Ketua dan Anggota MUI/MPU Bebas Dari Unsur Partai, Ormas dan ASN

Jika ingin berbicara yang benar dan jujur maka seharusnya yang datang pertama sekali adalah dari Markas alim ulama, yaitu Majelis Ulama Indonesia, di Aceh disebut Majelis Permusyawaratan Ulama, karena mereka adalah terdiri dari pewaris Nabi yang tidak mau disogok/disuap, dan mereka tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.

Mereka bekerja atas nama kepentingan agama, bukan kepentingan pemerintah, oleh karena itu seeloknya para ketua atau anggota dari badan yang  terhormat ini haruslah bebas ketergantungan kepada partai, ormas atau dari unsur  Aparatur Sipil Negara (ASN).

Jika tidak terbebas dari unsur-unsur tersebut, ditakutkan kalau ada keputusan pemerintah atau menteri yang menyudutkan agama atau tidak memihak kepada agama, maka badan ini hanya menambah luka di atas luka karena mereka diam seribu bahasa.  Jika mereka kuat dan benar-benar menjaga agama, maka ikutilah contoh seperti Buya Hamka di Masa Sukarno dan di masa Orde Baru Suharto. Beliau tetap konsisten membela  agama dan menomorduakan bisikan pemerintah walaupun harus masuk penjara atau dipecat dari Ketua MUI.

Selama ini yang paling getol  menolak kekeliruan pemerintah hanya Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat dan mereka semuanya sepakat untuk tidak ikut dan menerima arahan baik dari Ketua NU pusat, Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri-menteri lain-pun kalau itu bertentangan dengan syariat Islam. Mereka sangat berani dan masih eksis sampai sekarang dan juga kompak dengan pemerintah Sumatera Barat.

Jika begini keadaan ketua dan anggota MUI/MPU seluruh Indonesia, maka Islam tidak akan terusik dan aliran-aliran sesat tidak akan berkembang. Sekarang coba perhatikan, agama baru seperti Baha’I akan mendapat tempat di Republik ini, Ahmadiyah Qadian yang sudah sah itu aliran sesat akan ditinjau ulang, aliran Syiah yang dulunya menurut Majlis Ulama jelas sesat, mungkin tidak lama lagi akan menjadi agama yang sah. Tetapi adakah Ketua atau anggota  MUI-MUI di seluruh Republik Indonesia berteriak dan menolak secara tegas kehadiran aliran-aliran yang tidak jelas itu, terus terang kami rakyat jelata tidak pernah mendengarnya seolah-olah apa yang dicetuskan pemerintah adalah kita wajib mendengar dan mengikuti (sami’na waatha’na). Kalau begitu kita harus bertanya kepada diri sendiri, pantaskan saya menjadi pengurus lembaga yang terdiri dari pewaris Nabi?

Mungkin kalau kita bahagian dari ormas tertentu, atau berasal dari ormas tertentu sudah pasti tidak berani untuk melawan atau mengkritik sesuatu yang datangnya dari pengurus ormas tersebut, misalnya kalau Ketua PB –NU mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak sahih secara Syariat, beranikah para pengurus NU di daerah untuk menolaknya atau mengkritiknya?  Tentu hal ini tidak pernah terjadi, bahkan masa Sukarno-pun Pengurus NU- dan Muhammadiyah-pun menerima ajaran Sukarno dengan Nasakom-nya (Nasional Agama Komunis), demikian juga sekarang dengan Islam Nusantaranya, apakah ramai atau banyak orang yang mempertanyakan apa itu Islam Nusantara? Apakah Islam kita anut sekarang dan Islam yang dianut oleh leluhur kita tidak benar, hanya Islam Nusantara cetusan pemerintah yang paling aktual? Nampaknya semua ulama diam saja, karena kalau ada ulama yang mau “berkata benar walaupun pahit” nasibnya kalau bukan mati atau penjara.

Kita kepingin ulama seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Ahmad bin Hanbal, Hasan Al-Bashri, Imam Sufyan Tsauri, dan Said bin Musayyab yang sangat takut kepada Allah daripada penguasa. Kita mohon kepada Allah agar roh Islam yang ada pada para ulama tersebut  bisa muncul kepada ulama kita sekarang ini agar mereka menjadi barisan akhir penyelamat Islam, bukan para pembeo.

Kita hidup di zaman paling akhir dan hampir semua ulama tahu bahwa ini zaman kebangkitan Islam, tetapi upaya menahan lajunya kebangkitan tersebut dilakukan dengan berbagai macam baik dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani serta kaum munafiqun, namun  para ulama kita tidak ada yang berani mengkaunternya atau melawan ide-ide penghancuran dan pelemahan semangat umat Islam.

Mungkin beginilah nasib umat akhir zaman ini karena semua orang akan dikalahkan oleh pengaruh harta, tahta dan wanita cantik.  Perlu diingat bahwa Bani Israel dulu hancur dikarenakan oleh wanita, karena mereka sangat menggandrungi dunia (materialsme).

Kita bisa membaca sejarah Syaikh Bal’am dan Syaikh Barsisa yang hidup dizaman Nabi Musa a.s. keduanya tidak mengamalkan tradisi keilmuan, akhirnya terseret kenikmatan dunia dan melepaskan sendi-sendi syari’at hingga harus mati dalam keadaan kafir.

Makanya harta itu jangan dikejar, nanti anda akan menjadi budaknya, jabatan jangan dibeli atau diambil secara tidak halal, nanti ia akan menjadi menyesal sepanjang masa. Ingat  jabatan itu akan berakhir, harta itu akan habis dan tinggal untuk orang lain karena ianya tidak kekal, karena itu mohon petunjuk kepada Allah agar kita terbebas menjadi budak harta dan tahta.

Demikian pula kalau yang bekerja di Markaz para ulama tersebut terdiri dari Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur  Sipil  Negara, maka sangat tidak mungkin mengkritik atau menolak atasannya seperti Wakil Presiden dan Menteri Agama. Beranikah  ASN di bawah Kemenag melawan atasannya Menteri Agama atau Wakil Presiden? Belum pernah ada, kecuali kalau mau tamat riwayatnya dari ASN.

Makanya gagasan saya tentang Ketua MUI dan anggota-anggota MUI semuanya berasal dari orang-orang netral dan istiqamah terhadap Allah dan Rasul-Nya, jauh dari sifat munafik dan kepura-puraan.  Mereka adalah terdiri dari pewaris Nabi yang mulia yang mengutamakan Islam dan ummatnya secara kesuluruhan. Mereka tidak tergiur dengan jabatan, uang dan fasilitas yang memadai.

Rasulullah SAW mewariskan kita dua perkara Al-Qur’an dan Sunnah. Kedua ini adalah  sumber yang paling benar dan orang-orang yang selamat  adalah yang tetap berpegang teguh kepada kedua sandaran ini. Nabi saw mewariskan  ilmu kepada kita, bukan harta dan jabatan, karena itu eloklah kalau kita mengambil warisan Nabi tersebut dan bermanfaat bagi kita pribadi ataupun kepada ummat banyak.  Makanya ulama yang benar adalah mereka-mereka yang menjauhkan diri dari pintu-pintu penguasa, demikian kata seorang ulama tabiin, Said bin Musayyab.

Semoga para ulama kita lebih banyak yang mengikuti model Abu Hanifah, Imam Malik, Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, Hasan Basri dan Said bin Msayyab.

Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Penulis Adalah Ketua Dewan Dakwah Islmiyah Aceh

Indonesia Ibarat Gadis Cantik Yang Kaya Tetapi Bisu

Kalam Pembuka

Membaca judul artikel ini: “Indonesia ibarat gadis cantik yang kaya tetapi bisu” boleh menimbulkan banyak interpretasi selaras dengan kemampuan, tujuan dan kapasitas seseorang yang menafsirkannya. Ia dapat ditafsirkan Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki keindahan panorama alam, dapat juga ditafsirkan ia memiliki banyak hasil alam, dan juga dapat diartikan ia mempesonakan dengan banyaknya kekosongan lahan dan semisalnya.

Penafsiran tersebut dapat mengundang banyak orang asing untuk berdomisili penuh di dalamnya, dapat juga mengundang orang asing untuk berniaga di sana, boleh jadi juga menjadi pesona bagi orang asing untuk mencari rizki di sana, yang paling ekstrim dapat kita maknai; boleh jadi dapat mengundang orang asing untuk menguasai sepenuhnya sicantik bisu tersebut.

Untuk penguasaannya dapat terjadi melalui beberapa jalur; politik, perdagangan, pinjaman uang, pendidikan dan pemasukan tim ekspert. Semua itu sangat didambakan oleh negara luar terkait dengan potensi terpendam di bumi Indonesia yang apabila dilakukan sesuatu oleh pihak asing Indonesia tidak dapat berteriak apa-apa karena bisu.

Bisu itupun disebabkan oleh beberapa faktor: faktor keterbatasan kemampuan anak bangsa Indonesia, faktor keserakahan para penguasa terhadap rakyatnya dengan menjadikan pihak asing sebagai majikannya, faktor terlanjur meminjam dana sehingga ketika digertak menjadi bisu karena tidak mampu, dan bisu karena rakyat Indonesia tidak punya dignity, identity dan tidak berpegang kuat kepada religy.

Tiga poin terakhir itu menjadi tolak ukur sehingga membuat Indonesia menjadi gadis cantik lagi kaya tetapi bisu. Rakyat Indonesia tidak punya harga diri sehingga dengan mudah infiltrasi asing mengatur kehidupannya, mereka juga sudah meninggalkan identitas murni Indonesia yang berjaya mengusir penjajah suatu ketika sehingga menjadi sebuah negara berdaulat, satu bangsa beradab dan satu territorial yang mahal harga.

Yang paling penting lagi adalah rakyat Indonesia sudah melepaskan diri dari ikatan doktrin agama (faktor religy) sehingga dengan mudah menerima doktrin dan budaya agama dari bangsa luar. Faktor ini mendominasi kebisuan Indonesia, mendominasi ketertinggalan Indonesia dan mendominasi kedunguan Indonesia berbanding dengan negara lain yang masih komit dengan ideologi bangsa dan negaranya seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme dan nasionalisme serta sejumlah isme-isme lainnya, namun Indonesia yang dimiliki dan dimerdekakan oleh dominasi 99% ummat Islam menjauh dari ideologi Islamisme.

PROFIL INDONESIA

Mengurai sepintas profil Indonesia yang cantik lagi kaya, ia bernama Republik Indonesia, karena bentuk negaranya kesatuan dengan bentuk pemerintahannya republik maka sering juga ia disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai negara di Asia Tenggara yang dilalui oleh garis khatulistiwa, ia berada pada daratan benua Asia, Australia, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Ia merupakan sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang mencapai 17.504 pulau, yang dalam tahun 2020 berpenduduk 270.203.917 jiwa, dan ia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang diperkirakan mencapai lebih dari 230 juta jiwa.

Baca Juga:  Dewan Dakwah Aceh dan Forum Dakwah Perbatasan Gelar Sunatan Massal Gratis

Di darat NKRI berbatasan dengan negara Papua Nugini di Pulau Papua, Malaysia di pulau Kalimantan dan Timor Leste di Pulau Timor. Sedangkan Negara yang berbatasan laut dengan Indonesia adalah Singapura, Filipina, Australia dan India (Kepulauan Andaman dan Nikobar).

Terkait dengan hubungan luar negeri Indonesia merupakan negara anggota PBB dan negara anggota lembaga-lembaga anderbow PBB, Indonesia juga menjadi negara anggota APEC, ASEAN, G-20, ADB, OKI, IORA dan organisasi-organisasi Internasional lainnya. Ia juga sebagai salah satu negara pendiri ASEAN.

