Archive for category: Semua Katagori

semua katagori di bawah ini

BANDA ACEH; ANTARA KOTA GEMILANG DAN KOTA WARUNG KOPI

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA
(Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)
[email protected]=

MUQADDIMAH

Semenjak dua orang terakhir Walikota Banda Aceh memimpin kota ini masing-masing memberikan nama khusus terhadap ibukota Aceh tersebut. Ketika Illiza Sa’aduddin Jamal menjadi Walikota ia menamakan Banda Aceh sebagai Kota Madani, lain lagi dengan Walikota Aminullah Usman sekarang yang menyebut-nyebut istilah Banda Aceh dengan gelar Kota Gemilang. Terkesan saling memberi nama khusus tersebut sebagai salah satu upaya untuk menjadikan ibukota provinsi Aceh tersebut lebih maju, lebih bergairah, lebih bersahabat dan lebih populer.

Namun ketika kita padukan antara dua nama tersebut dengan perkembangan kota nampak sangat belum selaras sama sekali karena namanya terlalu muluk tetapi kerja Walikotanya belum mumpuni. Apalagi kalau kita selidiki lebih jauh terkait dengan kinerja Walikotanya sendiri yang menurut informasi dari beberapa media masih belum menuntaskan pembayaran insentif para imam, guru pengajian, para geusyik dan lainnya, maka gelar tersebut masih jauh panggang dari api. Akhirnya gelar demi gelar yang ditabalkan tersebut hanya menjadi lipstip yang bersifat fatamorgana saja yang nampak didengar tetapi tidak nampak diraba.

 

CIRI KHAS KOTA GEMILANG

Kalau kita mau pasang filter lebih awal sebelum meramu ciri khas Kota Gemilang terkait dengan istilah gemilangnya, maka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan gemilang adalah cahaya, bercahaya, bagus sekali dan maju jaya. Kalau demikian makna gemilang maka ciri-ciri khas Kota Gemilang mestilah melingkupi dan memiliki kapasitas berikut:

  1. Kotanya bersih dari sampah dan limbah dalam ukuran 24 jam, artinya sampah dan limbah dari bekas pemanfa’atan masyarakat tidak berserakan di pinggir-pinggir jalan sampai jam sepuluh siang, ianya harus bersih paling telat pukul 07.30 pagi;
  2. Harus bersih pula dari sampah masyarakat yang sangat mengganggu warga kota dengan berbagai ulah dan prilaku mereka setiap hari dan malam harinya, seperti para pengamen, peminta sedekah di simpang jalan untuk tujuan kaya bukan karena tidak berpunya. Bersih pula dari berkeliarannya para orang gila yang sangat menakutkan warga kota terutama para anak-anak yang sedang berkembang dan memerlukan ketentraman;
  3. Ia pula harus bebas dari penjaja kaki lima dan penjaja simpang jalan serta para peniaga tepi jalan yang membuat kotornya pandangan mata dan berserakannya sampah-sampah bekas digunakan mereka;
  4. Kota gemilang itu harus mampu mengatur warga kota untuk hidup sehat baik pengaturan pemanfa’atan makanan dan pemakaian maupun penggunaan waktu yang dibagi dua antara waktu tidur/istirahat dengan waktu kerja. Dengan demikian warga kota gemilang akan nampak berseri, ceria, ramah dan bersahaja, tidak memasang muka jeruk perut ketika bersuwa dengaan tetamu dari luar kota;
  5. Ia juga merupakan kota yang bebas macet, bebas lobang dan bebas debu serta bebas lumpur di jalan-jalan sehingga orang tau membedakan antara kota berantakan dengan kota gemilang;
  6. Warga kota gemilang mestilah saling membantu, saling sayang menyayangi, saling kasih mengasihi, saling ingat mengingati dan saling nasehat menasehati sehingga tidak pernah terjadi perkelahian, pencurian, penipuan dan sejenisnya dalam kehidupan. Ketika azan berkumandang lima kali sehari semalam, warga Kota Gemilang bersama para pimpinannya berlomba-lomba ke masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah, bukannya berlomba-lomba menutuk kedai/rumah lalu tidur di dalamnya, atau bergegas menutup kantor kemudian shalat sendiri di dalamnya apalagi pada hari Jum’at yang mewajibkan kaum lelaki shalat jama’ah Jum’at. Yang paling penting lagi adalah warga Kota Gemilang yang sedang berlaku syari’at Islam harus menutup aurat, harus sopan santun dan hormat terhadap tetamu dan harus berlemah lembut dalam kehidupan. Dalam kota tersebut tidak ada kedai kopi yang dijadikan arena dansa-dansi, tidak ada penjualan miras, bersih dari prostitusi, buntut dan judi;
  7. Wujudnya sarana dan prasarana umum seperti jalan yang luas, got dan parit yang representatif, taman kota yang memadai, transpor rakyat yang mencukupi, galon minyak yang siap isi, MCK yang harus ada di tempat-tempat keramaian seperti di pasar, di terminal, di rest area dan semisalnya;

Minimal terkafer tujuh poin tersebut secara rapi dan kontinue barulah layak disebut sebuah kota itu sebagai Kota Gemiliang merujuk kepada makna gemilang yang tertera dalam KBBI. Kalau yang itu belum wujud maka bagaimana berani kita menamakan dirinya dengan Kota Gemilang padahal syarat dan kriteria gemilangnya belum pernah ada. Jangan-jangan pimpinan memberikan gelar tersebut kepada kota yang dipimpinnya karena pemimpin sebelumnya yang menjadi saingannya dalam Pilkada sudah memberi nama Madani terlebih dahulu. Jadi untuk menghilangkan jejak kerja rivalnya maka nama tabalan terhadap kota juga diganti dengan nama yang cukup indah dalam bacaan tetapi sangat muram dalam pelaksanaan.

