Heboh Pasangan Homo di Podcast Deddy, Bagaimana Sejarah Kaum Liwath?

Jakarta — Netizen Indonesia, terutama umat Islam, meradang setelah selebritas terkenal Deddy Corbuzier mengundang sepasang pria homo ke acaranya. Banyak yang menganggap konten Deddy kali ini sudah keterlaluan, walaupun sebagian di antara netizen juga yang memandang konten-konten dia sebelumnya juga jauh dari kata mendidik.

Bahkan beberapa dai kondang pun turut mengeluarkan pernyataan teguran kepada Deddy Corbuzier atas konten yang dia produksi pada Sabtu 7 Mei 2022 kemarin. Lalu bagaimanakah sejarah kaum homoseksual yang disebutkan di dalam Al-Quran sebagai bagian dari umatnya Nabi Luth alaihi salam pada zaman dahulu?

Dikutip dari laman kisahmuslim.com, dakwah Nabi Luth alaihis salam kepada kaumnya dimulai ketika ia dan Nabi Ibrahim alaihis salam (pamannya) hendak menuju Palestina dari Mesir. Di tengah perjalanan Nabi Luth berpamitan kepada Nabi Ibrahim untuk pergi ke negeri Sadum (dekat laut mati di Yordania) karena Allah telah mengutusnya untuk berdakwah di sana.

Sebagai gambaran, akhlak penduduk negeri Sadum kala itu sangat buruk sekali. Mereka tidak pernah menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan tidak malu berbuat kemungkaran seperti berkhianat kepada kawan dan perzinaan.

Puncak kekejian perbuatan mereka yaitu para laki-laki meninggalkan kaum wanita untuk mendatangi sesama jenis dan melepaskan syahwat mereka. Sungguh-sungguh melampaui batas.

Allah merekam kekejian mereka di dalam Al-Qur’an Surah Asy Syu’ara ayat 160-161 sebagai pengingat kepada umat manusia agar jangan sampai mengikuti perbuatan yang telah dilakukan kaum Nabi Luth alaihis salam dahulu kala.

“Mengapa kamu tidak bertakwa?”– Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.–Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia,– Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.”

Bukannya mendengarkan seruan tobat dari Nabi Luth, mereka malah bersikap ngeyel, memilih tak beriman kepada Allah, dan mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri Sadum jika terus-menerus mengganggu perbuatan keji mereka.

Bahkan dalam Al-Qur’an Surah Al ‘Ankabbut ayat 29 mereka menantang balik Nabi Luth untuk meminta kepada Allah supaya menimpakan azab kepada mereka. “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

Melihat kebebalan kaumnya itu Nabi Luth marah. Maka ia memilih untuk membawa keluarganya pergi menjauhi mereka. Namun alih-alih taat kepada suaminya, istri Nabi Luth lebih memilih berkhianat dan membelot kepada kaum liwath.

Allah kemudian mengutus tiga orang malaikat yang menjelma sebagai manusia yang sangat rupawan untuk membereskan urusan kaum Nabi Luth. Tapi sebelum menuju negeri Sadum ketiga malaikat itu sempat mampir terlebih dahulu ke Nabi Ibrahim alaihis salam.

Kepada Nabi Ibrahim mereka memberikan kabar gembira bahwa beliau akan dikaruniai seorang anak laki-laki dari istrinya yang bernama Sarah. Anak itu kemudian juga menjadi seorang nabi Allah bernama Ishaq alihis salam.

Selanjutnya para malaikat bercerita kepada Nabi Ibrahim bahwa mereka akan mengazab penduduk kota Sadum karena kerusakan yang mereka lakukan dan juga kekafirannya kepada Allah.

Mendengar hal tersebut Nabi Ibrahim pun berkata kepada para malaikat bahwa di sana ada Nabi Luth yang berdakwah kepada penduduk kota Sadum. Para malaikat menenangkan Nabi Ibrahim bahwa Nabi Luth bersama keluarganya telah diselamatkan Allah kecuali istrinya yang telah kafir.

Selanjutnya ketiga malaikat itu mendatangai Nabi Luth dalam wujud yang sama saat mereka menampakkan diri kepada Nabi Ibrahim. Manusia yang rupawan, yang hadir untuk memancing pelaku liwath agar menghampiri mereka.

Sambil berdesak-desakan di pintu rumah Nabi Luth setelah mendengar info ada manusia yang sangat ganteng, kaum liwath itu berteriak-teriak kepadanya untuk dibukakan pintu rumah. Rupanya mereka ingin bersenang-senang dengan ketiga orang ganteng.

Saat itulah ketiga manusia rupawan tersebut memberitahukan siapa jati diri mereka sebenarnya kepada Nabi Luth dan kaumnya. Tak lupa mereka juga menyampaikan maksud kedatangannya ke negeri Sadum yaitu untuk menimpakan azab yang sangat pedih. Bukan untuk bersenang-senang dengan kaum keji.

Karena saking gatelnya ingin bersenang-senang, kaum Nabi Luth pun nekat mendobrak pintu Nabi Luth. Brak! Tapi salah satu malaikat berhasil membuat mata mereka menjadi buta dan sempoyongan.

Nabi Luth pun diminta untuk membawa keluarganya keluar dari negeri Sadum di malam hari karena azab yang akan Allah timpakan direncanakan datang di pagi harinya. Mereka juga menasihatinya agar ia dan keluarganya tidak menoleh ke belakang saat azab itu turun, agar tidak menimpa mereka.

Di malam hari, Nabi Luth ‘alaihissalam dan keluarganya pergi meninggalkan negeri Sadum. Setelah mereka pergi meninggalkannya dan tiba waktu Subuh, maka Allah mengirimkan kepada mereka azab yang pedih yang menimpa negeri itu.

Saat itu, negeri tersebut bergoncang dengan goncangan yang keras, seorang malaikat mencabut negeri itu dengan ujung sayapnya dan mengangkat ke atas langit, lalu dibalikkan negeri itu; bagian atas menjadi bawah dan bagian bawah menjadi atas, kemudian mereka dihujani dengan batu yang panas secara bertubi-tubi. Allah Ta’ala berfirman, “Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,–Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 82-83)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya selain istrinya dengan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mereka menjaga pesan itu, bersyukur atas nikmat Allah dan beribadah kepada-Nya.

Maka Nabi Luth dan keluarganya menjadi teladan baik dalam hal kesucian dan kebersihan diri, sedangkan kaumnya menjadi teladan buruk dan pelajaran bagi generasi yang datang setelahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.” (Al-Qur’an Surah Adz Dzaariyat: 37).

Sumber : Media Dakwah

PEMETAAN MASJID RADIKALIS, UPAYA MENUJU MUFLIS

Oleh Dr. Hasanuddin Yusuf Adan

MUQADDIMAH

Pemerintah Indonesia yang dipimpin presiden Jokowidodo sekarang ini sedang berupaya memberantas teroris, ekstrimis dan radikalis yang terkesan mata pandangnya adalah muslim tha’at yang bernuansa sunnah dan tidak disenangi pemerinntah. Sehingga terjadilah penangkapan demi penangkapan dengan alasan yang dikait-kaitkan seperti penangkapan mantan sekjen FPI; Munarman, penangkapan anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zein An-Najah, Farid Okbah, dan Ustaz Anung Al-Hamat.

Sa’at ini muncul satu lagi rencana pemerintah melalui Polri mau menata masjid-masjid di Indonesia guna  mencegah tindakan ekstremisme dan terorisme. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Mabes Polri, Brigjen Pol Umar Effendi dalam acara Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang diselenggarakan MUI pada Rabu, 26 Januari 2022 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Menurut Umar, ada sejumlah masjid di Indonesia yang dijadikan tempat untuk penyebaran radikalisme. Tak hanya di masjid, dia juga menyampaikan media sosial kerap digunakan sebagai sarana bagi kelompok teroris untuk menyebarkan radikalisme.

Menanggapi issue tersebut sebagaimana disiarkan https://www.babe.news/a/ 27 Januari 2022 pukul 15.28, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis ikut buka suara, menurutnya kalau mau dipetakan bukan hanya masjid sebagai rumah ibadah ummat Islam saja tetapi juga rumah ibadah ummat beragama lain seperti gereja (Katolik dan Protestan), Vihara (Budha), Pura (Hindu), Klenteng atau Kelenteng (Konghucu). Pemerintah semestinya harus berlaku adil terhadap rakyatnya dengan tidak mendiskreditkan salah satu penganut agama dengan mengistimewakan penganut agama lainnya. Apalagi pihak yang didiskreditkan itu komunitas yang mayoritas di negeri ini, mengikut logika sehat pihak mayoritas berhak mendapatkan kelebihan fasilitas bukannya dianggap sebagai penjahat.

UPAYA DEISLAMISASI

Kalau pemerintah bertindak berat sebelah yang terkesan menyudutkan Islam dan muslimin di negeri ini berarti pemerintah sedang melakukan gerakan deislamisasi yang sangat berbahaya untuk keutuhan bangsa dan negara. Mengikut makna yang tertera dalam KBBI, deislamisasi bermakna penghilangan harkat Islam, contoh kalimatnya; mereka berusaha merusak ajaran Islam dari dalam dengan menggerogoti nilai-nilai Islam yang disebut deislamisasi.

Kalau masjid dipeta, dipantau, didiskualifikasi, apalagi kalau didiskreditkan maka otomatis itu merupakan usaha merusak Islam dari dalam karena pasti ujung-ujungnya menangkap khatib, pengurus masjid, imam dan siapa saja yang mau dijadikan target. Pada waktu seperti itulah chaos, huru hara, prahara, bencana akan terjadi karena ada pihak yang merasa dirugikan dan didiskriminasi lalu melawan, ujung-ujungnya berakhir dengan dua kemungkinan: amalan doktrin Islam menjadi lemah, prosentasi muslim menjadi minin dan non muslim semakin bertambah. Dengan demikian ideologi sepilis meraja lela yang ujung-ujungnya Indonesia mengarah kepada negara sekuler atau negara komunis.

