Archive for month: December, 2021

KIAT-KIAT MENGHADAPI MUSHIBAH

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Ath-Thaghabun: 11).

Manakala Allah berkehendak untuk melakukan sesuatu maka segalanya mudah bagi beliau; Inna zalika ‘alallahi yasir (sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah), Fathir (35): 11. Untuk melakukan sesuatu Allah tidak perlu persipan dengan segala macam peralatan seperti usaha seorang tukang, tetapi Allah cukup mengatakan: “kun” (jadilah), “fayakun” (maka jadilah ia apa yang Allah kehendaki). Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (Al-Baqarah: 117). Biasanya mushibah itu terjadi sebagai peringatan Allah kepada hambaNya yang barangkali sudah lupa atau sengaja melupakan perintahNya, melaksanakan laranganNya atau sebagai cobaan Allah kepada mereka, atau sebagai pelajaran dari Allah kepada orang-orang yang Allah spesifikkan dalam kehidupan ini.

Oleh karenanya ketika mushibah itu datang tiada seorangpun yang mampu melarang apalagi menghambat dan mempertahankan untuk tidak terjadi. Yang boleh dilakukan seseorang adalah menghindari untuk tidak terjadi mushibah, kalau sudah terlanjur terjadi maka seorang hamba tidak dapat melakukan apa-apa melainkan bersabar, memperbaiki hidup dan kehidupan dengan menjauhi perbuatan ma’shiyat, meningkatkan ketaqwaan, memperbanyak amal shalih, saling menolong dan membantu sesama hamba, jangan putuas asa dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

BERSABAR

Bersabar dari sebuah mushibah merupakan salah satu tugas seorang hamba Allah yang baik karena kesabaran itu selalu dapat menghasilkan kemenangan; man shabara dhafara, (barang siapa yang bersabar akan memperoleh kemenangan). Sabar merupakan salah satu solusi terbaik bagi seorang muslim yang tha’at dan bertaqwa karena orang-orang yang sabar itu akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (al-Baqarah; 45). Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah; 153).

Dalam surah Az-Zumar ayat 10 Allah berfirman: … Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Sabar itu merupakan salah satu prilaku orang beriman, Rasulullah SAW.bersabda: Mengagumkan perihal orang mukmin, tidak sekali-kali Allah menetapkan suatu ketetapan baginya, melaikan itu yang terbaik baginya. Jika dia mendapat kesenangan, maka bersyukurlah ia karena yang demikian itu lebih baik baginya; dan jika ditimpa kesengsaraan, maka bersabarlah dia karena hal tersebut lebih baik baginya.

MENJAUHI MAKSHIYAT

Perbuatan ma’shiyat dan perbuatan dzalim merupakan sejumlah usaha dan kerja ummat manusia yang bersifat mengundang bala dan musibah dari Allah SWT. Dalam surah Al-An’am ayat 151 Allah berfirman: dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, perbuatan keji itu salah satunya adalah perbuatan ma’shiyat yang sangat dibenci oleh Allah SWT seperti berzina, minum khamar, berjudi, membunuh dan semisalnya.

Kita paham Allah turunkan hujan batu dan telungkupkan bumi Siddim sehingga menjadi laut mati kepada kaum nabi Luth adalah karena mereka suka berma’shiyat kepada Allah dengan mengamalkan perbuatan liwath atau momo seksual. Untuk menghindari sebuah mushibah dari Allah SWT maka jagalah diri masing-masing kita untuk tidak berma’shiyat dalam bentuk apapun, kapanpu dan dimana pun seraya memohon kasih sayang daripada Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Tiada siapapun yang lebih Rahman dan lebih Rahimnya melebihi Rahman dan Rahimnya Allah SWT.

MENINGKATKAN KETAQWAAN

Dalam surah Al-A’raf ayat 96 Allah SWT. berfirman: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Siksa yang terdapat dalam surat ini tentunya sangat beragam karena tidak dispesifikasi di sini, termasuklah salah satunya mushibah yang menimpa ummat manusia. Untuk menghindari mushibah tersebut salah satu solusi yang ditawarkan ayat ini adalah bertaqwa kepada Allah SWT.

Dalam surah An-Nahl ayat 112 Allah berfirman: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Pakaian kelaparan dalam ayat ini identik dengan mala petaka atau mushibah yang menimpa hamba, maka solusi untuk semua itu adalah bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa kepada Allah SWT.sebagaimana yang selalu diingatkan khathib setiap hari Jum’at: ittaqillaha haqqa tuqatih (bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa). Ali Imran ayat 102.