 

KENYATAAN KOTA WARUNG KOPI

Kalau demikian kenyataannya maka kota tersebut yang sudah jelas dan pasti mendapat gelar sebagai Kota Warung kopi mengingat di kota tersebutlah terletak ratusan warung kopi yang berjejeran. Kalau diberi nama Banda Aceh sebagai Kota Warung Kopi maka Walikota dan segenap ASN/PNS serta pejabat kota mampu mempertanggungjawabkan kinerjanya baik kepada Allah maupun kepada warga kota karena mereka telah berjaya mewujudkan Banda Aceh sebagai Kota Warung Kopi di mana di sana terdapat ratusan warung kopi dalam bentuk dan model yang berbeda.

Dari beberapa sumber yang penulis dapati, Banda Aceh memiliki warung kopi besar kecil plus warung nasi beasar kecil tidak kurang dari 500 buah. Dalam informasi lainnya bahwa warung kopi di Banda Aceh tidak kurang dari 300 buah, ada pula yang menghitung jumlahnya melebihi dari 300 warung kopi dan warung nasi besar kecil di Banda Aceh, baik yang sifatnya dalam bentuk toko, dalam bentuk restoran, maupun warung tempelan dan warung jejeran di pinggir jalan. Dengan demikian maka wajar dan objektiflah kalau disebut Banda Aceh sebagai Kota Warung Kopi. Apalagi setiap warung kopi tersebut senantiasa penuh siang dan malam diisi oleh para kaum putra dan kaum putri.

Yang membuat warga kota harus berhati-hati lagi ketika ada warung kopi yang diberi nama dengan: Toko Kopi Kiri di kawasan Lamteh yang pengunjungnya tidak pernah sepi siang dan malam. Yang lebih mencurigakan lagi selain namanya adalah para pengunjung hampir semuanya kaum muda dan kaum mudi yang sangat serius di dalam warung kopi. Agar kita tidak su’uzzan, namun perlu berhati-hati; nama kiri itu identik dengan kaum anti Islam, di Indonesia malah istilah kiri itu sering dijuluki kepada kaum yang berideologi Komunis. Apalagi ketika toko kopi kiri tersebut dipenuhi oleh kawula muda maka lebih cenderung lagi kepada setting dan format gerakan kaum atheis untuk mengkaderkan generasi pelanjut. Wallahu a’lam.

 

KHATIMAH

Ketika seorang Walikota telah berani menabalkan nama indah dan baik terhadap kota yang dipimpinnya maka dia harus berusaha keras untuk membuktikan bahwa nama yang disandang kepada kota yang dipimpinnya selaras dalam kenyataan. Kalau tidak demikian maka biarkan saja warga kota yang memberi gelar sendiri agar mereka tidak ngoceh kepada pak wali. Kalau tidak berlebihan barangkali kepemimpinan gubernur Anis di ibukota Jakarta menjadi ukuran dan ikutan bagi para pemimpin lain di negara ini. Beliau tidak memberikan nama apapun terhadap wilayah yang dipimpinnya, tetapi dalam kenyataannya lebih gemilang wilayah yang dipimpinnya berbanding dengan Kota Gemilang di Banda Aceh.

Memang budaya warga kota kita yang lebih 50 % sebagai educated community masyarakat terdidik tidaklah merepet, mengejek, apalagi memaki-maki Walikota. Tetapi dalam benak dan pikiran mereka tersimpan satu kesimpulan terhadap kepemimpinana kita seorang Walikota. Untuk situasi dan kondisi semacam itu seorang leader mestilah menajamkan atau mengasah lebih tajam ilmu jiwanya sebagai alat peresap terhadap selera rakyat yang kita pimpin, kalau tidak demikian maka kita termasuklah dalam kategori orang-orang yang memiliki sifat ria atau minimal sifat suka mempermainkan istilah bahasa.

‘ala kulli hal, kenyataan hari ini Kota Banda Aceh yang diberi nama Kota Gemilang oleh seorang pak wali belumlah sekufu dengan realita dan kenyataan. Tetapi kalau mau jujur dengan realita dan kenyataan yang ada maka Kota Banda Aceh resmilah dan sahlah menjadi Kota Warung Kopi karena didukung oleh bukti fisik, didukung oleh penggemar warung kopi, didukung oleh pembiaran regulasi serta didukung pula oleh situasi dan kondisi sehingga sahlah dinobatkan Kota Banda Aceh sebagai Kota Warung Kopi, bukan kota Gemilang dan bukan pula Kota Madani. Wallahu a’lam bishshawab wa ilaihi marji’u bil ma-ab.

Ketua Dewan Dakwah Aceh Raih Gelar Profesor

Banda Aceh, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Aceh, Dr. Muhammad, M.Ed mendapatkan pangkat guru besar atau gelar Profesor.

Hal itu berdasarkan surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia, Nomor 020903/B.II/3/2022 Tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.