Negara yang beribukota Jakarta tersebut memiliki luas wilayah 1.904.569 km2 dengan agama resmi: Islam 87.2%, Protestan 7%, Katolik 2.9%, Hindu 1.7%, agama lainnya 0.9% (Termasuk Buddha dan Kong Hu Chu) dalam estimasi tahun 2010. Indonesia mempunyai banyak suku bangsa seperti Jawa 40.1%, Sunda 15.5%, Melayu 3.7%, Batak 3.6%, Madura 3%, Betawi 2.9%, Minangkabau 2.7%, Bugis 2.7%, Banten 2%, Banjar 1.7%, Bali 1.7%, Aceh 1.4%, Dayak 1.4%, Sasak 1.3%, Tionghoa 1.2%, suku bangsa lainnya 15%  dalam estimasi tahun 2010.

Bahasa resminya adalah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu Pasai dengan mata uangnya rupiah (IDR), hari nasionalnya 17 Agustus, dan lagu kebangsaannya Indonesia Raya. Kode teleponnya +62, kode dominan internetnya: id, ia memiliki banyak pulau dan pulau besarnya antara lain: Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Irian Jaya. Pulau-pulau besar tersebutlah yang selalu dilirik oleh pihak asing seperti pria hidung belang melirik gadis cantik yang kaya tetapi bisu.

IBARAT GADIS CANTIK YANG KAYA TETAPI BISU

Tidak ubahnya Indonesia seperti gadis cantik lagi kaya namun bisu sehingga ketika terjadi suatu ancaman terhadap dirinya hanya mampu menggoyang-goyangkan tubuh badan saja tetapi tidak berdaya untuk bersorak meminta bantu karena tidak bersuara. Akibatnya para pecundang dengan semena-mena dan seenaknya saja dapat mencolek, mencium, meremas, dan bahkan memperkosa sang gadis yang tidak berupaya meminta bantu sama pihak lain tersebut. Ia menyadari dirinya cantik lagi berharta sehingga banyak mata memandang kepadanya, manakala pemilik mata mengetahui ia bisu dan tidak bersuara, tatkala itulah ia diganggu dan diperkosa, begitulah permisalan untuk Indonesia.

Setidaknya demikianlah gambaran kondisi Indonesia hari ini yang diserbu oleh kuasa besar dunia untuk kepentingan mereka. Sudah bertahun-tahun warga negara Cina dari Tiongkok memasuki Indonesia dengan bebas dan aman tak kisah legal atau illegal, tidak punya suara (bisu) rakyat Indonesia untuk menolaknya. Manakala perihal tersebut merasa terganggu kuasa besar dunia lain (USA) yang sangat berkepentingan dengan kekayaan dan kecantikan Indonesia maka negara Paman Sam tersebutpun tidak mau kalah dengan saingan utamanya RRT untuk menguasai bodi sigadis nan cantik tetapi bisu. Maka dikirimlah 1000 prajurit angkatan darat AS berkolaborasi dengan 850 prajurit angkatan darat TNI yang berbasis di Palembang, Sumatera dan pulau-pulau lain di wilayah timur Indonesia.

Baca Juga:  Hasil Akreditasi Dayah 2021 Akan Dijadikan Referensi Kualifikasi Dayah di Banda Aceh

Kenapa aktivitas besar dengan membutuhkan biaya besar dapat segera wujud seperti itu tentunya karena keureuleng ngang keu abeuek keureuleng kuek keupaya (mata pandang burung elang ke kolam dan mata pandang burung bangau ke rawa-rawa) karena di sana ada umpan dan makanan bagi keduanya, maknanya mereka melakukan itu semua karena ada sorotan yang ingin dikuasai pada sosok gadis cantik yang tidak berdaya. Makanya siapa saja dapat mengatur dan dapat mencaplok Indonesia sekarang karena negara yang berazas Pancasila tersebut tidak berdaya membela diri ibarat sigadis cantik yang kaya tetapi bisu.

Ia hanya punya dua pilihan; melawan dengan menggerak-gerakkan anggota badan atau menerima dan menikmati prilaku yang dilakukan karena tidak berdaya memanggil orang untuk minta bantuan. Jadilah Indonesia negara yang dipermainkan pihak luar dengan menjajah rakyatnya, merampas hartanya, mengutak atik kedudukannya sebagaimana yang pernah terjadi dalam zaman penjajahan oleh Belanda, Jepang dan penguassaan asing hari ini yang sangat memalukan dan merisaukan.

Dalam situasi semacam ini, Indonesia yang punya pemerintah terkesan pemerintah itu impoten, kalaulah kita ibaratkan pemerintah itu sebagai pihak yang paling berkuasa terhadab dirinya Indonesia namun ianya impoten maka untuk memuaskan syahwat Indonesia ia menerima pemuas nafsunya dari wilayah luar, itulah yang sedang terjadi sekarang di Indonesia.

Yang dikhawatirkan selanjutnya adalah; manakala mereka telah puas merampas mahligai dan mahkota dalam tubuh Indonesia, salah satu pihak berkeras untuk dapat menguasai penuh Indonesia tetapi ditantang oleh pihak lain maka mereka bisa saja berdamai dengan memecah belahkan Indonesia menjadi negara-negara kecil agar masing-masing mereka mendapatkan porsi darinya. Kalau opsi ini yang terjadi maka pengalaman Uni Soviet, Yugoslavia dan India akan terulang di Indonesia.

ALTERNATIF SOLUSI

Alternatif solusi untuk mengatasi suasana yang sudah sangat mencekam tersebut tidak ada lain melainkan rakyat Indonesia harus berani dan siap menampakkan identitasnya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat di bawah naungan dan perlindungan lembaga dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ketika ia sudah berani menampakkan identitasnya kepada orang lain maka orang lainpun tidak berani mempretelinya lagi dalam kondisi dan situasi bagaimanapun juga.

Alternatif solusi selanjutnya adalah rakyat Indonesia harus lugas dan tegas mempertahankan harga diri (dignity) sebagai sebuah bangsa yang berbasis ideologi yang diakui dunia internasional. Dengan demikian, pencaplokan wilayah, pemasukan warganegara asing, pemaksaan nafsu serakah asing ke Indonesia harus berani ditolak, dilawan, dan bila perlu diperangi dengan penuh perhitungan. Kalau tidak demikian NKRI ini akan kehilangan marwah, tidak bergezah, dan malah membuat rakyat semakin hari semakin susah.

Baca Juga:  Megawati, Soekarno Dan Komunisme

Alternatif solusi lainnya dan ini yang paling urgen sekali adalah; negara mayoritas muslim tersebut harus mengedepankan doktrin Islamnya dalam mengurus negara. Karena Islam merupakan salah satu agama besar dunia yang diakui oleh lembaga dunia maka tidak ada pihak yang boleh menghambat dan melarang praktik doktrin Islam terhadap ummatnya termasuk dalam mengurus dan mengelola negara sebagaimana penganut agama Hindu mengelola negara India, penganut agama Budha mengelola negara Myanmar dan Thayland, seperti penganut agama Khatolik dan Protestan yang mengelola negara-negara di belahan benua Eropa dan Amerika.

Kalau tiga hal tersebut tidak berani dan malah tidak mau dilakukan maka terus meneruslah Indonesia itu menjadi gadis cantik lagi kaya tetapi bisu yang hari-hari menjadi mangsa kuasa besar dunia untuk memperkosanya baik secara langsung maupun tidak langsung. Punca yang paling inti dari tiga alternatif solusi itu adalah dimensi religy karena ummat Islam diajarkan oleh pembawa Islam Muhammad Rasulullah SAW dengan cara demikian.

Sebagai contoh konkrit, Yatsrib pada mulanya dikuasai oleh bangsa Yahudi dengan agama Yahudinya, Majusi dengan kepercayaan Majusinya, Nashrani dengan keyakinan Nashraninya, namun ketika ideologi Islam ditebarkan Muhammad di sana kemudian Yatsrib dapat digantikan nama dengan Madinah, aturan hidup dapat diwujudkan yang bernama Shahifah Madinah (Konstitusi Madinah), Massjid dapat didirikan dengan megah yang kini terkenal dengan Masjid Nabawi, ummat Islam (Muhajirin dan Anshar) dapat dipersatukan sehingga menjadi kekuatan besar yang tidak sanggup dilawan musuhnya, dan sumber ekonomi dapat diwujudkan yang dimulai dengan pewujudan pasar tradisional sehingga wujud sistem ekonomi Islam.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah; kenapa dahulu ummat Islam yang minoritas mampua menaklukkan wilayah yang dikuasai oleh kaum mayoritas dan sekarang ummat Islam mayoritas di negeri sendiri dijadikan seperti gadis bisu oleh musuh-musuh Islam? Jawabannya ada pada masing-masing kita, coba ambil ibrah dari perjalanan sirah, ambil pengalaman dari perjalanan zaman, ambil pengetahuan dari sumber tuhan, dan ambil kekayaan dari sumber alam. Semoga sahaja menjadi bahan pemikiran kalau seorang gadis cantik secantik apapun apabila dia bisu maka tidak mampu membebaskan diri dari perkosaan orang. Sebaliknya seorang gadis jelek sejelek apapun dia namun punya suara dan mau bersuara serta melawan kedhaliman luar insya Allah pengalaman Yatsrib akan dapat di aplikasikan di Indonesia.

Wallahu a’lam… mau berbuat atau mau diaaaammmm,,,,,,,…


Penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan HukumUIN Ar-Raniry.

Menghindari Kesengsaraan di Dunia

Manusia yang hidup di dunia persis laksana sedang berada pada sebuah halte yang sedang menunggu bus  untuk berangkat. Demikian pula manusia di dunia ini baik lelaki maupun perempuan, anak-anak, pemuda, orang dewasa dan orang tua sekalipun akan berangkat menemui ajalnya.

Ketika ajal tiba, suka atau tidak suka, kematian atau keberangkatan itu pasti terjadi. Namun dalam kehidupan dunia, manusia bisa saja senang ataupun susah, tetapi orang-orang yang memiliki sedikit keimanan dalam dadanya akan berfikir dua tiga kali apakah hidup ini susah atau senang, makanya jika anda hendak hidup tenang atau menghindari kesengsaraan di dunia ini, maka ikutilah  petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Berikut ini kita lihat sabda Rasulullah  SAW yang bermakna adalah:

Artinya: Kalau anda memiliki empat perkara, maka kalian tidak akan mengalami sengsara didunia: pertama, benar dalam perkataan; kedua, menjaga amanah; ketiga, akhlak yang baik; keempat, tidak sarakah dalam makanan. (Dalam Shahih al-Jami; Jilid I Hadist 873).

  1. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Berkatalah yang benar, bertaqarrublah dan terimalah kabar gembira, bahwa sekali-kali amal seseorang tidak  bisa memasukkannya ke sorga.”Mereka bertanya, “Tidak pula engkau ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Tidak pula aku,” kecuali jika Allah melimpahkan dengan rahmat-Nya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

  1. Allah berfirman dalam al-Qur’an:

Artinya: Sungguh, Allah menyuruhmu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya,…  (An-Nisa’ : 58. ).  (jika amanah disia-siakan atau atau tidak dilaksanakan secara adil dan benar, maka tunggu azab Allah akan disegerakan).  Karena itu jujurlah anda, benarlah anda dan berterimaksihlah kepada Allah swt., dari segala kealpaan dan kekhilafan serta tidak lagi mengulangi  berbuat kedhaliman.

