SYARI’AT ISLAM MILIK SIAPA??

Oleh Ust Afrizal Refo, MA

Sejak diberlakukannya SI di Aceh menjadi harapan bagi umat Islam khususnya di Aceh umumnya di Indonesia. Artinya SI itu sendiri sebuah jalan untuk menuntun masyarakat utk bisa melaksanakan agamanya sesuai aturan yg berlaku dlm Alquran dan hadis

SI di Aceh sudah dilaksanakan yaitu tahun 2002 dan tepat pada hari ini tahun 2022 SI sudah berjalan sekitar 20 tahun. SI adalah hadiah terbesar yg diberikan oleh pemerintah pusat kepada Aceh untuk menjalankan SI di Aceh. Kenapa harus Aceh? Untuk menjawab ini ada 3 alasan penting Aceh diberikan SI, pertama Karena Aceh dipandang sejak dari dulu kental akan keislaman nya , apa lagi dilihat adanya sejarah awal masuk Islam yaitu kerajaan Islam samudra pasai dan mulai meluas pada masa Sultan Iskandar muda hingga Kampung Malaka Malaysia bahkan di negeri Campa Kamboja hari ini, kedua diberikan kekhususan karena Aceh mayoritas beragama Islam sekitar 97%, jadi sangat wajar jika diberikan SI.
Adapun alasan ketiga yaitu permintaan yg tertunda yg dijanjikan kpd Tgk. Muhammad Daud Bereueh yg meminta kepada Sukarno agar Aceh dapat menjalankan Si. Atas dasar itulah penulis mencoba untuk memutar sejarah sehingga SI diberikan di Aceh.

Seiring berjalannya waktu SI di Aceh seakan-akan tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap masyarakat Aceh khususnya. Tetapi mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tapi jika dikaji lewat kacamata Syariah Aceh sudah mampu menunjukkan cukup baik pelaksanaan SI di Aceh dibandingkan daerah lain yang semakin hari semakin merebak kemaksiatan dan kemungkaran yang menyeleweng yang seakan-akan para pelaku pelanggar SI tanpa sadar dan sesuka hati melakukan perbuatannya tersebut tanpa ada rasa takut akan janji Allah SWT akan diberikan hukuman bagi orang yang melakukan perbuatannya tersebut.

Timbul pertanyaan mengapa SI di Aceh tidak lebih baik dari sebelumnya. Jawabannya bukan gagal menurut hemat penulis tapi belum maksimal dijalankan SI tersebut. Seakan-akan DSi jalan ditempat Dan tidak melakukan perubahan. Yang perlu kita garis bawahi bahwa yg menjalankan SI itu sendiri bukan dibawah payung DSI tapi seluruh umat Islam di Aceh harus bahu-membahu mendukung agar SI di Aceh tetap eksis berjalan dengan semestinya.

Ini harus ada dukungan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah Aceh , DPRA, Polri dan TNI dan seluruh SKPA harus membuat program yang mendukung SI itu di Aceh dapat berjalan . Berbagai upaya telah dilakukan oleh DSI selama ini utk memberikan warna baru bagi terlaksananya proses SI di Aceh. Menurut hemat penulis sebenarnya SI di Aceh bisa berjalan dengan semestinya jika ada tindak andil dari pemerintah Aceh dan juga pemerintah daerah setempat untuk memfasilitasi SI itu berjalan.

Contoh hal kecil yang bisa di lakukan oleh salah satu dinas yaitu Dinas pendidikan dengan membuat kurikulum atau aturan yang membuat aturan ketika sebelum memulai belajar dimulai dengan baca doa dan setiap pendidik harus spakat untuk mengingatkan Peserta didiknya untuk senantiasa Shalat dan melakukan kebaikan. Jika ini disampaikan penulis menyimpulkan bahwa si peserta didik tersebut besar kemungkinan akan lebih baik karena mendapat perhatian dari gurunya.

Contoh lain misal dinas kesehatan juga dikaitkan dengan SI di Aceh bagaimana dalam Islam sngat penting nya menjaga kesehatan sperti tidk membuang smpah sembarangan dan Dinas pertanian juga kaitkkan.dengan pendapatan seseorang maka jika dapat hasil yang maksimal maka keluarkan zakat .
jadi SI itu dapat berjalan dibaantu oleh skpa lainnya untuk menyampaikan bahwa sI itu penting dalam kehidupan.

Begitu juga pemerintah Aceh juga harus sinkronisasi deenggan pemerintah daerah, pemerintah Kabupaten, kecamatan maupun desa. Sehingga apa yang kita harapkan informasi SI tersampaikan kepada kalangan bawah. Sehingga dengan sendirinya SI akan dirasakan oleh Masyarakat itu sendiri. Contoh Yaang pernah dipaparkan oleh pemerintah Aceh seperti Program Magrib mengaji ini tetap bisa dilaksanakan tapi bukan hanya sekedar wacana tapi dibuat dan dipraktekkan dengan menghidupkan mesjid , mushalla maupun rumah2 untuk mengaji dan memberikan himbauan bagi pelaku usaha agar menutup usahanya pada waktu magrib sampai isya hanya 45 menit saja.

Jadi DSI itu ibaratnya adalah sebagai Rumah SI yang berfungsi untuk memonitor bagian mana SI yang perlu disampaikan untuk Cocok di Sampaikan kepda masing-masing Skpa..

Dsi itu bukan utk di lebur tapi untuk diperkuat dan dijaga serta dilestarikan layaknya bagaimana kita menjaga bangsa ini yang sudah 77 tahun merdeka agar anak cucu bisa merasakan kemerdekaan ini begitu juga SI yg telah diberikan harus dijaga benar2 untuk diisi dengan menghidupkan kegiatan bernuansa SI dan tanpa disadari Masyarakat akan merasakan pentingnya SI itu tetap tegak dibumi nanggroe Aceh yang juga harapan satu2nya bagi provinsi lain bahwa Aceh layak di contoh untuk di apresiasi.

Ini bisa terlihat bahwa SI itu penting yaitu kalo kita lihat di daerah perbatasan yang cukup terbatas nya Dai didaerah tersebut sehingga timbul kegelisahan oleh masyarakat disana bagaimana cara menjalankan ibadah dengan baik jadi mereka membutuhkan dai agar bisa membina Mereka dan generasi muda agar tidak tergerus oleh budaya barat akibat begitu cepat berkembang nya globalisasi.

Penulis menemukan benang merah kenapa SI di Aceh tidak berkembang dengan semestinya yaitu ada 5 masalah yaitu pertama seperti ada upaya SI itu hanya dijalankan dibawah DSI tanpa didukung oleh pemerintah Aceh, DPRA dan lainnya secara praktek, kedua kurangnya pengawasan dari pemerintah atau lembaga yang ditunjuk, ketiga belum smpainya informasi kepada masyarakat tentang pentingnya SI dijalankan, keempat kurikulum pendidikan yang haanya membatasi penyampaian SI itu sendiri dan kelima kurangnya gebrakan untuk mewujudkan SI itu bisa tegak di Aceh.

Memang berat untuk mewujudkan itu semuanya tapi Allah tidak menilai hasil yang akan kita lakukan tapi bagaimana proses nya sudah dilaksanakan. Itu berawal bagaimana kesungguhan bagi kita untuk melakukan perubahan demi tegaknya SI di Aceh. Kita semuanya akaan diminta pertanggungjawaban sebagai pemimpin apa yang kamu lakukan ketika kamu diberi wewenang padahal kamu dapat melakukannya.

Adapun solusi yang ditawarkan penulis agar SI itu bisa berjalan dengan maksimal yaitu seluruh pemerintah daerah, TNI dan polri, Dpra , MAA, M.PD, SKPA, Pemerintah daerah dan bekerja sama sama untuk menjalankan SI itu menurut bidangnya masing-masing sehingga tidak ada pengkotak-kotakan ini adalah tugas DSI yang menjalankan.

Jadi semua itu cita2 dan harapan umat Islam di Aceh agar SI itu benar-benar bisa dijalankan dengan semestinya.

Penulis adalah Pemerhati Syariat Islam.
Sekjen Dewan Da’wah Kota Langsa

SYARI’AT ISLAM DI ACEH BELUM GAGAL

Oleh Dr. Tgk Hasanuddin Yusuf Adan

(Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh)

 

BACGROUND

Embrio bayi syari’at Islam di Aceh berbenih semenjak disahkannya Undang-undang Republik Indonesia No. 44 tahun 1999 tentang Keistimewaan Aceh. Lalu diperkuat dengan Undang-undang Republik Indonesia No. 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus untuk Daerah Istimewa Aceh sebagai Nanggroe Aceh Darussalam. Ketika terjadi perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia (RI) 15 Agustus 2005 lahir lagi Undang-undang RI. Nomor 11 Tahun 2006 tengtang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai amanah dari MoU Helsinki. Ketika UUPA disahkan maka UU.RI. No. 18 tidak berlaku lagi.

Serimonial deklarasi dan pembukaan berlakunya syari’at Islam di Aceh secara resmi dideklarasikan pada tahun 2002 yang dimeriahkan oleh kedatangan beberapa orang menteri negara plus ketua Mahkamah Agung ke Aceh di tahun baru Hijriah hari Jum’at 1 Muharram 1423 H/15 Maret 2022. Tahun 2003 masa pemerintahan gubernur Abdullah Puteh dengan Prof. Alyasak Abubakar sebagai Kepala Dinas Syari’at Islam disahkan tiga qanun paling awal di Aceh: qanun  no. 12 tentang minum khamar. qanun nomor 13 tentang maisir dan qanun nomor 14 tentang khalwat.