MEMPERBANYAK AMAL SHALIH

Memperbanyak amal shalih bagi muslimin dan mukminin merupakan salah satu solusi lain daripada menghindarkan diri dari berbagai mala petaka dan mushibah yang (bakal) melanda, karena Allah telah bersumpah akan kerugian ummat manusia kecuali bagi orang-orang yang beramal shalih. Firman Allah SWT.dalam surah Al-‘Ashr: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Untuk menghindari kerugian dalam hidup ini maka salah satunya adalah melakukan amal shalih sebanyak-banyaknya tanpa batas dan tanpa mengenal waktu yang dibenarkan agama. Amal shalih itu adalah segala sesuatu yang baik-baik kita lakukan terutama sekali yang diwajibkan seperti shalat, puasa, zakat, naik haji, menolong orang lain, menasehati orang berbuat salah, memberikan solusi kepada orang yang sedang berhadapan dengan masalah, memperbanyak shalat sunnat, puasa sunnat, meperbanyak bershadaqah, mempererat ukhuwwah Islamiyyah dan semisalnya.

SALING MENOLONG DAN MEMBANTU

Langkah lain yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi mushibah adalah saling membantu dan saling menolong sesama muslim, karena bantu membantu dan tolong menolong merupakan bahagian daripada perintah dalam Islam. Allah berfirman: wa ta’awanu ‘alal birri wattaqwa wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan (… tolong menolonglah kamu pada kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong pada perbuatan dosa dan permusuhan…) (Al-Maidah: 2). Tolong menolong tersebut harus juga dibarengi dengan saling mema’afkan sesama muslim, selaras dengn perkara ini Allah SWT.berfirman:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran ayat 133-134).

JANGAN PUTUS ASA

Putus asa merupakan salah satu sifat dan juga sikap seseoran manusia yang terjadi ketika berhadapan dengan sesuatu mushibah lalu dia tidak siap dengan mushibah tersebut. Dalam Islam sebenarnya tidak ada istilah putus asa karena apa yang terjadi terhadap seseorang itu datangnya dari Allah SWT, dan Allah tidak jahat terhadap hambaNya dengan cara menganiayanya. Karena itulah manakala terjadi sesuatu terhada seseorang muslim yang harus dilakukan adalah bermuhasabah diri untuk mengetahui kenapa itu terjadi.

Selain itu seorang muslim harus bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya dengan kesabaran yang komprehensif karena power dari kesabaran tersebut luar biasa sekali. Hujung dari sabar ada tawakkal kepada Allah, itulah solusi untuk semua massalah bukan putus asa, apalagi kalau sempat patah hati, itu lebih dahsyat lagi karena kalau paha yang patah masih bisa diurut atau dioperasi. Namun kalau hati yang patah siapa yang sanggup dan mampu mengurut dan mengoperasinya. Firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 53:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

MENYERAHKAN SEMUANYA KEPADA ALLAH SWT

Salah satu solusi paling baik dan jitu adalah manakala mushibah terjadi maka serahkanlah semua yang menimpa itu kepada Allah SWT.karena Allahlah yang memberikan dan Allah pulalah yang mengakhirinya. Dalam bahasa Islam penyerahan diri kepada Allah itu salah satunya adalah bertawakkal kepada Allah SWT. tawakkal itu dilakukan setelah berusaha untuk bangkit dan sukses namun kegagalam yang terjadi, maka solusinya tawakkal ‘alallah.

Dalam surah Al-Anfal ayat 2 Allah SWT.berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, orang-orang Islam yang bertawakkal itu senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dari Allah SWT.sebagaimana Rasul Allah gambarkan dalam haditsnya:

Seandainya  kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal maka Allah akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung-burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Firman Allah dalam surah At-Thalaq ayat 3: … Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya

Karena mushibah itu datangnya dari Allah dan Allah tetapkan itu kepada siapa yang Allah kehendaki maka tuga kita menerima, mencari tau penyebabnya serta memenuhi perintahNya agar mushibah itu tidak datang berkali-kali dalam bentuk murka Allah kepada hamba. Karena segala sesuatu yang baik pada diri kita itu datangnya dari Allah sebaliknya datangnya dari usaha kita sendiri selaras dengan firman Allah dalam surah An-Nisak ayat 79: Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. Dalam surah Asy-Syura ayat 30 Allah berfirman: Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fiqh Siyasah pada Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry.

Pengurus Dewan Dakwah Nagan Raya Dilantik

Nagan Raya — Pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Nagan Raya periode 2021-2026 resmi dilantik di Aula Anjungan Bupati Nagan Raya, Rabu (15/12). Prosesi pelantikan oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Muhammad AR Med dan didampingi Sekretaris Umum, Zulfikar SE MSi.

Hadir dalam pelantikan tersebut Bupati yang diwakili oleh Sekda Nagan Raya, Ir. H Adhi Martha dan sejumlah kepala SKPK di Jajaran Pemda Nagan Raya.

Adapun pengurus yang dilantik diantaranya Ketua dijabat oleh Tgk Samsul Bahri S, M.Pd, Sekretaris Tgk Abdi Yusrizal, SP, Bendahara Tgk Ali Munir SE Ak, MM dan dilengkapi dengan sejumlah Biro.

Ketua Panitia Pelaksana, Tgk Abdi Yusrizal, SP dalam laporannya mengatakan jumlah pengurus yang dilantik sejumlah 65 orang dengan sumber dana mandiri dari kalangan pengurus.