Kalau benar-benar masjid akan dipeta dan dipantau oleh Polri maka mulai dari pengurus masjid (BKM), imam masjid, panitia pembangunan masjid serta jama’ah yang beribadah di masjid akan merasa takut dan tidak berani menyampaikan ajaran Islam yang tidak disenangi oleh Polri dan pemerintah. Dari sanalah akan muncul secara otomatis upaya deislamisasi untuk Islam dan ummatnya. Dengan demikian ummat Islam akan semakin takut mendatangi masjid manakala ada masjid yang dilabelkan pemerintah sebagai masjid radikalis, teroris dan ekstrimis, manakala itu yang terjadi maka berakibat kepada: kosongnya masjid, lemahnya amalan Islam oleh ummatnya, terbuka peluang bagi pemerintah untuk mengambil alih masjid karena tidak ada jama’ah yang menggunakannya lagi. Ujung-ujungnya berakhir dengan pengurangan rumah ibadah muslim dan penambahan rumah ibadah non muslim di negeri mayoritas muslim dan dimerdekakan oleh ummat Islam ini. Itulah gerakan deislamisasi yang bakal terjadi

Ada kemungkinan lain yang bakal terjadi adalah; ketika Polri jadi memeta masjid maka pihak pengelola masjid akan pilih-pilih khatib dan guru ngaji yang disenangi pemerintah, pengurus masjid akan menyetel khatib dan penceramah untuk menyampaikan bahan ceramahnya yang disenangi pemerintah walaupun tidak selaras dengan Islam dan tidak disukai penceramah/khatib. Kalau demikian yang terjadi maka ada unsur pelanggaran HAM di sana karena membatasi ekspressi ajaran agama. Kemungkinan lain yang mungkin terjadi adalah setiap masjid di Indonesia akan dikuasai, dihatur, dikontrol dan diarahkan oleh pemerintah, manakala rezim yang memerintah bernuansa sekuler, plural, liberal, komunis dan nasionalis maka di sanalah terjadi deislamisasi di negara mayoritas muslim ini.

EFEK YANG AKAN DITERIMA

Kalau kemungkinan kondisi semacam itu bakal terjadi maka efek yang akan diterima oleh negara dan bangsa ini adalah sekalian bangsa dan negara akan muflis. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) muflis berarti; tidak mampu membayar utang atau bangkrut. Muflis yang kita maksudkan di sini adalah negara akan bangkrut dari semua sisi kehidupan, bangkrut pengamalan agama bagi ummat Islam, bangkrut moral dan peradaban, bangkrut ekonomi dan pendidikan, bangkrut ukhuwwah dan sosial kemasyarakatan. Menurut kementerian Keuangan posisi utang pemerintah sampai akhir Oktober 2021 sebesar Rp 6.687, triliun, ini bermakna negara sudah muflis. (https://www.cnbcindonesia.com/news/), 29 November 2021 12:38.

Manakala muflis itu terjadi maka besar kemungkinan negara akan kehilangan kekuatan, terutama sekali kehilangan kekuatan Islam yang selama ini menjadi pertahanan paling tangguh semenjak perlawanan kemerdekaan. Ketika kekuatan Islam muflis di negeri ini maka negeri ini akan dirampas, direbut, dikuasai ibarat tikus beramai-ramai berebut padi dalam karung setiap hari sehingga padi itu akan habis pada masanya dan tikus menjadi gemuk sementara pemiliknya (muslimin) akan menjadi tetamu di negeri sendiri yang dihatur, diperintah, dipaksa, dijarah, diusir, atau dibunuh sebagaimana yang telah terjadi di Andalusia untuk kasus lama dan di Angola untuk kasus baru.

Bunga-bunga kearah itu sudah lumayan lama tercium dari rezim pimpinan Jokowidodo ini semisal berkeliarannya para buzzer yang tugasnya menjelekkan Islam dan ummat Islam, mengamputasi ajaran Islam, mengkampanyekan toleransi antar ummat beragama yang tidak menguntungkan Islam. Terjadinya pemberian kekuasaan yang berlebihan kepada kaum minoritas, mengikat hubungan dengan negara luar yang punya missi menghabisi dan mengamputasi Islam, membuka peluang masuknya bangsa asing menjadi warga negara negeri ini, pembiaran berkembangnya ideologi komunis, syi’ah, Baha-i, dan semacamnya.

Seandainya upaya pemetaan masjid itu dimaksudkan untuk mengkalkulasikan para radikalis, ekstrimis dan teroris yang secara otomatis untuk para da’I dan pengelola masjid maka itu tergolong kedalam upaya deislamisasi yang sangat membahayakan bagi eksistensi Islam dan muslimin, padahal radikalis dan teroris yang dimaksud berkeliaran di luar masjid kenapa masjid yang menjadi sasaran. Kalau benar-benar rezim negeri ini melakukan itu dengan tujuan tersebut maka rezim betul-betul sudah muflis ‘aqidahnya bagi yang beragama Islam, betul-betul rezim itu kehilangan akhlak dan moral terhadap ummat Islam yang selama ini digadang-gadang dengan retorika toleransi, sementara mereka intoleransi terhadap Islam dan ummat Islam.

Inilah bunga-bunga muflis sedang mekar dan berkembang di negeri ini baik terkait dengan eksistensi Islam maupun terkait dengan eksistensi NKRI. Karena kalau kekuatan Islam muflis di negeri ini, negeri ini juga akan dengan mudah muflis disebabkan hilangnya agama yang diakui kebenarannya oleh Allah, dengan demikian bantuan Allahpun akan jauh daripadanya. Untuk itulah ummat Islam harus paham dan mengerti kondisi-kondisi terkini sehingga tidak salah kaprah dalam mengayomi negeri. Setiap muslim berkewajiban membela Islam dan muslimin, berkewajiban menjalankan syari’at Islam sebagai perintah Allah termasuk dalam dimensi kenegaraan.

Kalau rezim negeri ini yang mayoritas muslim lebih memahami doktrin Islam maka mereka tidak akan mudah dijadikan pion oleh pihak-pihak yang menguasai dunia hari ini. Sebaliknya sangat berkewajiban bagi rezim mayoritas muslim untuk menguasai mereka agar mereka tidak mengganggu Islam dan ummat Islam. Rezim Islam tidak memahami hakikat doktrin agamanya maka Islam, bangsa dan negaranya bakal menjadi muflis. Ketika itu yang akan terjadi maka anak cucu di suatu masa nanti membaca sejarah prilaku rezim muslim hari ini akan geleng-geleng kepada menyalahkan para pendahulunya di suatu masa nanti, namun itu semua tidak lagi bermakna karena nasi sudah menjadi bubur lagi basi, sudah cair jadi bubur basi lagi, kalau cair jadi bubur tetapi belum basi masih bisa dimakan oleh anak cucu, manakala cair dan basi kucing, ayam dan bebekpun tidak mau makan lagi. Itukah target para rezim muslim yang sedang diperankan sekarang ini? Wallahu a’lam bishshawab.

penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

[email protected]

Besarnya Manfaat Istighfar

Oleh: Muhammad Syafi’i Saragih, M.A

Bisakah membuat perubahan dengan istighfar?. Mungkin sebagian orang akan mempertanyakan bagaimana kalimat-kalimat istighfar dapat mengubah sesuatu. Tetapi, sebagian orang yang memiliki kepercayaan yang tinggi, tanpa ragu, mereka yakin hal itu. Sekarang, bagaimana istighfar dapat mengubah segalanya?.

Mungkin juga sebagian orang berpikir, kalaupun istighfar dapat membuat perubahan, pasti itu perubahan kecil. Akan tetapi, sesungguhnya istighfar dapat membuat perubahan yang sangat dahsyat, bahkan ketika langit akan pecah dan runtuhpun, dengan kekuatan istighfar, Allah menahan hal itu, sehingga selamatlah manusia.

تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِن فَوْقِهِنَّ ۚ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَن فِى ٱلْأَرْضِ ۗ أَلَآ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya: “hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang. (Q.S. As-Syura: 5)

Dengan kekuatan istighfar yang dimohonkan oleh malaikat, manusia yang ada di bumi selamat dari pecahnya langit. Bayangkan, jika langit pecah berhamburan dan jatuh ke bumi, bukankah itu berarti pertanda kiamat besar?

Bukankah itu pertanda akhir dari segala kehidupan? Bukankah itu berarti kita akan terpisah dari anak dan isteri? Ayah dan ibu, sanak saudara, dan terpisah dari segala sesuatunya yang pernah kita miliki?

Jika istighfar mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi peristiwa alam seperti itu, tentu istighfar lebih mampu lagi memberi dampak perubahan pada diri seseorang. Perubahan dari melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi kebiasaan-kebiasaan baik.

Oleh karenanya, mulailah dengan membiasakan diri senantiasa beristighfar kepada Allah Swt sang pemilik jiwa, kapanpun dan dimanapun, pada setiap kesempatan, basahilah bibir dengan kalimat-kalimat istighfar sebagai ungkapan permohonan ampun kepada-Nya.

Memang, bacaan Istighfar “Astaghfirullah” atau lengkapnya “Astaghfirullahhal’azim” adalah kalimat yang sangat pendek dan bisa diucapkan dengan mudah. Namun demikian, jika dibaca secara rutin dalam setiap waktu dan kesempatan, lebih-lebih sehabis melaksanakan shalat akan memberikan dampak yang luar biasa bagi pelakunya. Berikut ini beberapa kedahsyatan istighfar;

  1. Mengangkat derajat seseorang di surga

Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Hamba itu berkata, “Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?” Allah berkata “Karena istighfar anakmu untukmu.” (HR.Ahmad dengan sanad hasan).

  1. Menjadi sebaik-baik orang yang bersalah

Rasulullah bersabda,”Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat.”(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim)

  1. Menjadi hamba Allah yang sejati

Allah berfirman,”Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.” (Q.S. Ali Imran: 15-17)

  1. Terhindar dari sifat zalim

Allah berfirman,”Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Q.S. Al-Hujurat: 11)

  1. Memperoleh rahmat dari Allah Swt

FirmanNya, “Hendaklah kalian meminta ampun (beristighfar) kepada Allah Ta’ala, agar kalian mendapat Rahmat” (Q.S. An-Naml :46)

Dalam firman-Nya yang lain; “Maka Aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun (beristighfar) kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan dengan lebat, dan akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (Q.S. Nuh:10-12)

  1. Mengecewakan Syaitan Dan Membuat Syaitan Putus Asa

Sesungguhnya syaitan telah berkata, “Demi kemulian-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Allah menimpalinya,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku” (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Ali bin Abi Thalib pernah didatangi oleh seseorang,”Saya telah melakukan dosa. “Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi”, kata Ali. Orang itu menjawab, Saya telah bertaubat, tapi setelah itu saya berdosa lagi. Ali berkata, “Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi.” Orang itu bertanya lagi, Sampai kapan? Ali menjawab, Sampai syaitan berputus asa dan merasa rugi.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 73).