Dalam surat keputusan tersebut disebutkan, terhitung mulai 1 April 2022, Dr. Muhammad, M.Ed dinaikkan jabatannya menjadi profesor / guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam.

Untuk diketahui, Dr. Muhammad, M.Ed merupakan akademisi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, dengan Pangkat, Golongan Ruang dan TMT Pembina Utama Muda / IV/c/1 April 2016, dan jabatan Lektor Kepala.

Dewan Dakwah Langsa dan Lhokseumawe Gelar Pertemuan, Ini Yang Dibahas

Lhokseumawe — Pengurus Dewan Da’wah Kota Langsa melakukan kunjungan silaturahmi dengan Dewan Da’wah Kota Lhokseumawe, pertemuan tersebut berlangsung di Jln. Darussalam, Banda Sakti, Lhokseumawe, Jum’at (27/5/2022).

Kunjungan dan silaturrahmi yang dihadiri oleh Sekretaris Umum Dewan Da’wah Kota Langsa, Afrizal Refo, MA didampingi Bidang IT Muhammad Fauzi, M.Pd, ini disambut langsung oleh Ketua Dewan Da’wah Kota Lhokseumawe, Lailan Fajri Saidina, dan Ustadz Faisal selaku Sekretaris Dewan Da’wah Kota Lhokseumawe.

Silaturrahmi dan diskusi ini berlangsung dengan penuh kekeluargaan, kehangatan dan menghasilkan kesepakatan bersama dalam membangun dakwah di kedua kota tersebut.

Dalam kesempatan itu Afrizal Refo, MA mengatakan bahwa kunjungan ini dilakukan dalam rangka silaturahmi serta berdiskusi tentang persoalan-persoalan kegiatan pendidikan, da’wah dan Persoalan umat pasca Covid-19 di kedua Kota.

“Dewan Da’wah Kota Langsa sangat berkomitmen untuk terus membangun Dakwah dengan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan religius serta mengajak semua pihak yang peduli terhadap keselamatan umat untuk selalu bersinergi dan bahu-membahu dalam mengatasi persoalan umat Islam yang sedang dihadapi saat ini,” ujar Refo

Lailan Fajri Saidina dalam kesempatan tersebut menyampaikan harapannya agar Kedangkalan pemahaman beragama harus menjadi perhatian para pemimpin.

“Kita berharap agar pelaksanaan ajaran agama tidak hanya formalitas, akan tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sehari-hari,” kata lailan

Adapun hasil pertemuan tersebut dirumuskan bahwa yaitu pertama pentingnya memahami peta da’wah di Kota Langsa maupun Kota Lhokseumawe sebagai bahan kebijakan Pemerintah Kota sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Berikutnya, Merespon tantangan kehidupan merupakan akibat dari pengaruh perubahan keadaan global seperti pandemi Covid-19, perubahaan iklim dan juga kemajuan teknologi.

Kedua, pentingnya pelaksanaan ajaran agama tidak hanya menjadi formalitas.

Ketiga, adanya seminar parenting bagi keluarga Islam dalam membimbing keluarganya sehingga syariat Islam dapat dipahami oleh seluruh anggota keluarga.

Keempat, diadakannya pengobatan Topung bagi masyarakat dalam mengobati berbagai penyakit sebagai upaya untuk menangani mistis dilingkungan masyarakat dalam pengobatan.

Di akhir pertemuan, Sekretaris umum Kota Lhokseumawe Ustaz Faisal menambahkan kunjungan ini merupakan bahan evaluasi kerja ke depan bagi kedua pengurus daerah untuk dapat memaksimalkan peran Dewan Dakwah di setiap kabupaten/kota agar mampu memanfaatkan potensi yang ada guna meningkatkan pemahaman ajaran agama bagi umat Islam.

“Kami berterimakasih atas silaturrahmi dan kunjungan dari Dewan Da’wah Kota Langsa, semoga kita bisa bergandengan tangan dalam membangun masyarakat dengan semangat Islam Rahmatan Lil Alamin,” pungkas Faisal.

Waka Pemuda Dewan Da’wah Langsa Resmi Menikah di Masjid Agung Darusshalihin Idi Rayeuk

Idi Rayeuk — Wakil Ketua Pemuda Dewan Da’wah Kota Langsa, Muhammad Ihsan M.Ag resmi melangsungkan akad nikah dengan Nuzul Rahmani, SE di Masjid Agung Darusshalihin, Jalan Medan-Banda Aceh, Gampong Jawa, Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Jum’at (20/5/2022) sekitar pukul 10.00 WIB.

Pernikahan Muhammad Ihsan yang merupakan anak ke-2 dari Dr. Sulaiman Ismail, MA atau lebih akrab dipanggil Abi Sulis dihadiri oleh puluhan kerabat yang berasal dari berbagai Ormas dan OKP Islam dan juga alumni MUQ Bustanul Ulum Langsa diantaranya Dr. Indis Ferizal, MH Ketua PDD Langsa, Asrul, MA Ketua PDD Atim, Habib Fahmi Assegaf Majelis Anwarul Habib, Bang Jaswin, Afrizal Refo, MA Sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa dan pengurus Dewan Da’wah lainnya.

Sekretaris Dewan Dakwah Kota Langsa, Afrizal Refo, MA menasehati para pemuda Dewan Da’wah Kota Langsa yang belum menikah agar mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sebaik mungkin.