  1. Allah berfirman dalam al-Qur’an:

اسَدِيۡدً  قَوۡلًا وَلۡيَقُوۡلُوا  للّٰهَ ۖفَلۡيَتَّقُوا

Artinya: …hendaklah mereka bertaqawa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan  tutur kata yang benar. An-Nisa’ : 9    ( Berkata benar adalah symbol keislaman dan ketaqwaan,  hindarilah berbohong, menipu, dan kemunafikan). Munafik adalah  antara perkataan dan  perbuatan sangat jauh celahnya. Ketidak jujuran akan menghantarkan kita ke neraka. Kemudian dalam hadits yang lain  Rasulullah saw bersabda lagi yang artinya adalah:

  1. Rasulullah SAW bersabda:
Baca Juga:  Satu Tahun Sedekah Nasi Jumat

Artinya: Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan orang mukmin pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik.  (H. R. Tirmizi,  Ahmad, dan Bukhari). (Makanya siapapun dia, rakyat jelata, ataupun presiden, atau para elit penguasa dan para perampas harta rakyat dan  harta Negara,  para kuli atau buruh kasar, petani dan para ulama berhati-hatilah agar tidak terjerumus ke dalam akhlak mazmumah (tercela) yang merusak tatanan dunia dan hukum Allah.  Kemudian dalam hadis berikut Rasulullah saw bersanba yang artinya:

Artinya: Rasulullah ditanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama imannya? Baginda menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya.”(H.R. Bukhari).

Kemudian Rasulullah ditanya lagi:

Artinya: “Apa itu agama?”Beliau menjawab, “Agama adalah akhlak yang baik.”(H. R. Bukhari)

Kebaikan akhlak adalah cerminan bahwa ia adalah seorang  mukmin sejati dan tidak mudah tergoyahkan dengan uang dan jabatan, ia pun tidak suka menjilat para penguasa akan tetapi ia berkata yang benar itu benar dan yang salah itu salah.   Demikian pula seseorang yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran agamanya, setia kepada Islam, tetap istiqamah dengan seluruh ajrannya, maka ia tergolong kepada orang yang berakhlak mulia. Dengan berakhlak mulia-lah kita mendapat keamanan, ketenangan, jaminal Allah di dunia ini hingga ke akhirat kelak.

Selain dari itu dengan memakan makanan yang bergizi, dan tidak berlebihan secara medis-pun ini merupakan salah satu upaya untuk menghindari penyakit. Orang yang sehat adalah orang senang dan bahagia hidup di dunia dapat menikmati kehidupan  denganpenuh nikmat dan terhindar dari segala penyakit yang  akut. Inilah ajaran Islam yang menganjurkan ummatnya untuk  menjaga kesehatan dan tetap segar bugar yang jauh dar bebgai penyakit berbahaya.  Semua ini karena kita makan sedikit dan bergizi serta makanan yang bersumber dari yang halal yang memperolehnya.

Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوٓا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Kita tidak dilarang makan hingga kenyang tetapi jangan berlebihan sehingga tidak ada tempat untuk air, makanan dan udara di dalamnya.  Kalau mau sehat maka makanlah sedikit tetapi bergizi  dan janganlah rakus dan tamak terhadap makanan.

Kemudian Rasulullah Saw bersabada:

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

Artinya: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas”

Dewasa ini cukup banyak orang meninggal dunia dan kebanyakan mereka divonis menderita penyakit Corona (Covid-19). Lihat bagaimana kematian di Wuhan-China, di India, di Italia dan di Amerika. Mati laksana  ayam di musim penyakit Tha’un secara massal, namun pihak WHO yang bertanggung jawab untuk jual  vaksin dan obat, tidak pernah ada  yang menyelidiki kenapa  mereka banyak mati!  Namun yang paling getol mereka serukan untuk patuhi protocol kesehatan hanya di Negara-negara Islam yang tidak begitu besar dampaknya covid-19 ini.  Misalnya pakek masker, social distancing, vaksin, dan  lock-down, paling ketat  di Negara-negara msulim dan Negara-negara kecil lagi miskin. Piala Euro 2000 gak ada yang patuh untuk pakek masker, gak ada yang patuh untuk menjaga jarak, dan gak ada yang patuh untuk mengikuti prokes.

Baca Juga:  5 Youtuber Indonesia Berpenghasilan Tertinggi pada Juli 2021, Angkanya Fantastis

Tapi lagi-lagi kenapa WHO dan pihak-pihak lain yang merasa berkepentingan dengan menjual vaksin, menjual alat kesehatan, dan menjual obat tidak  diapa-apakan oleh Badan Dunia Kesehatan itu.   Inilah punca kesengsaraan kita di dunia ini karena   dunia ini berat sebelah atau tidak adil dalam menangani kasus Covid ini.

Gara-gara ketidak adilan, ketidak jujuran, dan ketidak istiqamahan para pemegang kuasa, maka rakyat bawahlah yang paling menderita dan sengsara.

Kaum muslimin dan muslimat di manapun anda berada, maka junjung tinggilah  perintah Allah dan   Rasul-Nya,  hindarilah semua larangan Allah dan Rasul-Nya, jagalah makanan haram agar tidak dimasukkan  kedalam perutnya, jauhilah harta haram dan hasil korupsi, hasil dari  penipuan, hasil dari sogok menyogok, hasil dari pemerasan, hindarilah pertumpahan darah (pembunuhan) orang-orang yang tidak bersalah, hindari ketidak adilan di pengadilan dan dalam memutuskan perkara, hindarilah  menganianya manusia, janganlah menipu dan memperolok-olokkan dan mengkriminalisasi ulama, dan janganlah mengadu-domba antara sesama kaum muslimin, sebab apa yang anda lakukan sekarang terhadap orang lain, akan anda rasakan apa yang menimpa orang lain. Ketahuilah bahwa penyakit Covid-19 yang menimpat umat manusia di seluruh dunia dan tidak terkecuali Negara kita, hanya karena menolak perintah Nabi saw.

Rasulullah saw jauh-jauh  hari telah memerintahkan ummatnya untuk  menjauhi tempat yang berwabah dan tidak boleh mendatangi atau berkunjung ke daerah tersebut. Sebaliknya, orang-orang yang berada di tempat yang berwabah, tidak boleh meninggalkan tempatnya menuju daerah lain yang aman dari wabah.

Namun inilah yang tidak berlaku sekarang ini, sehingga yang sering dihinggapi penyakit wabah ini adalah orang-orang yang selalu pulang-pergi ke daerah pandemic, dan juga orang-orang yang pernah  berhubungan bersama orang-orang tersebut. Inilah kesengasaran yang tidak bisa dipungkiri.

Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Aceh

Mengorbankan Perasaan Demi Islam

Salah satu ajaran Islam di bulan Zulhijjah adalah mempersembahkan Qurban, selain dari ibadah haji bagi yang mempunyai kemudahan harta dan keamanan dalam perjalanan Haji ke Baitullah adalah  salah satu rukun Islam yang lima, sementara menyembelih qurban adalah  ibadah sunat yang sangat digalakkan dalam ajaran Islam khususnya di bulan Zulhijjah. Ini adalah warisan Nabi Ibrahim a.s.  dan sebagai symbol kepatuhan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Menjelang Idul Adha, kaum muslimin disunatkan untuk menyembelih Qurban berupa unta, kibasy, kambing, domba, kerbau dan lembu. Daging Qurban ini sebaiknya didistribusikan kepada fakir dan miskin  (orang-orang yang sangat memerlukannya) serta kepada karib dan keluarga sebagai langkah mempererat silaturrahmi serta saling membantu antara satu sama lain.

Oleh karena itu marilah kita korbankan perasaan dan harta kita untuk  menjalankan syiar Islam ini dengan mengedepankan perintah Allah daripada perintah makhluk. Mengorbankan harta dan perasaan demi Islam adalah  tidak seberapa jika dibandingkan dengan karunia Allah yang diberikan kepada kita.

Marilah kita korbankan perasaan pelit  atau kikir serta bakhil untuk bersedekah lewat penyembelihan hewan qurban di Hari Raya Idul Adha ini. Marilah kita korbankan perasaan demi mengikuti syari’at Allah secara komprehensif termasuk berkurban di bulan Zulhijjah.

Menurut Rasulullah SAW bahwa pekerjaan anak Adam yang paling utama pada hari ini (Idul Adha) adalah menumpahkan darah (menyembelih qurban). Kemudian bertakbir, bertahmid, bertahlil, dan bertasbih di bulan Zulhijjah hingga hari keempat Idul Adha. Namun bagi orang-orang yang mempunyai kelebihan harta, aman dalam perjalanan, memiliki kesehatan yang prima, diwajibkan atasnya berhaji ke Baitullah. Namun selama Covid-19 sudah dua tahun umat Islam tidak melakukan haji karena menghindari penyakit yang berbahaya yang sedang menyebar di mana-mana.

Marilah kita korbankan perasaan untuk mengikuti syari’at Allah untuk menutup aurat sebagaimana anjuran Allah dan Rasul-Nya. Baik laki laki maupun wanita memiliki tatakrama dalam berpakaian bagi kaum muslimin dan muslimat yang sudah baligh dan berakal.  Karena itu marilah kita ikuti perintah Allah untuk tidak membuka aurat atau telanjang dalam hal berpakaian, walaupun harus korban perasaan sedikit.

Islam memiliki cara tersendiri untuk berpakaian dan mungkin tatakrama berpakaian tidak diatur dalam agama lain. Namun jika ada orang yang sengaja membuka aurat baik laki laki maupun perempuan dan didalam hatinya ada sedikit kesombongan, artinya tidak takut kepada siapapun termasuk kepada Khalik, maka hati-hatilah jika anda mati dalam keadaan demikian maka anda mati dalam keadaan tidak beriman.

Marilah pula mengorbankan perasaan kita untuk berdoa kepada Allah siang dan malam agar Allah memberikan kita rezki yang halal, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, hati yang khusyu’, agama yang lurus, keselamatan dari segala bencana, dan rasa syukur kepada-Mu ya Allah atas segala anugerah-Mu dan Petunjuk-Mu serta hidayah yang telah Engkau berikan kepada kami.

Marilah kita korbankan perasaan untuk menjalankan amar makruf dan nahi mungkar (menjalankan dakwah) baik yang ada didepan mata kita, di rumah kita, di kantor kita, di lingkungan kita, dan di dalam rumah tangga kita agar Allah tidak mengekalkan bala bencana di negeri atau qaryah kita yang berkepanjangan.

Dan marilah kita korbankan perasaan kita untuk menjalankan syari’at Islam di Nanggroe Aceh Darussalam, dan kita korbankan perasaan kita untuk tidak menjual sejengkal-pun tanah negeri Islam kepada musuh Islam.  Juga, marilah kita korbankan perasaan kita, kita korbankan hawa nafsu kita untuk tidak menerima sogokan dari para pengkhianat Negara, dari orang asing yang ingin menggorogoti Negara kita, dan marilah kita korbankan perasaan kita untuk menjalankan keadilan secara adil dan merata kepada  semua manusia tanpa pandang bulu dan diskriminasi.

Marilah kita mengorbankan perasaan untuk hal-hal yang demikian, karena pada hakikatnya semakin banyak harta haram yang kita bawa pulang kerumah kita, maka semakin banyak penyakit yang akan kita peroleh, semakin banyak murka Allah akan diturunkan,  dan  semakin banyak anggota keluarga kita yang akan menimpa berbagai musibah karena kesalahan memasukkan penyakit dan benda haram ke dalam perutnya. Korbankan perasaan dan tuntutan anda untuk tidak mengikuti/mematuhi hawa nafsu.

Marilah kita korbankan perasaan untuk mengikuti shalat berjamaah lima waktu di Masjid atau di musalla agar semua umat Islam akan bersatu hati semuanya untuk melawan maksiat, melawan kedhaliman, kebohongan, kemusyrikan, serta kemunafikan yang tengah merajalela di bumi tercinta ini.

Mungkin dengan inilah Covid-19 akan terusir sendiri karena kesatuan, kebersamaan, dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Marilah kita korbankan perasaan kita untuk tidak pernah bosan-bosannya dalam berdoa kepada Allah agar Yang Maha Kuasa menurunkan kepada kita Pemimpin yang adil dan taat  kepada Allah serta takut akan azab-Nya dan sayang kepada rakyatnya.