“Kami melihat antusias dari rekan-rekan untuk bergabung menjadi Pengurus Dewan Dakwah dan sekaligus menyumbangkan dananya untuk kesuksesan acara pelantikan dan Upgrading pengurus,” kata Tgk Abdi.

Ketua Dewan Dakwah  Nagan Raya, Tgk Samsul Bahri S, M.Pd dalam sambutannya berterima kasih kepada para pengurus yang telah mempercayainya sebagai ketua. Ia mengatakan sebagaimana lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan tadi salah satu baitnya adalah bangunlah jiwanya. Sisi inilah barangkali yang akan menjadi fokus pengurus dalam rangka bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam membangun Kabupaten Nagan Raya.

“Ini juga sejalan dengan visi misi Dewan Dakwah yang bertujuan untuk meningkat mutu dakwah menuju tatanan masyarakat Islami yang bertaqwa kepada Allah Swt. Terima kasih kepada bapak Bupati yang sudah memfasilitasi akomodasi dan konsumsi untuk acara pelantikan. Kami berharap agar bantuan dan kerja sama ini dapat terus berlanjut di masa mendatang,” kata Tgk Samsul Bahri.

Bupati yang diwakili oleh Sekda Nagan Raya, Ir. H Adhi Martha mengucapkan selamat pengurus Dewan Dakwah Kabupaten  Nagan Raya periode 2021-2026 yang baru dilantik. karena pelantikan ini merupakan tonggak awal untuk memulai aktivitas dakwah di Kabupaten Nagan Raya. Untuk itu, Dewan Dakwah dapat bersinergi  dengan Pemda Nagan Raya dalam membina akidah ummat, menjadikan masjid sebagai pusat pertumbuhan peradaban Islam.

“Masjid tidak hanya sebatas sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat, tetapi lebih dikembangkan menjadi madrasah, tempat konsultasi hukum Islam, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Dan kami mengharapkan Dewan Dakwah Nagan Raya akan menjadi garda terdepan untuk menjadi terwujud cita-cita tersebu,” kata Adhi Martha.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Dr Muhammad AR Med dalam arahannya mengatakan tugas dakwah adalah mengajak kepada ketaatan dan ukhuwah Islamiyah.  Jangan menjadikan dakwah sebagai beban, yang penting bekerja secara ikhlas nanti ada saja pihak yang digerakkan oleh Allah Swt untuk membantu aktivitas dakwah yang kita lakukan.

“Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh sudah membuktikan bahwa usaha dakwah yang selama ini dilakukan selalu ada support dana, tenaga dan pemikiran dari pihak-pihak yang sudah melihat hasil dari dakwah tersebut. Selain itu kami mengharapkan agar Dewan Dakwah Nagan Raya menyusun program kerja yang realistis dan mampu dilaksanakan, minimal menggerakkan ummat untuk shalat berjamaah,” kata Muhammad AR.

Seusai pelantikan semua pengurus Dewan Dakwah Nagan Raya mengikuti upgrading pengurus dalam rangka untuk menyamakan visi dan misi dakwah. Upgrading tersebut diisi oleh pemateri dari Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh.

SYARIAT ISLAM BERBAHAYA BAGI INDONESIA; MANA BUKTINYA?

Oleh : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA

Selama ini di rezim ini banyak statements orang-orang tertentu di negeri ini yang berani mempersoalkan eksistensi Syariat Islam sebagai hukum Allah untuk tidak diamalkan di sini. Pernyataan-pernyataan tersebut sepertinya mengalir sedemikian mulus tanpa adanya pelurusan dari penguasa negara yang mayoritas muslim. Apakah diamnya mereka sebagai isyarat kejahilan yang tidak paham syariat Islam atau sengaja diam karena berada pada posisi satu tangkai dengannya.

Penulis artikel ini punya satu analisa lain; boleh jadi semua itu terjadi sebagai salah satu skenario rezim yang sudah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI) serta menangkap beberapa orang tokohnya. Dengan adanya pernyataan semisal itu diharapkan oleh rezim akan lahir banyak tanggapan dan emosional ummat Islam agar ada alasan untuk dilabelkan sebagai teroris dan radikalis seperti yang terjadi terhadap Mularman (mantan Sekjen FPI), ustaz Farid Ahmad Okbah, ustaz Zain Annajah, ustaz Anung Al Hamat dan lainnya. Boleh jadi juga rezim punya sasaran terhadap ormas-ormas Islam lain yang dianggap tidak searah dengannya untuk dihabisi seperti HTI dan FPI.

Kalau analisa ini benar maka ummat Islam yang sudah dipasang terget dan perangkap sebaiknya menjauh dan jangan mendekat dengan perangkap, caranya; harus banyak diam dan juga banyak berdo’a kepada Allah zat yang Maha Benar serta bekerja keras untuk kejayaan Islam. Kalau langkah semacam ini yang ditempuh ummat Islam maka target akan tinggal target dan perangkap akan terus kosong tidak akan berisi sehingga Allah akan tentukan sesuatu yang dikenhendakinya terhadap negeri ini.