“Seseorang hendaknya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya, baik ibadah fardhu maupun sunnah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Insya Allah, dengan peningkatan ibadah ini Allah Swt akan memberikan kekuatan dan mempermudah segala urusan hambanya yang ingin segera menikah,” ujarnya.

Kemudian beliau melanjutkan persiapan selanjutnya yang harus dipersiapkan oleh seseorang yang ingin menikah adalah istiqomah dalam doa dan tawakal dalam berusaha.

“Rizki, takdir, maut, dan juga jodoh, itu semua berada dalam genggaman Allah swt, tidak akan ada yang mampu merubahnya kecuali Dia. Sebagai manusia yang diwajibkan hanyalah berusaha dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Kemudian bertakwakallah kepada-Nya, serahkan dan percayakan segala keputusan finalnya hanya kepada-Nya. Janganlah pesimis dan berburuk sangka kepada Allah, karena Allah akan mengikuti persangkaan hamba-Nya,” katanya lagi.

Kemudian poin penting bagi kita yang ingin menikah adalah dengan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Sebaik-baik pernikahan adalah pernikahan yang dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa. Persiapkan diri dan teruslah bekali diri dengan ilmu dan agama, terutama ilmu agama yang berkaitan dengan masalah kerumah tanggaan.

Selain itu, baik seorang calon pengantin laki-laki dan perempuan juga harus membekali dirinya dengan keterampilan berumah tangga dengan Baik.

“Baik calon suami maupun istri adalah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang suami yang shaleh dan isteri shalihah yang taat beragama dan senantiasa menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah,” demikian ungkap Refo.

Pernikahan merupakan perwujudan dari arti cinta yang sesungguhnya antara dua insan yang saling mencintai (lelaki & wanita). Ikatan suci ini adalah impian dan kebahagiaan sepasang insan yang merindukan cinta dan kasih sayang dari seseorang yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya dimasa depan.

Setiap insan berhak dan lumrah untuk merasakan kerinduan semacam itu. Meskipun tak terungkap secara lisan, penantian dan impian untuk menggapai sebuah mahligai pernikahan adalah puncak sebuah kebahagiaan dan kerinduan dari sepasang insan yang saling mencintai.

Tujuan menikah dalam Islam memiliki arti begitu dalam bagi Allah SWT dan Nabi-Nya. Selain menciptakan generasi yang shaleh/shalehah, Allah menyampaikan berbagai berkah di balik pernikahan. Meski aktivitas bersama pasangan halal itu dianggap sederhana, namun bernilai pahala dan sedekah.

Sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan dua hati dan menyangkut suatu kesatuan yang luhur dalam berumah tangga saja. Melainkan ada tujuan menikah dalam Islam yang seharusnya dipahami orang muslim.

Sebuah kebahagiaan akan diperoleh oleh dua insan, baik di dunia maupun di akhirat. Ikatan suci pernikahan menjamin keharmonisan, kebahagiaan dan ketentraman, selama memegang teguh Islam bersama. Apalagi ditambah dengan mengikuti suri tauladan Nabi Muhammad SAW bersama istrinya

 

 

Tebar Kurban Bersama Dewan Dakwah Aceh

Tebar Kurban Bersama Dewan Dakwah Aceh

Sinergi Dakwah Kolaboratif, PW Dewan Dakwah Sumut Kunjungi Dewan Dakwah Aceh

Banda Aceh — Rombongan Pengurus Wilayah (PW) Dewan Dakwah Sumatera Utara (Sumut) mengunjungi Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Selasa (11/5).

Rombongan yang berjumlah lima orang itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Sumut, H Chairul Azhar, M.Si, Ketua Muslimat, Prof Dr dr Arlinda Sari dan tiga pengurus lainnya.

Kehadiran rombongan tersebut disambut langsung oleh Sekretaris Majelis Syura, Said Azhar SAg, Sekretaris Umum Dewan Dakwah Aceh, Zulfikar SE, M.Si, Wakil Ketua Umum, Rahmadon Tosari, PhD dan Dr. Ridwan Nurdin, M.Si. Ikut mendampingi juga Direktur Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh, Dr Abizal M Yati Lc, MA, perwakilan Muslimat Dewan Dawah Aceh dan Ketua Forum Dakwah Perbatasan (FDP), dr Nurkhalis Sp.JP, FIHA.

“Pertemuan dua PW Dewan Dakwah yang bertetanggaan provinsi tersebut bertujuan memperkuat silaturrahmi kedua organisasi Islam ini dan juga untuk membangun dan bersinergi dakwah kolaboratif. Selain itu saling memaparkan dan memperkenalkan program-program yang telah, sedang dan akan dilaksanakan,” kata Zulfikar.

Ia menjelaskan dalam pertemuan tersebut kedua pihak sepakat untuk melakukan dakwah kolaboratif dalam beberapa isu, di antara menjaga wilayah perbatasan dari upaya pendangkalan akidah, kerjasama rekruitmen mahasiswa ADI dan kolaborasi penempatan dai. Selain itu akan menggelar jambore alumni ADI dan kegiatan bersama safari dakwah perbatasan atau bulan bakti Dewan Dakwah.

Ketua Umum Dewan Dakwah Sumut, H Chairul Azhar, M.Si menambahkan pertemuan itu juga membahas isu-isu aktual tentang problematika dakwah di kedua provinsi tersebut, diantaranya proses pengkaderan dai secara formal melalui ADI dan STID (Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah) Mohammad Natsir yang memakan waktu yang lama, yaitu lima tahun lebih.