Marilah kita korbankan harta dan perasaan kita untuk berkurban apakah kerbau, lembu, kambing, domba dan unta untuk disembelih pada hari Raya Qurban tahun ini. Hikmah berkurban adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah; menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s.; memperbanyak hadiah dan pemberian kepada keluarga dan  fakir –miskin sebagai ungkapan adanya kasih sayang antar sesama manusia; dan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menundukkan binatang ternak kepada kita sehingga tidak menjadi beban ketika kita lakukan penyembelihan. Kalau bukan dengan bantuan Allah dalam hal menundukkan bintatang ternak, maka ayampun  tidak dapat disembelih karena mereka akan melawan atau berontak kepada manusia. Namun semua ini telah Allah tundukkan kepada manusia.

Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Penulis Adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Aceh.

Janji-Janji Tinggal Janji, Bulan Madu Untuk Jokowi

KALAM PENGANTAR

Kondisi negeri dengan hadirnya Covid 19 saat ini seperti pucuk dipinta ulampun tiba bagi rezim Jokowi. Pasalnya dia bersama pendukungnya seperti sangat memanfa’atkan kondisi ini untuk mewujudkan sejumlah aturan yang melegalkan sejumlah kegiatan. Karena penduduk negeri ini mayoritas muslim maka merekalah yang merasa sangat dirugikan oleh kebijakan, misalnya terkait dengan RUU.HIP., BPIP, perubahan dan pengesahan UU.KPK., pemasukan dan penampungan rakyat Tiongkok yang melimpah ruah ke Indonesia dengan mengabaikan kearifan bangsa dan negara, pembangunan Reklamasi dan seterusnya.

Kebijakan demi  kebijakan yang dilaksanakan presiden Jokowi terkesan sangat menguntungkan kaum minoritas dan lebih terkesan lagi seperti ada agenda besar ingin merubah haluan negara dari apa yang dititipkan para pendiri dalam sebuah perjuangan kemerdekaan dahulu kala menjadi sebuah negara yang berkolaborasi dengan ideologi tertentu yang sudah dilarang di negeri ini. Kaum minoritas dan penganut ideologi tersebut sangat memanfa’atkan situasi semacam ini sehingga merapat serapat-rapatnya dengan presiden Jokowi. Salah sorang di antara mereka adalah Luhu Binsar Panjaitan.

Karena terlalu rapat antara keduanya sehingga jabatan strategispun diberikan untuk menguasai negeri ini, dia Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia dalam masa kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Karena terlalu singkron antara keduanya maka berbagai hak dan tugas juga diberikan presiden kepada sang menteri seperti mengurus izin pembangunan Reklamasi, dikirim juga ke USA berjumpa presiden Donal Trump untuk memperoleh hutang, dijadikan perekat dengan penguasa negeri Cina, mengamankan pendatang Cina dengan berbagai dalih, dan terakhir dipercaya sebagai Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat untuk pulau Jawa dan Bali terhitung 3 sampai dengan 20 Juli 2021.

JANJI-JANJI TINGGAL JANJI

Mengenang kembali janji-janji presiden Jokowi dan wakilnya Ma’ruf Amin ketika maju sebagai calon presiden Indonesia 2019-2024 dan mengukurnya apakah sudah ditepati semuanya atau sebahagiannya, atau hanya sekedar janji-janji tinggal janji kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat hanya mimpi. Janji-janti tersebut dimuat di berbagai media yang susah untuk dibantah eksistensinya, dalam Tribunnews dicatat ada 10 janji yang pernah dijanjikan adalah:

(1). Kemiskinan turun dan kartu sembako murah; (2). Klaim jaminan pendidikan dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah; (3). Program Mekaar dan UMI (Pembiayaan Ultra Mikro); (4). Sertifikasi tanah dan konsesi lahan; (5). Dana desa akan capai Rp 400 Triliun; (6). Koperasi petani dan bank mikro nelayan; (7). Rasio elektrifikasi dan pemanfaatan energi terbarukan; (8). Kartu Pra-Kerja; (9). Permudah usaha generasi muda; (10). Akses internet cepat.

Dalam kabar24.bisnis.com/ disebutkan: Menang Pilpres 2019, Ini Janji Manis Jokowi-Ma’ruf: Tiga Kartu Sakti, Dewi (Desa wisata) dan Dedi (Desa digital), 3500 Startup (jaminan lapangan kerja), Infrastruktur Langit (penguatan infrastruktur teknologi informasi berupa Palapa Ring), dan Dilan (digital melayani). Khusus yang terakhir ini pemaparan Jokowi kepada rakyatnya. (https://kabar24.bisnis.com/read/20190521/15/925305/menang-pilpres-2019-ini-janji-manis-jokowi-maruf-)

Sementara CNBC Indonesia memaparkan visi dan missi Jokowi dan Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia seperti ini: Misi: 1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia; 2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing; 3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan; 4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan; 5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa; 6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya; 7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga; 8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya; 9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.

Sementara visinya adalah: 1. Pembangunan infra struktur; 2. Pembangunan SDM; 3. Mengundang investasi; 4. Mereformasi Birokrasi; 5. Menjamin penggunaan APBN yang fokus dan tepat sasaran. Masyarakat Indonesia dapat merasakan dari sekian janji politik termasuk kandungan visi missinya Jokowi dan Ma’ruf Amin berapa persenkah yang sudah dijalankan sampai hari ini. Mudah-mudahan sudah dijalankan semuanya atau sebahagiannya, atau malah belum terlaksana sama sekali. Kalau poin terakhir yang terjadi maka layaklah disebut: janji-janji tinggal janji bulan madu bukan untuk rakyat RI. atau dalam bahasa sepadan dengan kondisi sekarang: janji-janji tinggal janji bulan madu untuk rakyat RRC.

BULAN MADU HANYA MIMPI

Ketika sejumlah janji yang ditaburkan oleh seseorang kepada orang lain termasuk oleh calon presiden kepada rakyatnya, kemudian tidak mampu untuk ditepati semuanya atau sebahagiannya atau sengaja dikelabui dan diingkari, sementara yang menunggu janji tidak berdaya untuk menekan sipenjanji, maka yang menunggu janji tersebut hanya mampu berucap: janji-janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi.

Kalau seorang presiden yang berjanji seribu janji kepada rakyatnya untuk memperoleh jabatan namun ketika jabatan itu diperolehnya bukan satu penggal malah dua periode namun janji-janji politiknya tidak pernah diusahakan untuk dipenuhi, malah sebaliknya dia mempermainkan janji tersebut untuk kepentingan rakyat negara lain dengan alasan tenaga kerja profesional padahal buruh kasar semata, sementara rakyat sendiri masih ramai yang menganggur untuk kerjaan semacam itu, namun diterlantarkan. Maka layaklah gelar The King of Lip Service diperoleh untuk dirinya.

Manakala seorang calon presiden berjanji setinggi langit untuk menyejahterakan kehidupan rakyatnya dengan berbagai kemajuan dunia yang ada, meningkatkan lapangan kerja, ternyata lapangan kerja tersebut diberikan kepada bangsa lain, memandirikan desa ternyata rakyat dalam desa berantakan dan bermusuhan, menjamin Hak Azasi Manusia (HAM) ternyata Hamdani dan Hamdiah yang diberikan haknya saja, menjamin pembangunan multi nasional ternyata semuanya dibangun dengan hutang luar negara, berjanji memberantas korupsi ternyata korupsi merajalela oleh orang yang diangkatnya, maka layaklah gelar The King of Oligarchy diperolehnya.

Kalau presiden pertama Indonesia Soekarno berjuang habis-habisan bersama rakyat untuk memperoleh kemerdekaan dari penjajah Belanda sehingga negara merdeka, maka layaklah ia disebut sebagai The Founding Father (Bapak pendiri negara), manakala ia memproklamasikan kemerdekaan negara maka ia juga layak disebut dengan Bapak Proklamator negara. Kalau presiden kedua Indonesia Soeharto banyak membangun negara dengan pembangunan infrastruktur dan SDM rakyatnya maka ada orang yang menyebutnya sebagai Bapak Pembangunan. Kalau presiden ketiga B.J.Habibi fokus kepada industri pesawat terbang selama memimpin negara Indonesia maka layaklah beliau mendapat gelar Bapak teknologi. Kalau presiden keempat Abdurrahman Wahid banyak melawak dalam memimpin negara ini maka layaklah dia disebut dengan Bapak Lelucon.

Kalau presiden kelima Megawati Soekarnoputri banyak menjual aset negara ketika memimpin negara maka layaklah gelar Ibuk peniaga diberikan kepadanya. Kalau presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertekat memberantas korupsi sehingga membentuk Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam masa jabatannya maka sangat layak kalau gelar Bapak anti korupsi disandangya. Dan kalau presiden ketujuh Joko Widodo (Jokowi) banyak sekali mengumbal janji tetapi tidak sanggub malah tidak berupaya untuk memenuhinya maka layaklah baginya menyandang gelar sebagai Bapak janji-janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi.

Berhubung banyak janji yang tidak dipenuhi Jokowi setelah terpilih menjadi presiden RI dan terkesan seperti tidak berupaya samasekali untuk memenuhinya maka wajarlah cemoohan rakyat tertuju kepadanya hari ini. Yang lebih sadis lagi adalah sebagai seorang muslim presiden Jokowi cenderung mendiskreditkan muslim dengan mengayomi dan melindungi non muslim selama memimpin bangsa dan negara. Posisi-posisi strategis dalam pemerintahannya banyak dimiliki non muslim atau minimal muslim sepilis-nasionalis-komunis. Buktinya terpampang di depan mata, hanya orang kabur saja yang tidak nampak melihatnya.

Konkrit dan konklusinya adalah Presiden Jokowi banyak berutang dan banyak berjanji tetapi belum tau membayar hutang dan belum mampu memenuhi janji. Presiden Jokowi membangun hubungan dengan luar negeri akan tetapi fokus kepada satu negeri yang bernama RRC. Presiden Jokowi betul membuka lapangan kerja dan memberi kerjaan kepada para pekerja tetapi yang dibuka dan diberikan itu kepada rakyat Cina. Presiden Jokowi memang membangun negeri dengan berbagai pembangunan yang ditunggu rakyatnya tetapi uangnya bersumber dari hutang luar negara. Presiden Jokowi memang selalu berpikir dan berusaha untuk memperkuat dan memperkokoh kabinetnya untuk Indonesia maju tetapi yang diresufle selalu muslim istiqamah dan amanah. Kecuali itu presiden Jokowi sangat inn dan syahdu dengan seorang menteri yang selalu diberikan peluang dan kesempatan untuk menangani kerjaan besar di negeri ini, di sisi lain dia banyak berjanji denngan rakyanya tetapi belum mampu dipenuhi sementara terhadap sang menteri selalu di beri, maka layaklah kita tutup tulisan ini dengan adagium: JANJI-JANJI TINGGAL JANJI BULAN MADU UNTUK LUHUT DAN JOKOWI. Wallahu ‘aklam…..

Oleh: Dr. Hasanuddin Yusuf Adan

Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry.

Mengenang Perjuangan Ayahanda Mohammad Siddik: “Tugas Ini Sangat Berat”

Pria yang mempunyai filosofi “Hiduplah Sebelum Kamu Dilahirkan” ini tutur katanya begitu lembut serta santun, namun cepat dan sistematis. Boleh jadi karena pengalamannya beraktiftas selama puluhan tahun di lembaga setaraf Internasional seperti PBB, OKI dan Islamic Deveploment Bank (IDB).

Pria kelahiran Kuala Simpang- Aceh 78 tahun yang lalu ini pun masih terlihat segar, meskipun sempat mengalami operasi bedah jantung pada tahun 2005. “Alhamdulillah, ini semua karena Allah, haza min fadli Rabbi” katanya merendah.

Pria yang lahir dari sebuah keluarga yang sederhana ini merupakan keturunan dari Pakistan, Siddik besar dan tumbuh dalam sebuah lingkungan yang begitu peduli dengan pendidikan dan dakwah. Itu pulalah yang membuatnya beraktifitas di organisasi dakwah tingkat nasioanal hingga internasional.