Pada waktu itu para alim ulama dan pembesar Aceh sepakat untuk menerapkan syari’at Islam di Aceh secara perlahan, muslihat, lembut, bersahaja namun pasti. Untuk itulah dimulai dari tiga jarimah dalam tiga qanun tersebut, yang satu jarimah hudud dan dua lainnya masuk wilayah jarimah ta’zir. Semua itu dilakukan untuk menjaga perasaan dan kemuslihatan Aceh agar secara perlahan bangsa Islam di Aceh menyatu dengan syari’ah. Hari ini amal baik para orang tua dahulu sudah ada hasilnya sehingga masyarakat sendiri yang meminta untuk diperluas wilayah implementasi syari’ah di Aceh. Maka dalam masa pemerintahan gubernur Zaini Abdullah (Abu Doto) disahkanlah qanun Aceh nomor 7 tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat dan qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

10 poin jarimah yang tertera dalam qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 adalah: Khamar;  Maisir;  khalwat; Ikhtilath; Zina; Pelecehan seksual; Pemerkosaan; Qadzaf; Liwath; dan Musahaqah. Semua itu sudah berlaku dan berjalan di Aceh dan sudah terjadi panishment (‘uqubah) terhadap pelanggar qanun tersebut. Ini menunjukkan implementasi syari’at Islam di Aceh tidak gagal, hanya berjalan secara perlahan dan sedikit lambat dikarenakan para pemimpin Aceh mulai dari Wali Nanggroe, gubernur, bupati, wali kota serta para kepala dinas, kepala badan dan kepala biro belum menyatu dan belum memiliki kapasitas syari’ah dalam tubuh badannya. Jadi kalau dikatakan syari’at Islam di Aceh telah gagal salah dan tidak benar, buktinya ia masih berjalan dan ada pemberlakuan hukuman.

 

IMPLEMENTASI SYARI’AT ISLAM DI ACEH

Berlakunya syari’at Islam di Aceh merupakan efek dari pertempuran GAM terhadap RI yang menelan korban tak terhitungkan. Sebelum GAM menuntut kemerdekaan Aceh dari RI syari’at Islam tidak pernah diwujudkan di Aceh oleh RI, malah pasca damai gerakan DI/TII antara Aceh dengan RI tahun 1962, Aceh tertipu dan ditipu oleh RI dengan memberikan gelar Daerah Istimewa terhadap Aceh dalam bidang agama, bidang Adat istisadat dan bidang pendidikan namun liciknya RI tidak pernah memberikan undang-undang seperti hari ini sehingga Aceh ibarat orang menerima check kosong dari RI yang ketika mau narik di bank uangnya tidak ada. Tertipuuuuu.

Ketika RI kewalahan memadamkan GAM maka RI menawarkan segala macam untuk Aceh selain merdeka, tatkala itulah pihak ketiga Aceh selain pihak GAM dan RI berinisiasi untuk melempar kardus syari’at Islam sebagai peredam konflik yang berkepanjangan. Upaya tersebut terkoneksi dengan bencana gempa dan tsunami besar yang melanda Aceh sehingga dua pihak yang bermusuhan tersebut yang dahulu menutup pintu perundingan bersedia berunding untuk mencari solusi perdamaian di Aceh. Dari situlah lahir Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang menuntut untuk lahirnya UUPA.

Dengan UUPA tersebutlah implementasi syari’at Islam di Aceh semakin transparan dan absolut sehingga bangsa Islam di Aceh merasa senang dan gembira walaupun para penguasa yang terkena penyakit sepilis sedikit linglung, ibu-ibu aktifis gender mulai muram karena takut dengan berlaku syari’at Islam di Aceh terbuka peluang suami-suaminya akan berpoligami. Namun semua itu terjawab oleh zaman yang berbicara sehingga hari ini bangsa Islam Aceh sangat menyatu dengan implementasi syari’at Islam di Aceh dan syari’at Islam di Aceh tidak gagal dengan kandungan qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 berjalan lancar dan para pelanggarnya seperti penjudi, peliwath, pengkhalwat, pezina dan lainnya dihukum cambuk sesuai kandungan qanun, itu terjadi sampai tahun 2022 ini.

 

MASIH JALAN TAPI LAMBAN

Implementasi syari’at Islam di Aceh berjalan dengan baik tetapi lamban, ini bukan berarti gagal, tetapi lamban. Kalau ada orang yang mengatakan pemberlakuan syari’at Islam di Aceh telah gagal, itu orang tidak mengikuti perjalanan syari’at Islam di Aceh atau tidak paham tentang hukum Islam yang sedang berlaku di Aceh karena bukan bidang yang ditelusurinya atau ia paham tetapi tidak senang dengan implementasi syari’at Islam di Aceh. Kalau itu yang terjadi maka itu orang sama seperti pemain bola yang mencetak goal kegawang sendiri, kalau ini yang terjadi maka bahaya besar untuk implementasi syari’at Islam di Aceh karena orang Aceh sendiri tidak mengerti pemberlakuan syari’ah di Aceh.

Efeknya media anti syari’ah mulai merebus isu tersebut untuk memojok pelaksanaan syari’at Islam di Aceh. Merebus itu beda dengan menggoreng, kalau menggoreng panasnya cepat berlalu tetapi kalau merebus panasnya lambat berakhir karena ada kuwahnya yang mempertahankan panas seperti beda mi goreng dengan mi rebus. Karenanya seorang Aceh yang punya jabatan apalagi jabatannya masih baru mesti berhati-hati dalam menyampaikan informasi dan statement di dalam forum-forum tertentu, efeknya bisa menjerat diri sendiri, sebaiknya bicara apa yang ada dalam kapasitas dirinya sebagai seorang ilmuan agar tidak gagal paham.

Pertanyaan hari ini adalah kenapa pelaksanaan syari’at Islam di Aceh berjalan lamban? Jawabannya ada pada pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota sebagai pihak yang bertanggung jawab berjalannya syari’at Islam di Aceh sesuai dengan ketentuan qanun Aceh nomor 8 tahun 2014 tentang pokok-pokok syari’at Islam pasal 5, 6 dan 8 yang berlaku. Dalam Bab III pasal 4 ayat (1) qanun tersebut berbunyi: syari’at Islam dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi pada setiap tingkatan pemerintahan di Aceh di bawah arahan Wali Nanggroe. Pertanyaan yang muncul adalah apakah Wali nanggroe mengetahui pasal 4 ayat (1) tersebut sebagai bahagian dari tugas dan tanggung jawabnya?

Kalau dihitung dari tahun 2002 yang berlaku tiga qanun untuk tiga jarimah, lalu di tahun 2014 berlaku qanun yang menetapkan 10 jarimah berlaku di Aceh sudah berjalan 12 tahun dan dari 2014 sampai 2022 sudah berjalan delapan tahun, semestinya konsep hukum pidana Islam (fiqh jinayah) yang terdiri dari qishash/diyat, hudud dan ta’zir harus sudah diimplementasikan di Aceh. Bukan hanya itu tetapi enam fikih yang terdapat dalam syari’ah, yakni; fiqh ibadah, fiqh mawaris, fikih mu’amalah, fikih siyasah, fikih munakahah dan fikih jinayah harus berlaku penuh di Aceh sesuai dengan ketentuan Bab II pasal 2 qanun Aceh nomor 8 tahun 2014 tentang Pokok-pokok Syari’at Islam.

Tidak terkafernya point-point tersebut dalam amalan syari’at Islam di Aceh bukan berarti pelaksanaan syari’at Islam telah gagal melainkan lamban disebabkan oleh lalainya pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota serta Wali Nanggroe yang semua mereka makan gaji untuk melaksanakan dan memajukan syari’at Islam di Aceh bukan untuk duduk bertumpang dagu. Bek lagei ureueng jak u la-ot, beungoh geutubiet geuba jeue, cot uroe geugisa geupuwor saboh plastik eungkot (pagi pergi kelaut membawa jaring, tengah hari pulang membawa satu plastik ikan. Tidak pernah terbayang dalam kepalanya untuk memperoleh ikan yang lebih banyak untuk dijual dan mendapatkan banyak duit, mencari ikan hanya sekedar untuk sehari makan. Pemerintah Aceh dan kabupaten kota harus bijak melaksanakan dan memajuklan syari’at Islam di Aceh, jangan pandai merebut kursi gubernur, bupati/walikota tetapi tidak tau menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Lebih-lebih lagi seorang Wali nanggroe yang tidak punya nanggroe yang oleh beberapa anggota DPRA mau dipertahankan seumur hidup, untuk apaaa? Untuk mematikan syari’at Islam di Aceeeh?

 

KHATIMAH

Dengan adanya Dinas Syari’at Islam, adanya muhtasib yang bergerak di lapangan, terjadinya penangkapan terhadap pelanggar qanun, terjadinya penyidangan di Mahkamah Syar’iyyah dan terjadinya ‘uqubah sebagai hukuman yang ditetapkan dalam qanun selama ini, maka itu menjadi bukti bahwa implementasi syari’at Islam di Aceh tidak gagal. Yang gagal adalah peran Wali nanggroe, gubernur, bupati/walikota yang sama sekali tidak menjalankan ketentuan qanun, baik qanun Aceh nomor 8 tahun 2014 tentang Pokok-pokok Syari’at Islam, qanun Aceh nomor 7 tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat maupun qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Satu hal lagi yang keliru dalam pelaksanaan syari’at Islam di Aceh adalah ketika Dinas Syari’at Islam dibebani penuh untuk menjalankan syari’at Islam di Aceh, sementara dinas-dinas lain plus gubernur, bupati dan walikota tinggal keutep-keutep jaroe tidak berbuat apa-apa tentang syari’at Islam. Yang benar mengikut ketentuan qanun sebagaimana yang telah kita bahas di atas adalah gubernur, bupati/walikota berposisi sebagai panglima dan komandan lapangan untuk implementasi syari’at Islam di Aceh.

Kondisi seperti itu tidak akan wujud kalau sistem demokrasi masih digunakan dalam pemilihan pemimpin di Aceh, untuk itu pula pemerintah Aceh harus segera melahirkan qanun siyasah untuk keperluan politik di Aceh sebagai bahagian dari implementasi syari’at Islam di Aceh.

MEMAKNAI KEMERDEKAAN HAKIKI DALAM MOMENTUM MUHARRAM

Muharram memiliki arti yang diutamakan atau dimuliakan, karena beragam peristiwa bersejarah dan sangat penting bagi peradaban, perkembangan dan kemajuan Islam, salah satunya Hijrah Nabi Besar Muhammad SAW, terjadi di bulan yang penuh rahmat ini.