“Sementara kebutuhan dai di lapangan sangatlah mendesak. Bahkan ada beberapa desa di pedalaman Sumatera Utara yang tidak jadi shalat jum’atnya, apabila dai tidak bisa hadir di desa tersebut,” kata Chairul Azhar.

Adapun Ketua FDP, dr Nurkhalis mengungkapkan kendala lainnya adalah militansi seorang dai sendiri juga bermasalah. FDP yang membuka lowongan dai untuk dakwah di perbatasan dengan mukafaah yang cukup, fasilitas transportasi (disediakan sepeda motor) tapi tidak banyak yang siap bertugas di daerah-daerah terpencil.

Terakhir Sekretaris Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh, Said Azhar SAg menjelaskan untuk mengatasi semua persoalan tersebut maka Dewan Dakwah, melalui Pengurus Pusat akan melakukan program peningkatan kapasitas dai secara non formal selama 30-40 hari.
Menurutnya program tersebut seperti pola short course atau semacam program lemhanas. Untuk mengikuti program tersebut diharapkan para peserta sudah punya kemampuan dasar dai, sehingga yang perlu diperkuat hanya beberapa hal saja seperti aqidah dan idiologi, pemikliran Islam, wawasan geopolitik dan perkembangan dakwah dunia (keragaman harakah dakwah).

“Juga manajemen dan leadership islam serta kemampuan dakwah berbasis IT dan medsos serta komitmen/militansi dai untuk berdakwah,” kata Said Azhar.

Pertemuan diakhiri dengan makan siang bersama dan penyerahan cenderamata serta kesepakatan kunjungan silaturrahim balasan dari Dewan Dakwah Aceh ke Sumatera Utara pada akhir bulan Mei tahun ini.

Heboh Pasangan Homo di Podcast Deddy, Bagaimana Sejarah Kaum Liwath?

Jakarta — Netizen Indonesia, terutama umat Islam, meradang setelah selebritas terkenal Deddy Corbuzier mengundang sepasang pria homo ke acaranya. Banyak yang menganggap konten Deddy kali ini sudah keterlaluan, walaupun sebagian di antara netizen juga yang memandang konten-konten dia sebelumnya juga jauh dari kata mendidik.

Bahkan beberapa dai kondang pun turut mengeluarkan pernyataan teguran kepada Deddy Corbuzier atas konten yang dia produksi pada Sabtu 7 Mei 2022 kemarin. Lalu bagaimanakah sejarah kaum homoseksual yang disebutkan di dalam Al-Quran sebagai bagian dari umatnya Nabi Luth alaihi salam pada zaman dahulu?

Dikutip dari laman kisahmuslim.com, dakwah Nabi Luth alaihis salam kepada kaumnya dimulai ketika ia dan Nabi Ibrahim alaihis salam (pamannya) hendak menuju Palestina dari Mesir. Di tengah perjalanan Nabi Luth berpamitan kepada Nabi Ibrahim untuk pergi ke negeri Sadum (dekat laut mati di Yordania) karena Allah telah mengutusnya untuk berdakwah di sana.

Sebagai gambaran, akhlak penduduk negeri Sadum kala itu sangat buruk sekali. Mereka tidak pernah menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan tidak malu berbuat kemungkaran seperti berkhianat kepada kawan dan perzinaan.

Puncak kekejian perbuatan mereka yaitu para laki-laki meninggalkan kaum wanita untuk mendatangi sesama jenis dan melepaskan syahwat mereka. Sungguh-sungguh melampaui batas.

Allah merekam kekejian mereka di dalam Al-Qur’an Surah Asy Syu’ara ayat 160-161 sebagai pengingat kepada umat manusia agar jangan sampai mengikuti perbuatan yang telah dilakukan kaum Nabi Luth alaihis salam dahulu kala.

“Mengapa kamu tidak bertakwa?”– Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.–Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia,– Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.”

Bukannya mendengarkan seruan tobat dari Nabi Luth, mereka malah bersikap ngeyel, memilih tak beriman kepada Allah, dan mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri Sadum jika terus-menerus mengganggu perbuatan keji mereka.

Bahkan dalam Al-Qur’an Surah Al ‘Ankabbut ayat 29 mereka menantang balik Nabi Luth untuk meminta kepada Allah supaya menimpakan azab kepada mereka. “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

Melihat kebebalan kaumnya itu Nabi Luth marah. Maka ia memilih untuk membawa keluarganya pergi menjauhi mereka. Namun alih-alih taat kepada suaminya, istri Nabi Luth lebih memilih berkhianat dan membelot kepada kaum liwath.

Allah kemudian mengutus tiga orang malaikat yang menjelma sebagai manusia yang sangat rupawan untuk membereskan urusan kaum Nabi Luth. Tapi sebelum menuju negeri Sadum ketiga malaikat itu sempat mampir terlebih dahulu ke Nabi Ibrahim alaihis salam.

Kepada Nabi Ibrahim mereka memberikan kabar gembira bahwa beliau akan dikaruniai seorang anak laki-laki dari istrinya yang bernama Sarah. Anak itu kemudian juga menjadi seorang nabi Allah bernama Ishaq alihis salam.