Tentunya Allah akan memberikan sesuatu itu kepada hambanya sesuai dengan permintaan dan usaha keras yang dilakoninya, tidak mungkin Allah berikan sesuatu tanpa usaha yang disertai do’a. berpeganglah kepada Al-Qur’an surah Al-Israk (17) ayat 15: Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

 

PERNYATAAN SUNGSANG

Sungsang yang diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah;  terbalik (yang di atas menjadi di bawah, yang di depan menjadi di belakang, kepala di bawah kaki di atas, dan sebagainya). Kalau kita padankan dengan kontribusi artikel ini maka sungsang di sini adalah pernyataan seorang muslim yang semestinya mengakui, memperkuat, mendakwahkan eksistensi syari’at Islam kepada semua pihak, malah yang terjadi simuslim tersebut hari-hari menyalahkan, memojokkan, merendahkan, meremehkan, mendiskreditkan dan mencemoohkan syariat Islam itu sendiri.

Sifat dan prilaku muslim seperti ini tak lebihnya seperti pemain bola yang mencetak goal kegawang sendiri sehingga kesebelasannya menderita kekalahan. Prihal semacam ini menjadi sesuatu aktivitas yang sangat amat ganjil, aneh bin ajaib binti menggoyahkan wa membingungkan kedudukan syariat Islam dan ummat Islam. Sudah barang tentu ada sesuatu yang tidak lazim dalam kepala pemain bola tersebut pada waktu itu sehingga dia berani dengan sengaja memasukkan goal kegawang sendiri. Sesuatu itulah yang perlu dicari tau sehingga ummat Islam yang lain tidak marah, tidak jengkel, tidak benci dan mudah untuk dipilah dianya pada suatu posisi sehingga pernyataan sungsangnya tidak berefek terhadap eksistensi syariat Islam dan ummat Islam sehingga dia tertinggal sendiri tanpa penggemarnya.

Ada seorang dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) yang menolak keras penegakan syariat Islam di Indonesia, katanya: kewajiban menjalankan syariat justru berbahaya bagi Indonesia itu sendiri. Demikian dilansir oleh laman web: https://www.babe.news/a/7024059391099798017?app_id=1124&c=wa&gid=7024059391099798017&impr_id=7038527628122409217&language=id&region=id&share_desc_type=two_special&user_id=6720051648817873921&user_id=0

Dia juga menantang ummat Islam yang dianggapnya ingin menerapkan syariat Islam di Indonesia: Anda bisa saja tidak setuju dengan saya tapi saya juga bisa tidak setuju dengan anda dan adalah kewajiban saya menyampaikan pandangan bahwa kewajiban bagi umat Islam untuk menegakkan syariat Islam adalah sesuatu yang berbahaya bagi Indonesia,” tegasnya yang dikutip dari video yang diunggah di Youtube, CokroTV, Kamis, 28 Oktober 2021. Pernyataan ini menjadi bahaya bagi dirinya sendiri karena menentang berlakunya syariat Islam di Indonesia dengan nada negatif kepada syariat. Kalau syariat itu benar tentunya dia berada pada posisi yang salah dan berbahaya bagi Islam karena menentang kebenaran syariat Islam yang datangnya dari Allah dan Rasulullah SAW. orang yang menentang Allah dan RasulNya dalam kajian ilmu tauhid berada pada posisi musyrik.

Untuk itulah dia harus berhati-hati dengan ketentuan Allah karena semua para ulama dalam Islam yang benar-benar ulama (bukan kaum sepilis) menegaskan dan meyakinkan bahwa syariat Islam itu benar 100 persen dan wajib diamalkan. Ketika dia mengatakan: kewajiban saya menyampaikan pandangan bahwa kewajiban bagi umat Islam untuk menegakkan syariat Islam adalah sesuatu yang berbahaya bagi Indonesia. Maka pertanyaan yang muncul adalah: siapa yang mewajibkan dia mengatakan yang bukan-bukan, Islam tidak pernah menyuruh itu kepadanya, seluruh bangsa Indonesia juga tidak pernah mewajibkan dia mengatakan itu, boleh jadi juga ayah dan ibunyapun tidak menyuruh dia berbuat demikian. Lalu di mana letaknya kata wajib (kewajiban saya) tersebut?