  1. Dosa-Dosanya Diampuni

Rasulullah bersabda, “Allah telah berkata, Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang menyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya).” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi)

Imam Qatadah berkata, “Alquran telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya Ulumiddin: 1/410)

  1. Terbebas dari Azab Allah

Istighfar merupakan sarana yang paling pokok untuk membebaskan diri dari adzabnya, sebagaimana firman-Nya, Artinya: “Dan tidaklah Allah Ta’ala akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Q.S. Al-Anfal: 33)

  1. Selamat Dari Api Neraka

Hudzaifah pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka. Rasulullah bersabda, Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).

  1. Mendapat Balasan Syurga

Allah Berfirman; “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran: 135-136)

  1. Mengusir Kesedihan Dan Melapangkan Kesempitan

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. Melancarkan Rezki

Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rezkinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

  1. Berkepribadian Sebagai Orang Bijak

Seorang ulama berkata,”Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 67)

  1. Membersihkan Hati

Rasulullah bersabda, “Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya.” (HR. Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi)

  1. Mengikuti Sunnah Rasulullah

Abu Hurairah berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah bersabda, Demi Allah, Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR.Bukhari)

Itulah beberapa keistimewaan dan kedahsyatan dari istighar. Semuanya merupakan efek istighfar tersebut. Istighfar yang dilakukan berulang-ulang sebanyak mungkin akan memberikan dampak yang luar biasa pada diri kita.

Kalau sebelumnya kita memiliki kebiasaan tidak perduli dengan orang lain, terutama mereka yang membutuhkan, dengan kalimat istighfar yang menghunjam dalam hati, kita akan lebih bermanfaat bagi orang lain karena telah memilki hati yang lebih bersih dari sebelumnya.

Tidak ada kerugian sedikitpun dengan istighfar. Sebaliknya, perubahan yang dahsyat menjadi hasil yang sepadan. Masihkah kita mengabaikan istighfar? Mengapa kita tidak memulainya dengan segera.

Kapan lagi kita meluangkan waktu untuk menghadap kepada sang Khaliq, memohon ampunan dari-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya dengan meletakkan kening di atas tanah dimana kita berasal darinya. (mediadakwah)

Penulis adalah Wakil Ketua DDII Kab. Simalungun, Sumut.

Allah Satu-satunya Tempat Bergantung

Oleh: Muhammad Syafi’i Saragih, M.A

Ketika anda berada dalam suatu tempat, dimana tidak ada satu orangpun yang anda lihat, tidak juga pepohonan dan hewan, anda sendirian, tak terdengar suara apapun, bahkan hentakan kaki semut juga tidak, anda berada dalam kegelapan, pandangan terbatas karena gelapnya, anda seakan jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tak ada ranting, tak ada dahan, tak ada sesuatu untuk pijakan. Sanak saudara, handai taulan, kerabat, orang-orang di sekitar anda, tak satupun yang datang padahal anda sudah menjerit memanggil mereka, siapa lagi yang akan anda panggil?. Kepada siapa lagi anda akan bersandar?.

Atau ketika anda berada dalam kejatuhan yang menyakitkan. Usaha anda bangkrut, anda dipecat dari pekerjaan, istri dan anak-anak meninggalkan anda, rumah disita, semua harta tak tersisa, jangankan untuk membeli sesuatu, untuk mendapatkan sesuap nasi bertahan hidup saja tak mampu lagi, hingga semua orang meninggalkan anda, karena anda tak lagi punya apa-apa. Anda menjadi gelandangan di jalanan, anda hanya bisa makan dari sisa-sisa makan orang yang sudah terbuang, anda hanya bisa tidur di emperan, yang kapanpun anda bisa dibangunkan, anda tak bisa lagi berjalan membusungkan dada karena kesombongan, anda tak bisa lagi menunjuk jari untuk memerintah orang, anda tak bisa lagi berkata-kata dan didegarkan, anda tak bisa lagi apa-apa, karena anda sudah menjadi bukan apa-apa. Kepada siapa anda bergantung? Kepada siapa anda akan meminta? Kepada siapa anda akan memasrahkannya?.

Tidak ada tempat untuk hal itu semua kecuali kepada Allah sang pencipta seluruh jiwa dan raga. Tidak ada tempat meminta dan bergantung kecuali kepada-Nya. Bersandarlah kepada-Nya, sebab Dia sebaik-baik tempat sandaran. Jika anda bersandar pada orang lain, ia akan meninggalkanmu, karena manusia akan binasa. Teman yang anda sandarkan diri kepadanya, juga mencari sandaran lain yang kokoh, ketika anda tidak lagi menjadi tempat sandaran yang kuat, ia akan pergi meninggalkanmu. Ketika anda tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ketika anda tidak bisa diandalkan lagi, anda akan dibuang.

Lihatlah para pemain bola profesional, ya, memang mereka bergelimang harta, mereka selalu dipuja dimana pun mereka berada, kehadirannya selalu dinanti bahkan untuk sebuah tanda tangan dan lambaiannya. Mereka akan dibayar dengan harga yang menjulang tinggi karena kemampuannya, tapi perhatikanlah ketika mereka sudah dianggap tak lagi berdaya, mereka dijual dengan harga yang tak seberapa, mereka akan disingkirkan dari klub dimana mereka berada. Hingga satu masa, dimana mereka benar-banar tidak berharga. Apalah artinya harga di mata manusia dibandingkan harga di mata Sang Pencipta.

Begitulah kehidupan ini, ketika anda dianggap mempunyai harga di mata manusia, anda akan dipelihara, dijaga, dipuja, bahkan dilalaikan dari kehidupan nyata. Sebaliknya, ketika harga itu tidak ada pada diri anda, anda “ada” tapi “tiada”.

Oleh karenanya, bergantunglah hanya kepada-Nya. Karena Dia lah yang menciptakan semua tempat bergantung. Bagaimana anda bergantung pada yang sama dengan anda, karena dia juga diciptakan oleh-Nya, sama seperti anda.

Mulai saat ini, biasakanlah untuk tidak bergantung pada selain Allah Swt. Jangan pernah takut ketika anda dalam keadaan susah, jangan pernah ragu kepada-Nya ketika anda ditinggalkan dan sendirian, jangan pernah menyerah ketika semua orang menjauhkan anda, jangan pernah berpikir mengakhiri hidup karena anda bangkrut, jangan pernah mencari jalan yang sesat ketika anda terpaksa. Jangan pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran mencari tempat bergantung dan bersandar kecuali kepada-Nya. Dia selalu ada ketika yang lain entah kemana, Dia selalu di sisimu, bahkan ketika anda lupa pada-Nya.

Artinya: “dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (Q.S. Qaf: 16)

Jangan pernah dengarkan bisikan syetan, kalau dia mengatakan “aku punya segalanya”, karena anda sangat memahami kalau mereka musuh yang nyata. Jangan pula bergantung pada harta, karena ia akan sirna, lagipula harta bisa jadi nestapa dan bencana.

Artinya: “dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Q.S. Al-Anfal: 28)
Berapa banyak keluarga yang terpisah dan bermusuhan hanya karena harta. Merasa karena pembagian tidak merata. Dulunya mesra kini tak tertawa. Hanya karena rakus harta. Rasa yang begitu kuat kepada harta membuat seseorang bergantung kepadanya. Ketika harta itu tidak ada, jiwa menjadi gila.

Tidak ada sedikitpun keuntungan bergantung pada selain-Nya. Dia selalu ada untuk diminta. Segala rasa kecewa, rasa gundah dan gulana hanya akan terobati dengan menghadirkan-Nya dalam jiwa. (mediadakwah)

Penulis adalah Wakil Ketua DDII Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Dahsyatnya Husnudzan!

Oleh: Muhammad Syafi’i Saragih

Persepsi atau cara pandang itu adalah hasil dari sebuah bentukan pikiran. Apa yang dipikirkan akan menghasilkan sebuah cara sikap, dan cara bersikap itu akan melahirkan cara berperilaku.

Menurut saya muaranya dari sini. Kita itu dituntut untuk memulai semua pandangan terhadap sesuatu dengan cara yang positif, bukan negatif. Kalau mikirnya positif, auranya juga positif. Begitu sebaliknya.

Kenapa orang, terkadang karena hal yang barangkali sepele bisa terpicu amarah yang luar biasa? Bahkan bisa sampai ke penganiayaan fisik dan bahkan pembunuhan? Banyak kejadian kita dengar dan saksikan, apakah di rumah tangga, kehidupan bertetangga, di pasar, dan di tempat umum lainnya, orang adu mulut, berkelahi yang tak jarang pula berujung pada kematian, karena masalah sepele. Kenapa? Ini lagi-lagi ini soal persepsi.

Motivator Muslim dunia Dr. Ibrahim Elfiky (2009) menulis buku fenomenal berjudul “Terapi Berpikir Positif”. Menurutnya, berpikir positif ternyata bisa menyembuhkan, menjadi obat bagi mereka yang ingin hidupnya bahagia, dan juga bisa menjadi solusi praktis bagi mereka yang saat ini hidupnya dipenuhi kesulitan demi kesulitan.

Ketika kita berpikir positif, yang dalam bahasa agama “Husnudzon”, maka itu akan membangkitkan sugesti dari dalam diri. Sehingga muncul semangat yang jika sugesti itu kian kuat, maka semangat itupun bergunung-gunung, yang mana semangat itu akan mengalirkan kekuatan pada tubuh. Orang yang lemah dengan sendirinya akan menjadi kuat, yang takut jadi berani, yang ciut jadi nekat.