Keutamaan Bulan Muharram khususnya tauladan Hijrah Nabi Besar Muhammad SAW, menyiratkan pelajaran hidup mengenai perubahan yang selalu menjadi impian dan harapan, yang seyogianya harus disertai dengan usaha dan tekad kuat dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, agar kita menjadi pribadi yang berbudi, sederhana, jujur dan istiqomah menjaga integritas sebagai hamba-Nya.

Meskipun di beberapa tempat dan daerah, terdapat peringatan tahun baru Islam 1444 Hijriyah secara sederhana. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana memaknai muharram, yang di dalamnya terdapat peristiwa hijrah manusia yang Agung dan Mulia, Nabi Muhammad Saw, beserta umatnya.

Pada saat yang sama, bangsa Indonesia, beberapa hari lagi ke depan akan dihadapkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai titik keabsahan sebuah bangsa yang berdaulat ke dalam dan ke luar. Sebagai warga negara yang baik, tentu tidak ada larangan memperingati dan sekaligus memaknai kemerdekaan bagi masyarakat Indonesia.

Berjuang melawan penjajah dengan senjata, barangkali sudah selesai. Sekarang berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan ragam aktivitas dan sekaligus memaknai kemerdekaan di era pasca pandemi ini. Di sinilah pentingnya, bagaimana antara peristiwa bulan Muharram dan Kemerdekaan saling berdialog di satu sisi.

Di bulan Agustus 2022 ini ada dua momentum penting yang kita alami. Yang pertama adalah peringatan tahun baru Islam (Hijriyah) yang sering kita sebut dengan bulan Muharram.

Sedangkan yang kedua adalah peristiwa kebangsaan yang diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke 77.

Dua hal tersebut merupakan peristiwa yang penuh hikmah dan makna berharga jika kita renungkan sebagai bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Keduanya menceritakan tentang sejarah yang dapat kita ambil beberapa pelajaran penting untuk diamalkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Setidaknya ada dua semangat yang harus ada dalam pribadi kita sebagai umat Rasulullah SAW dan warga negara yang baik.

1. Semangat Tahun Baru Islam
Tahun baru Islam bukanlah sekedar peringatan seremonial, akan tetapi harus kita renungkan bahwa dunia ini sudah mulai tua dan pikun, umur kita juga semakin berkurang. Maka supaya kita tidak menjadi manusia merugi, kita harus sering intropeksi diri. Bulan Muharram yang menjadi awal tahun baru Hijriyah tidak ada artinya jika kehidupan kita tidak ada peningkatan alias jalan ditempat.

Ada dua Gerakan yang harus kita laksanakan didalam semangat tahun baru Islam tersebut.

Pertama, gerakan perubahan menjadi lebih baik, Kenapa saya sebut gerakan? Itu artinya dilakukan secara bersama-sama.

Untuk melakukan kebaikan jika bisa dilakukan secara bersama atau berjamaah kenapa harus sendiri. Maka dari itu kita sebagai makhluk sosial harus mampu bergotong-royong, bersatu, bahu-membahu melakukan perubahan yang lebih baik. Sesuatu yang dilakukan bersama-sama akan terasa ringan jika dibandingkan dengan sendirian.

Banyak hal yang bisa kita lakukan, diantaranya adalah menghidupkan kembali organisasi yang lama vakum dengan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan.

Kedua, melakukan gerakan kepedulian terhadap sesama, serta menggerakkan segala potensi yang ada agar menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesama. Maka, semangat Muharram harus kita gunakan untuk tetap belajar bersama dan sama sama belajar dalam menyikapi kehidupan dengan berbagai masalah dan peristiwa yang ada.

Karena sesungguhnya setiap peristiwa ada pelajaran berharga yang Allah berikan agar kita mampu untuk merenungkan dan hakikat tujuan hidup yang sebenarnya.

2. Semangat kemerdekaan,
Kata merdeka tentu sering terdengar ditelinga kita. Namun pernahkah kita membayangkan betapa sulitnya memperoleh sebuah kemerdekaan yang haqiqi.

Seperti halnya yang diperoleh Bangsa kita yang sebelumnya selama 350 tahun dijajah oleh bangsa lain (Belanda). Sebuah peristiwa yang penuh dengan penderitaan, penindasan, tantangan, perjuangan dan kebersamaan untuk mencapai sebuah puncak kemerdekaan yang berhasil disampaikan lewat sebuah teks proklamasi 77 tahun yang silam.

Para pahlawan dan pendahulu kita berjuang mengangkat senjata dengan berkeringat darah dan air mata, sepenuh jiwa raga demi mendapatkan kedaulatan negara yang berkeadilan.

Setiap memasuki bulan Agustus, selalu diiringi dengan penyambutan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang bertepatan pada tanggal 17. Semarak menyambutnya telah terlihat dari jauh-jauh hari. Itu dapat terlihat dengan adanya spanduk, bendera, umbul-umbul, dan baliho-baliho yang bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalanan.

Namun, dalam kesemarakannya, terdepat beberapa pertanyaan yang terbesit dalam benak kita; apakah arti kemerdekaan itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi makna kemerdekaan yang sebenarnya? Bagaimana memahami Islam dan kemerdekaan?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi merdeka berarti bebas. Kemerdekaan artinya kebebasan. Sedangkan secara terminologi, merdeka dapat diartikan dengan bebas dari segala penjajah dan penjajahan.

Kemerdekaan juga dapat dimaknai sebagai keadaan rohani yang tidak terpaut oleh segala sesuatu yang berkenaan dengan rasa tertindas, yang menindih, sehingga dapat mempengaruhi jiwa, pikiran dan perilaku seseorang. Dilain sisi, kemerdekaan diartikan denngan keadaan hati yang tentram.

Menurut Islam, manusia adalah makhluk yang bebas/merdeka sejak ia dilahirkan. Dalam lain paradigma, manusia adalah makhluk merdeka ketika ia berhadapan dengan sesamanya. Karena manusia diciptakan oleh-Nya, maka manusia akan menjadi hamba ketika ia berhadapan dengan Rabb-Nya. Dengan begitu dapat dipahami bahwa, manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi budak orang lain. Perbudakan antar manusia sama artinya dengan melanggar hak Allah.

Kemerdekaan manusia dalam Islam sudah diperoleh semenjak ia dilahirkan dari rahim seorang ibu. Maka dari itu tidak dibenarkan seseorang memperbudak sesamanya atas dasar kekuasaan apapun. Pendapat inipun diimplementasikan oleh para Nabi utusan Allah melalui perintah-perintahnya kepada manusia untuk membebaskan sistim perbudakan dengan berbagai cara.

Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa Islam memandang kemerdekaan tidak dari satu sisi saja, melainkan dari beberapa sisi yang mencangkup lahiriyah maupun batiniyah. Sehingga makna kemerdekaan yang sesungguhnya ialah ketika seseorang mampu berada dalam fitrahnya (Islam dan tauhid).

Maka dari itu, setiap individu seoserang muslim kiranya dapat memaknai arti kemerdekaan sebagai bentuk melepaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan kesyirikan. Lalu, perlu dipahami juga adalah kemerdekaan seorang muslim ketika terbebasnya hamba dari segala dinamika kehidupan yang tidak berlandaskan atas aturan yang sudah ditentukan oleh Islam.

Islam juga memandang kemerdekaan dengan tunduk atas kuasa Tuhan dan melepaskan diri dari jeratan nafsu. Seorang hamba dapat menemukan arti kemerdekaan yang sebenarnya, jika ia mampu terbebas dari semua belenggu yang berasal dari godaan setan dan hawa nafsu, dan mengembalikan segala sesuatu kembali kepada aturan Allah

Orang yang terjerat oleh nafsu dipastikan sudah menyimpang dari jalan yang telah diberikan oleh Allah, karena ia sudah menjadi budak nafsu. Maka dari itu, memerdekakan diri sendiri dari belenggu nafsu merupakan kemenangan dan kebebasan terbesar.

Hari ini kita harus bersyukur bisa menikmati kemerdekaan tersebut. Selain untuk menghargai jasa para pahlawan dan mendoakan mereka agar kelak mendapatkan tempat terbaik disisi Nya, maka semangat kemerdekaan ini harus kita isi dengan hal hal positif.

Lalu bagaimana cara kita mensyukuri nikmat ini? Caranya yaitu kita mensyukurinya dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Mensyukuri dengan hati yakni dengan meyakini bahwa nikmat kemerdekaan itu datangnya dari Allah SWT. Mensyukuri dengan lisan yakni dengan mengucapkan bahwa nikmat itu datangnya dari Allah SWT, bahwa kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan dan tetesan keringat para syuhada, alim ulama, asatidz, dan para santri.

Adapun mensyukuri dengan perbuatan yaitu dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Bukan mengisinya dengan kemaksiatan tapi justru dengan amalan ketakwaan. Maka perlu kita evaluasi bagaimana cara bersyukur kita selama ini, jangan sampai ada cara-cara keliru yang kita lakukan.

Agar seluruh aktivitas manusia dapat bernilai ibadah di mata Allah SWT seperti dalam bidang sosbud, pendidikan, ekonomi, dan politik, maka haruslah semua aktivitas tersebut diatur dengan aturan-aturan dari Allah SWT bukan dengan menggunakan aturan buatan manusia.

Maka dari itu, perjuangan kita saat ini adalah berjuang untuk bisa meraih kemerdekaan hakiki dengan dapat menerapkan aturannya dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga kita dapat menjadikan negeri ini baldatun toyyibatun ghafur (negeri yang penuh dengan berkah dan ampunan Allah SWT).

Caranya tiada lain yakni kita sebagai umat Islam harus saling membantu dan menguatkan dalam kebenaran, bukan malah menjadi penjegal atau penghalang kebenaran.

Selain itu, kita harus siap dan ikhlas dalam mengorbankan apa pun yang ada pada diri kita untuk memperjuangkan Islam ini agar tegak di muka bumi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Afrizal Refo, MA
• Sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa
• Dosen PAI IAIN Langsa

KEUTAMAAN PUASA 10 MUHARRAM

Bulan Muharram awalnya dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan Muharram ini, masyarakat dilarang melakukan hal-hal yang tidak baik dan menyakiti orang lain, seperti peperangan dan bentuk perkelahian lainnya.