Kakek dari 12 cucu ini tinggal dibilangan Condet Jakarta Timur, sempat diamanahi sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) periode XI (2015-2020) setelah menggantikan KH. Syuhada Bahri.

Sentuhan pertama kali dengan dakwah dimulainya sejak ketika duduk dibangku SMA. Yaitu ketika aktif menjadi anggota PII, mulai dari pengurus ranting, cabang, wilayah dan hingga pada tahun 1962 dirinya hijrah ke Jakarta menjadi anggota Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII).

Kemudian Siddik muda melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UI. Tidak sampai selesai lalu ia pindah kuliah ke UNAS yang waktu itu kuliahnya sore–karena ayahnya meninggal dunia dan karena itu ia juga harus bekerja membiayai pendidikan dan membantu orang tua dan keluarganya. Saat kuliah di UNAS hingga tamat sarjana.

Selain karena pertimbangan harus bekerja, ada juga alasan lainnya; karena pada waktu itu UI dan banyak universitas negeri lainnya sudah mulai menerima pengarahan dan tekanan dari Bung Karno, dalam arti pelajaran yang diberikan pada waktu itu sudah tidak murni ilmu dan tidak netral. Jadi politik Bung Karno itu diajarakan dan menjadi pegangan di berbagai kampus.

Politik, ekonomi, dan semua yang terangkum dalam konsep Demokrasi Terpimpin, Manipol Usdek, jadi pelajaran wajib. Kampus UNAS yang pada waktu itu dipimpin oleh cendikiawan yang berintegritas masih independen.

Kemudian meletus peristiwa Gestapu PKI. Semua kegiatan di PII, Siddik anggap bagian dari kegiatan dakwah karena ia sering mengisi pelatihan dengan ceramah mengenai berbagai topik yang dihubungkan dengan konsep Islam.

Maka ketika tamat dibangku kuliah pada tahun 1967 beliau segera melapor kepada gurunya Allahuyarham Bapak Mohammad Natsir, dan ketika Pak Natsir mengajaknya untuk bergabung ke Dewan Da’wah yang waktu itu baru saja didirikannya di Masjid Al-Munawarah Tanah Abang Jakarta.

Kuliah Sambil Bekerja

Ketika hendak memutuskan untuk berhenti dari Kampus UI pada tahun 1964 bukan karena kemauannya sendiri. Tetapi lebih karena harus bekerja membantu keluaraga (orang tua dan adik-adik), sejak ayahnya meninggal dunia pada bulan Desember 1963.

Siddik sempat terfikir dalam benaknya tidak ada kesempatan belajar lagi karena tidak mampu untuk membiyai kulaihnya. Sebagai anak laki-laki tertua dari delapan bersaudara (masih ada kakak perempuan) saya merasa harus mengambil alih tanggung jawab keluarga.

Alhamdulillah, Ayahnya adalah seorang pedagang kecil, yang mengajarkan etos semangat kerja walaupun tidak meninggalkan harta kecuali pendidikan agama yang mendalam disanubari kami beseta keluarga besar. Itulah yang ia sangat syukuri. Ungkapnya.

Berita tentang ayahnya meninggal pun terlambat ia terima karena keterbatasan komunikasi pada waktu itu. Ketika ayahnya meninggal, Siddik sedang menghadiri acara konfrensi wilayah PII Sulawesi Utara di Manado. “Tugas menghadiri Musywil PII di Manado belum selesai, namun seperti ada desakan untuk saya segera pulang. Saya tidak tahu, tapi karena naik pesawat mahal, maka segera ia naik kapal, karena sampai di Jakarta setelah satu pekan dan satu pekan perjalanan lagi perjalanan ke kampung”, kenangnnya.

Setelah ayahnya meninggal dunia rasanya tidak mungkin ia untuk kembali menuju bangku kuliah, karena ia harus bekerja membantu keluarganya. Namun, kebesaran hati ibunya terus memberikan dorongan semangat belajar kepada Siddik muda untuk terus tetap melanjutkan kuliahnya di Jakarta. “Saya kemudian bekerja sebagai staf lokal Bagian Pers Kedutaan Pakistan pada pagi harinya, dan sore kuliah di fakultas Sosial Ekonomi Politik UNAS”.

Pada tahun 1966 ia terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Komite Pemuda Indonesia (KPI) yang berafiliasi kepada World Assembly of Youth (WAY) sebuah organisasi yang sebelum peristiwa Gestapu pernah dibubarkan oleh Bung Karno karena dianggap berafiliasi ke Barat.

Komite Pemuda Indonesia (KPI) ini merupakan organisasi yang mewadahi para pemuda dan pelajar yang berhaluan kanan, anti Komunis sedangkan organisasi afiliasinya, WAY berpusat di Brussel, Belgia. Ada sekitar 17 organisasi pemuda pelajar dan mahasiswa yang bergabung dalam Komite Pemuda Indonesia anggota WAY.

Sebagai Sekjen KPI dan kepeduliannya melatih pemuda dan mahasiswa Indonesia agar bisa tampil dalam dinamika dunia internasional, Siddik kemudian mengirimkan beberapa belasan pemuda dan mahasiswa ke luar negeri termasuk diantaranya Lukman Harun (alm), Arif Rahman (tokoh pendidik), Asnawi Latif (mantan anggota DPR) ke Eropa, Umar Basalim ke India, Mansur Amin ke Srilanka. Mereka kemudian pulang dan membawa pengalaman dari apa yang mereka lihat di luar negeri.

Setelah pemilu 1971 Komite Pemuda Indonesia direkayasa oleh GOLKAR menjadi KNPI yang menjadi jaringannya meski sebagian organisasi tidak sedia ikut masuk KNPI.

Pada tahun 1970, setelah empat tahun menjadi Sekjen KPI, Siddik terpilih menjadi salah satu dari lima delegasi sekaligus juru bicara delegasi Indonesia pada Kongres Pemuda Sedunia yang diadakan oleh PBB di New York dalam rangka ulang tahunnya ke 25. Dengan persetujuan Departemen Pendidikan & Kebudayaan yang menyusun delegasi RI bersama Deplu, Siddik kemudian meneruskan studi Magister dalam Internasional Development Studies di Fairleigh Dickinson University, New Jersey, dan karena tidak ada beasiswa dia sempat bekerja direstoran, bahkan menjadi satpam satpam, pegawai toko buku, departemen store ia pernah jalani- untuk membiayai studinya yang diselesaikannya dalam waktu setahun. Setelah itu, dalam rentang waktu tahun 1973 hinnga 2002, ia bekerja di PBB (UNICEF) di New York, Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Jeddah dan terakhir selama hampir 18 tahun di Islamic Development Bank (IDB) juga bermarkas di Jeddah, Saudi Arabia.

Sebagai seorang staff junior di PBB pada waktu itu, Siddik terbiasa membantu para seniornya untuk memfasilitasi beberapa kegiatan keagamaan, seperti diskusi tentang Islam, sholat Jum’at berjama’ah utuk staff dan delegasi yang pada awalnya menggunakan salah satu ruang serba guna yang kecil. Ia juga biasa mempersiapkan logistik untuk pengajian rutin dan ikut menghidupkan pengajian masyarakat dan mahasiswa Muslim yang diadakan oleh Muslim Students Association (MSA) cabang Columbia University yang waktu itu ketuanya adalah Prof.Dr.Kamal Hasan mantan Rektor University Antar Bangsa Malaysia (IIUM). Khusus dikalangan masyarakat Indonesia Siddik mengambil inisiatif mengadakan pengajian rutin dari rumah ke rumah, yang Alhamdulillah, karena berkembang pindah ke aula Konsulat Jenderal RI di New York dan terakhir beberapa tahun yang lalu pindah ke Mesjid Komunitas Indonesia, Al Hikmah dibilangan Queens.

Dalam rangka tugasnya di PBB, Siddik pernah bertugas di Katmandhu, Nepal selama dua tahun. Waktu itu ia juga berusaha mengadakan aktifitas dakwah disana bersama teman-teman cendikiawan Muslim yang jumlahnya sangat sedikit karena Muslim disana minorias. Ketika itu tidak ada informasi yang memadai mengenai kaum Muslimin disana terutama di pedalaman untuk bisa membuat perencanaan untuk membantu mereka. maka beliaupun mengutus beberapa dosen muda pergi untuk ke pedalaman mencari data dan membuat studi sedehana tentang kaum Muslimin yang tinggal terisolir di kampung-kampung. Siddik juga ikut mensponsori penterjemahan dan penerbitan buku-buku tentang Islam yang pada waktu itu sangat langka di daerah pegunungan tinggi Nepal.

Bertemu dengan Ulama dan Cendikiawan Dunia

Ketika Siddik muda masih menjadi pengurus di PB PII- ia pernah mengundang Dr. Inamullah Khan, Sekjen Muktamar Alam Islami untuk menghadiri Muktamar ke-12 PII di Bandung. Dalam perjalanan memenuhi undangan WAY Siddik sempat menjasi tamu Mufti Besar Palestina, Syeikh Haji Al-Amin Al-Husaini di markasanya waktu itu di Beirut- Libanon. Pada tahun 1968, Siddik juga berjumpa dengan Dr. Said Ramadhan tokoh Ikhwanul Muslimin di Geneva, Pangeran Hassan, ketika itu Putra Mahkota Jordan, Dr. Kamil Sharif, Sekjen Muktamar Al-Quds dan pernah menjadi Menteri di Amman Jordan, Dr. Taofiq Aweidah, Direktur jendral Urusan Islam di Mesir, Syeikh Ali Al-Harakan, Sekjen Rabithah Al-Alam Al- Islami. Dan pertemuanya dengan para tokoh-tokoh dunia tersebut mempuyai kenangan tersendiri. Dan itu juga ia banyak berhutang budi kepada bapak-bapak di Dewan Da’wah, seperti Mohammad Natsir, Mohamamad Roem, dan bapak-bapak yang lainnya.

Membidani Kelahiran WAMY

Alhamdulillah, melaui berbagai acara pertemuan-pertemuan internasional di forum WAY (World Assemly of Youth) di Belgia Jerman pada akhir 1960an Siddik dengan beberapa kawan mengajak delegasi Muslim dari berbagai negeri yang berafiliasi kepada WAY, seperti Anwar Ibrahim dari Malaysia untuk mendirikan semacam WAY untuk dunia Islam. Maka setelah itu Siddik dengan beberapa kawan seperjuangnnya membuat pernyataan bersama untuk menyatakan komitmen mendirikan organisassi pemuda Islam internasional sedunia. Kebutuhan ini juga dirasakan oleh pemuda dan mahasiswa Muslim di negeri-negeri lain diluar forum WAY.

Presiden Muammar Qadhafi dari Libya pada tahun 1973 pernah mengadakan konfrensi Pemuda Islam sedunia di Tripoli yang beliau sempat hadiri disamping beberapa tokoh pemuda dan mahasiswa lain dari Indonesia. namun sayang pertemuan Tripoli ini tidak berhasil karena pihak sponsor, sesuai karekternya yang revolusioner ingin menerapkan Teori Alam Ketiga, dalam Kitabul Akhdar yang juga menjadi dasar gerakan Pan Arabisme, sedangkan mayoritas delegasi menghendaki dasar Islam saja.

Sekedar untuk diketahui dasar teori alam ketiga itu, intinya adalah dunia arab, lingkaran keduanya dunia Islam, baru lingkaran terluarnya adalah negara berkembang. Baru pada kemudian pada pertemuan yang diadakan di Saudi Arabia atas inisiatif Menteri Pendidikan Tinggi Sheikh Hasan Al Sheikh, idea ini dapat direalisir dengan lahirnya World Assembly of Moslem Youth (WAMY) dimana keiatan utamannya adalah da’wah dalam pengertian mengajak atau mengundang melalui seminar, penerbitan, dan pendistribusian buku-buku, ceramah dan lain-lain.