Satu bukti sejarah yang tak terbantahkan tentang pikiran positif itu mampu membangkitkan kekuatan dahsyat adalah ketika raja Thalut dan pasukannya akan berperang melawan Zalut penguasan zalim. Para pasukan sudah merasa ciut mendengar kebengisan dan kekejaman Zalut, dan jumlah tentaranya yang banyak, yang kala itu menurut beberapa riwayat jumlah pasukan Thalut hanya berkisar tiga ratusan saja.
Adapun pasukan Zalut diperkirakan berjumlah ribuan orang. Namun, itu tak menyurutkan langkah para mujahidin di jalan Allah Swt, persepsi mereka tentang perang adalah jalan jihad bertemu dengan sang Rabbul Jalil, yang membuat perang menjadi ladang jihad, di mana perang bagi banyak adalah hal yang menakutkan. Kisah ini begitu apik diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al Baqarah ayat 249;

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar. (Q.S. Al Baqarah; 249)

Bukankah keberhasilan tentara Thalut karena pikiran dan persepsi positif? Begitulah, pikiran dan persepsi positif, sekali lagi saya katakan mampu memberikan kekuatan yang bisa jadi tak terduga. Persepsi positif ini akan melahirkan sugesti dari dalam diri yang akan menghasilkan kekuatan dan semangat yang kuat.

Seringkali, ketika orang sedang dalam keadaan sakit, dokter dan siapapun yang menjenguk pasti akan mengatakan kalimat-kalimat yang memberi semangat. Nah, kalimat-kalimat itulah yang kalau direspon dengan positif maka akan menjadi kekuatan dan sugesti terhadap diri sendiri untuk bangkit dan yakin bahwa Allah swt akan memberinya kesembuhan. Imbasnya, akan berpengaruh pada imun tubuh yang secara alamiah dan berdasarkan sunnatullah, akan berdampak pulih secara berangsur-angsur.

Orang yang sedang mengalami masalah besar, juga selalu dianjurkan untuk memandangnya secara positif. Agar apa? Agar dapat membangkitkan kembali semangatnya yang jatuh, kekuatannya yang sedang melemah, pikirannya yang sedang galau. Hal paling kecil dari pikiran positif dalam hal ini adalah terjauhkannya kita dari stress, depresi, dan bahkan mungkin kegilaan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah Muhammad Saw junjungan kita bersabda;

“Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair dari al-Laits bin Sa’ad dari Ja’far bin Rabi’ah dari al-A’raj, ia berkata: bahwa Abu Hurairah berkata dari Rasulullah SAW bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, sesungguhnya prasangka merupakan kebohongan yang terbesar (HR. Al-Bukhori)

Hadis di atas menjelaskan kepada kita tentang larangan berprasangka buruk, karena prasangka buruk memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi kehidupan manusia, dan dampak tersebut bahkan bisa menggerogoti semua kebaikan yang telah dilakukannya.

Islam memerintahkan umatnya untuk selalu berpikir positif, meskipun berpikir positif itu sendiri kerap mendapatkan kesulitan untuk dipraktekkan. Banyak orang yang mengetahui tentang konsep berpikir positif, tetapi mereka tidak memberikan perhatian yang cukup kepada pikirannya. Sehingga sadar atau tidak, pikirannyapun masih berdampak negatif.

Lantas bagaimana cara kita membangun dan membiasakan berpikir positif?.

Menurut sebuah riset, manusia setiap harinya kurang lebih berpikir 60 ribu kali. Bahkan, riset dari Fakultas Kedokteran Universitas San Fransisco (1986) menyebutkan, 80 persen dari pikiran manusia cenderung menyuruh pada hal-hal yang negatif. Dari pikiran-pikiran negatif ini akan mengarahkan untuk berperilaku buruk dan menyimpang. Jika tidak dikendalikan sejak awal, perilaku negatif ini akan membentuk watak dan karakter buruk seseorang. Ini yang harus kita hindari bersama.

Agama juga telah mengajarkan pada kita resep sederhana, yaitu dengan riyadhah (latihan) berpikir positif bahwa segala sesuatu itu terjadi tidak lepas dari takdir Allah. Nah, kita diminta untuk selalu husnuzan kepada takdir Allah. Apa pun itu! Karena, sesuai dengan firman-Nya yang artinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui“, (QS al-Baqarah: 216)

Ini bukti bahwa Allah Swt itu selalu bersama kita (muraqabah). Apa pun yang terjadi, ketika kita merasa dekat dengan Allah, kita akan terus mampu berpikir positif. (mediadakwah)

Allahu A’lam

Penulis adalah Ketua DDII Kab. Simalungun, Sumut.

HAMBA AR-RAHMAN

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan

MUQADDIMAH

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik (salama). (Al-Furqan [25] ayat 63).

Ummat manusia semuanya pada satu sisi bergelar dengan makhluk Allah sama posisinya dengan makhluk-makhluk Allah lainnya baik dari kalangan hayawan, tumbuh-tumbuhan, maupun kandungan alam lainnya. Pada dataran ini tidak ada perbedaan hakikat antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya karena semuanya sama-sama hasil ciptaan Allah. Namun manakala kepada manusia Allah berikan, aqidah, syari’ah dan akhlak, lalu mereka berpegang kuat serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, barulah di sana terjadi perbedaan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya.

Walaubagaimanapun, ketika manusia mengabaikan ketiga unsur tersebut yang membuat mereka hidup dan prilaku kehidupan tidak berbeda dengan hayawan maka di sana pula kedudukan manusia tidak dapat dibedakan dengan hayawan, jin, iblis dan syaitan. Persoalannya adalah manusia itu ril menjadi manusia dalam bentuk fisik berpenampilan beda dengan hayawan karena Allah ciptakan fisik manusia berbeda dengan fisik hayawan dan makhluk lainnya. Di sisi lain manusia diberikan atribut khusus yang tidak diberikan kepada hayawan, yaitu aqidah, syari’ah dan akhlak. Makanya ketika manusia mengikat diri dan mengaplikasikan ketiga unsur tersebut dalam kehidupannya mereka ril sebagai manusia yang normal.

Manakala manusia menyisihkan dan tidak mengikat diri dengan tiga unsur tersebut maka jadilah mereka sebagai makhluk Allah yang bertubuh manusia dan berperangai non manusia. Pada dataran inilah sering dilabelkan sebahagian manusia sebagai binatang, jin, iblis atau syaitan dikarenakan manusia telah meninggalkan kriteria kemanusiaannya dengan mengambil atribut hayawan sehingga mereka keluar dari label Hamab Allah atawa ‘ibad Ar-Rahman.

MAKNA HAMBA AR-RAHMAN

Al-Qur’an sudah memberikan gambaran watak muslihat yang sopan lagi santun seseorang yang tersebut di sana dengan nama ‘Ibadur-Rahman. Sementara Ar-Rahman sendiri merupakan nama lain kepada Allah SWT.yang terkafer dalam Al-Asma-ul Husna (99 nama indah bagi Allah SWT).dengan demikian dapat diartikan juga bahwa istilah “’ibadur-rahman” bermakna “’abdullah” yang sering disebut Hamba Allah. Bedanya kalau “’ibadurrahman itu dalam bentuk jamak dan ‘Abdullah dalam bentuk mufrad. Kalau mau kita teliti lebih serius dan mendalam pada hakikatnya antara ‘Ibadur-Rahman dengan ‘Abdullah memiliki makna yang serupa Cuma berbeda kateginya saja, yaitu yang satu dalam bentuk singgel dan yang lainnya dalam bentuk plural.

Berasaskan kepada kata asal (‘abdun) yang jamaknya ‘ibad maka dalam beberapa kamus diartikan sebagai hamba, hamba sahaya, tukang emas dan semacamnya. Manakala kata-kata tersebut disandarkan kepada nama Allah menjadi ‘Abdullah yang bermakna hamba Allah, ketika disandarkan kepada kata Ar-Rahim menjadi ‘Abdur-Rahim yang mengandung arti hamba dari yang maha pengasih lagi maha penyayang, ketika disandarkan kepada kata Ar-Razzaq jadilah ia ‘Abdur-Razzaq yang mengandung makna Hamba yang maha Memberi Rizki, demikian juga ketika disematkan kepada kata Ar-Rahman jadilah ia ‘Abdurrahman dalam bentuk mufrad (singgel) dan ‘ibadur-Rahman dalam bentuk jamak (plural), yang artinya Hamba atau Hamba-hamba Ar-Rahman.

Lalu bagaimana posisi kata ‘abdun itu kalau dipasang pada nama-nama selain nama Allah seperti disandarkan kepada nama Ibrahim sehingga menjadi ‘Abdul Ibrahim, disandarkan kepada nama Hasan umpamanya sehingga menjadi ‘abdul hasan, ‘abdul uzza dan semisalnya. Berlandaskan kepada keyakinan tauhid dalam bingkai aqidah Islamiyah bahwa memberikan nama orang yang disandarkan nama abdun kepada selain nama Allah dan Asmaul-Husna sepakat para ulama hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan demikian karena itu menjurus kepada amalan syirik yang dahulukala telah diamalkan oleh orang-orang kafir Makkah seperti nama abdul ‘uzza (hamba berhala) dan sejenisnya. Sebaliknya tidak boleh juga seseorang memberi nama anaknya dengan nama Allah atau nama-nama dalam Al-Asma ul Husna, seperti Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Lathif, Al-Qawi dan seterusnya karena itu nama-nama Allah.

HAKIKAT DAN EKSISTENSI HAMBA AR-RAHMAN

Ketika kita kembali kepada kandungan surah Al-Furqan ayat 63; Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik (salama). Terdapat beberapa poin yang perlu kita catat dalam ayat tersebut, di antaranya adalah: Hamba Ar-Rahman itu adalah orang-orang yang sopan dan rendah hati, orang-orang tersebut ketika dicemooh, dicerca dan dimaki oleh orang lain tidak pernah membalas cacian dan cemoohan tersebut melainkan berucap dengan kata selamat yang mengandung do’a.

Statemen Allah: allazina yamsyuna alal ardhi hauna, yang menyatakan ciri khas Hamba Ar-Rahman diperkuat oleh pernyataan Allah lainnya dalam surah Al-Israk ayat 37 (wa la tamsyi fil ardhi maraha) yang bermakna: janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh dan sombong, dijelaskan lagi oleh ayat Allah yang lain (An-Nisak [4];36) kenapa hamba Allah tidak boleh sombong dalam kehidupan dunia ini, Allah menyatakan: innallaha la yuhibbu man kana mukhtalam fakhura (Allah benci kepada orang-orang yang bersifat angkuh, arrogan, sobong dan membangga-banggakan diri) karena sifat itu merupakan sifat Allah (Al-Mutakabbir) yang haram dimiliki oleh manusia.