Kemudian, Islam datang dan semua tradisi umat jahiliyah dihapuskan, termasuk kesepakatan untuk tidak melakukan peperangan pada bulan tersebut

Bulan Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan yang mulia dalam kalender Hijriyah selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di bulan-bulan tersebut manusia dilarang menzalimi diri sendiri dan melakukan perbuatan dosa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu. [at Taubah/9:36]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“ (HR. Muslim)

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan.

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini :
Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Asyura’ (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dan memerintahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk melakukannya, dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaannya beliau bersabda,
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu“.

Dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya dapat dihapuskan dengan bertaubat.

Dari Abu Qatadah ra. bahwa rasulullah saw bersabda: “Puasa pada hari arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang berlalu dan tahun yang akan datang. dan puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu.” (H.R jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi)

Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengkan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Kalau aku masih hidup tahun depan, maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram).”

Adapun hadits,
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

“Berpuasalah pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya“, maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

Sebagian ulama ada yang berpendapat dimakruhkannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya.

Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa álaihis salam dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi Musa ‘alaihis salam pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Kita lebih berhak (untuk mengikuti) Nabi Musa ‘alaihis salam daripada mereka“. Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram.

Adapun amalan yang bisa dilakukan dalam bulan Muharram, seperti bulan Dzulhijjah, pada bulan Muharram, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh. Tentu saja mengerjakan amalan baik di bulan istimewa akan mendapatkan pahala dan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Memperbanyak amalan saleh bisa dimulai dengan berzikir, bersedekah, hingga tilawatil quran dan mengamalkannya.

Penulis : Afrizal Refo, MA
• Dosen PAI IAIN Langsa
• Sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa
• Wakil Ketua Parmusi Kota Langsa

Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

JAGA DIRI DAN KELUARGA DARI ANCAMAN API NERAKA

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

MUQADDIMAH

Hidup ini terwujud karena kita dihidupkan oleh Allah, hidup ini berlanjut karena diberi fasilitas hidup oleh Allah , hidup ini menjadi kuat karena diberi kekuatan oleh Allah, hidup ini bermanfa’at karena dimanfa’ati oleh Allah dan hidup ini bermartabat karena dimartabati oleh Allah. Semua itu bermuara kearah kesempurnaan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat melalui langkah-langkah penjagaan diri yang juga diperintahkan oleh Allah. Maka siapa saja yang benar-benar menjaga diri dan seluruh keluarganya dari ancaman api neraka tentunya bakal memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan juga di akhirat kelak.

Tidak mungkin seseorang itu hidup kalau bukan karena dihidupkan oleh Allah, demikian juga sebaliknya tidak akan mati seseorang kita kalau bukan karena dimatikan oleh Allah. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (Fathir: 35 ayat 11)

Bukti lain bahwa Allah yang menghidupkan dan mematikan adalah apa yang tertera dalam Al-Qur’an di bawah ini: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (Al-Mukminun: 23 ayat 12). Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (Al-Mukminun: 23 ayat 15). Jadi tidak dapat dibantah dengan akal sehat dalam perspektif tauhid kalau manusia dihidupkan dan dimatikan oleh Allah sebagai satu-satunya Tuhan di dunia ini.

MENJAGA DIRI DAN KELUARGA

Pengertian menjaga diri dan keluarga yang kita maksudkan di sini adalah beramar ma’ruf bernahi mungkar, berbuat kebajikan dan meninggalkan kejahatan baik untuk diri sendiri maupun untuk tanggungannya seperti anak, cucu, orang tua dan lainnya, dengan demikian kita sudah mengikuti perintah Allah yang telah menghidupkan dan memberi hidup dan kehidupan kepada kita. Allah SWT berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.  (Attahrim: 66 ayat 6)

Diriwayatkan oleh Sufyan As Sauri bahwa maksud jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka adalah didiklah dan ajarilah anak-anak dan keluargamu. Sementara Ali ibnu Abu Talhah memaknainya: amalkan keta’atan kepada Allah dan hindarilah perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah, serta perintahkan kepada keluargamu untuk berzikir, niscaya Allah akan menyelamatkan kamu dari api neraka. Sedangkan menurut Mujahid: bertaqwalah kamu kepada Allah dan perintahkan keluargamu untuk bertaqwa kepada Allah. Qatadah pula mengatakan:  engkau perintahkan keluarga untuk ta’at kepada Allah dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadap Allah.

Terkait dengan menjaga keluarga wabil khusus menjaga anak, Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Turmuzi bersabda murush shabiya bish shalah iza balagha sab’a sinin, fa iza balagha ‘asyra sinin fadhribuhu ‘alaiha yang artinya: Perintahkan anakmu untuk melaksanakan shalat manakala berusia tujuh tahun dan pukul (ajari) dia manakala berumur 10 tahun. Itu merupakan bahagian dari menjaga keluarga dari ancaman api neraka.

Kenapa kita harus menjaga diri dan keluarga dari api neraka? Karena waquwduhannas wal hijarah (bahan bakar dalam neraka nanti manusia dan batu-batuan). Kalau kita tidak menjaga diri dan keluarga agar jauh dari api neraka dalam kehidupan ini dengan beramar ma’ruf bernahi mungkar maka akhir hidup kita dan anak cucu kita bertempat dalam neraka, na’uzubillah. Batu yang dimaksudkan dalam ayat ini menurut Tafsir Ibnu Katsir adalah batu-batu yang disembah oleh manusia selama hidupnya, baik disembah secara langsung dan transparan maupun disembah secara tidak langsung dan dalam bentuk kiasan. Firman Allah dalam surah Al-Anbiyak: 21 ayat 98: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.

Kenapa kita harus menjaga diri dan keluarga dan harus takut kepada neraka, selain api neraka sangat panas sekali, ‘alaiha malaikatun ghiladzun syidadun la ya’shunallaha ma amarahum wa yaf’aluna ma tukmarun. Di dalam neraka itu ada malaikat-malaikat yang kasar lagi keras yang tidak pernah melawan dan berbuat salah kepada Allah dan selalu menjalankan semua perintah Allah. Tentunya bagi orang-orang yang tidak menjaga diri dan keluarga dari api neraka ketika mati masuk neraka di sana akan didatangi oleh para malaikat yang kasar lagi keras tersebut untuk menyiksanya. Karena itulah kenapa ummat Islam harus menjaga diri dari ancaman api neraka.

Allah telah memperingatkan hambaNya tentang neraka yang menyala-nyala dan gambarkan siapa yang bakal menjadi penghuni neraka tersebut.        Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Al-Lail: 92 ayat 14-16. Yang dimaksud dengan mendustakan kebenaran dalam ayat ini adalah mereka sudah tau Islam dan seluruh ajarannya benar tetapi mereka merendah-rendahkan Islam dan ajarannya, mereka memburukkannya, mereka menyerangnya, mereka tidak mengikuti kebenaran yang datangnya dari Allah, untuk hari ini kaum semisal itu ada dalam kelompok Separatisme, pluralisme dan liberalisme (sepilis), nasionalis dan komunis yang berkatepe Islam tetapi mendustakan kebenaran Islam.

Mereka yang berpaling dari iman adalah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah (kafir), orang-orang yang sudah beriman kepada Allah tetapi murtad dan orang-orang yang mengaku beriman tetapi dalam amalah hariannya mereka musyrik, munafik, fasik, zindiq dan semisalnya. Merekalah orang-orang yang paling celaka dalam gambaran ayat Allah tersebut dan mereka pula yang menjadi santapan api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusi-manusia seperti itu dan batu-batu yang mereka sembah dan persembahkan kepada anak cucu seperti batu bangunan rumah, kedai, toko yang melalaikan mereka menyembah dan beriman kepada Allah yang disebut dalam Al-Qur’an waquwduhannasu wal hijarah.

MENJAGA UMMAH

Surat at-Tahrim ayat enam tersebut mengindikasikan kita perintah menjaga diri dan keluarga yang dalam bahasa Al-Qur’an tersebut denga kata wa ahliykum nara. Kata ahli di sini bukan hanya mengindikasikan arti keluarga sedarah saja sebagaimana ramai dipahami orang selama ini, ia juga mengandung arti keluarga seiman dan seagama. Jadi kewajiban menjaga ahli itu termasuklah ahli yang satu ‘aqidah yakni ‘aqidah Islamiyah, selaras dengan hadis Nabi al muslim akhul muslim dan firman Allah surah al-Hujurat (49) ayat 10; Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Dengan demikian maka tanggung jawab seorang muslim dalam kategori umum dan tanggung jawab seorang juru dakwah dalam lingkupan khusus bukan saja menjaga diri dan keluarga sedarah dari ancaman api neraka melainkan mereka juga bertanggung jawab untuk menjaga dan mengawal diri sendir, anak cucu, suami isteri plus orang kampung, bawahannya, muridnya, pekerjanya dan ummat Islam semuanya yang hidup bersamanya maupun yang berjauhan hidup dengannya. Itulah hak dan tanggung jawab seorang muslim yang Allah perintahkan dalam hidup[ dan kehidupan.

Tidak akan sempurna Islam kalau ummat Islam hanya hidup nafi-nafsi dengan menjaga dan menyelamatkan diri sendiri dan anak cucu serta suami isterinya saja. Karena Nabi sudah mengatakan kehidupan ummat Islam ini kal jasadul wahid seperti tubuh yang satu yang apabila mulut enak makan sesuatu makanan maka yang kenyang bukan mulut tetapi perut, ketika usaha tangan menghasilkan banyak duit maka yang senang gembira bukan tangan melainkan kepala dan pikiran. Demikian juga sebaliknya, ketika seseorang dioperasi usus buntu maka yang sakit bukan tempat dioperasi bertepatan letak usus buntu saja melainkan tangan juga ikut sakit karena dipasang jarum impus, kepala juga sakit karena memikirkan di mana ambil uang untuk bayar operasi, mulut juga sakit tidak enak makan dan seterusnya.