Putra Indonesia Pertama yang menjadi Direktur IDB

Pada tahun 1979 saat berhenti dari PBB, Siddik kemudian bekerja di Organisasi Konfrensi Islam OKI (semacam PBB dunia Islam) di Jeddah dari 1979 hingga 1984. Selama di OKI dan kemudian IDB dirinya selalu membantu gurunya yakni Allahuyarham Pak Natsir dengan mengirim informasi yang mendukung kegiatan dakwah diberbagai dunia Islam. Namun dirinya kurang puas di OKI karena tidak dapat berbuat banyak mengatasi konflik antar negeri-negeri Islam terutama Iran-Irak. Pada tahun 1984 ada kesempatan pindah di IDB maka setelah konsultasi Dubes RI waktu itu, Bapak Achmad Tirtosudiro, dirinya hijrah dan bekerja disana hampir selama 18 tahun, sebahagian besar di di kantor pusat di Jeddah, empat tahun di Kuala Lumpur sebagai Direktur IDB untuk Asia Pasifik.

Setelah menyelesaikan tugas di Kuala Lumpur dirinya ditarik mengisi posisi sebagai Direktur Technical Cooperation dan ketika memasuki umur 60 tahun, dirinya mengundurkan diri karena sudah berniat akan berkiprah di tanah air. Yang menarik saat diberi tugas ia memulai dan mengembangkan program besasiswa IDB untuk masyarakat Islam minoritas diluar negeri– anggotannya terutama untuk pendidikan kedokteran, tehnik, pertanian dan eksata lainnya. IDB memilih program tersebut sebagai sebuah terobosan untuk membangun sumber daya insani-insani di negeri-negeri Muslim minoritas yang memang sangat ketinggalan.

Survey yang diadakan di negeri-negeri seperti Philippine, Myanmar, Camboja, Sri Langka, Nepal, Di Asia; Ghana, Tanzania, Nigeria, Kenya, Siera Leone, Malawi dll. Menunjukkan sangat sedikit atau hampir tidak ada profesi dokter, insinyur, ahli pertanian, dan profesi pembangunan lainnya yang dipegang orang Islam. mereka tidak mau menyekolahkan anak-anaknya karena pendidikan umum sejak awal didirikan oleh para missionaris dan zending yang selalu berusaha mempengaruhi agama anak didiknya. Oleh karena itu orang tua enggan mengirim anak-anak mereka kesekolah umum.

Melalui program beasiswa yang diberikan IDB selama 20 tahun terakhir sudah ada lebih dari dua ribu dokter, insinyur ahli pertanian dll. Di negeri minoritas ini yang biasa menjadi basisi pembangunan mereka. di Indonesia dewasa ada 37 mahasiswa IDB dari Myanmar, Vietnam dan Camboja yang belajar di UGM, UI, IPB, Unibraw dll. Sedangkan yang sudah lulus dan mengabdi mencapai 100 orang. Untuk memaksimalkan produk dari program ini, yaitu lahirnya insani yang terdidik secara profesional dari berbagai negeri minoritas Muslim di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika yang mencapai 40-an negeri.

Naluri dakwah dirinya mendorong terlaksananya program conselling untuk mahasiswa yang sedang belajar. Untuk itu disetiap negeri dirinya mengangkat staf honorary conselor dari kalangan akademisi dan gerakan yang berwawasan Islami untuk terus memberikan bimbingan rohani dengan pengajian ta’lim setiap dua pekan minimal sebulan sekali dan mengarahkan mereka untuk terus memperkaya bekal ilmu agama dan laedership agar bila mereka kembali dapat memimpin masyarakatnya di negaranya masing-masing.

Pengalaman dirinya selama training di PII dan HMI yang dikombinasi dengan pengalaman ahli-ahli community deveploment dan conselling yang beliau rekrut khusus untuk menguatkan aspek ini. Alhamdulillah banyak dari graduates itu yang sekarang menjadi dokter, insinyur, ahli pertanian, apoteker, dll, memainkan peranan .

Kembali Ke “Rumah Besar” Dewan Da’wah

Setelah melang-lang buana di negeri orang. Ketika dirinya berusia 60 tahun memutuskan untuk pulang ke Indonesia- dirinya ingin berazam mengabdi di tanah air yang sudah lama ia tinggalkan. Saat itu juga dirinya kembali kerumah besarnya yakni Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang selama masih mudanya ia banyak menimba ilmu dan ketauladan dari para bapak-bapak Masyumi.

Saat dirinya kembali ke rumah besarnya-Siddik diamanahi sebagai Ketua Badan Pengawas dan pada periode sebelumnya sebagai salah seorang ketua. Dirinya juga sempat diamanahi sebgai Direktur Lembaga Amil Zakat, Infaq dan shodaqoh (LAZIS Dewan Da’wah) yang diresmikan oleh Menteri agama RI sesuai UU Zakat No. 38 tahun 1999.

Melalui LAZIS Dewan Dakwah kami ingin menghadirkan perananan Dewan Dakwah menagani korban bencana alam di seluruh Indonesia, memberikan pelayanan kesehatan gratis, membuat program rehabilitasi ekonomi untuk korban bencana alam dengan pebangunan rumah sederhana bekerjasama dengan berbagai lembaga kemanusiaan di dalam dan luar negeri. Sebelum LAZIS Dewan Da’wah berdiri- Siddik sempat membantu kegiatan KOMPAK (Komite Penganngulangan Krisis) Dewan Da’wah.

Dengan pengalaman jaringan networking yang luas dirinya juga mengusahakan dukungan untuk pendanaan da’i Dewan Da’wah yang mencapai jumlah ratusan di seluruh tanah air. Siddik juga sempat diamanahi untuk memimpin perusahan travel biro pelayanan Haji dan Umrah sebagai bagian dari kegiatan Dewan Da’wah sekaligus sebagai profit centre untuk mendukung kegiatan Dewan Da’wah.

Pada tahun 2015 adalah tahun yang berat ia jalankan-Siddik terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Da’wah menggantikan KH. Syuhada Bahri, Bagi Siddik tentu tugas ini berat ia jalankan dengan beberapa pertimbangan- atas desakan dari para pegurus dan pimpinan Dewan Da’wah ia dikukuhkan menahkodai gerakan Dewan Da’wah tersebut yang dimana ia banyak belajar kepemimpinan, kesahajaan, ke istiqomahan dari para bapak-bapak Masyumi di Kramat Raya no 45 Jakarta.

Di era kepemimpinan Dewan Da’wa, Siddik dituntut untuk terus berjuang dengan tantangan dakwah yang kian semakin kompleks, mulai dari kaum LGBT, Syi’ah, Komunisme, Kristenisasi, Kebodohan, dan aliran-alairan yang menyimpang. Tentu kerangka Dewan Da’wah dengan gerakan bina’an wa difa’an harus terus dilakukan sepanjang zaman.

Pria Yang Gemar Membaca Kehidupan

Sejak kecil pria asal Kuala Simpang Aceh keturunan Pakistan ini banyak suka merenungkan kata-kata hikmah dan mutiara bijak yang sering ia lihat dibeberapa harian surat kabar dan majalah. Salah satu renungan hikmah yang sosok Siddik jadi inspiranya sejak kecil hingga saat ini adalah: “Hiduplah sebelum kelahirannmu dan matilah sebelum meninggalmu’ artinya jadilah orang yang baik yang selalu diidamkan orang dan selalu dikenang orang.

Orang baik itu sebelum tiba diasiatu tempat (baik itu lingkungan, kantor, sekolah, dan apa saja) atau sebelum ia dilahirkan ditempat itu, orang sudah mendengar kebaikannya dan orang mengharapkan kehadirannya, dengan kata lain ia sudah hidup sebelum kehidupannya ditempat itu. Selanjutnya meskipun nanti si orang baik itu pindah dari dari tempat itu, orang masih mengenang dirinya karena kebaikan dan jasa-jasa serta sumbangangannya untuk masyarakat yang ditinggalkannya itu, seolah-olah dia masih hidup dan masih belum mati ditempat itu. Tapi ini adalah suatu moto kehidupan atau filsafat kehidupan yang saya dambakan dan inginkan. Semoga dengan tekad kuat mudah-mudahan dicatat Allah sebagai keinginan yang diridhai-Nya. Ungkap Siddik.

Selamat Jalan Pejuang

Pria yang sejak kecilnya hobi membantu masyarakat sekitar ini wafat pada Selasa, 29 Juni di RS. Harapan Kita Jakarta. Selamat jalan ayahanda Mohammad Siddik, insyaAlah kami-kami yang muda akan melanjutkan perjuangan. Risalah merintis, dakwah melanjutkan..!

Oleh: Hadi Nur Ramadhan

*)Hadi Nur Ramadhan, “Mohammad Siddik: Tugas Ini Sangat Berat” dalam Lukman Hakiem (Editor), _Pendiri dan Pemimpin Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia,_ Jakarta: Panitia Seabad Dewan Dakwah, 2017.

Pengurus Dewan Dakwah Aceh Dilantik

Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Aceh foto bersama seusai dilantik Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, yang diwakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Zahrol Fajri SAg MH di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (20/2/2021) malam.

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, yang diwakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Zahrol Fajri SAg MH, Sabtu (20/2/2021) malam, melantik pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Aceh di Anjong Monmata, Banda Aceh. Acara itu turut dihadiri Wakil Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Umum Dewan Dakwah Pusat, Dr Amlir Syaifa Yasin MA dan Ade Salamun MM, Kadis Syariat Islam Aceh, Dr EMK Alidar, Kakanwil Kemenag Aceh, Dr H Iqbal SAg MAg, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Zahrol Fajri saat membacakan sambutan Gubernur Aceh mengatakan, untuk mewujudkan program ‘Aceh Meuadab,’ tentu pemerintah tidak dapat berjalan sendiri, tapi perlu dukungan dari semua pihak termasuk organisasi-organisasi Islam di Aceh. “Dewan Dakwah Islamiyah sebagai salah satu organisasi Islam, kami harapkan dapat mengambil peran terutama dalam penguatan pelaksanaan syariat Islam di Aceh,” ujarnya.

Zahrol Fajri menyampaikan, arah pembangunan ‘Aceh Meuadab’ adalah melahirkan generasi Aceh yang memiliki kualifikasi terbaik lahir dan batin, berkarakter, memiliki mental juang tinggi dengan semangat pantang menyerah dan ber-akhlakul karimah.

“Untuk itu, dalam rangka menyukseskan program Pemerintah Aceh ini, kami mendorong agar Dewan Dakwah terus melakukan studi dan perencanaan dakwah dengan baik dan benar,” ungkap Gubernur melalui Kadis Pendidikan Dayah Aceh. Ia juga berharap Dewan Dakwah dapat berkiprah secara maksimal dalam kegiatan dakwah di Aceh. Apalagi, Dewan Dakwah menjadi wadah berkumpulnya para cendikiawan dan intelektual muslim.

Terakhir, Gubernur Aceh mengucapkan selamat kepada ketua dan para pengurus Dewan Dakwah Aceh masa bakti 2021-2026. “Kami berharap, amanah yang diemban ini mudah-mudahan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya,” harap Gubernur, dalam rilis Dinas Pendidikan Dayah Aceh, kepada Serambi, Sabtu (20/2/2021).

Sementara itu, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Aceh, dr H Muhammad Ar MEd, mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Gubernur dan Pemerintah Aceh atas dukungan penuh dalam memfasilitasi acara pelantikan itu, sehingga terlaksana dengan baik. (jal)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Pengurus Dewan Dakwah Aceh Dilantik, https://aceh.tribunnews.com/2021/02/22/pengurus-dewan-dakwah-aceh-dilantik.