Pengertian hauna di sini diartikan para ulama sebagai lemah lembut, sopan santun, muslihat, tidak sombong, tidak kasar, tidak arrogan dan semisalnya sehingga disematkan kepada prilaku dan kepribadian Rasulullah SAW yang melekat kata hauna pada dirinya. Karenanya Hamba Ar-Rahman itu mestilah berprilaku sebagaimana prilakunya Rasulullah SAW yang penuh kemuslihatan, penuh kesabaran, penuh kebijakan, penuh kesabaran dan penuh keikhlasan. Namun demikian Islam tidak membolehkan juga memperolok-olok semua sifat Rasulullah SAW tersebut dilakoni secara berlebihan oleh seseorang yang sesungguhnya tidak ada sifat-sifat tersebut pada dirinya. Namun ketika dia berjumpa dengan orang-orang tertentu berjalan dengan membungkuk-bungkukkan diri menampakkan sifat hauna pada dirinya, yang semisal ini puran-pura namanya.

Pada zama Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, beliau pernah berjumpa dengan seorang pemuda yang berjalan di hadapannya dengan sengaja membungkuk-bungkukkan diri meniru sifat hauna yang diada-adakan. Lalu Umar bertanya kepadanya: wahai pemuda kenapa kamu berjalan terbungkuk-bungkuk seperti jalannya orang tua bangka. Pemuda itu menjawab: saya meniru sifat hauna wahai amirul mukminin, Umar bertanya lagi: kemarin dulu ada kamu berjalan seperti ini? Dia menjawab: tidak wahai Amirul Mukminin, lalu Umar mengambil cambuk menyebatnya/mencambuknya seraya mengingatkannya jangan buat-buat seperti itu lagi karena itu prihal imitasi yang diada-adakan bukan murni sifat hauna seseorang insan.

Terkait dengan kata qalu salama dalam ayat tersebut, pernah terjadi pada suatu ketika manakala seorang lelaki mencaci maki seorang lelaki lain di hadapan Rasulullah SAW. lalu yang kena caci berucap: ‘alaikassalam (semoga engkau selamat), tatkala itu Rasulullah SAW.bersabda: “ingatlah sesungguhnya ada malaikat di antara kamu berdua yang membelamu, setiap kali orang itu mencacimu, malaikat tersebut berkata: “bahkan kamulah yang berhak”, kamulah yang berhak dicaci. Dan apabila kamu katakan kepadanya: ‘alaikassalam, maka malaikat itu berkata, “tidak, dia tidak berhak mendapatkannya, engkaulah yang berhak mendapatkannya”.

Hadis tersebut menjelaskan kita bahwa yang berhak mendapatkan keselamatan adalah orang-orang yang baik hati tidak membalas keburukan orang lain dengan keburukan pula melainkan memberi do’a selamat kepada pencacinya, itulah hakikat makna qalu salama. Menurut Mujahid dalam tafsir Ibnu Katsir: makna qalu salama adalah mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung petunjuk. Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa mereka menjawab dengan kata-kata yang baik. Sementara Al-Hasan Al-Basri berucap maknanya adalah: “salamun alaikum” (semoga kalian mendapatkan keselamatan). Keselamatan yang dmaksudkan dalam kasus ini adalah tertuju kepada tukang caci sebagai do’a daripada orang yang dicacinya. Artinya Allah dan RasulNya menyuruh kita untuk berdo’a keselamatan sesama muslim termasuklah kepada orang-orang yang mencaci maki kita agar dia mendapatkan petunjuk daripada Allah SWT.

Penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

[email protected]

Palembang, Khamis;   27  F e b r u a r i  2022   M/ 24 Jumadil Akhir 1443   H

MENGENAL FUNGSI-FUNGSI AL-QUR’AN

Oleh Dr. Hasanuddin Yusuf Adan

SEBAGAI Kitab Suci bagi ummat Islam dan kalam Allah yang muthlak benar, Al-Qur’an memiliki banyak fungsi yang dinyatakan dan dibenarkan oleh Al-Qur’an itu sendiri. Di antara fungsi-fungsi tersebut adalah:

  1. Al-Qur’an sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya, selaras dengan keterangan beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan keterangan tersebut, di antaranya: Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa (Al-Baqarah; 41).

Dalam ayat selanjutnya diterangkan: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (Al-Baqarah; 91). Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah; 97).

Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. (Ali Imran: 3). Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Al-Maidah: 48).

Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Al-An’am: 92). Selain itu terdapat juga dalam surah Yunus ayat 37, Fathir ayat 31, Al-Ahqaf ayat 12 dan 30.

  1. Al-Qur’an sebagai furqan, artinya Al-Qur’an menjadi pembeda antara yang baik dengan yang buruk, antara yang benar dengan yang salah, antara haq dengan bathil selaras dengan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 185: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
  2. Al-Qur’an sebagai hidayah, selaras dengan surah Al-A’raf: 52: Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dalam surah Yunus: 57 berbunyi: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. Yunus: 108). Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf: 111).

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahlu:89). Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (An-Nahlu:102). Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (An-Namlu: 1-2). Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (An-Namlu: 77).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az-Zumar (39): 23). Ini (Al Qur’an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih. Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Al-Jatsiyah: 11 dan 29).

  1. Al-Qur’an sebagai penerangan, (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran (3): 138). Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, (Yasin (36): 69).
  2. Al-Qur’an sebagai pelajaran, (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran: 138). Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus (10): 57). Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Haqqah (69): 48). Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah peringatan. (Al-Mudatstsir (74): 54). Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al-Insan (76): 29).
  3. Al-Qur’an sebagai pengingat, Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (Al-A”raf (7): 2). Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), (Thaha (20: 2-3). Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shad (38): 87). Dan Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (Al-Qalam (68): 52). Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (At-Takwir (81): 27). (Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. Ibrahim: 52).
  4. Al-Qur’an sebagai rahmat, Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (Angkabut (29): 51). Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Al-A’raf (7):52). Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Al-A’raf (7):203). Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus (10): 57). Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (An-Nahlu (16): 64). (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahlu (16): 89). Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Israk (17): 82). Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (An-Namlu (77): 27). Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (Al-Qashash (28): 86). Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (Al-Ankabut (29): 51). menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (Luqman (31); 3). Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Al-Jatsiyah (45): 20).
  5. Al-Qur’an sebagai bukti berasal dari Allah, Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Al-A’raf (7): 203).
  6. Al-Qur’an sebagai obat penyakit jiwa, Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus (10): 57). Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Israk (17): 82). Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (Fushshilat (41): 44).
  7. Al-Qur’an sebagai hukum/peraturan, Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar-Ra’du (13): 37).
  8. Al-Qur’an sebagai penjelas segala sesuatu, (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahlu (16): 89).

Demikianlah keterangan dan ketentuan Al-Qur’an terhadap eksistensinya sebagai kalam Allah, sebagai wahyu dan firman Allah yang Maha Alim/Mengetahui lagi Maha ‘Arif/Bijaksana. Hanya orang-orang mukmin yang paham hakikat Al-Qur’an sajalah yang paham, tahu, mengerti dan dapat memahaminya dengan sepenuh hati. Semoga menjadi pelajaran dari sumber yang paling pertama, utama dan esensil.

Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry.

[email protected]

KASUS PELECEHAN ANAK SEMAKIN MENCEMASKAN

Oleh Dr. Muhammad AR. M.ED

            Akhir tahun 2021 kita diramaikan oleh berita rudapaksa (pemerkosaan) anak gadis dibawah umur oleh 14 orang pemuda di Nagan Raya. Mungkin ini kado buat ibu dan bapak yang merasa lalai menjaga putra-putrinya, konon lagi yang masih sedang mencari patron kehidupan. Ini jelas bahwa institusi keluarga apakah secara umum di Indonesia ataupun di Aceh sudah sangat rapuh dalam mendidik generasi muda sehingga  persoalan-persoalan yang tidak kita bayangkan-pun akan terjadi. Inilah yang disebut dengan kata bijak dalam bahasa Inggris ”charity begins at home.”  Di sini dimaknakan bahwa  rumah tangga merupakan kekuatan utama dalam menentukan arah masa depan generasi muda ini. Maka dari itu hati-hatilah setiap rumah tangga memiliki pe er  besar untuk mendidik.

            Dalam tahun 2021  sedikitnya sudah tiga kali terjadinya pemerkosaan beramai-ramai terhadap anak dibawah umur di Aceh, namun para petinggi negara di Aceh belum berani  menjadikan issu ini sebagai bahasan utama dalam pemerintahan Aceh.  Jika kasus seperti yang terjadi di Bener Meriah (Februari 2021),  Langsa (Maret 2021) dan di Nagan Raya (Desember 2021) mau dijadikan issue central, maka  persoalan pemerkosaan, penelantaran, kekerasan terhadap anak mungkin tidak separah yang terjadi selama ini.  Kemungkinan besar, persoalan ini  belum menyentuh hati para elit, maka beginilah panorama yang dilakukan oleh para calon pemimpin yang akan memimpin  dua puluh tahun kedepan, yaitu para pemimpin yang bermental  pemerkosa.  Nanti mereka tidak segan-segan akan memaksa lawan politiknya, memaksa  lawan keyakinannya,  memaksa lawan jenisnya untuk ditidurinya, memaksa orang-orang yang tidak sehaluan dengan mereka, dan memaksa orang untuk berbuat maksiat secara beramai-ramai. Ini semua karena mengikuti pengalaman masa lalunya  mereka telah pernah diperkosa namun tidak diperbaiki kehidupannya dan nama baiknya dan demikian  juga para pemerkosa yang tidak dihukum dengan serius atas kejahatannya.