Apalagi dia sempat membandingkan dengan keberhasilan tokoh-tokoh sekuler tempo dulu yang diumpamakan; dalam konteks sejarah, penegakan syariat Islam di Indonesia hampir berhasil dengan memasukkan ‘Kewajiban untuk Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.’ Hanya, ini ditolak oleh para founding fathers, termasuk Hatta. Manusia ini harus sadar kalau sebahagian founding fathers yang didukung mantan penjajah itu adalah manusia-manusia sekuler yang phobi dan anti dengan syariat Islam sehingga mereka berupaya dengan berbagai cara untuk menolak berlakunya syariat Islam di Indonesia, sehingga Soekarno yang telah berjanji memberikan kesempatan kepada Aceh melalui tokoh dan ulama besar Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh untuk berlaku syariat Islam manakala Indonesia terbebas dari invasi Belanda kedua tahun 1948 yang diperjuangkan bangsa Aceh dengan perang Medan Areanya, dengan pesawat terbang RI Seulawah 001 dan 002, dengan Radio Rimba Rayanya, dengan bantuan full kepada H. Agussalaim sebagai duta keliling Indonesia, L. N. Palar sebagai duta RI di India. Aceh juga menampung para petinggi Indonesia dari kalangan pemerintah, TNI, POLRI, dan lainnya bermastautin di bagian barat Pulau Sumatera karena Jakarta dan Jogjakarta sebagai Ibukota Indonesia sudah ditaklukkan Belanda, Soekarno dan Muhammad Hatta sudah ditangkap penjajah Belanda, seluruh wilayah Indonesia sudah dikuasai kembali oleh penjajah Belanda kecuali Aceh yang mempertahankannya sehingga Indonesia wujud di muka bumi ini.

Namun apa yang terjadi seteh Indonesia merdeka atas Jihad Akbar ummat Islam Aceh, Soekarno yang dahulu datang ke Aceh meminta jasa Teungku Muhammad Dawwud Beureu-eh agar meyakinkan muslim Aceh untuk melawan serbuan kedua Belanda ingkar janjinya kepada Aceh yang dahulu bersumpah memberikan Aceh berlaku syariat Islam. Malah dia berpidato di Amuntai dan di kampus UI di Salemba dengan menyatakan tidak mungkin belahan negeri Indonesia berlaku syariat Islam karena ada orang lain di Bali, di Sulawesi dan tempat lain yang bukan muslim. Jadi kalau dahulu tujuh patah kata dalam Piagam Jakarta berhasil dihapus bukan bermakna syariat Islam itu tidak benar dan membahayakan Indonesia melainkan itu usaha keras kaum sepilis yang anti syariat Islam yang mendapatkan dukungan dari luar.

Orang itu juga mengatakan: Bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya pada supremasi syariat sangat percaya bahwa umat Islam wajib menjalankan perintah-perintah Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Bagaiman kalau aturan itu ditegakan pada abad 21 ini? Menurut dia akan mendatangkan banyak masalah. Apa masalahnya sebutlah di sini agar bangsa Indonesia tau kalau syariat itu bermasalah bagi mereka. Jangan puntungkan kalimat ini sebab akan diterjemahkan oleh pembaca bahwa orang itu tidak senang dengan syariat dan jahil terhadap syariat. Dia melanjutkan lagi: Sebab, Al-Qur’an dan hadis hanya bisa dipahami berdasarkan konteks sejarahnya. Dengan kata lain, aturan itu banyak sekali yang tidak relevan dengan kondisi kita saat ini. Misalnya, soal perbudakan. Pernyataan ini dengan jelas orang itu tidak yakin kepada kebenaran Al-Qura’n yang sifatnya selaras dengan zaman dan relefan sepanjang zaman. Dia memberi contoh bahwa Al-Qur’an membenarkan seorang lelaki menggarap budak perempuannya yang tidak dibuktikan dalam ayat berapa dan surat apa itu tertera dalam Al-Qur’an. Katanya: Al-Qur’an menyatakan bahwa seorang pria tidak perlu menjaga kemaluannya pada budak perempuan dan ini kemudian diartikan sebagai izin bagi pria untuk meniduri budak perempuannya tanpa harus dalam ikatan pernikahan. “Jadi apakah ini berarti pria dapat berhubungan tanpa menikah dengan budak perempuannya? Lebih lanjut lagi apakah ini berarti Allah mengizinkan seorang pria memiliki berat perempuan,?” tanya dia.

Manusia ini betul-betul tidak mengerti Al-Qur’an dan Hadits yang menyuruh ummat Islam menghapus budak dan perbudakan dalam Islam. Rasulullah SAW.senantiasa berupaya menghapus perbudakan dalam Islam sehingga sampai zaman kini Islam tidak mengenal lagi perbudakan seperti di awal Islam sebagai peninggalan zaman jahiliyah. Sekali lagi’ bahwa budak dan perbudakan dalam Islam merupakan peninggalan zaman jahiliyah yang ketika Rasulullah SAW.diutus Allah langsung dihapus dengan berbagai cara termasuk dengan denda bagi muslim yang melanggar syariat seperti muslim yang bersetubuh di siang hari bulan Ramadhan. Orang tersebut belum sampai kesini pemahamannya sehingga cenderung menyalahkan syariat kalau berlaku di Indonesia. Bukankah negeri ini terus compang camping terjadi pemberontakan di mana-mana, penipuan, perampokan, pemerkosaan, penipuan penimbunan hutang dengan luar negeri karena tidak berlaku syariat? Coba direnungkan apa yang anda handalkan dan diterima bangsa di negeri ini tanpa syariat.