Modus Operandi Kekerasan Terhadap Anak

Semakin hari semakin meningkat kekerasan terhadap anak walaupun pelakunya adalah ayah kandungnya, pamannya, abang kandungnya, kakeknya, ayah tiri-nya, ustad atau guru ngaji-nya, dan sebagainya. Kejadian ini bukan hanya berlaku di Aceh, bahkan di seluruh Indonesia kerapkali terjadi.

Kalau kita mengkaji lebih dalam, apa kesalahan anak-anak yang masih dibawah umur sehingga mereka rela diperlakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka rasakan. Apakah manusia sudah bernafsu seperti binatang sehingga ayah kandung,  rela memperkosa anaknya sendiri, paman rela melecehkan keponakannya,  kakek rela berbuat tidak senonoh terhadap cucunya, guru atau ustad atau teungku bergairah sekali untuk mencabuli murid-muridnya yang masih dibawah umur?

Mungkin pada saat melakukan  tindakan bejat itu, mereka telah dirasuki oleh setan sehingga tidak nampak pada matanya itu anak-anak, anaknya sendiri, keponakannya sendiri, muridnya sendiri dan  cucunya sendiri. Inilah tindakan manusia akhir zaman yang hampir tidak bisa dibedakan antara binatang dengan manusia yang sesungguhnya. Mungkin inilah sebabnya  hukuman yang dikenakan ke atas mereka tidak membuat efek jera, sehingga keadaan ini selalu saja terjadi, bahkan pelakunya itu-itu saja, yang beda hanya korbannya. Semua ini dilakukan dengan modus operandi yang berbagai macam cara.

Menyikapi persoalan yang telah terjadi selama ini kekerasan terhadap anak, dilakukan dengan cara misalnya seorang ayah tiri tega melakukan pencabulan anak tirinya yang sudah meninggal ayah kandungnya, ibunya kawin lagi sehingga ayah tirinya oleh sebab apa, mungkin kerasukan setan sehingga mencabuli anak tirinya seperti yang terjadi di  Aceh Singkil (Lihat  Harian SI Jum’at 29 Januari 2021). Ini kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang terdekatnya yaitu ayah tirinya. Oleh karena itu seorang ibu bukan hanya memperhatikan suaminya yang baru, tetapi harus melihat juga anak-anaknya dan kelakuan suaminya yang baru, jangan-jangan ayah tiri  bukan hanya perlu kepada ibu, bahkan anaknya sekalian harus digarap.

Ada juga kasus  yang ibunya mengetahui bahwa suaminya mencabuli anaknya tetapi ia (ibunya) tidak berani melapor. Ketika kita bertanya kepada ibunya, mengapa tidak melapor ke pihak kepolisian, jawabnya karena takut tidak ada yang bisa menanggulangi kebutuhan keluarganya. Ini pengakuan seorang perempuan yang akhirnya suaminya juga di bereukah (ditangkap) oleh polisi karena kebejatannya  mencabuli anak tirinya.  Kalau ayah tiri yang melakukan perkara semacam ini, maka labelnya bisa  dikatakan bahwa ini “ayah tiri setan”. Karena ia tidak mempunyai  rasa  dan hati nurani kemanusiaan, ia hanya memiliki naluri kebinatangan yang hanya mementingkan nafsu ammarah yang merajalela dalam pikiran dan hatinya sehingga tidak ada istilah tebang pilih padanya dalam hal melakukan sex.

Kemudian penelantaran anak juga terjadi di Lhokseumawe karena ibunya perlu kaya cepat atau karena kebutuhan tiga orang anak, yang masih sekolah SMA, SMP dan SD setelah bercerai dengan suaminya, makanya ibunya rela menjadi pengedar sabu-sabu sehingga ia ditangkap polisi hingga tiga orang anaknya harus menderita selama ia dikurung dalam penjara. Memang niatnya baik untuk memenuhi kebutuhan tiga orang anaknya, namun cara yang dilaluinya melawan hukum. (Lihat pemberitaan Harian SI 27 Januari 2021).

Kejadian ibu  (wanita) yang terlibat sabu-sabu bukan hanya sekali terjadi, sudah beberapa kasus terjadi dan ditangkap pihak kepolisian tentang kurir sabu-sabu antar kota dan antar provinsi. Kalau ditanya kepada mereka, mengapa melakukan tindakan yang nekat dan melanggar hukum tersebut, mereka hanya menjawab, “semua ini kulakukan  demi kebutuhan keluarga”.

Kemudian ada juga orang tua yang melakukan penganianyaan terhadap anak,  dan melakukan kekerasan terhadap anak, membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengannya, melakukan ancaman kekerasan kepada anak untuk melakukan perbuatan cabul dengannya (yang ini kerap sekali terjadi), banyak sekali kasus seperti ini yang sudah  masuk ke pengadilan dan hampir di semua kabupaten /kota berlaku, namun kebanyakan luput dari pantauan pihak kepolisian dan komunitas peduli anak.

Selanjutnya, ada juga orang tua yang  melakukan exploitasi  secara ekonomi terhadap anak seperti menjadikan anak untuk mengemis, menyewakan anak-anaknya untuk dijadikan alat mengemis, menyuruh anak untuk mencuri dan barang curiannya ditampung oleh mereka dan  sebagainya. Semua kasus ini  sudah terjadi dan bahkan sudah diputuskan oleh hampir semua  pengadilan di Aceh.

Kasus  pencurian yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur telah banyak terjadi dan kasusnya berakhir dengan damai dan penjara yaitu pembinaan dalam masa tertentu di pusat-pusat pemulihan anak.   Kasus pencurian ini bisa saja didukung oleh orang  tua mereka karena kebutuhan hidup  keluarga  yang mendesak, dan adapula karena pihak-pihak tertentu yang sengaja merekrut anak-anak untuk mencuri seperti mencuri HP, Lap Top, sepeda, sepeda motor, sepatu dan sandal, yang  nantinya  dijual kepada mereka (penadah) dengan harga murah. Ini merupakan penyakit kota besar yang sudah melembaga dalam mengexploitasi anak demi kepentingan perut mereka. Namun perkara yang demikian lebih banyak terlupakan, padahal ianya penyakit social yang semua orang merasakannya.

Kemudian anak dibawah umur juga sudah memiliki  tanaman ganja  atau maryuana dan sudah ada kasus yang terungkap oleh pihak berwajib dan telah dijatuhkan hukuman oleh pengadilan anak, selain dari itu juga terdapat anak yang kedapatan sudah kerap kali  menghisap ganja (narkotika) padahal  ia masih di bawah umur, namun kasus seperti ini sudah banyak  juga ditangkap oleh pihak berwajib dan dibawa ke pangadilan anak, kalau yang model ini bisa diprediksi bahwa kepedulian orang tua mereka sangat tidak maksimal terhadap pergerakan anak-anak mereka. Artinya orang tua lalai dalam memantau  setiap gerak gerik anak-anak mereka, bahkan ada orang tua yang membiarkan anak-anaknya  merokok padahal mereka masih usia sekolahan. Jadi, merokok bagi anak-anak sama dengan membuka jalan bagi mereka untuk menjadi calon penghisap ganja dan penghirup sabu-sabu.

Namun demikian ada juga  hal  lain yang paling tragis, yaitu orang tua memaksa anak-anaknya yang dibawah umur untuk mencari uang/mencari nafkah  dan disuruh mengemis, kalau mereka tidak mau dan tidak membawa pulang uang yang banyak, maka mereka akan dipukul atau dirantai oleh orang tuanya, perkara ini juga sudah pernah diputuskan di pengadilan anak dan barang buktinya telah-pun disita. Jadi, pertanyaannya timbul, orang tua macam  apa mereka  ini,  dan  orang tua seperti ini yang tega menjadikan anak-anaknya  sebagai pencari rezeki  dan memenuhi kebutuhan mereka. Orang seperti ini sama seperti kerbau atau sapi yang hendak disembelih pada musim hari raya Qurban.

Kasus yang paling banyak terjadi adalah kekerasan terhadap anak yaitu orang tua sering memukul atau menyiksa anaknya karena kesal. Mereka (orang tua)  kebanyakan kurang terdidik baik pendidikan umum ataupun pendidikan agama sehingga anak kecil-pun jadi sasaran amukan orang tuanya, dan kepedulian masyarakat-pun  sangat kurang terhadap eksistensi tetangganya  yang melakukan kekerasan terhadap anak kecil, dan tempat tinggal yang berjauhan dengan lingkungan masyarakat serta pihak-pihak berwajib juga bisa menjadi pemicu kekerasan terhadap anak.

Hasil survey KPPAA ke beberapa daerah menunjukkan bahwa di daerah-daerah terpencil kasus pelecehan, pencabulan, kekerasan terhadap anak banyak terjadi khasnya di daerah-daerah  terpencil.

Mereka tidak  berani melapor  karena beberapa alasan: pertama karena itu aib dan ianya tidak bisa dibuktikan secara hukum, akhirnya didiamkan saja dan apa yang terjadi, maka terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Kedua karena  lokasi atau tempat kejadian perkara jauh dari kantor Polisi, KPPAA, Dinas Pemberadayaan Perempuan dan Anak, LSM anak, dan pihak-pihak yang peduli terhadap anak. Karena itu banyak kasus  tersebut ditelan masa, dan para pelakunya  terus mencari mangsa baru di tempat atau lokasi lainnya.

Kemudian  kasus melarikan anak perempuan dibawah umur juga tidak sepi dalam masyarakat kita karena HP android sangat berjasa untuk terlaksananya acara tersebut. Jika orang tua melarang kawin dan pacaran, maka para remaja tidak segan-segan mengambil jalan tengah atau jalan keluar dengan melarikan anak perempuan dari rumah orang tuanya dan menikah di tempat-tempat tertentu selain dari petugas negara (KUAKEC).  Di sini tidak dipandang batas umur yang penting menyelamatkan anak-anak dari perzinahan,  kuakec liar ini yang penting  ada amplop beres semuanya, dan  langsung dinikahkan walaupun  wali tidak hadir.  Kawin lari seperti ini sangat sering terjadi di zaman teknologi informasi seperti sekarang ini. Memang kita tidak menyalahkan teknologi, namun para pengelola dan petugas yang berekepentingan terhadap terknologi ini harus dapat mengekang dan meminimalisir persoalan yang merusak akhlak generasi muda.

Mungkin solusi yang tepat adalah adanya  peran  dan tanggung jawab keluarga dalam memantau gerak gerik anak. Pengawasan dari berbagai unsur lembaga yang peduli terhadap kasus anak dan  Dinas-dinas  terkait harus selalu siap  sedia  dalam memantau kasus anak.

Kemudian para pihak yang membuat hukum atau undang-undang tentang perlindungan anak harus senantiasa memantau jalannya  kasus persidangan ini di setiap pengadilan, sehingga para terdakwa atau para pesalah harus dihukum yang berat kepadanya, dan Negara juga harus melindunginya para korban, direrehabilitasi nama baiknya, diberikan ganti rugi (kompensasi) kepadanya dalam masa tertentu.

Rehabilitasi psikisnya,  traumatiknya, dan membangkitkan gairah hidupnya khususnya para korban adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh pihak-pihak terkait  khususnya  pemerintah. Jika negara gagal mengurus dan menjaga eksisteni anak-anak, maka kehabisan stock kepemimpinan akan berlaku sepanjang hayat. Sebab, anak-anak sekarang dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka akan menjadi pemimpin masa depan.  Apabila kehidupannya  diamputasi sejak dini, maka  terombang-ambinglah negara ini karena para pemimpinnya terdiri dari orang-orang cacat dan ampas kemanusiaan yang sangat tidak layak untuk memimpin. Camkanlah wahai para pecinta anak-anak dan selamatkanlah mereka demi  kelanjutan kepemimpinan di masa depan.


Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Penulis adalah Ketua Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh

Dr. Muhammad AR Diangkat Sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

BANDA ACEH – Dr Muhammad AR MEd MA terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh periode 2020-2025 menggantikan Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA. Direktur Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh itu terpilih dalam musyawarah wilayah (muswil) ke V di markaz lembaga tersebut, Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Minggu (22/11/2020).