Anak adalah amanah Allah dan sebuah anugerah yang sangat berharga bagi orang  tua, karena itu jagalah amanah tersebut dengan baik, jagalah pendidikannya, jagalah ibadahnya, jagalah  lingkungannya, jagalah dengan siapa dia berkawan.  Anugerah Allah itu mahal sekali dan tidak dapat ditebus dan dibeli dengan harga triliun dan milyaran untuk mendapat seorang anak, karena itu syukurilah  anugerah tersebut, papahlah  pemberian tersebut,  jagalah ia dari dalam kandungan, sejak bayi hingga dewasa agar para predator, pemerkosa, peleceh,  tidak pernah menyentuhnya secara haram. Ini merupakan tanggung jawab rumah tangga  pada lini terdepan, kalau rumah tangga lalai dan ketiduran dalam melihat serta memperhatikan gerak gerik anak-anak, maka  jangan  terkejut ketika kasus meledak ke seantero negeri.  Jika  pengawasan rumah tangga rapuh dan bebas, maka para calon pemimpin bangsa  (bunga bangsa yang sedang berkembang) sekarang ini  akan terkulai layu sebelum masanya.  Institusi yang paling bertanggung jawab pada peringkat awal adalah  (household institution) yaitu ayah dan ibu. Jika mereka tidak memiliki ilmu, tidak memiliki  akidah yang sahih, dan tidak memiliki roh Islam dan kasih sayang terhadap anak manusia sejak kecil, maka ketuka mereka beranjak dewasa akan lepas dari pengawalan atau pengawasan.

Demikian pula tanggung jawab berikutnya adalah wujudnya caring society (masyarakat penyayang atau masyarakat yang saling peduli) terhadap moralitas anak bangsa dan jangan membiarkan mereka berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama dan tatanan social di depan mata kita. Jika masyarakat Islam tidak lagi melakukan amar makruf nahy munkar, maka di kawasan itu tidak ada lagi  agama Islam.  Sebab, salah satu cri khas Islam adalah  saling menasehati terhadap kebenaran dan kesabaran. Lagi pula, salah satu peran agama Islam adalah  salng memberi nasehat. Jika nasehat tidak ada lagi atau tidak mau menerimanya, berarti  kita sudah keluar dari agama ini. Namun,  jika telah berlaku, maka akan sulit untuk memperbaikinya karena  nasehat dan pencegahan sudah kedaluarsa. Artinya nasi telah menjadi bubur.  Penyesalan selalu datangnya terlambat. Masa lalu jangan disesali, tetapi masa depanlah  yang harus disongsong dan diperbuat sebaik mungkin.  Oleh karena itu hidupkan nasehat, dan jagalah bersama anak-anak kita agar selamat dari narkoba, dari pergaulan bebas, zina, pemerkosaan, dan dekadensi moral.

Umat Islam seharusnya tidak terperosok ke dalam  lobang yang sama untuk kali kedua, apalagi kali ketiga.  Pengalaman buruk dan kegagalan seharusnya sebagai pemicu keberhasilan di masa berikutnya, demikian pula  jika  malapetaka yang pernah menimpa kita pada masa pertama atau masa lalu  karena akibat kesalahan kita sendiri, maka itu merupakan  guru yang paling baik dalam kehidupan kita. Artinya, cukup sekali kita merasakan pengalaman pahit dan memalukan dalam kehidupan. Jika kita terus gagal dan gagal,  tertimpa kehinaan, dan kemelaratan bertubi-tubi, artinya ada yang salah dalam kehidupan kita, karena itu mohonlah petunjuk Allah, bertobatlah kepada-Nya, mohonlah ampun kepada-Nya, dan bertaqwalah dengan sesungguhnya.  Jauhkan diri dari sifat kemunafikan dan kepura-puraan terhadap agama Allah, perintah Allah,  terhadap perintah Raulullah,  serta meninggalkan semua larangan agama secara totalitas. Jangan menyombongkan diri terhadap Allah swt karena Dia Maha Perkasa dan semua penguasa dan manusia ada dalam genggaman-Nya semuanya.

Kita memohon kepada pemerintah Aceh agar memperketat pengawasan terhadap eksistensi anak, lingkungan anak, pendidikan anak, dan  keinginan mereka demi  masa depan yang gemilang. Rasa kepedulian ini sangat diperlukan sejak dari tahap pemerintahan desa (kampung), kecamatan, kabupaten hingga ke propinsi. Maknanya negara harus benar-benar memperhatikan kelangsungan hidup generasi muda sejak dari kampung hingga ke kota. Negara bisa melakukan ini semua karena  mereka memiliki aparat (TNI –POLRI), Satpol PP dan WH., penegak hukum, memiliki dana yang cukup, dan  dapat melahirkan hukum-hukum yang tegas dan berat bagi pelaku kejahatan terhadap anak (generasi muda).  Disinilah harapan besar yang dapat kita harapkan kepada negara khususnya dalam mencegah berlakunya  kekerasan terhadap anak.

Pengawasan dan perlindungan terhadap anak harus nampak terlihat dan harus  eksis di kampung-kampung hingga ke kota-kota sehingga jika ada gelagat akan terjadinya ke arah rudapaksa, pedofil, kekerasan, penelantaran, ekploitasi, dan perdagangan anak, dengan mudah dapat diatasi.  Prevention is better than cure.  Demikian bunyi pepatah Inggris yang artinya upaya pencegahan lebih baik sebelum sesuatu terjadi. Upaya pendeteksi  segala kemungkinan buruk ini akan teratasi jika setiap kampung dan kota memiliki kepedulian, dan pengawasan di mana-mana. Dengan adanya pengawasan baik oleh ibu bapak, masyarakat, pemerintah dan badan-badan khusus yang berkecimpung terhadap perlindungan anak.

Dr. Muhammad AR. M.Ed

Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh  (KPPAA).

KIAT-KIAT MENGHADAPI MUSHIBAH

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Ath-Thaghabun: 11).

Manakala Allah berkehendak untuk melakukan sesuatu maka segalanya mudah bagi beliau; Inna zalika ‘alallahi yasir (sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah), Fathir (35): 11. Untuk melakukan sesuatu Allah tidak perlu persipan dengan segala macam peralatan seperti usaha seorang tukang, tetapi Allah cukup mengatakan: “kun” (jadilah), “fayakun” (maka jadilah ia apa yang Allah kehendaki). Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (Al-Baqarah: 117). Biasanya mushibah itu terjadi sebagai peringatan Allah kepada hambaNya yang barangkali sudah lupa atau sengaja melupakan perintahNya, melaksanakan laranganNya atau sebagai cobaan Allah kepada mereka, atau sebagai pelajaran dari Allah kepada orang-orang yang Allah spesifikkan dalam kehidupan ini.

Oleh karenanya ketika mushibah itu datang tiada seorangpun yang mampu melarang apalagi menghambat dan mempertahankan untuk tidak terjadi. Yang boleh dilakukan seseorang adalah menghindari untuk tidak terjadi mushibah, kalau sudah terlanjur terjadi maka seorang hamba tidak dapat melakukan apa-apa melainkan bersabar, memperbaiki hidup dan kehidupan dengan menjauhi perbuatan ma’shiyat, meningkatkan ketaqwaan, memperbanyak amal shalih, saling menolong dan membantu sesama hamba, jangan putuas asa dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

BERSABAR

Bersabar dari sebuah mushibah merupakan salah satu tugas seorang hamba Allah yang baik karena kesabaran itu selalu dapat menghasilkan kemenangan; man shabara dhafara, (barang siapa yang bersabar akan memperoleh kemenangan). Sabar merupakan salah satu solusi terbaik bagi seorang muslim yang tha’at dan bertaqwa karena orang-orang yang sabar itu akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (al-Baqarah; 45). Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah; 153).

Dalam surah Az-Zumar ayat 10 Allah berfirman: … Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Sabar itu merupakan salah satu prilaku orang beriman, Rasulullah SAW.bersabda: Mengagumkan perihal orang mukmin, tidak sekali-kali Allah menetapkan suatu ketetapan baginya, melaikan itu yang terbaik baginya. Jika dia mendapat kesenangan, maka bersyukurlah ia karena yang demikian itu lebih baik baginya; dan jika ditimpa kesengsaraan, maka bersabarlah dia karena hal tersebut lebih baik baginya.

MENJAUHI MAKSHIYAT

Perbuatan ma’shiyat dan perbuatan dzalim merupakan sejumlah usaha dan kerja ummat manusia yang bersifat mengundang bala dan musibah dari Allah SWT. Dalam surah Al-An’am ayat 151 Allah berfirman: dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, perbuatan keji itu salah satunya adalah perbuatan ma’shiyat yang sangat dibenci oleh Allah SWT seperti berzina, minum khamar, berjudi, membunuh dan semisalnya.

Kita paham Allah turunkan hujan batu dan telungkupkan bumi Siddim sehingga menjadi laut mati kepada kaum nabi Luth adalah karena mereka suka berma’shiyat kepada Allah dengan mengamalkan perbuatan liwath atau momo seksual. Untuk menghindari sebuah mushibah dari Allah SWT maka jagalah diri masing-masing kita untuk tidak berma’shiyat dalam bentuk apapun, kapanpu dan dimana pun seraya memohon kasih sayang daripada Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Tiada siapapun yang lebih Rahman dan lebih Rahimnya melebihi Rahman dan Rahimnya Allah SWT.

MENINGKATKAN KETAQWAAN

Dalam surah Al-A’raf ayat 96 Allah SWT. berfirman: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Siksa yang terdapat dalam surat ini tentunya sangat beragam karena tidak dispesifikasi di sini, termasuklah salah satunya mushibah yang menimpa ummat manusia. Untuk menghindari mushibah tersebut salah satu solusi yang ditawarkan ayat ini adalah bertaqwa kepada Allah SWT.

Dalam surah An-Nahl ayat 112 Allah berfirman: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Pakaian kelaparan dalam ayat ini identik dengan mala petaka atau mushibah yang menimpa hamba, maka solusi untuk semua itu adalah bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa kepada Allah SWT.sebagaimana yang selalu diingatkan khathib setiap hari Jum’at: ittaqillaha haqqa tuqatih (bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa). Ali Imran ayat 102.

MEMPERBANYAK AMAL SHALIH

Memperbanyak amal shalih bagi muslimin dan mukminin merupakan salah satu solusi lain daripada menghindarkan diri dari berbagai mala petaka dan mushibah yang (bakal) melanda, karena Allah telah bersumpah akan kerugian ummat manusia kecuali bagi orang-orang yang beramal shalih. Firman Allah SWT.dalam surah Al-‘Ashr: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Untuk menghindari kerugian dalam hidup ini maka salah satunya adalah melakukan amal shalih sebanyak-banyaknya tanpa batas dan tanpa mengenal waktu yang dibenarkan agama. Amal shalih itu adalah segala sesuatu yang baik-baik kita lakukan terutama sekali yang diwajibkan seperti shalat, puasa, zakat, naik haji, menolong orang lain, menasehati orang berbuat salah, memberikan solusi kepada orang yang sedang berhadapan dengan masalah, memperbanyak shalat sunnat, puasa sunnat, meperbanyak bershadaqah, mempererat ukhuwwah Islamiyyah dan semisalnya.