Demikianlah gambaran perumpamaan bahwa antara seorang muslim dengan muslim lainnya tidak dapat dipisahkan, tidak boleh bercerai berai apalagi berkelahi, bermusuhan, berperang dan semisalnya. Sebagaimana tubuh yang satu ketika satu bagiannya yang senang seluruh tubuh ikut bersenang dan manakala satu bagian tubuh sakit maka seluruh tubuh ikut sakit. Ketika seorang muslim senang semestinya semua muslim harus ikut senang dan manakala seorang muslim susah dan sakit maka semestinya semua muslim juga ikut sakit sehingga seluruh muslim harus bangkit untuk meperbaiki suasana. Begitulah tanggung jawab yang tergambar dalam makna quw anfusakum wa ahliykum nara. Kalau konsep Al-Qur’an itu dapat diamalkan ummat Islam secara komprehensif maka seluruh ummat Islam akan jauh dari ancaman neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu-batu.

Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

Tahun Baru Islam Sebagai Momentum Perubahan

Oleh : Afrizal Refo, MA

Hijrah merupakan salah satu risalah penting dalam Islam. Bahkan penanggalan bulan dalam Islam dimulai dari hitungan momentum hijrahnya nabi dari Makkah ke Madinah.

Mengapa fenomena hijrah menjadi mementum penting dalam sejarah Islam?

Hal ini karena hijrah memberikan arahan tentang langkah memulai perubahan dari realitas yang buruk menuju realitas yang baik.

Definisi Hijrah

Secara bahasa hijrah adalah berpindah, berpisah.

Sementara secara istilah, menurut pakar leksiografi Al-Quran, Raqib al-Isfahani berpendapat bahwa kata hijrah mengacu kepada tiga pengertian, yaitu:

Pertama, Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, seperti hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah,

Kedua, Meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT,

Ketiga, Mujahadah an-nafs atau menundukkan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki.

Dalam konteks ini maka yang tepat adalah pengertian yang kedua dan ketiga. Yaitu suatu jiwa berniat untuk melakukan perubahan perbaikan diri dari dunia “hitam” menuju dunia “putih”.

Perubahan diri dari realitas hidup yang awalnya serba borju, hura-hura, foya-foya, senang-senang seakan tanpa batas, berubah menuju realitas hidup anak muda yang serba baik, suka ke masjid, hadir majelis taklim, menjadi aktifis dakwah dan segala perubahan kebaikan lainnya. Inilah sejatinya hijrah itu.

Kehidupan adalah sebuah dinamika perubahan sejak manusia lahir hingga meninggal dunia. Setiap manusia yang normal secara umum memiliki visi dan misi dalam hidupnya atau paling minimal memiliki harapan untuk hidup yang lebih baik. Upaya perubahan hidup manusia berupaya semaksimal mungkin bertujuan untuk mencapai kehidupan yang sukses baik secara individu maupun kolektif. Namun dalam realitas masih banyak manusia belum mampu mengelola perubahan yang terjadi untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Adapun Rasulullah saw bersama sahabatnya adalah contoh tauladan terbaik bagaimana beliau memanfaatkan semua potensi yang ada untuk membangun sebuah perubahan. Kondisi Jazirah Arab pada saat itu berada pada peradaban hidup yang rendah (jahiliyah). Meliputi kebodohan, kezaliman, perang antar kabilah, kerusakan moral, pelecehan nilai kehormatan wanita, penyembahan berhala serta berbagai bentuk kejahatan. Bagaimana Rasulullah saw dapat merubah kehidupan yang buruk itu menjadi kehidupan yang berperadaban yang tidak ada bandingannya sepanjang zaman.

Tentu semua atas bimbingan Allah swt sebagai nabi dan rasul terakhir sebagai rahmatan lil’alamin. Diharapkan menjadi contoh bagi manusia setelah beliau wafat dalam membangun peradaban kehidupan dunia sampai hari kiamat.

Ada 3 (tiga) instrumen yang dijalankan oleh Rasulullah saw dalam melakukan perubahan sebagaimana dalam al-quran surah al-baqarah ayat 218. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. yaitu iman, hijrah dan jihad atau secara umum kita sebut keyakinan, perubahan dan perjuangan.

Ketiga prinsip hidup tersebut harus berjalan serasi, sejalan dan seiring agar tujuan hidup manusia yaitu bahagia dunia dan akhirat dapat tercapai. Keyakinan adalah dasar untuk berjuang dalam melakukan perubahan. Dan sangat mustahil ada perubahan tanpa perjuangan. Demikian halnya, mustahil ada perjuangan tanpa ada keyakinan.

Allah swt berfirman dalam QS. ar-Ra’du:11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar.

Dalam suasana menjelang tahun baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriyah yang tinggal beberapa hari lagi ini, mari kita kembali meletakkan pemahaman yang benar tentang hijrah. Hijrah tidak hanya berarti meninggalkan tempat tetapi juga berarti meninggalkan sikap/perbuatan, yang tidak produktif dan tidak diridhai Allah menuju sikap/perbuatan yang produktif dan diridhai Allah swt. Secara maknawi hijrah dibedakan beberapa macam, yaitu:

Pertama, Hijrah i’tiqadiyah atau keyakinan adalah sesuatu yang menjadi penentu setiap amal kita. Tanpa sebuah keyakinan dalam setiap amal, niscaya tidak akan sukses amal tersebut. Karena begitu pentingnya i’tiqadiyah yang benar dalam diri kita, maka inilah sesuatu yang pertama kali harus kita hijrahkan.

Diakui atau tidak, selama hidup ini, kita sering bersinggungan dengan keyakinan yang kurang benar, baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, rezeki, jodoh dan lain sebagainya. Dan terkadang tidak banyak di antara kita yang menyadarinya padahal perbuatannya sudah mendekati bahkan masuk dalam ruang kesyirikan.

Hijrah i’tiqadiyah, menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim, karena i’tiqadiyah merupakan pondasi dan motivasi amal agar segala aktivitas kita diterima dan diridhoi Allah swt.

Kedua, hijrah fikriyyah atau pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran bisa kita akses secara online. Dibutuhkan kemampuan untuk memfilter arus informasi agar informasi yang diterima tidak menimbulkan perubahan pikiran yang bisa merusak nilai- nilai agama, budaya dan akhlak yang baik. Dalam perang pemikiran (ghazwul fikri) berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana amunisi dari senjata-senjata perenggut nyawa.

Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, LGBT, bahkan demokratisasi tanpa arah telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita yang murni. Ia menjadi virus ganas yang sulit terdeteksi oleh kaca mata pemikiran biasa. Keberadaannya samar dan dipoles dengan nilai-nilai yang seolah-olah Islami.. Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut.

Mari kita kembali mengkaji pemikiran-pemikiran Islam yang murni. Pemikiran yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, melalui para sahabat, tabi’in, tabi’t tabi’in dan para generasi pengikut salaf.

Ketiga, Hijrah Syu’uriyyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semua yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang Islami. Banyak hal seperti hiburan, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, idola, organisasi, dan banyak lagi, sebagian besar tak luput dari pengaruh nilai-nilai di luar Islam.

Mode pakaian juga tak kalah pentingnya untuk kita hijrahkan. Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang benar-benar mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian? Tak lain hanyalah untuk menutup aurat dan estetika, bukan justru memamerkan aurat. Ironis memang, banyak diantara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka. Kata Nabi, berpakaian tapi telanjang. Ada yang sudah tertutup tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Dan masih banyak model-model pakaian masa kini yang nyeleneh-nyeleneh.

Keempat, Hijrah Sulukiyyah yaitu tingkah laku atau kepribadian atau biasa disebut juga akhlaq. Dalam perjalanannya akhlaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulia (akhlaqul karimah) menuju kepribadian tercela (akhlaqu sayyi’ah).

Sehingga tidak aneh jika bermunculan berbagai tindak amoral dan asusila di masyarakat. Pencurian, perampokan, pembunuhan, anarkis, pelecehan, pemerkosaan, penghinaan, gosip dan penganiayaan seolah telah menjadi biasa dalam masyarakat kita. Penipuan, korupsi, prostitusi, suap dan manipulasi, ketidak adilan hampir bisa ditemui di mana-mana.

Kelima, hijrah amaliah yaitu, setiap muslim harus memiliki komitmen untuk menerapkan nilai-nilai Islam, baik yang terkait dengan ibadah maupun muamalah. Dalam muamalah mari kita menegakkan ekonomi ilahiyah yang kita yakini dapat menjadi solusi terhadap keterpurukan dan kesenjangan ekonomi. Sehingga dapat mewujudkan tatanan ekonomi yang berkeadilan, mensejahterakan, dan memberikan kebahagiaan dunia – akhirat. Begitu pula dalam bidang lain seperti bidang politik, pendidikan, sosial, budaya, keamanan dan lingkungan dengan berupaya menerapkan nilai-nilai ilahiyah.

Oleh karena itu dalam momentum hijrah ini mari kita melakukan evaluasi terhadap masa yang telah kita lewati untuk melakukan perubahan yang lebih baik dimasa yang akan datang agar kita tidak termasuk orang yang merugi. Karena sesungguhnya orang yang beruntung adalah hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih hebat dibandingkan hari ini. Kesuksesan hanya dapat dicapai dengan perubahan dan perubahan memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Wallahu ‘Alam

Penulis adalah Sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa, Dosen FTIK IAIN Langsa, Aceh.

PESAN MORAL IBADAH QURBAN BAGI UMAT ISLAM DAN KISAH NABI ISMAIL

Oleh : Afrizal Refo, MA

Tak lama lagi umat muslim sedunia akan segera menghadapi hari raya besar kedua, yakni hari raya Idul Adha. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan adalah menyembelih hewan Kurban.

Menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha, tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari Tasyriq (tanggal 11,12,dan 13 Dzulhijjah) merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap umat islam di seluruh dunia, karena di bulan ini umat islam menyerahkan hewan qurban untuk dibagikan kepada fakir miskin. Bulan ini juga menjadi momentum ibadah yang meneladani Nabi Ibrahim a.s yang bermuara kepada pemerataan sosial dan keadilan sosial.

