radikal dan tidak pula dilarang. Tidak ada sanksi apapun bagi mahasiswi yang menampakkan aurat. Padahal mereka ini lebih patut dikatakan radikal, karena menentang hukum Allah Swt.
Keputusan rektor ini juga telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia, bahkan Internasional, dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah memberikan jaminan kebebasan bagi setiap orang untuk beragama dan menjalankan agamanya. Pasal 29 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila menjadi dasar hukum bagi setiap orang untuk mengamalkan agamanya, termasuk muslimah bercadar. Di negara-negara lain, bahkan di Eropa sekalipun yang penduduknya minoritas muslim, memakai cadar tidak dilarang. Kebebasan untuk mengamalkan agama dijamin oleh negara-negara itu. Maka sangat aneh, jika menutup aurat dengan cadar yang merupakan ajaran Islam dilarang di UIN Suka di negara Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim. Padahal hukum di Indonesia menjamin kebebasan beragama dan mengamalkan agama.
Bercadar itu hak dan pilihan seseorang yang harus dihargai dan dihormati. Maka tidak boleh dilarang atau sebaliknya dipaksa. Selama tidak menggangu perkuliahan atau tidak memaksa orang lain untuk bercadar tidak ada upaya radikalisasi, maka cadar tidak boleh dilarang. Tindakan rektor tersebut bisa dipidanakan, karena telah melanggar hukum NKRI. Selain itu, rektor telah melecehkan dan mendiskreditkan Islam dengan tuduhan radikal. Menuding radikal terhadap orang yang bercadar sama saja menghina Islam.
Parahnya lagi, aturan rektor itu juga telah menentang perintah Allah Swt untuk menutup aurat. Seorang muslim sepatutnya wajib mentaati hukum Allah Swt dan Rasul-Nya, jika dia benar-benar orang beriman. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan). Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (An-Nsa’: 59). Allah Swt berfirman: “Hanya ucapan orang-orang yang beriman, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51). Allah Swt berfirman: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36). Oleh karena itu, yang radikal sebenarnya adalah orang yang melarang dan menghalangi syariat Allah, termasuk melarang cadar, karena menentang aturan Allah Swt.
Hukum Bercadar Menurut Pandangan Para Ulama
Di antara syariat Allah Swt adalah perintah menutup aurat. Allah Swt berfirman: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para nelayan laki-laki (tua) yang tidak punya keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan…” (An-Nur: 31).
Allah Swt juga berfirman: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. “Yang demikian itu agar mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyanyang.” (Al-Ahzab: 59). Begitu pula hadits-hadits Rasul saw memerintahkan untuk menutup aurat. Bahkan istri-istri dan anak-anak Rasul saw bercadar.
Berdasarkan Alqur’an dan Hadits, maka para ulama sepakat (ijma’) bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya. Mereka juga berijma’ bahwa pakaian paling utama dan paling sempurna dalam menutup aurat itu cadar. Ini tidak ada khilafiah di antara para ulama. Sebagaimana merekapun sepakat bahwa bercadar itu merupakan simbol, pemikiran dan ajaran agama.
Namun para ulama berbeda pendapat apakah bercadar itu wajib atau sunnat? Perbedaan pendapat mereka ini disebabkan perbedaan pendapat mereka mengenai batasan aurat sesuai dengan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Alqur’an dan hadits-hadits perintah menutup aurat. Sebahagian ulama berpendapat bahwa aurat wanita itu seluruh tubuhnya. Maka hukum bercadar itu wajib. Ini pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah. Sebahagian ulama lain berpendapat bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Menurut mereka muka dan telapak tangan itu bukan aurat. Maka bercadar itu hukumnya tidak wajib, namun sunnat atau dianjurkan, karena lebih utama dan sempurna dalam menutup aurat. Ini pendapat ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah.
Kesimpulannya, perintah menutup aurat dengan cadar maupun jilbab memiliki dasar hukum yang kuat yaitu Al-Quran, as-Sunnah dan ijma’. Melarang cadar berarti menentang Al-Quran, hadits dan ijma’ para ulama. Terlepas dari khilafiah para ulama mengenai hukum cadar wajib atau tidak, namun para ulama sepakat bahwa bercadar itu paling utama dan sempurna dalam menutup aurat. Merekapun sepakat bahwa cadar itu ajaran Islam dan tidak boleh dilarang.
Jadi, jelaslah bahwa cadar merupakan simbol, pemikiran dan ajaran Islam, bukan budaya Arab seperti yang dituduh oleh orang-orang kafir orientalis dan pengikut mereka dari orang-orang Islam Liberal yang anti terhadap syariat Islam. Oleh karena itu, bercadar tidak boleh dilarang. Apapun alasannya, pelarangan cadar tidak bisa diterima secara agama, logika, HAM dan hukum. Kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi di Indonesia.
Meskipun secara pribadi penulis memilih pendapat ulama yang mengatakan bahwa muka dan kedua telapak tangan bukan aurat, namun penulis tetap objektif dan proporsional dalam memandang persoalan cadar dengan menghargai pendapat ulama yang mewajibkan cadar dan tidak menafikan cadar dan jilbab itu sebagai simbol, pemikiran dan ajaran Islam.
Akhirnya, mari kita bersikap objektif dan proporsional dalam menilai persoalan cadar. Meskipun persoalan cadar itu persoalan khilafiah, namun kita wajib menghargai pendapat ulama yang mewajibkannya. Kita harus jujur dan akui bahwa cadar dan jilbab merupakan identititas muslimah, pemahaman para ulama dan ajaran Islam. Melarang cadar sama saja menafikan simbol, pemikiran dan ajaran Islam. Selain itu, sama saja telah menentang, melecehkan dan “mengeksekusi” ajaran Islam. Perbuatan ini maksiat. Inilah paham radikal sesungguhnya. Semoga kita selalu diberi petunjuk dari Allah Swt dan dijaga dari kesesatan. Amin!
Penulis adalah Ketua MIUMI Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh & anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.