Orang tersebut juga berkomentar: Kemudian secara eksplisit soal pencuri yang harus dipotong tangannya. Atau wanita yang ketahuan berzinah harus dihukum 100 kali cambuk. Termasuk ketentuan untuk tidak menjadikan kaum kafir sebagai teman-temanmu sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. “Saya ingin mengatakan memahami pesan Tuhan tidak bisa dengan sekedar menganggap apa yang terlarang dan diizinkan atau bahkan diperintahkan dalam Al-Qur’an dan diperintahkan nabi sebagai hukum yang harus dipatuhi sepanjang waktu dan sepanjang zaman. Aturan dan hukum itu bergantung pada konteks. Kalau konteks berubah aturan dan hukumnya pun berubah,”

Komentar ini betul-betul tidak ada muaranya, pertama dia menyebutkan tentang pencuri yang harus dipotong tangan. Apakah dia tau bagaimana syarat seorang pencuri yang harus dipotong tangannya? Apakah dia tau tidak semua pencuri harus dipotong tangannya seperti yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab? Kemudian dia menyebut perempuan yang berzinah harus dihukum 100 kali cambuk, ini betul-betul dia tidak paham hukum Pidana Islam tetapi berlagak pandai tentang hukum Islam. Dalam Islam bukan perempuan berzinah saja yang dicambuk tetapi lelaki juga sama, bedanya yang sudah kawin (muhshan) dirajam dan yang ghairu muhshan (belum kawin) dicambuk 100 kali cambuk. Jadi omongan orang itu memang betul-betul ngaur, kacau dan membingungkan orang banyak. Sebaiknya jangan mudah menyalahkan hukum Allah karena itu membawa padah.

Dia harus paham bahwa memahami hukum Tuhan dalam Islam harus dengan ketentuan Al-Qur’an bukan dengan kepala dia, demikian juga dengan ketentuan Rasulullah SAW harus dengan hadits atau sunnah, sama sekali bukan dengan kepala seorang yang phobi terhadap keduanya. Kalaupun ada perkara baru yang belum terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah/Hadits akibat perkembangan dan kemajuan teknologi di zaman modern umpamanya, maka berlaku Ijmak dan Qiyas oleh para ulamak yang juga harus disandarkan kepada Al-Qur’an dan sunnah bukan kepada kepala orang-orang jahil tentang syariat.

 

KENYATAAN YANG ADA

Menyimak komentar dosen tersebut dalam berbagai konten dan berbagai kesempatan sangat terkesan mendiskreditkan Islam, hukum Islam dan ummat Islam. Sepertinya dia tutup mata dengan kenyataan yang ada dan terjadi di Indonesia dari zaman kezaman akibat tidak berlaku syariat Islam. Ketika Indonesia ini masih dijajah oleh Belanda ummat Islam melawan penjajahan dengan kalimah syahadatain (Asyhadu an lailaha illallah wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah), dengan kalimat tauhid  (La ilaha illallah) dengan takbir Islam (Allahu Akbar), dengan doa ummat Islam dan darah gapah Ummat Islam sehingga negeri ini merdeka. Semua itu bahagian dari syariat.

Bukankah tanpa pemberlakuan syariat Islam di Indonesia ini rezim dengan mudah saja melanggar HAM seperti pembunuhan enam orang di kilometer 50, penangkapan orang-orang yang sudah ditargetkan rezim dengan alasan radikalis dan teroris. Bukankah tanpa syariat Islam penguasa negeri ini dengan mudah mempermainkan hukum dan undang-undang seperti kasus kerumunan yang menjerat HRS sementara penguasa bersama anak dan menantu juga melakukan hal serupa tetapi ditak dihukum dan tidak dipenjara, bukankah orang-orang tertentu yang menyerang Islam dan ummat Islam bebas berkeliaran sementara orang-orang Islam yang menegakkan konstitusi dilaporkan, ditangkap dan dipenjara.

Bukankah dalam bidang demokrasi tanpa syariat Islam betapa banyak kecurangan demi kecurangan yang disiarkan berbagai media zaman pemilu, pilpres, pilek dan pilkada terjadi meraja lela dan pihak oligarkhi yang menjadi raja, korupsi juga merajalela? Belum lagi kalau kita lihat dari pandangan ideologi, bukankah dengan menyisihkan syariat Islam negeri ini kembali dikuasai oleh ideologi komunis, liberalis, sekularis, pluralis dan kapitalis yang mengancam kehidupan anak bangsa, mengancam eksistensi negara dan melawan konstitusi dan Pancasila? Bagaimana seorang dosen yang sudah mengenyam pendidikan inggi bisa menutup mata dengan semua kenyataan tersebut, atau dia jahil dengan kenyataan di depan mata. Sadarlah wahai manusia yang beragama Islam, janganlah kita menjadi seperti pemain bola yang memasukkan goal kegawang sendiri, bahaya sekali ketika kita bertemu dengan Allah nanti di alam baqa. Pelajarilah syariat Islam yang sangat luas itu dengan teliti dan komprehensif agar tidak hancur bangsa ini akibat ulah dan pemikiran kita. Jangan berharap rupiah dengan cara menyudukan Islam dan syariatnya, jangan mengharap jabatan dengan menyerbu dan menyerang Islam, jangan mencari perhatian dengan mengorbankan agamanya dan jangan sekali kali memasukkan goal kegawang sendiri. Semoga menjadi sosial kontrol bagi kita sekalian.

penulis adalah Dosen Fak. Syariah & Hukum UIN Ar-Raniry.