Kata qurban sendiri berasal dari bahasa arab yaitu “quroba-yaqrobu-qurban, waqurbanan” yang artinya dekat, maksudnya ialah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Adapun pengertian secara istilah, qurban adalah penyembelihan hewan dalam rangka ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt yang dilakukan pada waktu tertentu. Ibadah qurban disyariatkan pada tahun ketiga hijriah, sama halnya dengan zakat dan shalat hari raya (Terjemahan Fiqih Islam Wadillatuhu, 2011)

Ibadah qurban yang dilakukan umat Islam yakni dengan penyembelihan hewan kurban pada setiap 10 Dzulhijjah. Hewan yang boleh dijadikan untuk kurban adalah unta, sapi, dan kambing atau domba.

Tapi apakah ibadah qurban ini menjadikan agama Islam tidak berbeda dengan agama-agama lainnya. Bahwa umat Muslim menjadikan hewan-hewan tersebut sebagai persembahan kepada Allah SWT.

Ibadah qurban sama halnya dengan ibadah haji, bersifat simbolik. Qurban bukanlah sebuah ritual menumpahkan darah untuk mendapatkan pertolongan Allah melalui kematian makhluk lain. Qurban bagi umat Islam adalah ungkapan terima kasih kepada Allah atas limpahan rezeki dengan cara berbagi makanan berharga kepada mereka yang tidak mampu.

Penyembelihan hewan qurban sebenarnya sudah ada sejak pra-Islam. Bahkan dipraktekkan oleh orang-orang Arab kafir dan juga Yahudi sebagai bentuk persembahan, untuk memperoleh kekayaan dan perlindungan Allah dengan pengorbanan darah.

Islam datang untuk mengubah tradisi tersebut. Penyembelihan qurban bukan untuk mendamaikan Tuhan yang sedang marah atau untuk menebus dosa-dosa sebagaimana yang diyakini umat kristen. Penyembelihan qurban menurut Islam adalah untuk memadamkan ego dan keinginan pribadi kepada Allah.

Seperti diceritakan kisah Nabi Ismail dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 102-107.

“Maka ketika (anak laki-laki) mencapai (usia) sanggup bekerja dengannya, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya saya bermimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab: “Wahai Ayahku! Lakukan apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu: Insya Allah, Engkau akan menemukanku, termasuk orang yang sabar. Maka ketika keduanya telah berserah diri (kepada Allah), dan dia (Ibrahim) membaringkannya anaknya atas pelisnya (untuk pengorbanan). Lalu kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah memenuhi mimpi itu! ” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat benar. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Ketulusan dan kesabaran nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail untuk melaksanakan perintah Allah Swt tidak diragukan lagi. Iblis berusaha untuk menggodanya, namun nabi Ibrahim tetap kuat dan kokoh untuk melaksanakan perintah Allah walaupun hanya lewat mimpi (ru’yah shadiqah). Dengan ketabahan, ketulusan, dan tawakal kepada Allah Swt, ia melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan, kepasrahan dan keikhlasan.

Ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim a.s adalah ujian penyembelihan nabi Ismail a.s yang peristiwa ini diabadikan dalam ibadah qurban yang dilakukan oleh segenap kaum muslimin di seluruh dunia. Makna dan pesan dari qurban itu sendiri yang dititahkan (disyariatkan) Allah Swt tentulah memiliki pesan sosial, tak terkecuali ibadah qurban. Selain memiliki makna ritual, ibadah qurban juga mengandung makna sosial. Oleh karena itu, umat islam yang merayakan ibadah qurban diharapkan tidak hanya sebatas ritual yang miskin makna, akan tetapi ada nilai-nilai luhur dan moral yang dapat diimplementasikan. Diantara makna moral yang terkandung di dalam ritual qurban adalah :

Pertama, ketundukan Ibrahim a.s kepada Rabbnya membawa pesan moral kepada kita semua untuk senantiasa taat dan patuh terhadap aturan Undang-undang yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah.

Kedua, dibebankannya ibadah haji ini bagi umat islam yang mampu dan mendistribusikan daging qurbannya sebagai bentuk kepedulian kepada kaum lemah menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu bersemangat membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan tidak hanya sebatas materi, melainkan ide tenaga atau pikiran yang akan dapat meringankan dan penyelesaian problematika hidupnya. Secara substansial belum dapat disebut “berkurban” manakala di dalam dirinya belum tumbuh semangat berkurban dan membantu penderitaan orang lain.

Ketiga, menyembelih hewan berarti menyembelih sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak mengenal aturan, norma atau etika dan bertengkar bahkan membunuh hanya demi keuntungan sesaat, memperkaya diri sendiri, menindas yang lemah dan arogan. Hal ini menunjukan bahwa qurban yang dilakukan berdampak mampu memberikan kontribusi dan penyadaran untuk memperbaiki diri dan menata tatanan sosial yang baik.

Keempat, disunahkan menggemakan takbir mulai hari pertama malam 10 Dzulhijjah sampai waktu ashar di akhir hari tasyrik (tanggal 13 Dzulhijjah) memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan Agung dan Absolut. Oleh karenanya, tidak patut bagi kita bertindak semena-mena terhadap orang lain serta berjalan di muka bumi dengan congkak karena hanya Allah yang maha kuasa atas segalanya dan kita selaku hamba Allah tunduk dan patuh terhadap perintah Allah SWT.

Dengan momentum qurban ini dapat kita mengambil pelajaran bahwa dalam Alquran Allah menegaskan, Allah tidak pernah menyuruh Ibrahim membunuh (mengorbankan) putranya. Hal ini berbeda dengan apa yang disebut dalam Alkitab, bahwa Abraham (Ibrahim as) diperintahkan berqurban dengan membunuh putranya.

Dengan kata lain, implikasi yang mendasari umat Islam dalam berqurban bukanlah pertaubatan darah atau mencari pertolongan dari Allah melalui kematian orang lain, melainkan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas rezeki seseorang dan pengorbanan pribadi untuk berbagi harta benda dan makanan berharga mereka dengan sesama manusia.

Sebagaimana Firman Allah SWT, “Dan bagi setiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang diberikan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada mereka yang tunduk patuh (kepada Allah). (Al-Hajj ayat 34)

Dari Ayat Alquran diatas maka dapat disimpulkan, bahwa Allah SWT tidak membutuhkan daging atau darah karenanya berqurban adalah simbol rasa syukur dengan cara berbagi daging qurban kepada sesama manusia. Justru yang terpenting dalam berqurban adalah, penyembelihan dilakukan dengan menyebut nama Allah.

Dengan demikian, berqurban selain untuk mengagungkan sebagian syiar Allah, juga agar mendapatkan keutamaan qurban. Ada banyak keutamaan qurban, di antaranya adalah dicatat sebagai amalan terbaik di hari Idul Adha yang paling dicintai Allah, mendapat kebaikan sebanyak bulu hewan kurban dan mendapatkan ampunan dosa.

Semoga pelaksanaan qurban kita semua menjadi ibadah yang hakiki dalam konteks ritual maupun sosial.

Penulis adalah Sekjen Dewan Da’wah Kota Langsa

Ada Apa dengan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah?

Oleh Afrizal Refo, MA

Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang mulia dalam Islam. Dzulhijjah sendiri berasal dari kata ‘Dzul’ yang artinya pemilik dan ‘Al-Hajjah’ yang artinya haji.

Karena merupakan bulan yang mulia, sangat dianjurkan bagi umat Muslim untuk memperbanyak ibadah. Mulai dari berpuasa, berzikir, berkurban, hingga melaksanakan shalat Idul Adha.

Beberapa hari lagi umat Islam akan menyambut bulan Dzulhijjah. Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 atau terakhir dalam kalender tahun Hijriah. Dzulhijjah menjadi salah satu bulan suci (syahr al haram) dalam Islam selain Dzulqaidah, Muharram, dan Rajab. Di Indonesia, bulan Dzulhijjah juga sering disebut sebagai bulan haji.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada 12 bulan, di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati, yakni Dzulqa’adah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang mampu menunaikannya. Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa.

Karenanya, kesempatan beribadah tidak hanya diberikan kepada jama’ah haji. Siapapun mendapat kesempatan beramal meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.

Saat datangnya bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Hal itu seperti yang dijelaskan dalam sejumlah hadis Rasulullah SAW, salah satunya hadis riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر
Artinya,

“Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).

Di dalam bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang dipilih oleh Allah sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Allah berfirman:

والفجر وليال عشر

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (Qs. Al Fajr: 1-2)

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan 10 malam yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut. Penafsiran para ulama ahli tafsir mengerucut kepada 3 pendapat:

Yang pertama: 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Yang kedua: 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Yang ketiga: 10 hari pertama bulan Al Muharram.

Yang rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan atas 2 hal sebagai berikut:
Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Jabir radhiyallaahu ‘anhuma
إن العشر عشر الأضحى، والوتر يوم عرفة، والشفع يوم النحر

“Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 hari di bulan Al Adh-ha (bulan Dzulhijjah), dan yang dimaksud dengan “ganjil” adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan “genap” adalah hari raya Idul Adh-ha. (HR. Ahmad, An-Nasaa’i, hadits ini dinilai shahih oleh Al-Haakim dan penilaiannya disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Bulan Dzulhijjah juga penuh dengan sejarah bagi umat Islam. Di antaranya yaitu ibadah haji dan menunaikan kurban. Dua ibadah tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar di mata Allah SWT.

Alasan lain dijadikannya Dzulhijjah sebagai salah satu bulan yang mulia karena ada banyak peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam. Apa saja peristiwa penting di bulan Dzulhijjah?

1. Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

Allah SWT menguji Nabi Ibrahim dengan memerintahkannya menyembelih putranya, Nabi Ismail. Perintah tersebut disampaikan melalui mimpi sebanyak tiga kali. Ibrahim pun mengatakan hal ini kepada Ismail.
Ismail menerima hal tersebut karena merupakan perintah Allah. Keesokan harinya, Ibrahim menyembelih Ismail di sekitar Mina, Mekah. Karena keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail, Allah menggantikannya dengan seekor domba. Peristiwa ini terjadi pada 9 Dzulhijjah.