SALING MENOLONG DAN MEMBANTU

Langkah lain yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi mushibah adalah saling membantu dan saling menolong sesama muslim, karena bantu membantu dan tolong menolong merupakan bahagian daripada perintah dalam Islam. Allah berfirman: wa ta’awanu ‘alal birri wattaqwa wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan (… tolong menolonglah kamu pada kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong pada perbuatan dosa dan permusuhan…) (Al-Maidah: 2). Tolong menolong tersebut harus juga dibarengi dengan saling mema’afkan sesama muslim, selaras dengn perkara ini Allah SWT.berfirman:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran ayat 133-134).

JANGAN PUTUS ASA

Putus asa merupakan salah satu sifat dan juga sikap seseoran manusia yang terjadi ketika berhadapan dengan sesuatu mushibah lalu dia tidak siap dengan mushibah tersebut. Dalam Islam sebenarnya tidak ada istilah putus asa karena apa yang terjadi terhadap seseorang itu datangnya dari Allah SWT, dan Allah tidak jahat terhadap hambaNya dengan cara menganiayanya. Karena itulah manakala terjadi sesuatu terhada seseorang muslim yang harus dilakukan adalah bermuhasabah diri untuk mengetahui kenapa itu terjadi.

Selain itu seorang muslim harus bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya dengan kesabaran yang komprehensif karena power dari kesabaran tersebut luar biasa sekali. Hujung dari sabar ada tawakkal kepada Allah, itulah solusi untuk semua massalah bukan putus asa, apalagi kalau sempat patah hati, itu lebih dahsyat lagi karena kalau paha yang patah masih bisa diurut atau dioperasi. Namun kalau hati yang patah siapa yang sanggup dan mampu mengurut dan mengoperasinya. Firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 53:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

MENYERAHKAN SEMUANYA KEPADA ALLAH SWT

Salah satu solusi paling baik dan jitu adalah manakala mushibah terjadi maka serahkanlah semua yang menimpa itu kepada Allah SWT.karena Allahlah yang memberikan dan Allah pulalah yang mengakhirinya. Dalam bahasa Islam penyerahan diri kepada Allah itu salah satunya adalah bertawakkal kepada Allah SWT. tawakkal itu dilakukan setelah berusaha untuk bangkit dan sukses namun kegagalam yang terjadi, maka solusinya tawakkal ‘alallah.

Dalam surah Al-Anfal ayat 2 Allah SWT.berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, orang-orang Islam yang bertawakkal itu senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dari Allah SWT.sebagaimana Rasul Allah gambarkan dalam haditsnya:

Seandainya  kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal maka Allah akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung-burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Firman Allah dalam surah At-Thalaq ayat 3: … Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya

Karena mushibah itu datangnya dari Allah dan Allah tetapkan itu kepada siapa yang Allah kehendaki maka tuga kita menerima, mencari tau penyebabnya serta memenuhi perintahNya agar mushibah itu tidak datang berkali-kali dalam bentuk murka Allah kepada hamba. Karena segala sesuatu yang baik pada diri kita itu datangnya dari Allah sebaliknya datangnya dari usaha kita sendiri selaras dengan firman Allah dalam surah An-Nisak ayat 79: Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. Dalam surah Asy-Syura ayat 30 Allah berfirman: Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fiqh Siyasah pada Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry.

SYARIAT ISLAM BERBAHAYA BAGI INDONESIA; MANA BUKTINYA?

Oleh : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA

Selama ini di rezim ini banyak statements orang-orang tertentu di negeri ini yang berani mempersoalkan eksistensi Syariat Islam sebagai hukum Allah untuk tidak diamalkan di sini. Pernyataan-pernyataan tersebut sepertinya mengalir sedemikian mulus tanpa adanya pelurusan dari penguasa negara yang mayoritas muslim. Apakah diamnya mereka sebagai isyarat kejahilan yang tidak paham syariat Islam atau sengaja diam karena berada pada posisi satu tangkai dengannya.

Penulis artikel ini punya satu analisa lain; boleh jadi semua itu terjadi sebagai salah satu skenario rezim yang sudah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI) serta menangkap beberapa orang tokohnya. Dengan adanya pernyataan semisal itu diharapkan oleh rezim akan lahir banyak tanggapan dan emosional ummat Islam agar ada alasan untuk dilabelkan sebagai teroris dan radikalis seperti yang terjadi terhadap Mularman (mantan Sekjen FPI), ustaz Farid Ahmad Okbah, ustaz Zain Annajah, ustaz Anung Al Hamat dan lainnya. Boleh jadi juga rezim punya sasaran terhadap ormas-ormas Islam lain yang dianggap tidak searah dengannya untuk dihabisi seperti HTI dan FPI.

Kalau analisa ini benar maka ummat Islam yang sudah dipasang terget dan perangkap sebaiknya menjauh dan jangan mendekat dengan perangkap, caranya; harus banyak diam dan juga banyak berdo’a kepada Allah zat yang Maha Benar serta bekerja keras untuk kejayaan Islam. Kalau langkah semacam ini yang ditempuh ummat Islam maka target akan tinggal target dan perangkap akan terus kosong tidak akan berisi sehingga Allah akan tentukan sesuatu yang dikenhendakinya terhadap negeri ini.

Tentunya Allah akan memberikan sesuatu itu kepada hambanya sesuai dengan permintaan dan usaha keras yang dilakoninya, tidak mungkin Allah berikan sesuatu tanpa usaha yang disertai do’a. berpeganglah kepada Al-Qur’an surah Al-Israk (17) ayat 15: Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

 

PERNYATAAN SUNGSANG

Sungsang yang diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah;  terbalik (yang di atas menjadi di bawah, yang di depan menjadi di belakang, kepala di bawah kaki di atas, dan sebagainya). Kalau kita padankan dengan kontribusi artikel ini maka sungsang di sini adalah pernyataan seorang muslim yang semestinya mengakui, memperkuat, mendakwahkan eksistensi syari’at Islam kepada semua pihak, malah yang terjadi simuslim tersebut hari-hari menyalahkan, memojokkan, merendahkan, meremehkan, mendiskreditkan dan mencemoohkan syariat Islam itu sendiri.

Sifat dan prilaku muslim seperti ini tak lebihnya seperti pemain bola yang mencetak goal kegawang sendiri sehingga kesebelasannya menderita kekalahan. Prihal semacam ini menjadi sesuatu aktivitas yang sangat amat ganjil, aneh bin ajaib binti menggoyahkan wa membingungkan kedudukan syariat Islam dan ummat Islam. Sudah barang tentu ada sesuatu yang tidak lazim dalam kepala pemain bola tersebut pada waktu itu sehingga dia berani dengan sengaja memasukkan goal kegawang sendiri. Sesuatu itulah yang perlu dicari tau sehingga ummat Islam yang lain tidak marah, tidak jengkel, tidak benci dan mudah untuk dipilah dianya pada suatu posisi sehingga pernyataan sungsangnya tidak berefek terhadap eksistensi syariat Islam dan ummat Islam sehingga dia tertinggal sendiri tanpa penggemarnya.

Ada seorang dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) yang menolak keras penegakan syariat Islam di Indonesia, katanya: kewajiban menjalankan syariat justru berbahaya bagi Indonesia itu sendiri. Demikian dilansir oleh laman web: https://www.babe.news/a/7024059391099798017?app_id=1124&c=wa&gid=7024059391099798017&impr_id=7038527628122409217&language=id&region=id&share_desc_type=two_special&user_id=6720051648817873921&user_id=0

Dia juga menantang ummat Islam yang dianggapnya ingin menerapkan syariat Islam di Indonesia: Anda bisa saja tidak setuju dengan saya tapi saya juga bisa tidak setuju dengan anda dan adalah kewajiban saya menyampaikan pandangan bahwa kewajiban bagi umat Islam untuk menegakkan syariat Islam adalah sesuatu yang berbahaya bagi Indonesia,” tegasnya yang dikutip dari video yang diunggah di Youtube, CokroTV, Kamis, 28 Oktober 2021. Pernyataan ini menjadi bahaya bagi dirinya sendiri karena menentang berlakunya syariat Islam di Indonesia dengan nada negatif kepada syariat. Kalau syariat itu benar tentunya dia berada pada posisi yang salah dan berbahaya bagi Islam karena menentang kebenaran syariat Islam yang datangnya dari Allah dan Rasulullah SAW. orang yang menentang Allah dan RasulNya dalam kajian ilmu tauhid berada pada posisi musyrik.

Untuk itulah dia harus berhati-hati dengan ketentuan Allah karena semua para ulama dalam Islam yang benar-benar ulama (bukan kaum sepilis) menegaskan dan meyakinkan bahwa syariat Islam itu benar 100 persen dan wajib diamalkan. Ketika dia mengatakan: kewajiban saya menyampaikan pandangan bahwa kewajiban bagi umat Islam untuk menegakkan syariat Islam adalah sesuatu yang berbahaya bagi Indonesia. Maka pertanyaan yang muncul adalah: siapa yang mewajibkan dia mengatakan yang bukan-bukan, Islam tidak pernah menyuruh itu kepadanya, seluruh bangsa Indonesia juga tidak pernah mewajibkan dia mengatakan itu, boleh jadi juga ayah dan ibunyapun tidak menyuruh dia berbuat demikian. Lalu di mana letaknya kata wajib (kewajiban saya) tersebut?