MENCARI JABATAN DENGAN MENGORBANKAN KEYAKINAN

Oleh : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA

Jabatan, sekecil apapun ia adanya selalu menjadi buruan, taruhan dan sesuatu yang dikejar oleh sejumlah ummat manusia, terutama mereka yang punya missi (positif atau negatif) terhadap jabatan yang dikejarnya. Tidak sedikit juga yang mengejar jabatan karena ria dan senang dengan sanjungan orang lain karena memiliki jabatan. Ada juga yang mengejar kelebihan masukan via jabatan baik dalam bentuk benda maupun uang, mereka merasa puas hidup dengan cara demikian karena dengan jabatan bisa berkomunikasi dengan pihak tertentu dalam kekuasaan.

Jabatan itu sering dapat menghantarkan seseorang yang memilikinya kejurang kehancuran dan sedikit yang dapat menyelamatkannya dari malapetaka yang merusak digniti serta marwah yang ada. Semua itu sangat tergantung dengan bagaimana cara seseorang itu memiliki jabatan dan bagaimana ianya menggunakan jabatan yang ada. Kalau dengan jabatan itu ia mampu mengangkat derajat Islam karena dia seorang muslim dan dengan jabatan itu dia mampu menyejahterakan ummat Islam sebagaimana mestinya maka ia berada pada posisi seorang yang menggunakan jabatan secara positif.

Sebaliknya manakala seorang muslim meraih jabatan dengan menghalalkan cara, dengan mengorbakan marwah dan apalagi kalau dengan mengorban keyakinan maka jabatan itu menjadi alat dan instrumen yang dapat menghantarkan dia dalam sebuah kebinasaan baik dalam kehidupan di dunia maupun di hari akhir nanti. Kita sudah banyak contoh orang-orang yang menghalalkan cara untuk memperoleh jabatan seperti dengan menyuap, merampas jabatan orang dengan konspirasi politik yang dimainkannya, dengan cara KKN dan semisalnya yang berakhir tragis dengan jabatan yang dimilikinya. Ada yang ditangkap KPK, ada yang hilang marwah dan kehormatan dari masyarakat dan rakyatnya, ada pula yang dalam jabatan seperti itu dia mati tiba-tiba, tak sedikit juga yang dengan jabatan seseorang itu masuk penjara.

 

YANG DIANGGAP LEBIH DALAM SEBUAH JABATAN

Cukup banyak manusia yang mengejar dan meraih jabatan dengan berbagai cara tanpa memperhatikan halal atau haram karena menganggap ada sesuatu yang lebih di sana sehingga apapun dia lakukan termasuk membunuh orang untuk mendapatkannya. Di antara kelebihan yang ditawarkan oleh sebuah jabatan yang lazim dipahami seorang insan adalah: dalam jabatan ada tunjangan, dalam jabatan ada kehormatan, dalam jabatan ada  mobil dinas, dalam jabatan ada rumah dinas, dalam jabatan ada uang jalan, dalam jabatan ada peluang mengutak atik anggaran, dalam jabatan ada pelayan, lewat jabatan mendapat banyak kawan, karena jabatan banyak orang memberikan perhatian dan tidak terkecuali karena jabatan pula seseorang hilang ingatan.

Itulah sesuatu yang membuat ramai orang gilakan jabatan dengan tidak menghiraukan perintah Tuhan sehingga rela membelinya dengan harga milyaran, walaupun dia tau bahwa itu hukumnya haram. Ada orang yang tidak habis pikir dengan jabatan karena kemana dia pergi selalu dihormati orang sehingga jabatan dianggapnya sebagai sesuatu yang harus diperolehnya. Sebahagian yang lain tidak habis pikir dengan kemudahan fasilitas yang ditawarkan sesuatu jabatan seperti mobil, rumah, uang jalan (SPJ), proyek milyaran dan sebagainya.

Sesungguhnya yang dianggap lebih dalam sebuah jabatan tersebut tidak lebihnya seperti seseorang menganggap indahnya fatamorgana, yang dilihat indah dengan pandangan mata tetapi sama sekali tidak jelas ketika mau diraba. Layaknya seseorang memandang pelangi (buleuen raja timoh) di hujung langait ketika mendung dan hujan tidak jadi turun, indah sekali dipandang mata namun sangat amat susah untuk menggapainya. Walaupun semua orang tau akan hakikat fata morgana dan pelangi di hujung dunia yang nampak indah dipandang mata tetapi tidak dapat digapai dan dimilikinya, tetap saja orang-orang menaruh perhatian kepada pelangi dan fata morgana. Kenapa itu terjadi? Karena kebanyakan orang lebih mengutamakan mata ketimbang data yang dalam bahasa lain mereka mengedepankan hawa nafsu yang terletak di pandangan mata dengan membiarkan iman yang terpatri di dalam dada.