2. Pembangunan Ka’bah
Peristiwa lainnya yang terjadi pada bulan Dzulhijjah adalah pembangunan Ka’bah. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah yang juga dibantu Ismail.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 127 yang artinya: “Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo’a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 127)

3. Perintah Wajib Berhaji
Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyerukan ibadah haji. Peristiwa ini diyakini terjadi pada bulan Dzulhijjah. Diriwayatkan, Nabi Muhammad menunaikan ibadah haji sekali seumur hidup pada bulan Dzulhijjah.
Allah SWT berfirman: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Al-‘Imran : 97)

4. Peristiwa Nabi Yunus
Nabi Yunus pernah mengalami kejadian ditelan paus raksasa setelah dilempar ke laut. Saat itu, Allah memberi mukjizat kepadanya agar mampu bertahan di dalam perut paus. Peristiwa ini diyakini terjadi pada 2 Dzulhijjah. Itu mengapa umat Muslim disunnah untuk berpuasa pada tanggal tersebut.

5. Diampuninya Dosa Nabi Adam
Adam dan Hawa dilempar Allah dari surga oleh Allah SWT ke Bumi karena memakan buah khuldi yang terlarang akibat godaan iblis. Karena kejadian tersebut, Nabi Adam terus berdoa kepada Allah agar diampuni dosanya. Pada 1 Dzulhijjah, Allah pun mengampuni dosa Nabi Adam dan pada tanggal ini pula umat Muslim dianjurkan berpuasa.

Penulis adalah Sekjen Dewan Da’wah Kota Langsa.

KASUS PELECEHAN ANAK SEMAKIN MENCEMASKAN

Oleh Dr. Muhammad AR. M.ED

            Akhir tahun 2021 kita diramaikan oleh berita rudapaksa (pemerkosaan) anak gadis dibawah umur oleh 14 orang pemuda di Nagan Raya. Mungkin ini kado buat ibu dan bapak yang merasa lalai menjaga putra-putrinya, konon lagi yang masih sedang mencari patron kehidupan. Ini jelas bahwa institusi keluarga apakah secara umum di Indonesia ataupun di Aceh sudah sangat rapuh dalam mendidik generasi muda sehingga  persoalan-persoalan yang tidak kita bayangkan-pun akan terjadi. Inilah yang disebut dengan kata bijak dalam bahasa Inggris ”charity begins at home.”  Di sini dimaknakan bahwa  rumah tangga merupakan kekuatan utama dalam menentukan arah masa depan generasi muda ini. Maka dari itu hati-hatilah setiap rumah tangga memiliki pe er  besar untuk mendidik.

            Dalam tahun 2021  sedikitnya sudah tiga kali terjadinya pemerkosaan beramai-ramai terhadap anak dibawah umur di Aceh, namun para petinggi negara di Aceh belum berani  menjadikan issu ini sebagai bahasan utama dalam pemerintahan Aceh.  Jika kasus seperti yang terjadi di Bener Meriah (Februari 2021),  Langsa (Maret 2021) dan di Nagan Raya (Desember 2021) mau dijadikan issue central, maka  persoalan pemerkosaan, penelantaran, kekerasan terhadap anak mungkin tidak separah yang terjadi selama ini.  Kemungkinan besar, persoalan ini  belum menyentuh hati para elit, maka beginilah panorama yang dilakukan oleh para calon pemimpin yang akan memimpin  dua puluh tahun kedepan, yaitu para pemimpin yang bermental  pemerkosa.  Nanti mereka tidak segan-segan akan memaksa lawan politiknya, memaksa  lawan keyakinannya,  memaksa lawan jenisnya untuk ditidurinya, memaksa orang-orang yang tidak sehaluan dengan mereka, dan memaksa orang untuk berbuat maksiat secara beramai-ramai. Ini semua karena mengikuti pengalaman masa lalunya  mereka telah pernah diperkosa namun tidak diperbaiki kehidupannya dan nama baiknya dan demikian  juga para pemerkosa yang tidak dihukum dengan serius atas kejahatannya.

Anak adalah amanah Allah dan sebuah anugerah yang sangat berharga bagi orang  tua, karena itu jagalah amanah tersebut dengan baik, jagalah pendidikannya, jagalah ibadahnya, jagalah  lingkungannya, jagalah dengan siapa dia berkawan.  Anugerah Allah itu mahal sekali dan tidak dapat ditebus dan dibeli dengan harga triliun dan milyaran untuk mendapat seorang anak, karena itu syukurilah  anugerah tersebut, papahlah  pemberian tersebut,  jagalah ia dari dalam kandungan, sejak bayi hingga dewasa agar para predator, pemerkosa, peleceh,  tidak pernah menyentuhnya secara haram. Ini merupakan tanggung jawab rumah tangga  pada lini terdepan, kalau rumah tangga lalai dan ketiduran dalam melihat serta memperhatikan gerak gerik anak-anak, maka  jangan  terkejut ketika kasus meledak ke seantero negeri.  Jika  pengawasan rumah tangga rapuh dan bebas, maka para calon pemimpin bangsa  (bunga bangsa yang sedang berkembang) sekarang ini  akan terkulai layu sebelum masanya.  Institusi yang paling bertanggung jawab pada peringkat awal adalah  (household institution) yaitu ayah dan ibu. Jika mereka tidak memiliki ilmu, tidak memiliki  akidah yang sahih, dan tidak memiliki roh Islam dan kasih sayang terhadap anak manusia sejak kecil, maka ketuka mereka beranjak dewasa akan lepas dari pengawalan atau pengawasan.

Demikian pula tanggung jawab berikutnya adalah wujudnya caring society (masyarakat penyayang atau masyarakat yang saling peduli) terhadap moralitas anak bangsa dan jangan membiarkan mereka berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama dan tatanan social di depan mata kita. Jika masyarakat Islam tidak lagi melakukan amar makruf nahy munkar, maka di kawasan itu tidak ada lagi  agama Islam.  Sebab, salah satu cri khas Islam adalah  saling menasehati terhadap kebenaran dan kesabaran. Lagi pula, salah satu peran agama Islam adalah  salng memberi nasehat. Jika nasehat tidak ada lagi atau tidak mau menerimanya, berarti  kita sudah keluar dari agama ini. Namun,  jika telah berlaku, maka akan sulit untuk memperbaikinya karena  nasehat dan pencegahan sudah kedaluarsa. Artinya nasi telah menjadi bubur.  Penyesalan selalu datangnya terlambat. Masa lalu jangan disesali, tetapi masa depanlah  yang harus disongsong dan diperbuat sebaik mungkin.  Oleh karena itu hidupkan nasehat, dan jagalah bersama anak-anak kita agar selamat dari narkoba, dari pergaulan bebas, zina, pemerkosaan, dan dekadensi moral.

Umat Islam seharusnya tidak terperosok ke dalam  lobang yang sama untuk kali kedua, apalagi kali ketiga.  Pengalaman buruk dan kegagalan seharusnya sebagai pemicu keberhasilan di masa berikutnya, demikian pula  jika  malapetaka yang pernah menimpa kita pada masa pertama atau masa lalu  karena akibat kesalahan kita sendiri, maka itu merupakan  guru yang paling baik dalam kehidupan kita. Artinya, cukup sekali kita merasakan pengalaman pahit dan memalukan dalam kehidupan. Jika kita terus gagal dan gagal,  tertimpa kehinaan, dan kemelaratan bertubi-tubi, artinya ada yang salah dalam kehidupan kita, karena itu mohonlah petunjuk Allah, bertobatlah kepada-Nya, mohonlah ampun kepada-Nya, dan bertaqwalah dengan sesungguhnya.  Jauhkan diri dari sifat kemunafikan dan kepura-puraan terhadap agama Allah, perintah Allah,  terhadap perintah Raulullah,  serta meninggalkan semua larangan agama secara totalitas. Jangan menyombongkan diri terhadap Allah swt karena Dia Maha Perkasa dan semua penguasa dan manusia ada dalam genggaman-Nya semuanya.

Kita memohon kepada pemerintah Aceh agar memperketat pengawasan terhadap eksistensi anak, lingkungan anak, pendidikan anak, dan  keinginan mereka demi  masa depan yang gemilang. Rasa kepedulian ini sangat diperlukan sejak dari tahap pemerintahan desa (kampung), kecamatan, kabupaten hingga ke propinsi. Maknanya negara harus benar-benar memperhatikan kelangsungan hidup generasi muda sejak dari kampung hingga ke kota. Negara bisa melakukan ini semua karena  mereka memiliki aparat (TNI –POLRI), Satpol PP dan WH., penegak hukum, memiliki dana yang cukup, dan  dapat melahirkan hukum-hukum yang tegas dan berat bagi pelaku kejahatan terhadap anak (generasi muda).  Disinilah harapan besar yang dapat kita harapkan kepada negara khususnya dalam mencegah berlakunya  kekerasan terhadap anak.

Pengawasan dan perlindungan terhadap anak harus nampak terlihat dan harus  eksis di kampung-kampung hingga ke kota-kota sehingga jika ada gelagat akan terjadinya ke arah rudapaksa, pedofil, kekerasan, penelantaran, ekploitasi, dan perdagangan anak, dengan mudah dapat diatasi.  Prevention is better than cure.  Demikian bunyi pepatah Inggris yang artinya upaya pencegahan lebih baik sebelum sesuatu terjadi. Upaya pendeteksi  segala kemungkinan buruk ini akan teratasi jika setiap kampung dan kota memiliki kepedulian, dan pengawasan di mana-mana. Dengan adanya pengawasan baik oleh ibu bapak, masyarakat, pemerintah dan badan-badan khusus yang berkecimpung terhadap perlindungan anak.

Dr. Muhammad AR. M.Ed

Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh  (KPPAA).

Kejayaan Bani Umayyah Sebagai Spirit Baru Kejayaan Islam Masa Kini

Oleh : Cut Meuthia Sari 

Dinasti Bani Umayyah baru terwujud pada tahun 41 H/661 M dipelopori oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan berumur lebih kurang 90 tahun. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah telah memberikan banyak kontribusi untuk pengembangan dan kemajuan dunia Islam.