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus daerah dan pengurus wilayah lembaga itu di buka secara resmi oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat, Ustaz H Adian Husaini MSi PhD, Minggu (22/11/2020) pagi.

Pimpinan sidang muswil Dewan Dakwah Aceh, Zulfikar Tijue didampingi sekretaris sidang, Enzustinianus mengatakan pengambilan keputusan dalam muswil tersebut dilakukan dengan musyawarah.

Dalam pemilihan ketua umum, masing-masing peserta muswil memilih lima orang formatur dengan cara menulis tiga nama di kertas. Nama dengan jumlah pemilih terbanyak menjadi ketua dan merangkap anggota formatur.

Adapun tim formatur yang terpilih yaitu DrMuhammad Ar MEd, Zulfikar SE, Enzustinianus SH MHum, Dr Abizal Muhammad Yati Lc MA dan Rahmadon Tosari MA PhD.

Zulfikar menjelaskan kelima anggota formatur ini mempunyai tugas untuk memilih salah seorang diantaranya sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh periode 2020-2025 dengan cara musyawarah.

“Setelah bermusyawarah, para anggota formatur menetapkan Dr Muhammad AR MEd sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh periode 2020-2025,” Kata Zulfikar.

Sebelumnya Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat, Ustaz H Adian Husaini dalam sambutan pembukaan muswil meminta Dewan Dakwah Aceh menjadi contoh dan teladan bagi dewan dakwah lainnya.

Ia juga meminta kedepannya Dewan Dakwah Aceh dapat menggarap kampus agar lebih islami, menggarap pondok pesantren dan menggarap masjid sebagai pusat pengkaderan dai.

“Dewan Dakwah Aceh harus menjadi lebih baik lagi agar misi dakwah seperti yang dicita-citakn oleh Pendiri Dewan Dakwah yaitu Allahuyarham Mohammad Natsir dapat terwujud demi kemaslahatan ummat,” demikian pesan Ustaz Adian Husaini.(mas)

 

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Muhammad AR Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, https://aceh.tribunnews.com/2020/11/23/muhammad-ar-ketua-umum-dewan-dakwah-aceh.

 

Menegaskan Eksistensi Toleransi Islam

Oleh : Rahmadon Tosari Fauzi, S.Pd.I, M.Ed, Ph.D

Islam saat ini telah dijadikan sasaran terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi oleh  Barat yang penuh kebencian, mereka melihat Islam dan pemeluknya sebagai sebuah kekuatan yang akan bangun dari tidur untuk menghancurkan berhala-berhala jahiliyah modern dan menjunjung kembali panji moralitas dan agama.
Barat mengklaim bahwa Islam adalah agama terorisme dan menyeramkan, bahwa Muslim tidak toleran dalam urusan mereka dengan agama lain, meskipun mereka dan negara-negara yang sepemahaman dengannya belum melihat tindakan terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang beragama Islam dan hal tersebut memang sangat jauh dari nilai dan ketentuan dalam islam, lalu bagaimana caranya sekarang bagi Muslim membuktikan bahwa Islam adalah agama toleransi yang benar?

Allah  SWT  mengutus seorang nabi-Nya, yaitu Muhammad SAW ke Negeri Mekah untuk menyeru orang-orang untuk percaya pada pesan terakhirNya. Dan sebagaimana telah dipertontonkan dalam sejarah bahwa Nabi bersama dengan pengikutnya yang percaya dengannya menjadi sasaran berbagai macam siksaan dan penganiayaan selama bertahun-tahun oleh kaum kafir Qurays saat itu. Islam  menjadi terkepung di terumbu karang   Mekkah sampai Allah  berkehendak bahwa agama ini menjadi Risalah yang murni dan memberi Rahmat bagi seluruh Alam.

Maka saat terjadinya penaklukan pertama oleh kaum Muslim ketika mereka memasuki Mekkah, Nabi SAW berdiri dihadapan orang-orang kafir Quraisy dan para pemimpinnya yang sebelumnya telah melakukan kejahatan dalam bentuk siksaan terhadap Muslim, dan Nabipun mengatakan kepada mereka dengan ucapannya yang penuh toleran, “menurut Anda kira-kira apa yang pantas saya lakukan kepada Anda sekrang?”, mereka menjawab “Engkaulah saudara kami yang Mulia, Engkaulah Anak dari saudara kami yang Mulia” sebagai bentuk kepasrahan mereka terhadap apa keputusan sang Nabi. Lalu Nabi SAW mengatakan “ Pergilah kalian, kalian kami bebaskan”.  Ini adalah bentuk toleransi pertama yang menyentuh telinga para penindas, Doktrin toleransi kemudian memungkinkan pembentukan negara Islam pertama atas dasar toleransi dan amnesti di antara umat Islam sendiri dan di antara Islam dengan yang lainnya.

Ketangkasan Nabi SAW dalam mengkonsolidasikan hubungan antara Muslim dan penduduk kota Yahudi di Madinah, meskipun Nabi mengetahui bahwa bagaimana orang Yahudi yang sebenarnya suka mengingkari perjanjian dan terhadap penipuan yang berulang kali mereka lalukan, Nabi membangun sebuah hubungan dengan mereka atas dasar toleransi. Dia tidak termasuk dari posisi aturan yang diambil ketika orang-orang Yahudi mengkhianati kaum Muslim dan mencoba membunuh Nabi yang mulia.
Pendekatan Islam 
Para kontemplator ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits- hadtis Nabi sangat memahami kebenaran toleransi agama dalam semua manifestasinya, Muslim diperintahkan untuk membangun pendekatan dengan menjalin hubungan baik dengan sesamanya dan dengan orang lain dengan penuh kejujuran dan keadilan. Keberlangsungan hubungan tersebut selalu harus dihormati dan dipelihara dalam berurusan dengan mereka selama perdamaian terjalin dan selama dalam hubungan mereka tidak menunjukkan permusuhan dan kebencian terhadap Muslim.
Sebagaimana keadaan Muslim dalam urusannya dengan sesama Muslim lainnya diperintahkan untuk saling toleransi dalam  jual beli, dan dalam memberi pengampunan dan kemaafan terhadap orang-orang yang menyinggung perasaannya, dan pada pemberian kemaafan terhadap orang telah telah mendhalimnya dan berlaku tidak adil padanya. Begitu juga keadaanya ketika Muslim berhubungan dengan selain mereka. Sesungguhnya telah terdapat model dalam  sejarah Islam melalui berbagai tahapan pembentukan toleransi yang sangat indah, ketika Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Palestina mengedepan toleransi dan pengampunan terhadap Tentara Salib yang telah terkalahkan meskipun sebelumnya ketika mereka memasuki Kota Yerusalem membunuh ribuan Muslim dengan pedang kebencian dan pengkhianatan yang membabibuta. Islam telah mempertontonkan kelakuan yang begitu mulia yang sangat bertolak belakang dengan peradaban Barat dan Non Muslim.                                                          
Pentingnya toleransi 
Islam telah mendesak kita untuk bersabar dan mematuhi pengampunan dan toleransi, kedua hal ini adalah sebagai alasan untuk mendapatkan pahala yang besar, status yang mulia, menjadi kontribusi untuk pembangunan dan pengembangan masyarakat.
Berikut ini kita  akan menjelaskan secara rinci  tentang pentingnya pengampunan dan toleransi dalam Islam.
Pertama Tentang Profil amnesti dan toleransi itu sendiri,   terdapat banyak  penyalahgunaan hal yang tepat dilakukan oleh manusia, banyaknya bermunculan situasi yang memalukan dan memprihatinkan, serta masalah-masalah yang terjadi antara seseorang dengan orang lain baik itu mungkin antara saudara atau teman atau sebaliknya sehingga ini menjadi pemicu terjadinya pertengkaran antar sesama mereka, dan memungkinkan  pemutusan hubungan dan pemboikotan yang seringkali terjadi, sampai menghasilkan jumlah yang sangat besar yang berefek lebih buruk lagi, karena banyaknya masalah, dan perbedaan dalam kehidupan manusia kehilangan fokus di masa depan, dan meningkatkan kegelisahan, dan emosi, dan ini adalah apa yang mempengaruhi banyak penyakit, dan menyebabkan penghapusan banyak Hubungan baik yang mempertemukannya, di antara individu-individu lain, dan selain itu dapat membuat dia menuai banyak perbuatan buruk , Oleh karena itu pentingnya amnesti dan toleransi. Pengampunan berarti menghilangkan individu tertentu dari pelecehan atau rasa bersalah, dan pengabaian hukuman terhadapnya, toleransi dimaksudkan untuk memungkinkan dan menerima alasan orang lain untuk meminta pengampunan.

Kedua, pentingnya amnesti dan toleransi dalam Islam. Islam mendesak kita untuk menjadikannya sebagai sebuah agama toleransi, yang mengajarkan kasih sayang untuk moralitas, dan menerapkan  nilai-nilai yang baik, termasuk mengedepankan pengampunan dan kemaafan. Banyak ayat-ayat Alquran dan Hadits berbicara tentang pentingnya pengampunan dan toleransi serta kelebihannya. Pentingnya amnesti dan toleransi tersebut dapat dirangkumkan sebagaimana di bawah ini

  • Menyingkirkan permusuhan dan kebencian, dan menanamkan cinta di hati manusia, dan di sini kita mengingat firman Allah SWT dalam AlQuran Al Karim Surat Fushilat ayat 34 : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
  • Amnesty dan toleransi bertujuan pada perolehan kemajuan dan kebangkitan masyarakat, dan penghapusan sejumlah besar masalah yang timbul antara ummat manusia dan keturunannya, sehingga tentu saja yang paling menonjol dari hasil untuk menyingkirkan masalah adalah keinginan dalam konstruksi dan rekonstruksi.
  • Manusai menjadi orang dengan kepribadian positif yang lebih disibukkan dengan kemajuan di masa depan dan berambisi dengan tujuan-tujuan baik yang dicarinya.
  • Untuk memenangkan pengampunan Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT menyampaikan dalam firman yang terdapat pada ayat 22 Quran Surat An-Nur : Artinya : “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Pada Surat Ali Imran Ayat 133-134 Allah SWT juga menyampaikan  “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
  • Mendapatkan kemenangan yang luar biasa di hari kiamat kelak, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf berikut ini:
  • Toleransi dan grasi meningkatkan kemampuan individu untuk mengendalikan dirinya, dan menyingkirkan keinginan untuk membalas dendam serta menjauhkan diri dari permusuhan dan kebencian dan apa saja yang dihasilkan olehnya.  Oleh karena itu bahwa amnesti dan toleransi menunjukkan bukti terbaik terhadap penguatan kepribadian dan bukanlah ia satu kelemahan dan kemunduran sebagaimana dipersepsikan oleh sebagian manusia.
  • Memenangkan rasa cinta dari orang lain dan penghargaan mereka, dan sebagai tambahan, kita menemukan bahwa pengampunan dan toleransi berkontribusi untuk meningkatkan kesempurnaan kebaikan jiwa individu,serta mampu menyingkirkan ide-ide negatif, dan kebiasaan yang tidak diinginkan yang menghalanginya dari mencapai tujuan dasarnya.

Dengan kembali memahami pesan Islam tentang eksistensi toleransi islam yang telah menjadi peradaban semenjak Islam lahir kita mengharapkan Muslim di seluruh jagad raya mampu menegaskan wujud tasamuh tersebut ke seluruh alam sebagai esensi rahmatan lil alamin, sehingga mampu menepis dugaan dan cibiran luar terhadap Islam yang suci.

Penulis : Rahmadon Tosari Fauzi, S.Pd.I, M.Ed, Ph.D, Lulusan Doktoral University of Sennar, Khartoum, Sudan.

Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh
Dosen FTK UIN Ar-Raniry
Dosen FAI USM Banda Aceh