Karena mayoritas orang sudah berpikiran demikian rupa maka ketika ada seseorang yang tidak mampu diperdaya oleh mata tetapi komit dengan dada, sering orang-orang tertentu berucap: dia orang sekolahnya tinggi tetapi jabatan apapun dia tidak miliki. Yang lebih miris lagi ucapan-ucapan semisal itu keluar dari mulut orang tuanya, dari kerongkongan abang, adik dan kakaknya sehingga dia yang komit dengan dada tersisihkan dalam keluarga. Itulah buktinya ketika manusia sudah diperbudak oleh pelangi dan fata morgana, itulah buktinya ketika keluarga tidak tau bagaimana menghargai anggota keluarganya yang kokoh iman dalam dada.

 

ANTARA JABATAN DAN KEYAKINAN

Antara jabatan dengan keyakinan merupakan ibarat dua sisi mata rantai yang sering dipertaruhkan, keyakinan yang kita maksudkan di sini adalah keyakinan ‘aqidah dan keteguhan iman. Ketika berhadapan antara jabatan dengan keyakinan kepala seseorang berkecamuk karena sulit menentukan mau pilih yang mana. Ibarat seseorang menawarkan sesuatu di dua tangannya yang bernilai paradoksi seperti; madu di tangan kanannya rakyat jelata dan racun di tangan kirinya para penguasa, yang mana satu yang harus kita pilih.

Jawaban akal sehatnya menjawab; pilih madu walaupun dipegang seorang rakyat jelata yang tidak punya power dan tidak punya kuasa dan setelah mengambil madu tidak ada apapun benda lain di tangan dan di rumah rakyat jelata tersebut. Tetapi jawaban nafsu jahat adalah memilih racun di tangan penguasa karena di balik racun itu ada sejumlah harapan lain yang sifatnya syubhat yang akan diperolehinya. Demikianlah dan itulah yang terjadi sehari-hari selama ini sehingga orang banyak sudah sulit membedakan yang mana baik dan yang mana buruk, yang mana sehat yang mana sakit, yang mana hahal dan yang mana haram.

Kehidupan kebanyakan ummat Islam baik di negara mayoritas maupun minoritas muslim hari ini berhadapan dengan dua pilihan yang harus dipilih satu dan ditinggalkan satu. Di negara minoritas muslim ummat Islam sulit sekali memperoleh kesempatan menjadi pemimpin, menjadi militer, menjadi polisi, menjadi bisnismen unggul karena terganjal oleh mayoritas non muslim yang memiliki dan menguasai negeri. Ketika ada seseorang muslim yang ambisi jabatan maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali harus membaur dengan mayoritas dengan memilih sesuatu yang ada di tangan kirinya (racun) dan membiarkan benda yang ada di tangan kanannya (madu).

Di negara mayoritas muslim lain lagi kejadiannya, rezim yang berkuasa mulai dari presiden sampai kepada Geuchik (kepala kampung) beragama Islam, namun ketika penguasa maju mencalonkan diri sebagai pemimpin menerima bantuan uang dan fasilitas lainnya daripada penguasa dan pebisnis kafir dengan kesiapan menolak hukum Islam, menyisihkan peran ummat Islam dan menjadikan negara sebagai ladang praktik kehidupan sekuler, plural, liberal, nasional, kapitalis dan komunis, sehingga dia memenangi pemilu dengan penuh kecurangan dan menjadi raja dalam negara.

Maka dalam mengurus negara sang raja dihatur dari A sampai Z oleh majikan yang memenanginya dalam pemilihan dahulu kala. Efek negatif buat Islam dan ummat Islam adalah; rezim semacam itu tutup mata serapat-rapatnya terhadap kedzaliman buzzerRp dan membuka mata selebar-lebarnya terhadap para ulama Islam dengan mencari kesalahan, menangkap, menahan serta memenjarakan. Akibat dari sikap pemimpin muslim yang mengedepankan jabatan dengan mengenyampingkan keyakinan seperti itu maka jadilah ummat Islam sebagai tetamu di negaranya sendiri. Negara kaya raya ummat Islam miskin papa. Rakyat sendiri tidak punya kerja tetapi tenaga kerja asing dipesan dari negeri Tionghoa.

Efek dari ulah ummat Islam sepilis yang mencari jabatan dengan mengorbankan keyakinan semacam itulah yang membuat dunia dikuasai orang, negara mayoritas muslim dikuasai dan dipimpin pendatang. Ummat Islam yang memiliki negara sebagai tuan berobah posisi menjadi orang bayaran, orang bayaran tersebut tidak pernah punya waktu dan kesempatan untuk merobah nasib menjadi hartawan dan majikan. Begitulah kondisi ummat Islam pada suatu zaman sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “suatu masa ummat Islam seperti buih di lautan yang dipatok dan dimakan ikan, ketika ditanya para shahabat kenapa demikian, nabi menjawab: karena hubbuddunya wa karahiyatul maut (cinta dunia dan takut mati dari ummat Islam).

Penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

[email protected]