Selanjutnya para malaikat bercerita kepada Nabi Ibrahim bahwa mereka akan mengazab penduduk kota Sadum karena kerusakan yang mereka lakukan dan juga kekafirannya kepada Allah.

Mendengar hal tersebut Nabi Ibrahim pun berkata kepada para malaikat bahwa di sana ada Nabi Luth yang berdakwah kepada penduduk kota Sadum. Para malaikat menenangkan Nabi Ibrahim bahwa Nabi Luth bersama keluarganya telah diselamatkan Allah kecuali istrinya yang telah kafir.

Selanjutnya ketiga malaikat itu mendatangai Nabi Luth dalam wujud yang sama saat mereka menampakkan diri kepada Nabi Ibrahim. Manusia yang rupawan, yang hadir untuk memancing pelaku liwath agar menghampiri mereka.

Sambil berdesak-desakan di pintu rumah Nabi Luth setelah mendengar info ada manusia yang sangat ganteng, kaum liwath itu berteriak-teriak kepadanya untuk dibukakan pintu rumah. Rupanya mereka ingin bersenang-senang dengan ketiga orang ganteng.

Saat itulah ketiga manusia rupawan tersebut memberitahukan siapa jati diri mereka sebenarnya kepada Nabi Luth dan kaumnya. Tak lupa mereka juga menyampaikan maksud kedatangannya ke negeri Sadum yaitu untuk menimpakan azab yang sangat pedih. Bukan untuk bersenang-senang dengan kaum keji.

Karena saking gatelnya ingin bersenang-senang, kaum Nabi Luth pun nekat mendobrak pintu Nabi Luth. Brak! Tapi salah satu malaikat berhasil membuat mata mereka menjadi buta dan sempoyongan.

Nabi Luth pun diminta untuk membawa keluarganya keluar dari negeri Sadum di malam hari karena azab yang akan Allah timpakan direncanakan datang di pagi harinya. Mereka juga menasihatinya agar ia dan keluarganya tidak menoleh ke belakang saat azab itu turun, agar tidak menimpa mereka.

Di malam hari, Nabi Luth ‘alaihissalam dan keluarganya pergi meninggalkan negeri Sadum. Setelah mereka pergi meninggalkannya dan tiba waktu Subuh, maka Allah mengirimkan kepada mereka azab yang pedih yang menimpa negeri itu.

Saat itu, negeri tersebut bergoncang dengan goncangan yang keras, seorang malaikat mencabut negeri itu dengan ujung sayapnya dan mengangkat ke atas langit, lalu dibalikkan negeri itu; bagian atas menjadi bawah dan bagian bawah menjadi atas, kemudian mereka dihujani dengan batu yang panas secara bertubi-tubi. Allah Ta’ala berfirman, “Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,–Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 82-83)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya selain istrinya dengan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mereka menjaga pesan itu, bersyukur atas nikmat Allah dan beribadah kepada-Nya.

Maka Nabi Luth dan keluarganya menjadi teladan baik dalam hal kesucian dan kebersihan diri, sedangkan kaumnya menjadi teladan buruk dan pelajaran bagi generasi yang datang setelahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.” (Al-Qur’an Surah Adz Dzaariyat: 37).

Sumber : Media Dakwah

ADI Dewan Dakwah Aceh Kirim Kafilah Dakwah Ramadhan ke Perbatasan Aceh dan Sumut

Banda Aceh — Akademi Dakwah Indonesia (ADI) yang merupakan lembaga pendidikan binaan Dewan Dakwah Aceh mengirimkan 31 dai dan daiyah yang tergabung dalam “Kafilah Dakwah Ramadhan” ke sejumlah daerah di perbatasan dan pedalaman Aceh serta Sumatera Utara selama Ramadhan 1443 H.

Daerah tersebut diantaranya ke Subulussalam, Pulau Banyak Aceh Singkil dan Aceh tenggara. Juga ke Kabupaten Dairi dan Karo di Sumatera Utara.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur ADI, Dr Abizal Muhammad Yati, Lc, MApada acara pelepasan Kafilah Dakwah Perbatasan di Komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar, Senin (28/03/2022).

“Ke 31 kafilah dakwah itu terdiri atas 20 dai dan 11 daiyah. Mereka akan bertugas satu bulan penuh selama Ramadhan terhitung dari 29 Sya’ban hingga 1 Syawal 1443 H,” kata
Dr Abizal.

Ia menjelaskan kegiatan utama yang akan dilaksanakan para dai daiyah muda itu adalah
menghidupkan masjid untuk shalat berjamaah lima waktu, imam shalat taraweh dan shalat fardhu, ceramah ramadhan, khutbah jumat dan idul fitri.

Selanjutnya mengajarkan al-qur’an kepada semua kalangan, pembinaan muallaf, praktek ibadah dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.

“Pengiriman kafilah dakwah ini bekerjasama dengan Forum Dakwah Perbatasan (FDP). Dimana FDP menanggung biaya tranportasi dan konsumsi selama kegiatan berlangsung,” kata Abizal.

Sekretaris ADI, Ustaz Hanisullah M.Pd menambahkan sebelum para kafilah itu diberangkatkan ke lokasi tugas, mareka terlebih dahulu mengikuti pembekalan selama dua hari. Pembekalan tersebut bertujuan agar mareka ini memahami konsep dakwah di dalam masyarakat.