Hanya dalam jangka waktu 90 tahun banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam yang meliputi tanah Spanyol ke seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab Syria Palestina sebagian daerah anatolia koma-koma persiapan Afghanistan India dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan Uzbekistan dan Kyrgyzstan yang termasuk Soviet Rusia.1

Menurut Prof.Ahmad syalabi, penaklukan militer di zaman Umayyah mencakup tiga peran penting yaitu sebagai berikut:

Pertama, front melawan bangsa Romawi di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibukota Konstantinopel dan penyerangan ke pulau-pulau di Laut Tengah.

Kedua, front Afrika Utara. Selain menunjukkan daerah hitam Afrika, pasukan muslim juga menyeberangi Selat Gibraltar, lalu masuk ke Spanyol.

Ketiga, front Timur menghadapi wilayah yang sangat luas sehingga operasi kecil ini dibagi menjadi dua arah. yang satu menuju udara ke daerah adalah di seberang Sungai Jihun (Ammu Darya). sedangkan yang lainnya ke arah selatan menyusuri Sind, wilayah india bagian barat.2

Pada masa pemerintahan Muawiyah diraih kemajuan besar dalam perluasan wilayah. Selain itu, peristiwa yang paling mencolok ialah keberaniannya mengepung Kota Konstantinopel melalui suatu ekspedisi yang dipusatkan di kota pelabuhan dardanella setelah terlebih dahulu menduduki pulau-pulau di laut tengah seperti protes peta Cyprus, Sicilia dan sebuah pulau yang bernama awak tidak jauh dari ibu kota Romawi Timur itu titik di belahan Timur ke mama oh yang berhasil menaklukkan khurasan sampai ke sungai oxus dan Afganistan.

Ekspansi ke Timur yang dirintis oleh Muawiyah, lalu disempurnakan oleh Khalifah Abdul Malik serta dianggap sebagai Daulah Bani Umayyah kedua. Selain itu, ia juga berhasil menyempurnakan administrasi pemerintahan Bani Umayyah. Kemudian, masa pemerintahan Abdul Malik diganti oleh putranya Al-walid. Al-walid memerintah selama 10 tahun (86-96) H. Pada masa pemerintahannya merupakan masa kemenangan, kemakmuran, dan kejayaan bani umayyah.

Negara Islam meluas ke daerah Barat dan Timur, beban hidup masyarakat menjadi ringan, pembangunan kota, pabrik-pabrik, jalan-jalan, dan pendirian gedung-gedung seperti Masjid Al-Amawi di Damaskus dan perkantoran mendapat perhatian yang cukup serius.3

Di samping itu, ia juga menggunakan kekayaan negerinya untuk menyantuni para yatim piatu, fakir miskin, dan penderita cacat seperti orang lumpuh, buta, dan sakit kusta. Al-walid I berhasil menghidupkan kembali Kota Konstantinopel dengan memberikan pukulan-pukulan yang cukup kuat. walaupun cita-cita untuk mendudukkan ibu kota Romawi tetap saja belum berhasil tetapi tindakan itu sedikit banyak berhasil menggeser tapal batas pertahanan Islam lebih jauh ke depan dengan menguasai Basis Basis militer kerajaan Romawi di mar’asy dan ‘Amuriyah.

Prestasi yang lebih besar dicapai oleh al-walid I ialah di Afrika bagian Utara dan sekitarnya. Setelah segenap tanah Afrika bagian utara diduduki, pasukan muslim di bawah pimpinan Thariq Bin Ziyad menyerangi Selat Gibraltar masuk ke Spanyol. Lalu ibukotanya, Cordova segera dapat direbut, menyusul kemudian kota-kota lain seperti Sevilla, Elvira, dan Toledo. Gubernur Musa bin Nushair kemudian menyempurnakan penaklukan atas tanah Eropa ini dengan menyisir kaki pegunungan Pyrenia dan menyerang Carolingian Prancis. Pada masa pemerintahannya juga tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, dipimpin oleh panglima Musa bin Nusyair dan Tariq bin Ziyad yaitu pada tahun 711 M.4

Disamping keberhasilan tersebut Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang baik politik pemerintahan maupun sosial kebudayaan titik dalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin Kompleks. selain mengangkat majelis penasehat sebagai pendamping khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa orang sekretaris untuk membantu pelaksanaan tugas yang meliputi:

  1. Katib Ar-Rasail, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat-menyurat dengan para pembesar setempat
  2. Katib Alkharraj, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
  3. Katib Al-Jundi, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan berbagai hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
  4. Katib Asy syurthah, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemerintahan keamanan dan ketertiban umum.
  5. Katib Al-Quddat, sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan badan peradilan dan hakim setempat.5

Dalam bidang sosial budaya, Bani Umayyah telah membuka kontak antar bangsa-bangsa muslim (Arab) dengan negeri-negeri taklukan seperti Persia, Mesir, Eropa dan sebagainya. Dalam bidang seni, terutama seni bangunan (arsitektur) Bani umayyah tercatat suatu pencapaian gemilang seperti Dome of The Rock (qubah Ash-Shakhra) di Yerussalem yang menjadi momentum terbaik hingga kini dan membuat orang-orang terkagum. Namun dari segi ilmiah, bahasa, sastra, dan lainnya tetap maju, menonjol dan mengambil kedudukan yang layak. Bangsa Arab adalah ahli syair, mendapati kedudukan khusus bagi para penyair dengan memberikan hadiah yang cukup besar dan memuaskan.

Pada masa Abul Aswad Ad-Duali (681 M) menyusun gramatika Arab dengan memberi titik pada huruf-huruf hijaiyah yang semula tidak bertitik. Usaha ini memiliki peranan besar dalam mengembangkan dan memperluas bahasa Arab, serta memudahkan orang membaca, mempelajari, dan menjaga barisan yang menentukan gerak kata dan bunyi suara serta ayunan iramanya, hingga dapat mudah kita pahami maknanya.

Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M) merupakan raja Bani Umayyah yang paling terkenal di lapangan ilmu pengetahuan dengan meletakkan perhatian besar pada ilmu pengetahuan sehingga kerajaan bani Umayyah dapat mampu menempatkan dirinya dalam ilmu pengetahuan dengan cara mementingkan buku-buku bahasa Yunani dan Kopti (Kristen Mesir).6

Selanjutnya dalam bidang peradaban, Bani Umayyah telah mampu mengembangkan dan perluasan berbagai ilmu pengetahuan, dan bahasa Arab sebagai media utamanya. Menurut Jurji Zaidan (George Zaidan) beberapa kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan diantaranya:

  1. Pengembangan Bahasa Arab.

Bani Umayyah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat-menyurat harus menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan bahasa Romawi/Persia.

  1. Marbad Kota Pusat Kegiatan Ilmu

Bani Umayyah mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan diberi nama Marbad, kota satelit dari Damaskus. Di kota Marbad inilah berkumpul para filsuf, ulama, penyair dan para ahli lainnya sehingga kota tersebut di beri gelar Ukadz-nya Islam.

  1. Ilmu Qiraat.

Ilmu ini merupakan ilmu tertua di masa khulafurrasyiddin, kemudian masa dinasti umayyah dikembangkan sehingga menjadi cabang ilmu syariat yang sangat penting. Dan lahirlah ahli qiraat seperti Abdullah bin Qusair (120 H), dan Ashim bin Abi Nujud (127 H).

  1. Ilmu Tafsir.

Dikarenakan minat di kalangan umat Islam dalam menafsirkan alquran bertambah, sehingga memberikan apresiasi yang baik dalam dunia ilmu pengetahuan terus dikembangkan hingga sekarang. Salah satu ulama yang membukukan ilmu tafsir yaitu Mujahid (104 H).

  1. Ilmu Hadis.

Ketika umat Islam berusaha memahami Al-Qur’an, tentu diperlukannya hadis (ucapan-ucapan nabi). Oleh karena itu, timbullah usaha untuk mengumpulkan hadis, menyelidiki asal usul hadis sehingga akhirnya muncul ilmu baru yang disebut dengan ilmu hadis. Diantara ilmu hadis yang termasyhur di masa bani umayyah adalah Al-Auzai Abdurrahman bin Amru (159 H), Hasan Basri (110 H), Ibnu Abu Malikah (119 H) dan Asya’bi Abu Amru Amir bin Syurabil (104 H).

  1. Ilmu Fiqh.

Diantara ahli fiqh yang terkenal adalah Sa’ud bin Musib, Abu Bakar bin Abdurrahman, Qasim Ubaidillah, Urwah, dan Kharijah.

  1. Ilmu Nahwu

Pada masa bani umayyah Islam menyebar secara luas sehingga diperlukan ilmu nahwu terkhusus untuk orang-orang Ajam (non-Arab) yang masuk Islam. oleh karena itu, ilmu nahwu dibukukan dan dikembangkan.

  1. Ilmu Jughrafi dan Tarikh.

Pada masa bani umayyah, ilmu Jughrafi (ilmu bumi/geografi) dan Tarikh (ilmu sejarah) sudah berdiri pada masa itu, kemudian dikembangkan menjadi suatu ilmu agama Islam.

  1. Usaha Penerjemahan

Pada masa bani umayyah dimulai pula penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain ke dalam bahasa arab. Adapun yang pertama sekali memulai usaha penerjemahan ialah Khalid bin Yazid, seorang pangeran yang sangat cerdas dan ambisius.7[1]

Penulis adalah Mahasiswi S2, prodi Islamic Studies, UIN Ar-Raniry


[1]Samsul Munir Amin, Sejaeah Peradaban Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 129

2Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983), h. 124-139

3Ali Sodiqin, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: LESFI, 2002), h. 69

4Samsul Munir Amin, Sejaeah Peradaban Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 131

5Joesoef Soe’yb, Sejarah Daulat Umayyah I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 234

6Fuad Mohd Facruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), h. 46

7Jurji Zaidan, Tarikh Adab Lughah Al-Arabiyyah, (Cairo: Darul Hilal, Jilid 2), h. 236.