Apalagi dia sempat membandingkan dengan keberhasilan tokoh-tokoh sekuler tempo dulu yang diumpamakan; dalam konteks sejarah, penegakan syariat Islam di Indonesia hampir berhasil dengan memasukkan ‘Kewajiban untuk Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.’ Hanya, ini ditolak oleh para founding fathers, termasuk Hatta. Manusia ini harus sadar kalau sebahagian founding fathers yang didukung mantan penjajah itu adalah manusia-manusia sekuler yang phobi dan anti dengan syariat Islam sehingga mereka berupaya dengan berbagai cara untuk menolak berlakunya syariat Islam di Indonesia, sehingga Soekarno yang telah berjanji memberikan kesempatan kepada Aceh melalui tokoh dan ulama besar Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh untuk berlaku syariat Islam manakala Indonesia terbebas dari invasi Belanda kedua tahun 1948 yang diperjuangkan bangsa Aceh dengan perang Medan Areanya, dengan pesawat terbang RI Seulawah 001 dan 002, dengan Radio Rimba Rayanya, dengan bantuan full kepada H. Agussalaim sebagai duta keliling Indonesia, L. N. Palar sebagai duta RI di India. Aceh juga menampung para petinggi Indonesia dari kalangan pemerintah, TNI, POLRI, dan lainnya bermastautin di bagian barat Pulau Sumatera karena Jakarta dan Jogjakarta sebagai Ibukota Indonesia sudah ditaklukkan Belanda, Soekarno dan Muhammad Hatta sudah ditangkap penjajah Belanda, seluruh wilayah Indonesia sudah dikuasai kembali oleh penjajah Belanda kecuali Aceh yang mempertahankannya sehingga Indonesia wujud di muka bumi ini.

Namun apa yang terjadi seteh Indonesia merdeka atas Jihad Akbar ummat Islam Aceh, Soekarno yang dahulu datang ke Aceh meminta jasa Teungku Muhammad Dawwud Beureu-eh agar meyakinkan muslim Aceh untuk melawan serbuan kedua Belanda ingkar janjinya kepada Aceh yang dahulu bersumpah memberikan Aceh berlaku syariat Islam. Malah dia berpidato di Amuntai dan di kampus UI di Salemba dengan menyatakan tidak mungkin belahan negeri Indonesia berlaku syariat Islam karena ada orang lain di Bali, di Sulawesi dan tempat lain yang bukan muslim. Jadi kalau dahulu tujuh patah kata dalam Piagam Jakarta berhasil dihapus bukan bermakna syariat Islam itu tidak benar dan membahayakan Indonesia melainkan itu usaha keras kaum sepilis yang anti syariat Islam yang mendapatkan dukungan dari luar.

Orang itu juga mengatakan: Bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya pada supremasi syariat sangat percaya bahwa umat Islam wajib menjalankan perintah-perintah Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Bagaiman kalau aturan itu ditegakan pada abad 21 ini? Menurut dia akan mendatangkan banyak masalah. Apa masalahnya sebutlah di sini agar bangsa Indonesia tau kalau syariat itu bermasalah bagi mereka. Jangan puntungkan kalimat ini sebab akan diterjemahkan oleh pembaca bahwa orang itu tidak senang dengan syariat dan jahil terhadap syariat. Dia melanjutkan lagi: Sebab, Al-Qur’an dan hadis hanya bisa dipahami berdasarkan konteks sejarahnya. Dengan kata lain, aturan itu banyak sekali yang tidak relevan dengan kondisi kita saat ini. Misalnya, soal perbudakan. Pernyataan ini dengan jelas orang itu tidak yakin kepada kebenaran Al-Qura’n yang sifatnya selaras dengan zaman dan relefan sepanjang zaman. Dia memberi contoh bahwa Al-Qur’an membenarkan seorang lelaki menggarap budak perempuannya yang tidak dibuktikan dalam ayat berapa dan surat apa itu tertera dalam Al-Qur’an. Katanya: Al-Qur’an menyatakan bahwa seorang pria tidak perlu menjaga kemaluannya pada budak perempuan dan ini kemudian diartikan sebagai izin bagi pria untuk meniduri budak perempuannya tanpa harus dalam ikatan pernikahan. “Jadi apakah ini berarti pria dapat berhubungan tanpa menikah dengan budak perempuannya? Lebih lanjut lagi apakah ini berarti Allah mengizinkan seorang pria memiliki berat perempuan,?” tanya dia.

Manusia ini betul-betul tidak mengerti Al-Qur’an dan Hadits yang menyuruh ummat Islam menghapus budak dan perbudakan dalam Islam. Rasulullah SAW.senantiasa berupaya menghapus perbudakan dalam Islam sehingga sampai zaman kini Islam tidak mengenal lagi perbudakan seperti di awal Islam sebagai peninggalan zaman jahiliyah. Sekali lagi’ bahwa budak dan perbudakan dalam Islam merupakan peninggalan zaman jahiliyah yang ketika Rasulullah SAW.diutus Allah langsung dihapus dengan berbagai cara termasuk dengan denda bagi muslim yang melanggar syariat seperti muslim yang bersetubuh di siang hari bulan Ramadhan. Orang tersebut belum sampai kesini pemahamannya sehingga cenderung menyalahkan syariat kalau berlaku di Indonesia. Bukankah negeri ini terus compang camping terjadi pemberontakan di mana-mana, penipuan, perampokan, pemerkosaan, penipuan penimbunan hutang dengan luar negeri karena tidak berlaku syariat? Coba direnungkan apa yang anda handalkan dan diterima bangsa di negeri ini tanpa syariat.

Orang tersebut juga berkomentar: Kemudian secara eksplisit soal pencuri yang harus dipotong tangannya. Atau wanita yang ketahuan berzinah harus dihukum 100 kali cambuk. Termasuk ketentuan untuk tidak menjadikan kaum kafir sebagai teman-temanmu sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. “Saya ingin mengatakan memahami pesan Tuhan tidak bisa dengan sekedar menganggap apa yang terlarang dan diizinkan atau bahkan diperintahkan dalam Al-Qur’an dan diperintahkan nabi sebagai hukum yang harus dipatuhi sepanjang waktu dan sepanjang zaman. Aturan dan hukum itu bergantung pada konteks. Kalau konteks berubah aturan dan hukumnya pun berubah,”

Komentar ini betul-betul tidak ada muaranya, pertama dia menyebutkan tentang pencuri yang harus dipotong tangan. Apakah dia tau bagaimana syarat seorang pencuri yang harus dipotong tangannya? Apakah dia tau tidak semua pencuri harus dipotong tangannya seperti yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab? Kemudian dia menyebut perempuan yang berzinah harus dihukum 100 kali cambuk, ini betul-betul dia tidak paham hukum Pidana Islam tetapi berlagak pandai tentang hukum Islam. Dalam Islam bukan perempuan berzinah saja yang dicambuk tetapi lelaki juga sama, bedanya yang sudah kawin (muhshan) dirajam dan yang ghairu muhshan (belum kawin) dicambuk 100 kali cambuk. Jadi omongan orang itu memang betul-betul ngaur, kacau dan membingungkan orang banyak. Sebaiknya jangan mudah menyalahkan hukum Allah karena itu membawa padah.

Dia harus paham bahwa memahami hukum Tuhan dalam Islam harus dengan ketentuan Al-Qur’an bukan dengan kepala dia, demikian juga dengan ketentuan Rasulullah SAW harus dengan hadits atau sunnah, sama sekali bukan dengan kepala seorang yang phobi terhadap keduanya. Kalaupun ada perkara baru yang belum terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah/Hadits akibat perkembangan dan kemajuan teknologi di zaman modern umpamanya, maka berlaku Ijmak dan Qiyas oleh para ulamak yang juga harus disandarkan kepada Al-Qur’an dan sunnah bukan kepada kepala orang-orang jahil tentang syariat.

 

KENYATAAN YANG ADA

Menyimak komentar dosen tersebut dalam berbagai konten dan berbagai kesempatan sangat terkesan mendiskreditkan Islam, hukum Islam dan ummat Islam. Sepertinya dia tutup mata dengan kenyataan yang ada dan terjadi di Indonesia dari zaman kezaman akibat tidak berlaku syariat Islam. Ketika Indonesia ini masih dijajah oleh Belanda ummat Islam melawan penjajahan dengan kalimah syahadatain (Asyhadu an lailaha illallah wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah), dengan kalimat tauhid  (La ilaha illallah) dengan takbir Islam (Allahu Akbar), dengan doa ummat Islam dan darah gapah Ummat Islam sehingga negeri ini merdeka. Semua itu bahagian dari syariat.

Bukankah tanpa pemberlakuan syariat Islam di Indonesia ini rezim dengan mudah saja melanggar HAM seperti pembunuhan enam orang di kilometer 50, penangkapan orang-orang yang sudah ditargetkan rezim dengan alasan radikalis dan teroris. Bukankah tanpa syariat Islam penguasa negeri ini dengan mudah mempermainkan hukum dan undang-undang seperti kasus kerumunan yang menjerat HRS sementara penguasa bersama anak dan menantu juga melakukan hal serupa tetapi ditak dihukum dan tidak dipenjara, bukankah orang-orang tertentu yang menyerang Islam dan ummat Islam bebas berkeliaran sementara orang-orang Islam yang menegakkan konstitusi dilaporkan, ditangkap dan dipenjara.

Bukankah dalam bidang demokrasi tanpa syariat Islam betapa banyak kecurangan demi kecurangan yang disiarkan berbagai media zaman pemilu, pilpres, pilek dan pilkada terjadi meraja lela dan pihak oligarkhi yang menjadi raja, korupsi juga merajalela? Belum lagi kalau kita lihat dari pandangan ideologi, bukankah dengan menyisihkan syariat Islam negeri ini kembali dikuasai oleh ideologi komunis, liberalis, sekularis, pluralis dan kapitalis yang mengancam kehidupan anak bangsa, mengancam eksistensi negara dan melawan konstitusi dan Pancasila? Bagaimana seorang dosen yang sudah mengenyam pendidikan inggi bisa menutup mata dengan semua kenyataan tersebut, atau dia jahil dengan kenyataan di depan mata. Sadarlah wahai manusia yang beragama Islam, janganlah kita menjadi seperti pemain bola yang memasukkan goal kegawang sendiri, bahaya sekali ketika kita bertemu dengan Allah nanti di alam baqa. Pelajarilah syariat Islam yang sangat luas itu dengan teliti dan komprehensif agar tidak hancur bangsa ini akibat ulah dan pemikiran kita. Jangan berharap rupiah dengan cara menyudukan Islam dan syariatnya, jangan mengharap jabatan dengan menyerbu dan menyerang Islam, jangan mencari perhatian dengan mengorbankan agamanya dan jangan sekali kali memasukkan goal kegawang sendiri. Semoga menjadi sosial kontrol bagi kita sekalian.

penulis adalah Dosen Fak. Syariah & Hukum UIN Ar-Raniry.