Adapun materi yang disampaikan diantaranya Urgensi Dakwah di Perbatasan, Peta Dakwah, Karakteristik Mad’u dan Memahami Medan Dakwah. Selanjutnya Jurnalistik Dakwah, Da’I Positif, Akhlak Para Dai dan Praktek Khutbah/Ceramah.

“Kita berharap dengan pembekalan tersebut mareka akan semakin percaya diri dan siap menjalankan tugasnya di daerah,” kata Ustaz Hanisullah.

Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Aceh Dr. Muhammad AR, M.Ed dalam sambutannya mengatakan sejumlah daerah di perbatasan Aceh dan Sumut sangat membutuhkan kehadiran para dai.

Masyarakat di perbatasan tersebut sangat tertinggal di semua bidang kehidupan terutama bidang agama. Selain itu disana sering terjadinya pendangkalan aqidah dan minim pengetahuan islam serta lemah dalam mengamalkan syariat.

Ia juga berpesan kepada para dai daiyah Kafilah Dakwah Ramadhan untuk memasang niat yang ikhlas, bersabar dalam menghadapi tantangan dakwah dan menyampaikan dakwah dengan cara santun dan lemah lembut.

“Kami mengharapkan melalui kafilah dakwah ini bisa menghidupkan daerah-daerah di pedalaman dan perbatasan Aceh dengan kegiatan-kegiatan keagamaan selama bulan ramadhan. Sehingga masyarakat dapat mengisi ramadhan dengan amal-amal shaleh dan mendapatkan ilmu pengetahuan,” pungkas Dr Muhammad AR.

Rakerwil Dewan Dakwah Aceh Lahirkan Sejumlah Rekomendasi

Banda Aceh – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Dakwah Aceh yang berlangsung mulai tanggal 21-23 Maret 2022 di Hotel Grand Nanggroe, Lueng Bata, Banda Aceh telah berakhir. Kegiatan yang diikuti oleh 40 peserta dari pengurus Dewan Dakwah Kab/Kota dan Dewan Dakwah Aceh itu ditutup secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Drs Avid Salihin, MM, Rabu (23/03/2022).

“Tentu saja kita telah mendapatkan rekomendasi-rekomendasi dari kegiatan ini. Selain itu kami berharap sejumlah materi-materinya akan menjadi bekal didalam menjalankan aktivitas dakwah di daerah masing-masing,” kata Ustaz Avid.

Ia juga atas nama Dewan Dakwah menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Gubernur Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh atas segala fasilitas dan dukungan yang telah diberikan sehingga Dewan Dakwah Aceh telah dapat melaksanakan Rakerwil ini.

“Mudah-mudahan apa yang telah kita lakukan ini diberkahi oleh Allah SWT dan Insha Allah kita akan mendapatkan dukungan seterusnya dari Pemerintah Aceh,” kata Ustaz Avid.

Sementara itu pimpinan sidang Rakerwil Dewan Dakwah Aceh Tahun 2022, Dr Abizal M Yati Lc MA mengatakan Rakerwil tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi, baik eksternal maupun internal.

Adapun rekomendasi eksternal diantaranya Pemerintah Aceh diminta perhatian khusus dan tegas terhadap ponpes yang terlibat tindak kekerasan dan kasus asusila.

Adanya evaluasi menyeluruh terhadap dayah-dayah yang melakukan atau terlibat dalam perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual dengan peninjauan standar akreditasi dayah tersebut dan juga sanksi operasional. Membuat standar kode etik pendidik/guru dayah secara baku yang bisa menjadi patron dalam penyelenggaraan pendidikan dayah.

“Melihat fenomena selama ini dimana banyak kasus kekerasan terhadap santri yang dilakukan oleh ustaz dan santri senior di lingkungan pesantren serta kasus asusila seperti pelecehan oleh oknum ustaz/teungku terhadap santriwati. Maka perlunya pengawasan dan pengaturan ketat dalam memberikan izin operasional pesantren serta sanksi yang berat bagi pelakunya,” kata Dr Abizal.

Ia menjelaskan mengingat banyaknya kebutuhan dai di lapangan yang sangat mendesak maka sangat dibutuhkan lembaga khusus untuk pendidikan dan pelatihan (diklat) dai. Untuk diklat tersebut, Dewan Dakwah Aceh siap untuk berkolaborasi dengan dinas terkait.

Rakerwil juga merekomendasikan agar dai perbatasan tetap dipertahankan keberadaannya dengan memperjelas tupoksi dan indikator kinerja yang terukur melalui monitoring dan evaluasi berkala dengan melibatkan legislatif dan ormas Islam.

“Selain itu dalam rangka penguatan pelaksanaan Syariat Islam, adanya sebuah gampong percontohan islami dan program khusus pembinaan muallaf secara berjenjang,” jelas Ustaz Abizal.

Direktur Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh ini menambahkan hasil rekomendasi internal diantaranya penguatan organisasi dan peguatan langkah dakwah dengan menjalankan langkah-langkah yang strategis dalam pengawalan aqidah, penegakkan syariah, merekat ukhuwah, dan mendukung solidaritas umat Islam.

Target yang ingin dicapai dari penguatan organisasi adalah terwujudnya organisasi Dewan Dakwah yang hidup, aktif, mandiri, kuat dan solid di seluruh tingkatan yang didukung dengan kekuatan finansial yang cukup.

“Penguatan organisasi diantaranya perlu memahami dan menghayati kembali Khittah Dakwah sebagai salah satu panduan perjuangan gerakan dakwah di Dewan Dakwah. Menyiapkan dan meningkatkan kader-kader pemimpin di seluruh tingkatan melalui Lembaga Kaderisasi Dewan Dakwah,” kata Ustaz Abizal.

Sedangkan target yang ingin dicapai dari penguatan langkah dakwah adalah terlaksananya langkah-langkah dan kegiatan dakwah ilallah oleh pengurus dan dai Dewan Dakwah Aceh di seluruh kabupaten/kota.

Diantaranya Dewan Dakwah secara organisasi senantisas menjaga hubungan yang harmonis dengan seluruh partai politik yang memperjuangkan dan melaksanakan nilai-nilai Islam serta menyiapkan kader untuk masuk dalam instansi pemerintah maupun non pemerintah.

Selain itu perlunya berdakwah ke semua kalangan seperti pemuda, remaja, pelajar, mahasiswa serta muslimah. Pelaksanaan proses pendidikan dan kaderisasi haruslah berorientasi dan bertujuan untuk melahirkan dai Ilallah yang memiliki kemampuan dalam memandu ummat di semua aspek kehidupan.

Dewan Da’wah Langsa Lakukan Safari Dakwah Ramadhan ke Lapas Lhoknga

Aceh Besar — Dalam rangka mempererat tali silaturrahmi dan menjalin ukhuwah dakwah di bulan Ramadhan. Pengurus Daerah Dewan Da’wah Kota Langsa melaksanakan berbagai kegiatan selama Bulan Suci Ramadhan 1443 H diantaranya Safari Ramadhan di Lapas Kelas III Lhoknga Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 21 April 2022.⁣

Safari Ramadhan Dewan Da’wah Kota Langsa ini juga perdana dilakukan di luar Kota Langsa. Safari Dakwah ini diisi oleh penceramah Ust. Muhammad Ihsan, M.Ag dan didampingi oleh sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa Afrizal Refo, MA⁣
Pada kesempatan itu, Sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa Afrizal Refo, MA menyampaikan bahwa Safari Ramadhan sebelumnya telah dilaksanakan di beberapa masjid kota Langsa seperti Masjid At-Taqwa Kodim, Masjid Istiqomah Hanura, Masjid Al-Falah Gedubang Aceh dan Masjid Baiturrahim Paya Bujok Seuleumak. ⁣
Adapun tujuan dari Safari Ramadhan ini, antara lain memberi Tausyiah guna memberikan siraman rohani kepada para jama’ah yang hadir juga menjalin Silaturahmi dan diakhiri dengan shalat tarawih berjamaah guna mempererat tali silaturrahmi, ujar Afrizal Refo.⁣
Pelaksanaan kegiatan Safari Ramadhan 1443 H ini, diawali dengan pengantar dari Kasubsie Pembinaan Kelas III Lhoknga Bapak Bahriza,SE Yang juga didampingi oleh Bapak Askandary S.H (Staf Pembinaan Lapas) dalam sambutannya beliau menyampaikan beberapa hal terkait kondisi Lapas Kelas III Lhoknga saat ini, salah satunya adalah kondisi kapasitas. Menurut beliau tingkat kapasitas masih memadai untuk dipantau, kondisi Lapas Kelas III Lhoknga saat ini dihuni sekitar 220 orang dengan kapasitas 250 orang.⁣
Sementara itu, dalam sambutannya Kepala Lapas Kelas III Lhoknga Aceh Besar bapak Yusrizal, SH.,M.Si menyampaikan terima kasih kepada Tim Safari Dewan Da’wah Kota langsa yang sudah bersilaturahim ke Lapas Kelas III Lhoknga dalam bulan Ramadhan tahun ini.⁣
Bersama Kepala Lapas Kelas III Lhoknga Aceh Besar Tim Safari berkesempatan melihat situasi dan kondisi keamanan serta kenyamanan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di dalam Lapas dan berharap agar Safari Ramadhan ini dapat dimaknai positif baik oleh petugas dan WBP sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan yang begitu mulia ini. ⁣
Pada sambutannya Kepala Lapas Kelas III Lhoknga Bapak Yusrizal, SH.,M.Si juga menyampaikan beberapa hal yang dianggap sangat penting untuk dilaksanakan oleh para petugas pada Lapas pada khususnya terkait Antisipasi akibat yang dapat timbul dikarenakan kerusuhan di Lapas Kelas III Lhoknga terlebih di saat bulan Ramadhan, beliau juga berpesan “ Dibulan Ramadhan yang suci dan baik ini, marilah kita berbuat baik sehingga amal ibadah kita dapat dilipatgandakan, salah satu bentuk berbuat baik itu adalah dengan cara melaksanakan tugas yang kita emban dengan sebaik-baiknya ”⁣
Sosialisasi ini dilanjutkan dengan Kultum oleh Wakil Ketua Pemuda Dewan Da’wah Kota Langsa Ustad Muhammad Ihsan M.Ag selepas Shalat Isya menjelang tarawih berjamaah. ⁣
Dalam kultum yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Ihsan, beliau mengajak seluruh warga binaan Lapas Lhoknga Aceh Besar agar bersabar atas segala kondisi yang ada juga sembari terus meningkatkan amal shaleh juga terus bersyukur atas segala nikmat yang masih diberikan oleh Allah SWT.